Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 215 – Keputusan Jenderal


__ADS_3

Nie Chi, Khuang Peng dan Sung Hwa dibawa menuju tempat jenderal Guo Cu berada. Selama di perjalanan ini, Sung Hwa menyempatkan diri untuk memerhatikan sana-sini. Kota ini cukup besar juga, dan bangunan-bangunan yang ada di sana terlalu bagus untuk dijadikan bangunan yang berada dekat dengan benteng.


"Han Ji, dari mana asalmu?" tanya Nie Chi sesaat setelah keluar dari tempat kumpulnya para pendekar.


"Di wilayah selatan sekitaran Pegunungan Tembok Surga. Tapi aku baru saja kembali dari utara." jawab Sung Hwa atau kini yang menggunakan nama Han Ji.


Nie Chi mengangguk-angguk. Entah kenapa dari tadi dia nampak tertarik sekali dengan sosok Han Ji ini. Sambil mengelus-elus dagunya dia bertanya lagi.


"Dari perguruan mana kau berasal? Ilmu kepandaianmu amat mengangumkan, kau pasti mempunyai guru seorang tokoh besar."


Han Ji mengangguk dan tersenyum tipis. "Guruku luar biasa, tapi dia bukanlah tokoh besar. Dan maaf aku tak bisa memberitahu lebih dari pada ini."


"Wah, amat disayangkan." Nie Chi tampak kecewa.


Khuang Peng yang sedari tadi juga diam, kini ikut dalam pembicaraan. "Nona Han Ji, mengapa kau memilih untuk mempertaruhkan nyawa dengan bergabung pasukan ini?"


Han Ji menatapnya bingung. "Aku juga bisa menanyakan itu padamu. Kenapa kau bergabung?"


Khuang Peng menghela napas. "Aku tak ada pilihan lain, sebenarnya aku amat enggan untuk saling berperang. Tapi keadaan memaksa, dan aku tidak mau berada di sisi lawan kaisar."


"Oh, begitu. Kalau aku bergabung hanya karena ingin. Tidak ada alasan khusus."


Dua orang pemuda itu nampak terkejut sekali. Nie Chi lekas bertanya.


"Kenapa begitu? Ini perang, jangan kau jadikan main-main."


"Aku tahu ini perang. Dan aku tahu pula jika tidak terjun dalam perang ini, maka seluruh rakyat akan menderita dengan kebuasan Jeiji. Aku ikut perang ini hanya karena naluri sebagai seorang patriot."


...****************...


Seorang tinggi besar dan berbadan kekar, umurnya tentu tak kurang dari empat puluh tahun tetapi melihat tubuhnya, masih membayang kekuatan dan stamina dahsyat. Dialah jenderal Guo Cu yang memimpin pasukan mereka. Juga pasukan tentara.


Setelah jenderal ini menyuruh duduk, cepat tiga orang itu sudah mengambil kursi dan duduk menghadapi jenderal itu.


"Jadi, apa yang hendak anda katakan?" Nie Chi bertanya. Seperti watak gurunya, tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Kami sudah saling berdiskusi," kata jenderal itu dan segera terpotong oleh perkataan Nie Chi.


"'Kami' siapa?"


"Para jenderal. Aku dan ketiga jenderal lain telah mengambil satu keputusan bulat untuk rencana pertahanan Mustika Naga jika penyerangan berlangsung sewaktu-waktu."


Saat itu, seorang pelayan datang dan menghidangkan berbagai macam makan minum di meja. Jenderal Guo Cu menghentikan sejenak perkataannya supaya tidak di dengar oleh si pelayan. Setelah menata makanan di atas meja, jenderal itu menyuruh si pelayan keluar.


Nie Chi mengambil satu pangsit dari tempatnya. "Jadi, bagaimana?" tanyanya.


Jenderal itu menuangkan arak untuknya dan ketiga orang tamu. Dia minum arak dalam sekali teguk. Barulah saat itu dia menjawab pertanyaan Nie Chi. "Orang-orang rimba persilatan akan ditempatkan pada garis depan."


Seketika Nie Chi tersedak pangsitnya, Khuang Peng menyemburkan kembali arak yang sudah mencapai tenggorokan dan Han Ji menggebrak meja.


"Apa kalian memandang kami sebagai daging segar untuk diumpankan kepada serigala kelaparan?" bentak Han Ji dengan muka merah. "Jumlah kami memang paling sedikit, tapi bantuan kami juga perlu kalian perhitungkan!"


Jenderal Guo Cu menggerak-gerakkan tangan untuk menenangkan Han Ji. "Tenang nona, ini sudah kami pikirkan masak-masak."


"Coba buktikan jika pikiran kalian itu sudah tidak mentah lagi!" tuntut Han Ji tak sabar. Tindakan ini diangguki oleh dua orang lainnya.


"Lalu kami ditempatkan di mana?" Kembali Han Ji menuntut.


"Benteng bawah."


Han Ji mengangkat tangan, dia ingin menghancurkan meja itu jika saja tangannya tidak ditahan oleh Khuang Peng. Namun walau begitu, mulutnya tetap mengirim umpatan pedas.


"Setan biadap, babi busuk! Itu artinya menyuruh kami untuk bunuh diri!! Bahkan tak menutup kemungkinan kami akan terkena panah kalian sendiri!!"


"Kalian merupakan orang-orang yang terbiasa bertanding satu lawan satu. Kalian tidak tahu siasat perang. Sehingga meletakkan musuh tepat di depan mata kalian adalah hal terbaik bagi kami juga kalian sendiri!" Jenderal Guo membalas tak kalah sengit.


"Apa? Tolong bedakan antara pemberian tugas dan pengorbanan manusia!"


"Kita semua berkorban!!"


"Kami para pendekar sengaja kau korbankan untuk dijadikan umpan!"

__ADS_1


Napas Jenderal Guo Cu terengah akibat emosi yang mulai berkobar. Dia menggebrak meja satu kali dan berbalik ke ruang dalam.


"Pertemuan selesai!"


...****************...


Benteng bawah, itu merupakan benteng yang posisinya lebih rendah dari benteng utama Mustika Naga. Benteng itu berada tepat di garis pantai dan panjangnya tak sepanjang benteng Mustika Naga. Panjang benteng bawah ini hanya cukup untuk menutupi celah teluk di pantai timur. Walau begitu, benteng ini amat kokoh kuat.


Akan tetapi letaknya yang jauh lebih rendah dari benteng Mustika Naga, juga lebih dekat dengan laut, itu berarti membahayakan siapa saja yang berdiri di sana. Bisa saja mereka akan terkena serangan sekutu yang datang dari belakang, atau hancur digempur pasukan dari depan.


Menurut penuturan Khuang Peng, benteng bawah itu hanya digunakan sebagai penahan musuh saja. Tidak didesain untuk diisi oleh pasukan. Karena itulah Sung Hwa marah besar.


"Bangsat, jika kita mundur artinya pengecut, jika maju itu bunuh diri!" Han Ji masih mengomel sepanjang perjalanan pulang.


Khuang Peng dan Nie Chi hanya diam karena tak tahu harus berkata apa. Memang jika dipikir-pikir, posisi pendekar yang paling pas adalah dekat dengan lawan. Jika mereka berada di belakang dan suruh memanah, itu sama artinya seperti ayam disuruh terbang. Hanya sekadar bisa tapi tidak benar-benar bisa.


Han Ji terus mengocehkan segala umpatan yang cukup kasar dan yang paling kejam. Setelah sekian lama, Nie Chi menyahut.


"Jika kita menentang, pasti jenderal itu berkata itu adalah siasat perang. Apa kita harus mundur hanya karena ini?"


Han Ji menatapnya tajam. "Kau berencana mundur?"


"Tidak," jawab Nie Chi. "Hanya saja aku bertanya padamu."


"Tak sudi aku untuk mundur. Siapa yang takut mati?"


Setelah mereka tiba di markas para pendekar, mereka yang ribut segera mengalihkan perhatiannya kepada tiga orang itu. Wajah ketiganya nampak menahan jengkel dan ini membuat heran di hati mereka semua.


"Keputusan para jenderal sudah bulat," kata Khuang Peng. "Pasukan pendekar berada di benteng bawah."


Para pendekar menjadi berisik dan segala umpatan terdengar. Han Ji yang mendengar ucapan Khuang Peng itu kembali menjadi emosi dan dia ikut meramaikan suasana ramai penuh umpatan itu.


"Jenderal babi! Akan kusembelih mereka setelah perang ini selesai!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2