Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 85 – Pengeroyokan


__ADS_3

Sung Han mengenal mereka, jelas mengenal dan mengingatkan karena orang-orang ini juga hadir dalam keributan waktu itu.


Mereka itu bukan lain adalah dua orang yang di dasar jurang perebutan pedang gerhana, melawan Bao Leng. Satu di antara mereka adalah yang telah memotong lengan Kay Su Tek. Sedang seorang lagi adalah orang yang kala itu menolong si pemotong tangan, dan yang menggiring Bao Leng ke jalan masuk sampai tertimbun batu.


"Ternyata ini komplotan mereka. Pastilah orang-orang ini yang menimpakan batu-batu." batin Sung Han waspada.


Seorang di antara yang tadi bertangan kosong, sudah mencabut pedang. Sedang seorang lagi dengan belatinya sudah bersiap. Entah kenapa perasaan Sung Han mengatakan harus selalu waspada kepada si pengguna belati.


"Hati-hati, dia kuat." si topeng emas memperingatkan dua orang itu.


Si pemegang pedang terkekeh, "Kami sudah tahu tuan. Kami sudah lihat."


Sung Han pasang kuda-kuda. Pada saat itu kepungan melonggar dan agaknya mereka memberi ruang pada dua orang itu untuk bertempur melawannya. Diam-diam dia bisa bernapas lega karena hanya harus memfokuskan perhatian pada dua orang saja.


Serangan pembuka dilakukan oleh si pemegang belati yang sejatinya bernama Yu Fei itu. Dia melesat maju dari arah kanan dan mengarahkan ujung belati ke leher Sung Han.


Saat hendak menangkis, kiranya itu merupakan serangan tipuan belaka. Karena serangan sejati berasal dari pemegang pedang yang bernama Bo Tsunji. Kiranya gerakannya lebih cepat sampai dia tiba duluan dengan pedang terhunus menuju ulu hati.


"Trang! Trang!"


Dua kali tangan Sung Han berkelebat dan hanya menggunakan hawa dinginnya saja dua serangan itu berhasil dihalau.


Yu Fei melompat, mengerahkan tenaga panas pada ujung belati untuk diarahkan pada ubun-ubun. Sung Han yang kebetulan sedang menghindari sabetan pedang Bo Tsunji, tak menjadi panik dan melanjutkan elakannya melompat ke belakang sejauh lima langkah.


Maka ributlah tiga orang ini dengan hebat sekali. Nyatanya kepandaian ketiganya cukup tinggi, walaupun dua orang itu dalam keadaan selalu terdesak, tapi Sung Han belum juga dapat merobohkan salah satunya.


Lima puluh jurus telah belalu dan Sung Han merasa kecewa akan diri sendiri. Penurunan kekuatannya terlalu jauh dan drastis, "ganjalan" di dalam saluran tenaga dalamnya benar-benar amat mengganggu. Sehingga dia tak mampu mengeluarkan potensi maksimalnya.


Dia tidak tahu ganjalan apa itu dan dari mana datangnya, tapi karena hal itulah sampai saat ini belum juga dapat mendesak dua lawan sampai jauh.


Apalagi ketika menyadari bahwa belati Yu Fei penuh dengan hawa beracun, membuat dia berhati-hati sekali dan tak mau bertumbukan langsung. Ia selalu menghindar.


Dua orang itu sudah tahu kelebihan Sung Han, yaitu dua ilmu hebatnya berupa Tangan Panas Inti Matahari dan Badai Salju Pembeku Darah. Di lain sisi, kelemahan pemuda itu tak lain adalah kepandaiannya sendiri.

__ADS_1


Memang boleh dikata Sung Han cukup kuat, tapi ilmunya belum setinggi itu sampai dia mampu mengeluarkan dua unsur secara berbareng. Maka repotlah ia ketika dua lawannya menyerang dengan unsur berbeda. Yu Fei dengan unsur Yang sedangkan Bo Tsunji dengan unsur Yin.


Mencapai jurus enam puluh, Sung Han merasa tak ada pilihan lain. Kalau ini terus berlanjut bisa-bisa dia akan kelelahan dan celaka. Mengingat masih ada topeng emas dan puluhan orang lain. Maka dengan ini tak ada hal yang bisa dilakukannya selain mencabut pendang.


"Singg! Singg!! Singg!"


Tiga kali nampak sinar hitam kemerahan berkelebat dan dua orang itu memekik nyaring sambil melompat jauh. Begitu mendarat, pundak mereka telah terluka walaupun tidak dalam.


Semua orang terbelalak mengenali pedang itu. Satu pedang pusaka yang hanya diketahui bentuk dan ciri-cirinya dari bacaan saja. Tapi hal yang baru pertama kali mereka lihat ini sudah dapat dikenal dengan baik.


"Pedang Gerhana Matahari!!" Yu Fei, Bo Tsunji dan si topeng emas berseru bersamaan. Sedang semua orang memucat wajahnya.


Sikap Sung Han berubah, berbeda dari sebelumnya dan aura yang terpancar itu sungguh menggiriskan hati. Apalagi ketika sepasang mata tajam yang mencorong dari balik topeng, siapa pun yang memandang refleks akan menundukkan muka karena jeri.


Di lain sisi, sejatinya Sung Han pun merasa jeri akan pedangnya sendiri. Takut jika dia mendapat bisikan seperti waktu itu dan membuat dia tak terkendali. Akan tetapi Sung Han mengeraskan hati dan menandai dua orang gadis tersebut. Dia berpikir, bunuh semua kecuali dua gadis itu! Entah ini berasal dari hatinya atau setan iseng yang tiba-tiba datang.


Melihat pedang pusaka itu, sinar tamak topeng emas jelas terlihat. Ia berseru sambil melompat maju. "Tangkap dia!!"


Kembali Sung Han harus menghadapi pengurungan yang ketat sekali. Jauh lebih hebat dari pada tadi. Karena kali ini tiga tokoh mereka bertarung bersama saling bahu membahu. Sung Han tak cukup memandang tinggi pasukan lain, namun mereka ini cukup merepotkan dengan jumlahnya yang banyak.


Dua kali pedang menyambar, lima kepala terbang melayang. Saat itu dari atas menyambar turun si topeng emas dengan dua tangan terpentang lebar. Ia mengeluarkan pekik nyaring ketika dia menubruk seperti seekor macan menerkam mangsa.


Sung Han kaget sekali karena gerakan itu mirip dengan gerakan ciptaannya yang dibuat main-main. Tapi dia tak berani memandang rendah karena maklum ilmu orang itu memang ilmu silat asli, bukan gerakan kacangan seperti gerakan main-mainnya.


Ia mengelebatkan pedang menusuk ke atas. Celakanya Yu Fei dan Bo Tsunji mendapat kesempatan baik. Punggung Sung Han dan rusuk kanan terbuka celah lebar. Maka dua orang ini menusuk senjata masing-masing ke arah dua tempat tersebut.


"Haaaahhhh!!"


Sung Han membentak nyaring ketika pedangnya menangkis dua serangan. Namun serangan dari si topeng emas terus berlanjut dan sudah tiba. Ketika kedua tangan hendak menjepit kepalanya, ia menundukkan badan sampai hampir jongkok.


"Plaaakk!!"


Dua telapak tangan si topeng emas beradu dan menimbulkan suara nyaring. Akibatnya Sung Han terdorong oleh angin pukulan itu dan memaksa ia bergulingan.

__ADS_1


"Sial!! Nasib sial!!" umpatnya saat semua orang sudah kembali mengurung rapat. Kali ini Sung Han serius dan menyerang sungguh-sungguh. Sekali pedang menyambar, beberapa nyawa melayang.


...****************...


"Craatt! Craatt! Craatt!!"


Pedang itu terus menyambar-nyambar. Gulungan sinar hitam kemerahan yang mendatangkan hawa maut mengerikan itu berhasil merenggut nyawa enam orang.


Tapi sepuluh orang sudah datang menghadang. Sung Han mengumpat keras.


"Kembali kalian!! Jangan kabur!!" serunya saat melihat topeng emas, Yu Fei dan Bo Tsunji yang sudah terluka itu bangkit tertatih dan melarikan diri. Gerakan mereka terlampau cepat, Sung Han maklum akan kepandaian tiga orang itu.


Maka melihat masih ada lima belas orang tersisa, dia tak menghiraukan tiga orang tadi dan menghabiskan mereka semua. Begitu selesai, bayangan tiga orang itu benar-benar sudah lenyap dan membuat Sung Han jengkel bukan main.


Hendak mengejar tapi ke arah mana? Tiga orang tadi berlari secara terpisah dan berpencar.


Ia teringat akan dua gadis itu dan cepat menengok. Kiranya mereka sudah pingsan sambil berpelukan saking takutnya melihat aksi bunuh-bunuhan yang memang baru pertama kali mereka lihat.


Sung Han menghela napas panjang, menyarungkan pedang dan bergumam. "Prioritasku adalah dua gadis ini. Soal tiga orang itu, nantilah kupikir lagi saat sudah ketemu."


Sung Han menghampiri dua orang itu dan mengurut tengkuk masing-masing untuk menyadarkan mereka. Keduanya mengeluh lirih dan sedikit kaget melihat pria bertopeng dihadapan mereka. Tapi sadar itu adalah penolong mereka, dua orang gadis ini cepat bangkit dan bersujud.


"Terima kasih banyak atas bantuan tuan pendekar!" ucap mereka penuh keharuan di sela-sela isak tangis.


Sung Han membuka topengnya dan terkejutlah dua orang itu. Mereka tahu kalau Sung Han adalah seorang pemuda pendatang yang tadi siang menjadi bahan cemoohan penduduk desa. Semua orang tadi siang memandang pemuda ini penuh kebencian.


"Agaknya kalian mengenal aku?" tanya Sung Han melihat raut wajah keduanya.


"Bukankah tuan yang tadi siang baru masuk desa?" tanya salah satunya.


"Ya." jawab singkat Sung Han. Ia lantas memandang ke arah di mana tiga orang itu pergi. Setelah menghela napas, dia kembali berkata, "Lekas pulang dan ceritakan semua ini kepada ayah bunda kalian."


Tanpa menunggu jawaban lagi, pemuda ini sudah melangkah pergi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2