
Sampai lama Sung Hwa berdiri termenung memandang ke arah mana pemuda itu pergi. Lalu saat dia duduk pun, pikirannya terus berkecamuk memikirkan sosok itu. Entah kenapa dia terlalu aneh dan menarik.
Aneh karena tiba-tiba muncul dengan cara yang cukup janggal, hanyut di sungai dan entah bagaimana malah mencuri rotinya. Dan cukup menarik karena selain ketampanannya, dia tentu bukan orang biasa dan amat lihai. Terbukti dari gerakannya yang tak terlihat saat mencuri roti.
"Siapakah dia....?" gumam Sung Hwa kepada diri sendiri entah yang keberapa puluh kali.
Saat itu, dia mendengar suara gemersak dari belakang. Suara yang timbul oleh rumput dan semak belukar yang terinjak-injak. Kewaspadaannya bangkit dan cepat melompat bangun.
"Siapa!?" gertaknya.
Tapi sesaat setelah itu, pandangannya melunak diiringi helaan napas lega. Ia tersenyum, "Akhirnya kalian datang juga."
"Maaf membuat anda menunggu nona." kata Mi.
"Nona, kami datang telambat untuk berburu disekitaran hutan." Yu berkata semangat, seperti anak kecil matanya berbinar-binar saat menunjuk ke belakangnya, "Mari kita makan lebih dulu sebelum mencari Sung Han. Kami sudah menangkap seekor rusa gemuk."
Sung Hwa tak dapat menahan kekehannya. Kebetulan sekali, rotinya sudah raib dicuri orang, dan rasa laparnya belum juga tuntas. Maka dia hanya mengangguk dan mengikuti dua saudara seperguruan itu untum memasak daging rusa yang bensr-benar gemuk.
Tapi atas desakan Sung Hwa, mereka makan sedikit buru-buru karena bagaimanapun tempat ini masih dekat dengan perkemahan Hati Iblis. Maka setelah selesai makan, mereka segera berkemas dan pergi dari sana.
"Ayo cari saudara nona!!" Yu berujar semangat.
"Hahaha, saudara? Saudara jauh? Terlampau jauh malah. Entah dia keturunan Sung Hwa atau kakaknya, Sung Lan, tapi semoga kalian tidak berbohong." Sung Hwa terkekeh.
"Kami tidak bohong nona, dia sendiri yang memperkenalkan nama sebagai Sung Han." kali ini Mi menyahut.
"Baiklah, ayo kita cari!"
...****************...
Sung Han cukup terkejut ketika tiba di salah satu desa kecil, telinganya mendengar cerita orang-orang yang membicarakan satu hal seruba. Itu adalah kisah Petaka Para Pendekar.
"Iya, mereka tertimbun di sana." kata seorang petani lewat.
"Pasti tidak ada yang selamat." seorang bocah dengan ingus menghias di sudut bibir bicara kepada kawan-kawannya.
__ADS_1
Sedang dua orang wanita peruh baya empat puluhan tahun dengan wajah sedih saling bercakap-cakap.
"Kasihan mereka...."
"Mengapa bencana seperti itu terjadi ketika para pendekar gagah itu berkumpul?" sahut ibu satunya.
Sepanjang perjalanan di jalanan desa ini Sung Han selalu mendengar cerita yang sama soal para pendekar yang tertimbun di dalam tanah. Dia tidak bisa tidak heran, keningnya berkerut bingung.
Sampailah ia di lapak salah seorang penjual daging segar di pasar ramai itu. Paman penjual tersenyum ramah saat Sung Han datang ke tempatnya, cepat ia menyambut.
"Selamat datang tuan, adakah daging yang hendak di beli. Daging sapi? Daging ayam? Atau daging babi?" ucapnya dengan tempo cepat dan terlatih baik, jelas sekali lidahnya sudah terbiasa untuk ini.
"Tidak." kata Sung Han, "Aku tidak ingin beli apa-apa. Hanya kalau paman sudi direpotkan olehku, aku ingin tanya beberapa hal."
Orang itu sedikit berubah raut wajahnya, tapi melihat pedang di pinggang Sung Han, serta luka-luka di sekujur tubuh, membuat si penjual merasa ngeri dan tak ada pilihan lain selain menyanggupi.
Dia kembali tersenyum dan bertanya, "Apakah itu tuan?"
"Petaka Para Pendekar. Bisakah paman menjelaskan tentang itu?"
"Ada apa paman? Mengapa semua orang membicarakan itu?"
"Tuan, kau....seorang pendekar?" tanyanya penuh keraguan dan dengan suara seperti berbisik.
"Jika iya, memang kenapa? Ada masalah dengan itu?"
"Wah...!" penjual itu makin terkejut sampai mulutnya berseru dan menarik perhatian orang-orang. Tapi mereka segera mengacuhkan dan kembali melanjutkan transaksi jual beli.
"Kau pendekar tapi sampai tidak tahu? Keterlaluan benar!" orang itu berkata. Sung Han malah merasa diejek.
Sebelum Sung Han membalas, paman penjual sudah lebih dulu melanjutkan, "Baiklah, akan kuceritakan."
...****************...
Sekitar seminggu yang lalu, dunia gempar dengan satu berita panas yang berasal entah dari mana. Mereka tidak tahu berita itu bersumber dari mana, tapi para pedagang dan pendekar sibuk membicarakan hal ini. Sampai berita itu menyebar ke segala penjuru.
__ADS_1
Petaka Para Pendekar, merujuk ke satu kejadian baru-baru ini yang telah terbukti kebenarannya.
Belum lama, ada rumor beredar tentang ditemukannya Pedang Gerhana Bulan di Lembah Setan. Berita panas itu tentu menarik perhatian para pendekar untuk segera mampir ke sana.
Namun setelah itu muncul kabar angin yang mengatakan bahwa semua pendekar itu tidak ada yang pulang dalam keadaan hidup. Mereka tertimbun bebatuan longsor di jurang Lembah Setan itu saat melakukan pencarian pedang tersebut.
Beberapa pendekar kosen melakukan penyelidikan. Dan memang benar, di salah satu sisi jurang, ada setumpuk batu-batu mengisi sampai hampir setengah jurang.
"Tidak tahu bagaimana nasib pedang gerhana itu, yang jelas para pendekar tidak ada yang selamat." kata paman itu menutup penjelasannya.
Ekspresi Sung Han sejak awal dimulainya cerita sudah tidak enak. Apalagi mendengar soal pedang gerhana dan Lembah Setan, ia sudah bisa menebak.
"Pastilah mereka yang menyebarkan berita itu. Keparat!!" Sung Han membatin dengan tangan terkepal.
Melihat perubahan pada ekspresi Sung Han, paman penjual daging malah merinding dan mengusir dengan halus. "Tuan, ada pembeli datang, mohon bergeser sedikit untuk tidak menghalangi jalan."
Sung Han paham akan ucapan orang, ia mengangguk dan bergegas pergi dari sana.
Sekeluarnya dari pasar, pikirannya tidak tenang. Jelas ada yang merencanakan soal penyebaran informasi itu, dan dugaan paling kuat adalah orang-orang yang telah menimbun mereka!
Karena siapa lagi? Hanya tiga orang yang selamat dari insiden itu, kemungkinan besar adalah Sung Han, Kay Su Tek dan gadis bercadar itu. Sung Han menduga demikian karena setelah ia keluar dari tumpukan batu, tempat di mana Kay Su Tek tertimbun sebelumnya sudah terbuka.
Melewati kedai makan, kupingnya kembali panas mendengar cerita serupa. Ia mencoba acuh dengan terus melanjutkan perjalanan menuju hutan kecil pinggiran desa. Ia lapar, tapi tak punya uang. Lebih baik berburu sendiri mencari hewan liar.
Tapi sebelum sampai di hutan, ada dua orang pendekar yang sedang bercakap-cakap sambil berjalan. Ia menepuk kepalanya sendiri menyadari kebodohannya selama ini. Percakapan dua pendekar itu seolah menyadarkannya.
"Hih....mengerikan, tentu itu kutukan Pedang Gerhana Bulan."
"Benar, lebih baik kita berhenti mencari sepasang pedang gerhana itu. Pedang setan!"
Sung Han menatap kepergian dua orang itu yang baru saja lewat di sebelahnya. Ia menggeleng-geleng dan menghela napas berat.
"Tentu itulah tujuan mereka...." gumamnya, "Mereka menyebarkan berita itu agar orang-orang takut mencari Pedang Gerhana Bulan atau matahari. Tujuan mereka adalah supaya bisa dengan tenang mencari keberadaan pusaka itu dan memilikianya! Betapa bodohnya aku...kenapa tidak sadar?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG