
Kabar akan bentroknya Hati Iblis dan Naga Hitam menyebar luas dikalangan rimba persilatan. Seluruh daratan utara tak ada yang tak mengenal nama dua perkumpulan ini. Maka sebentar saja, selang tiga hari kemudian orang-orang ribut membicarakan hal itu.
Tidak ada yang mengetahui penyebab pastinya, namun yang jelas kalau dua perkumpulan besar itu sudah bersiap untuk berperang. Tentu saja ucapan ini keluar dari mulut-mulut orang sok tahu.
Di kota Talas, sekitar dua hari perjalanan ke sebelah barat ibukota kekaisaran Chang, di seberang sungai Buaya yang penuh kelokan dan persimpangan, juga sedang terjadi kegemparan besar. Kegemparan itu tak lain adalah kabar akan bentroknya Hati Iblis dan Naga Hitam.
Di rumah makan tengah kota, nampak ramai dengan orang-orang yang makan minum dengan kawan atau keluarga. Di sudut ruangan, ada tiga orang yang bercakap-cakap dengan seru sekali.
"Apakah benar dua perkumpulan yang namanya membikin hati bergetar itu sampai bentrok? Jika memang begitu, berarti di wilayah timur sana sedang tidak baik-baik saja." kata seorang pria.
"Benar, takutnya desa-desa di sekitar wilayah mereka ikut terkena dampak dari dua perkumpulan besar itu." kata orang kedua.
"Tak usah ambil pusing soal masalah itu. Kita jauh dari mereka sehingga tak akan terseret dalam urusan itu. Tunggu saja kabar siapa yang menang." kata orang yang paling gendut dan penuh brewok.
"Hahaha...benar!"
Sedangkan di meja lainnya, tepat di sebelah meja tiga orang itu, terdapat seorang pemuda yang mengenakan setelan pakaian sederhana. Kepalanya ditutupi caping lebar guna menyembunyikan wajah. Mendengar penuturan ini, dia mengepalkan tangan.
Pemuda ini bangkit dan membayar makanannya, lalu pergi keluar rumah makan dan pergi dari kota Talas. Pemuda ini berjalan menuju ke arah timur, setelah menyebrangi sungai Buaya, ia terus berbelok dan berjalan menuju selatan.
Kurang lebih beberapa jam kemudian, ia tiba di sebuah desa kecil yang bernama desa Buaya. Karena bertempat di pinggir sungai Buaya.
Ia menuju ke bagian paling selatan desa itu dan berhenti di sebuah rumah yang reyot hampir roboh. Setelah tiba di depan pintu, ia mengetuk sebanyak lima kali.
Pintu terbuka dengan sendirinya.
Pemuda ini langsung masuk dan menyapa seseorang yang duduk santai di pinggir jendala seraya menghisap cangklongnya. Ia terus berjalan ke ruang belakang dan membuka pintu kecil yang menghubungkan ke bawah tanah.
Menuruni tangga yang berpuluh-puluh banyaknya, sampailah ia di ruangan besar seperti tempat minum-minum.
"Ah, Khuang Peng sudah tiba." kata salah seorang yang sedang sibuk mengadu jangkrik bersama beberapa kawannya.
"Pasti ada berita mengejutkan! Benarkah rumor itu, saudara Khuang?" tanya si pengadu jangkrik lainnya.
Pemuda yang dipanggil Khuang Peng ini membuka capingnya dan hanya mengangguk singkat saja. Membuat raut wajah orang-orang yang ada di sana mengeras.
Tak berselang lama, datang dua orang lagi dari arah tangga dan ketika ditanya dengan perkataan yang sama, mereka juga mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, kami akan pergi melapor lebih dulu." kata Khuang Peng dan berjalan ke arah pintu yang menembus ruangan lain.
Di sana, duduk seorang pria tua berambut putih panjang yang dibiarkan terurai. Kumis serta jenggotnya juga panjang dan berwarna putih. Pakaiannya mengenakan jubah lebar yang juga berwarna putih.
Di sekelilingnya, ada rak-rak besar kecil yang penuh dengan berbagai macam buku. Sedangkan kakek ini duduk di salah satu kursi membaca sebuah buku.
Kedatangan Khuang Peng bersama dua orang lainnya itu seakan sudah diketahui oleh kakek ini, dia berkata. "Bagaimana hasil penyelidikannya. Benarkah rumor itu?"
Khuang Peng menjura dan mewakili kedua rekannya, "Benar ketua. Memang di timur sana, Naga Hitam dan Hati Iblis sedang terjadi bentrokan. Kejadiannya beberapa hari lalu, Hati Iblis membakar salah satu tempat di markas Naga Hitam.
"Hm...." gumam kakek itu.
"Apa yang harus kita semua lakukan ketua?" tanya Khuang Peng kemudian.
Kakek itu menghela nafas, "Lima tahun sudah kita dirundung oleh kcemasan yang tak berdasar sampai terpaksa menyembunyikan diri. Akhirnya Hati Iblis membuat pergerakan. Berarti kemungkinan besar dugaan kita selama ini benar, Hati Iblis yang mengadu domba kita!"
Kakek itu melempar bukunya, dan hebatnya buku itu kembali ke tempatnya semula, di salah satu rak buku. Kakek ini bangkit dan berbalik menghadap Khuang Peng.
"Jika sudah begini, kita Rajawali Putih yang juga terlibat hendak berpeluk tangan saja? Aku, Sie Kang memerintahkan, besok kita berangkat ke timur, mendatangi Naga Hitam!"
"Baik!" Khuan Peng dan kedua kawannya menjawab. Lantas mohon undur diri dan menyampaikan berita itu kepada para anggota Rajawali Putih yang lain.
...****************...
"Keparat.....!!"
Nenek itu menggeram seperti harimau terluka, tubuhnya gemetaran dan tangannya terkepal erat. Matanya dengan liar menyapu empat orang berbaju putih dan hitam yang datang melapor.
"Tiada guna! Enyah!!" bentaknya dan mengibaskan tangan. Sedetik kemudian, darah terciprat kemana-mana ketika tubuh empat orang itu sudah tercacah-cacah.
Jin Yu melihat ini, datang dan berkata gusar, "Pedang Gerhana Matahari tak berhasil didapat? Memang sekuat apa bocah itu sampai bisa merobohkan demikian banyak orang lihai kita?"
Phiang Bi Sun membanting kaki dan berkata jengkel kepada pria besar itu, "Itu salahmu!! Kenapa kau mengirim kroco macam Manusia Tangan Pedang dan Si Besar Tenaga Raksasa untuk melawan pemilik pedang itu. Seharusnya kau kirimkan Siauw Goan atau Ki Yuan, atau kau sendiri yang turun tangan!"
Nenek ini berbalik dan pergi seraya mengumpat, "Nah, telanlah buah dari sifat aroganmu itu! Bukankah putrimu dan Ki Yuan sudah peringatkan? Kita gagal total!!"
Jin Yu menggertakkan giginya, wajahnya memerah saking marahnya.
__ADS_1
"Aaarrghhhh!!" dia memekik macam orang gila, lalu sekali tangannya menyambar, tembok di salah satu sisi berlubang seketika tercium tinjunya.
Tak berselang lama, datanglah Ki Yuan dan bersama putrinya yang cantik manis. Wajah mereka tak membayangkan apa-apa, hanya menatap datar dengan mulut terkatup rapat.
"Kalian hendak mengejek aku?" tanya Jin Yu namun dua orang itu tetap diam.
Putrinya yang agaknya selalu tenang dalam setiap situasi maju selangkah dan berkata, "Ayah, jangan menurutkan pada emosimu. Semua sudah terjadi dan biarlah. Kita harus memikirkan rencana selanjutnya."
Ki Yuan menambahkan, "Benar apa kata nona muda. Bahaya besar kalau sampai Rajawali Putih mendengar ini dan membantu Naga Hitam, bisa-bisa kita akan hancur."
"Tapi, apakah Rajawali Putih sudah tahu kalau pelaku adu domba itu kita dari Hati Iblis?" sahut putri Jin Yu, "Jika Naga Hitam sudah menebak demikian, hal itu tak mengherankan karena secara berterus terang kita mengacaukan tempatnya dan agaknya dengan mulut lebar nenek sinting itu, rahasia sudah terbuka."
Gadis ini lanjut berkata, "Tapi lain halnya dengan Rajawali Putih. Selama ini tak ada yang tahu dimana tempat sembunyinya, kecuali ada mata-mata yang terus mengawasi, mereka tidak akan tahu kalau pelakunya kita bukan?"
"Tidak....itu tidak mungkin." kata Jin Yu.
"Apa?"
"Sie Kang dan Giok Shi memiliki pandangan yang amat luas, dari awal mereka tidak pernah mencurigai satu sama lain. Hanya karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah, maka Sie Kang bersembunyi entah kemana." katanya melanjutkan, "Jadi, jika kita sudah ketahuan menyerang lebih dulu, jelas Sie Kang akan berada di pihak Naga Hitam. Terlepas mereka tahu akan dalang dibalik kejadian lima tahun lalu atau tidak."
"Tapi...." kata Jin Yu memotong Ki Yuan yang sudah hendak bicara, "Sie Kang pun tokoh kosen yang berpengalaman banyak, dia tentu merasa curiga akan kejadian beberapa hari lalu dan mengaitkannya ke masalah lima tahun silam. Kemungkinan, Rajawali Putih sudah menduga kalau kitalah dalangnya."
"Aku tidak paham!" tukas putrinya.
"Terserah kau paham atau tidak. Tapi anggap saja Rajawali Putih bertindak sesuai perkataan Phiang Bi Sun kala itu."
Ki Yuan kini menjawab, "Bersembunyi dan menunggu Hati Iblis menyerang, lalu mereka bersama akan menyatukan kekuatan untuk menyerang kita?"
"Benar!" jawab Jin Yu, "Tidak ada hubungannya dengan masalah lima tahun lalu bukan? Tapi kalau benar demikian, habislah kita."
"Kita tak hanya habis, tapi hilang dan lenyap!" kata seseorang yang baru datang.
Ketika semuanya menoleh, kiranya itu adalah Siauw Goan yang datang sembari terkekeh-kekeh.
"Si pewaris itu tak masuk hitungan? Kalau ia ikut bertempur pula, kita jadi apa?" kembali ia terkekeh aneh, "Bahan bakar neraka, mungkin?"
Semuanya hanya bungkam.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG