
Beberapa waktu lalu, kekaisaran Chang utara heboh dengan tertangkapnya Rajawali Merah. Lalu tak lama setelah itu, kekaisaran kembali geger dengan lolosnya si Rajawali Merah itu. Lalu selang beberapa waktu lagi, kembali terjadi kegegeran ketika Rajawali Merah telah mengacau di desa-desa pelosok.
Namun berita terbaru kali ini, yang paling mengejutkan mereka semua, sebuah berita yang disebarkan oleh seorang sastrawan tua yang menjual berbagai macam barang dan alat musik. Dia membuka lapaknya di pinggir jalan dengan menggelar sebuah tikar lebar.
Siang hari itu, dia dikelilingi oleh banyak orang yang merasa tertarik juga penasaran dengan syair-syair sastrawan ini. Karena memang orang ini cukup terkenal di kalangan masyarakat. Selain sifatnya yang aneh dengan melakukan pengembaraan tak menentu, juga sastrawan ini pandai sekali membuat syair, sajak, atau puisi. Dan informasi-informasi pun tak ada satu pun yang ketinggalan.
Selesai membaca syair-syair, penduduk desa itu merasa gembira sekali. Mereka merasa terhibur, maka dari itu banyaklah koin-koin berbagai warna dilemparkan kepadanya. Entah koin perunggu, perak bahkan emas. Sastrawan ini tertawa-tawa menerima semua koin itu ke dalam batok kelapanya.
Tak berselang lama, keadaan sastrawan itu menjadi sepi. Agaknya dia sedang beristirahat karena sudah dua jam penuh dia terus melantunkan syair-syair dan berbagai macam puisi.
Tiba-tiba, dia melihat ada kaki orang berdiri di hadapannya. Sontak dia mendongak dengan gerakan perlahan, sekaligus ingin melihat tubuh orang itu lebih teliti. Begitu pandangannya tiba di wajah orang itu, terkejutlah ia.
"Perempuan?"
"Paman, aku ingin tanya sesuatu." kata gadis itu. Yang berjubah lebar warna merah. Yang saking lebarnya, lekuk lengkung tubuhnya sama sekali tidak kelihatan. Justru jika tidak melihat wajahnya, pasti orang mengira dia ini adalah seorang gemuk.
Sambil berkata demikian, gadis ini berjongkok dan meletakkan tiga koin perunggu ke dalam batok kelapa si sastrawan.
"Apa segini cukup?" tanyanya.
Sastrawan itu tersenyum ramah dan mengangguk-angguk. "Lebih dari cukup nona. Bantuan apakah itu?"
"Aku ingin informasi. Warga sini banyak yang mengenalmu selain sebagai sastrawan, juga sebagai penyedia informasi. Benarkah?"
"Huahaha....itu tidak benar, tapi kalo dikatakan salah tentu saja amat tidak cocok. Nah, informasi apakah yang ingin nona ketahui? Sedikit banyak mungkin aku bisa bantu." katanya sambil tersenyum makin lebar.
Gadis itu mengangguk-angguk sebelum kemudian mengajukan pertanyaannya, "Saat ini sedang heboh-hebohnya mengenai kasus Rajawali Merah yang mengacau di desa pelosok. Paman, tahukah di mana desa pelosok itu?"
"Ah...adakah pertanyaan lagi?"
"Mengapa? Kau tak tahu akan pertanyaanku?"
"Tidak-tidak...aku hanya ingin menjawab semua pertanyaanmu sekaligus agar mempersingkat waktu."
__ADS_1
"Tidak, pertanyaanku cuman satu." kata gadis itu menjelaskan.
Sastrawan itu mengangguk-angguk, "Ketahuilah nona, sebenarnya desa ini sudah termasuk desa pelosok yang jauh dari ibukota. Untuk tempat munculnya Rajawali Merah, itu tak jauh lagi dari sini, hanya setengah hari ke barat sana."
Belum juga gadis itu menjawab, sastrawan ini sudah berkata lagi, "Desa ini pun sudah pernah kena amukan rajawali satu itu."
"Ohh...." jawab gadis itu seraya bangkit berdiri, "Kalau begitu terima kasih, aku akan segera ke sana."
Baru saja gadis itu melangkah beberapa tindak, sastrawan ini berseru, "Nona, aku seperti pernah melihatmu!"
Sontak gadis ini berhenti, selang beberapa waktu dia berbalik. Namun tatapannya lebih tajam, "Di mana?"
Sastrawan itu menggerak-gerakkan tangannya, memberi isyarat kepada si gadis untuk datang mendekat. Gadis itu menuruti apa kemauan si sastrawan. Setelah dekat, sastrawan itu menyuruh si gadis untuk jongkok, kembali gadis itu menurut. Lalu pria tua itu mendekatkan bibirnya ke telinga gadis tersebut.
"Apakah Rajawali Merah yang asli akan membersihkan namanya?"
"Singg!!"
"Hahaha, tak perlu se kaku itu. Apakah aku terlihat hendak memangsamu?"
"Kau sudah tahu siapa aku."
"Tapi kau belum tahu siapa aku."
"Itu tak ada hubungannya! Yang jelas, setelah ini kau akan menyeretku ke pemerintahan bukan?"
Tiba-tiba, wajah sastrawan itu berubah menjadi serius. Pandangannya menajam dan mulutnya mengeras. Perkataannya penuh wibawa yang membuat gadis itu seperti dipaksa menurut atau percaya.
"Tidak akan!"
...****************...
Gadis itu berjalan gontai mengikuti tiga orang pria yang mengiringinya. Pandangannya selalu kosong dan muram, seperti orang linglung dan hilang ingatan. Tujuan hidup sudah lenyap, dia merasa sudah tak ada gunanya lagi hidup di dunia ini lebih lama.
__ADS_1
Tiga orang pria lainnya seolah tak memedulikan gadis ini dan terus melangkah. Bahkan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa. Benar-benar biadab.
Dia ini bukan lain adalah Han Fu Ji atau yang biasa dikenal sebagai nona Han. Sudah sehari penuh dia melakukan perjalanan bersama tiga orang itu yang entah ke mana. Dia pun sudah tak punya tujuan karena telah kehilangan ibu serta kehormatannya.
Ibunya, setelah diperkosa kemarin malam, tanpa setahu siapapun dia menusukkan pisau ke lehernya sendiri. Ketika itu Han Fu Ji hendak mengambil pisau itu dan bunuh diri pula, namun tiga orang ini ternyata sudah tahu lebih dulu dan mencegah.
Tiga orang itu adalah tiga orang yang telah menyamar sebagai Rajawali Merah, Ratu Elang dan Sung Han. Mereka yang sejatinya berjuluk Naga Sakti Ujung Timur itu telah menggabungkan diri dengan Serigala Tengah Malam dan saat ini sedang menuju perjalanan ke markas utama mereka.
Selama perjalanan ini, beberapa kali berhenti hanya karena mereka sudah "tidak kuat" lagi. Maka dari itulah Han Fu Ji yang paling tersiksa. Dia masih terus hidup hanya karena menunggu sosok penolong. Siapapun itu yang jelas dia ingin menyampaikan permohonan maafnya kepada Sung Han melalui perantara penolong itu.
"Kita berhenti dulu di sini." kata orang yang menyamar sebagai Sung Han.
Mereka semua langsung duduk mendeprok di atas tanah. Han Fu Ji sedikit menjauh dari mereka dan duduk di atas batu datar yang agak bersih. Pandangannya menunduk.
Ketiganya itu bercakap-cakap dengan serunya sambil ditemani arak yang sudah menjadi bekal mereka. Tawa mereka amat menggelegar memekakkan telinga, namun bagi Han Fu Ji tetap sunyi senyap di sana, sesunyi keadaan hatinya.
"Heiii!!"
"Haaiiit!!"
"Woaaahh!!"
Tiba-tiba tiga orang ini saling berteriak dengan kencangnya. Hampir berbareng mereka bangkit berdiri dengan sikap waspada. Sekali ini Han Fu Ji sampai tervekat dan dia memandang penuh perhatian.
Hingga lama kemudian namun keadaan cukup sunyi. Seorang yang menyamar sebagai Rajawali Merah sudah tak tahan lagi dan membentak, "Siapa di sana? Pengecut hina, munculah dan tunjukkan batang hidungmu!!"
Kembali keheningan yang menjawab. Namun tak selama tadi ketika terdengar jawaban. Sebuah suara wanita yang halus dan jernih, namun penuh penekanan.
"Hm...siapa di antara kalian yang mengaku berjuluk Rajawali Merah?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1