Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 127 – Petualangan Bersama


__ADS_3

"Em....waktu itu kau bicara tentang keturunan penjahat, bisakah aku mengetahui lebih rinci?" Kay Su Tek bertanya takut-takut ketika siang hari itu mereka menyempatkan diri untuk istirahat di bawah pohon yang berupa di padang rumput.


Sontak saja Sung Hwa menoleh. Sebelumnya dia menyibukkan diri dengan bermain batu atau rumput, ketika mendengar suara itu, gerakannya terhenti.


"Aku ini keturunan leluhur Hati Iblis. Aku putri Hati Iblis."


Hampir saja Kay Su Tek berteriak mendengar hal ini. Siapa tidak terkejut bahwasannya sosok cantik jelita itu kiranya adalah keturunan orang berbahaya? Dan selama ini dia sudah berpergian dengannya!


"Kenapa, kau takut? Bukankah Hati Iblis sudah hancur?" ucapan ini dikeluarkan dengan lirih dan penuh getaran. Kay Su Tek dapat merasakan kesedihan di sana.


Setelahnya terjadi keheningan yang cukup lama di antara mereka. Kay Su Tek benar-benar merasa tidak enak telah menanyakan hal tersebut. Tapi dia tak pernah menyangka jika Sung Hwa yang setiap gerak-geriknya halus lembut itu adalah keturunan penjahat. Keturunan leluhurnya lagi.


Sampai sekian lama mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kay Su Tek yang tak tahan dengan suasana ini tertawa dan meloncat bangkit. "Hahaha...bukankah perjalanan masih lumayan jauh? Mengapa kita malah bersantai di sini? Mari pergi ke kota raja, bukankah kau hendak mencari tuan putrimu di sana?"


Seharusnya Sung Hwa senang, memang dia senang. Tapi mengingat perkataan Kay Su Tek sebelumnya, dia memandang tajam, "Kau memusuhi pemerintah, untuk apa tiba-tiba bersemangat begitu?"


"Aku bersemangat karena menolongmu, bukan hendak bertemu putri itu!" balas pemuda ini. Memang masuk akal.


Akhirnya, Sung Hwa bangkit dan kembali berjalan menuju utara. Memang sebelumnya mereka sudah bersepakat untuk melakukan perjalanan ke kota raja guna mencari putri Chang Song Zhu yang kemungkinan besar oleh penolongnya dibawa ke kota raja.


Begitu mereka sampai di satu desa yang sudah dekat dengan kota raja, Sung Hwa memutuskan untuk berhenti di sana. Betapa heran hati mereka ketika melihat penjagaan di sekitar amat ketatnya. Bahkan siang-siang begini tentara kekaisaran melakukan ronda ke seluruh sudut desa.


"Hmm, ada apa ini? Adakah sesuatu yang mengusir pergi kemalasan mereka di siang hari?" Kay Su Tek memandang sekeliling dan berkomentar.


Sung Hwa tak terlalu ambil serius dengan itu dan terus melangkah. Matanya melirik sana-sini untuk mencari penginapan.


"Hal biasa, pemberontakan sedang terjadi di mana-mana. Kekacauan di selatan membuat mereka lebih waspada."


Tapi walaupun begitu, memang sudah menjadi sifat-sifat para perwira pangkat tinggi itu yang terlalu jumawa. Mendapat kepercayaan dari atasan untuk melakukan perondaan di desa ini, mereka menggunakan kesempatan ini untuk mengumbar hasratnya.


Pemerasan diam-diam, penindasan bagi mereka yang tak mau membayar uang dengan dalih iuran keamanan, bahkan yang paling mengerikan, pemaksaan terhadap gadis-gadis dan ibu-ibu muda.


Semua ini dilakukan di sudut-sudut desa yang terpencil dan tak terlalu tampak dari luar. Sehingga dengan perlindungan anak buah mereka, para perwira ini bisa aman melancarkan aksinya.

__ADS_1


Kebetulan sekali tindakan ini disadari oleh Sung Hwa dan Kay Su Tek. Karena belum mengenal desa ini, mereka tanpa sadar telah berjalan ke ujung desa yang menjadi tempat di mana para perwira itu melakukan tindakan semena-menanya.


Awalnya Sung Hwa sudah merasa heran saat di depan sana jalanan diblokir dengan tembok manusia. Terdapat barisan tentara di sana.


Saat Sung Hwa mendekat, Kay Su Tek sudah merasa tak senang sekali dan dia mengajak kembali. "Untuk apa ke mari, ayo kembali ke jalan besar."


"Ada suara tangis wanita di sana, kau dengar kan?"


"Palingan juga wanita yang terlalu kasar diperlakukan suaminya."


"Aku ingin lihat!" tukas Sung Hwa tegas tak bisa dirubah-rubah lagi.


Ia menghampiri barisan tentara itu, dan pura-pura tak melihat Sung Hwa terus berjalan untuk menerobos barisan. Ketika dia mendorong salah seorang tentara dengan tangan kiri, cepat-cepat perwira itu mencekal tangan Sung Hwa.


"Nona, jangan ke sini. Di sini sedang dilakukan pembersihan." kata perwira itu.


"Pembersihan apanya? Kalian semua hanya bersantai di sini!!" geram Kay Su Tek mendengar alasan tidak logis itu. "Apa yang terjadi dengan para wanita!?" tegasnya lagi. Mau tak mau, karena sudah sampai di sini, dia harus mendukung Sung Hwa.


"Bukan urusanmu!!" bentak salah seorang perwira. "Lagian untuk apa kalian dua pendekar muda mendatangi tempat ini. Ingin mencampuri urusan pemerintah!?"


Lalu katanya, "Aku melihat para tentara melakukan ronda ke seluruh desa, tapi apa maksud kalian menghadang jalan ini. Apakah ada sesuatu yang dilakukan atasan kalian? Hayo suruh keluar!!"


"Apa yang dilakukan atasan kami tak ada hubungannya denganmu nona!!"


"Memang tak ada, hanya saja sebal rasanya mengetahui sosok berpangkat tinggi yang bersikap semena-mena." jawab Sung Hwa tanpa rasa takut seraya melirik ke satu rumah. Para tentara penghadang itu merasa tidak enak.


"Apa yang kau lihat!?" bentak tentara itu lagi.


"Tak mau keluar ya..." gumam Sung Hwa disertai senyum miring meremehkan. Sekali genjot, tubuhnya sudah melayang tinggi ke atas bagaikan burung walet. Orang-orang yang membuat pagar sekaligus yang sejak tadi melihat dari jauh berseru kagum menyaksikan itu.


Saat kaki Sung Hwa mendarat di depan salah satu rumah, dia mendengar pekik-pekik dua wanita. Hatinya panas dan cepat dia mendobrak pintu itu.


"Binatang, keluar kau!!! Jangan menggunakan pangkat serta nama pemerintah untuk membenarkan perbuatanmu!!"

__ADS_1


Baru saja ucapan ini selesai, Sung Hwa berdiri dengan muka pucat saat mengetahui apa yang sedang dilihatnya. Dua orang wanita, satu gadis satu paruh baya, sedang berusaha mempertahankan diri dari tangan-tangan ceriwis dua orang perwira tinggi. Tak jauh di sana, ada seorang pria paruh baya yang sudah mandi darah.


Melihat kedatangan Sung Hwa ini, dua orang perwira itu tidak menjadi terkejut atau kaget. Justru sebaliknya, dia memandang Sung Hwa dari atas sampai bawah dengan tatapan liar. Bagaikan anjing yang melihat tulang segar, air liur mereka tanpa sadar sampai menetes.


Tapi sebelum dua perwira itu sempat bereaksi, lebih dulu Sung Hwa melompat dan unjuk kepandaian. Dua kali tangannya berkelebat, saat itulah tubuh dua perwira ini terlempar keluar sampai jauh. Mereka hanya mampu mebgaduh-aduh.


"Pergi kalian dari sini, atau mau ingin merasakan hajaranku lagi!?" bentak Sung Hwa sambil menutup pintu rumah. Bagaimana pun dia juga seorang wanita yang tak terima ketika melihat wanita lain hendak diperkosa.


Dua perwira itu bangkit susah payah, lemparan Sung Hwa terlalu hebat bagi mereka yang hanya memiliki kepandaian tak terlalu tinggi. Salah satunya membentak marah.


"Gadis cilik, beraninya kau melawan kami. Apakah kau sekutu penculik itu!?"


"Penculik apa? Katakan yang jelas!!"


"Penculik putri Chang Song Zhu!! Beberapa hari lalu dia bentrok dengan Naga Hitam dan Rajawali Putih. Apakah kau komplotannya?"


"Apa yang kau bicarakan?" bentak Kay Su Tek yang sudah datang mendekat. Para tentara berusaha menahan tapi tiada hasil, mana bisa mereka menahan pendekar satu ini?


Kedua perwira cepat memandang dan seketika mereka memandang remeh. Hanya bocah kecil yang cacat, buntung tangan kirinya, untuk apa takut. Sebatang pedang di pinggang pemuda itu sama sekali tidak menakutkan.


"Dia itu pengawal pribadi tuan putri." walau dia amat tak senang mengatakan ini, tapi apa boleh buat. Dia harus berpihak pada Sung Hwa.


Kedua perwira tinggi itu saling pandang dengan bingung. Mereka bertanya-tanya dalam hati, benarkah omongan pemuda itu? Jika memang wanita ini pengawal pribadi putri, seharusnya dia ikut terculik dan selalu dekat dengan majikannya. Mengapa sekarang malah ada di sini?


Lalu, karena sudah saling bersama sejak bertahun-tahun lalu, dua perwira ini sudah dapat mengerti pikiran satu sama lain hanya dengan tatapan mata saja. Keduanya menyeringai sebelum cepat-cepat berlutut di depan Sung Hwa.


"Ahh...kiranya pengawal wanita tuan putri, maafkan kelancangan kami."


"Bagus kalau kalian sadar, cepat berikan kompensasi untuk keluarga ini!!" bentak Sung Hwa.


Kay Su Tek yang sekelebatan menyaksikan seringaian dua perwira itu, menyimpan berjuta macam pirkian. Namun dia tak mengatakan satu pun pemikirannya kepada Sung Hwa. Yang jelas, pasti dua perwira ini tak berniat baik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2