Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 255 – Kabar Buruk yang Tersembunyi


__ADS_3

Wajah tuan putri sulit untuk dijelaskan. Antara takut, tegang, ngeri dan lain-lainnya yang bahkan Sung Han bersama Sung Hwa sama sekali tidak bisa menebak sedikit pun juga. Hanya saja yang pasti, tak ada ekspresi yang menunjukkan sedang terjadinya hal baik.


Khong Tiat, yang entah bagaimana, telah menjadi pengawal nomor satu tuan putri, memandangnya khawatir. Ingin dia mengelus pundak perempuan itu jika saja tak ingat akan keberadaan dua orang muda tersebut.


Sung Han dan Sung Hwa baru saja menceritakan semua isi percakapan mereka yang baru selesai siang tadi. Mereka memikirkan berbagai kemungkinan dan tak ada satu pun yang terlihat baik. Hingga akhirnya Sung Han mengingatkan akan keberadaan manusia gunung yang hampir saja terlupa.


Tak lupa pula sebelumnya Sung Hwa telah menceritakan segalanya dengan lengkap sekali. Ini merupakan rahasia, sehingga tepat sebelum ia bercerita, tuan putri meminta kepada semua penghuni ruangan untuk keluar. Kecuali Khong Tiat.


Cerita itu adalah mengenai dirinya yang sakit lalu diobati oleh seorang tabib dari kerajaan manusia gunung yang bernama Chunglai. Betapa dia dikira sebagai nona Songli dan dia memanfaatkan itu. Menjadi bagian dari kerajaan manusia gunung dan menjadi murid Chunglai. Hingga berakhir dengan perang saudara


Tuan putri mendengar semua penuturan itu dengan ekspresi berubah-ubah. Kadang terkejut sampai membuat mulutnya menganga. Kadang berseru tertahan menahan ngeri. Tak jarang pula wajahnya berubah pucat.


"Maafkan kelancangan saya paduka, namun betapa anehnya ini. Bukankah ini merupakan kabar baik bahwa kemungkinan manusia gunung turun tangan demi Sung Hwa?" akhirnya Sung Han bertanya setelah sekian lama keadaan ruangan hening total. Tak kunjung mendapat jawaban, Sung Han melanjutkan. "Walau kami tidak tahu seberapa besar kemungkinan itu. Tapi saya yakin pasti ada. Sekecil apa pun itu."


Ucapan Sung Han ini dikeluarkan dengan nada tegas penuh keyakinan. Matanya bersinar-sinar mengandung semangat membara. Hal ini sedikit banyak membuat putri Song Zhu dan Khong Tiat terpengaruh pula.


Namun agaknya putri itu teringat akan sesuatu, kembali wajahnya murung. Sulit dijelaskan.


"Itu memang kabar baik," katanya lirih. "Lebih tepatnya, kabar baik yang menyembunyikan kabar terburuknya."


Sung Han, Sung Hwa dan Khong Tiat mengerutkan kening dan saling berpandangan. Bagaimana pula ini? Kabar baik menyembunyikan kabar buruk? Mengapa bisa tahu ada kabar buruk di baliknya? Apakah tuan putri termasuk satu di antara beberapa dukun yang disebut ahli nujum?


Sung Hwa bertanya setelahnya. "Maaf, saya terlalu bodoh untuk memahami ucapan paduka."


Putri Song Zhu tersenyum pahit. Lalu mengangkat muka untuk memandang bekas pengawal pribadinya itu. "Coba kalian pikirkan baik-baik. Kupikir akibat perang yang terlalu panjang ini, membuat pikiran kalian terlampau jenuh bahkan tidak menyadari akan hal tersebut. Ayo ... pikirkan masak-masak," sambil bicara, putri itu mengisikan tiga cangkir teh mereka yang sudah kosong.

__ADS_1


Tiga orang pendekar kawakan itu memeras otak untuk mencerna maksud dari perkataan putri Song Zhu. Kabar baik yang menyembunyikan kabar terburuk? Pertanyaan itu selalu terulang-ulang di benak mereka. Namun seberapa banyak pun diulang, sama sekali tidak menemukan satu jawaban.


Hal ini membuat kepala Sung Han berdenyut. Sedangkan Sung Hwa menggelengkan kepala sembari mengusap jidatnya. Untuk Khong Tiat, entah bagaimana karena saking fokusnya berpikir, tanpa sadar ia mengerahkan tenaga dalam dan membuat asap mengepul dari ubun-ubunnya.


"Kami sama sekali tidak paham dan harap paduka memaklumi kami, tiga orang bodoh," akhirnya Sung Han berujar mewakili mereka bertiga. "Kami mohon agar paduka bisa berterus terang supaya membuat permasalahan menjadi jelas."


Putri Song Zhu kembali tersenyum, senyum pahit dan getir. "Kalian bilang bahwa kekaisaran Jeiji tidak lekas datang kemari karena sedang takut atau tertahan oleh sesuatu bukan?"


Sung Han dan Sung Hwa mengangguk lambat. Seolah ragu apakah mereka harus memberikan tanggapan saat si penanya sudah tahu jawabannya.


"Nah, mungkin seperti yang kalian katakan, bahwa kerajaan manusia gunung menyerbu pasukan Jeiji demi mempertahankan wilayah. Masuk akal, sungguh. Tapi itu masih kurang jelas. Amat tidak jelas."


"Maksud paduka?" Khong Tiat bertanya.


Sung Han sudah mulai mengerti. Dia lebih dulu paham karena dialah yang memikirkan kemungkinan adanya bantuan dari kerajaan manusia gunung. Wajar jika dia lebih dulu tersadar akan keganjilan itu tepat setelah tuan putri bicara. Namun dia masih belum tahu pasti apa keganjilan tersebut.


"Nah, melihat ekspresimu kukira kau sudah sejalan dengan pemikiranku?" tuan putri bertanya sambil memandang Sung Han.


"Saya tidak yakin."


"Maka, akan kujelaskan." Perempuan itu lalu berjalan ke dinding yang tergantung sebuah peta seluruh daratan Chang. Dia menggunakan jari telunjuknya untuk mengetuk bagian selatan, kemudian diseret ke daerah Pegunungan Tembok Surga. "Kabar terburuknya, jika kerajaan manusia gunung bertempur di wilayah mereka, itu hanya berarti bahwa Jeiji sudah melakukan invasi ke utara. Tanpa mereka sadari, mereka telah masuk ke wilayah kerajaan manusia gunung dan terpaksa berperang melawan pasukan kerajaan itu. Inilah yang menyebabkan pasukan Jeiji selatan tak kunjung sampai ke sini."


Sung Han terkejut setengah mati sampai bangkit berdiri, Sung Hwa menahan pekikannya dengan menutup mulut menggunakan kedua tangan. Tubuh Khong Tiat bergetar dengan wajah pucat.


"Itu lebih masuk akal, kan? Mengingat manusia gunung tak pernah mencampuri urusan dunia," ujar tuan putri. "Tapi lain lagi ceritanya jika ada yang mengusik mereka."

__ADS_1


Ketiganya belum ada yang mampu berkata-kata, mereka terlalu terkejut dengan kemungkinan masuk akal tersebut. Kenapa dari tadi Sung Han dan Sung Hwa sama sekali tidak sadar? Benarkah bahwa mereka terlalu letih akibat perang sampai mengurangi kejelian mereka?


"Anggap saja kerajaan manusia gunung turun tangan karena tempat mereka diusik orang asing. Jangan terlalu berharap banyak," tuan putri mengakhiri perkataannya dengan duduk kembali di kursi dan meminum tehnya.


...****************...


"Begitukah? Kalau memang demikian, itu berarti gawat sekali," Nie Chi menjadi orang pertama yang heboh setelah mendengar hasil percakapan antara Sung Han dan tuan putri. "Jadi, apa keputusan beliau?"


"Secepatnya kita harus menyebarkan pasukan. Satu menyelidik ke Pegunungan Tembok Surga, satu lagi menyisir seluruh wilayah utara untuk mencari tempat persembunyian pasukan Jeiji yang masih bersembunyi."


Khuang Peng mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya tiba-tiba menjadi tajam. "Itu artinya kita terhimpit dari dua sisi."


"Kau baru sadar?" cibir Gu Ren setengah jengkel dengan pemuda itu. "Apa saja yang kau makan selama ini?"


Khung Peng mendengus. "Intinya, sekarang keadaan kita sudah jelas amat gawat sekali."


"Memang sebelumnya tidak gawat?"


"Gawat. Tetapi kini jauh lebih gawat. Hanya tinggal menunggu waktu sampai kerajaan manusia gunung hancur lalu pasukan Jeiji selatan menyerbu kemari."


"Tugas kita adalah mencegah itu!" tegas Sung Han mengepalkan tangannya. "Percayakan pada tuan putri. Aku yakin beliau akan mengambil keputusan yang tepat. Sekarang lebih baik kita berlima fokus untuk meningkatkan kekuatan diri sendiri."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2