Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 166 – Terbukanya Sosok di Balik Topeng


__ADS_3

Setelah berhasil selamat dari pengejaran orang-orang Serigala Tengah Malam, rombongan itu pergi menuju ke arah kota raja. Tentu saja sudah banyak sekali mengamali pengurangan. Ketika berangkat dua ratusan orang, namun saat kembalinya tak lebih banyak dari seratus orang.


Akan tetapi mereka tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena mereka semua sadar bahwa inilah perang. Melawan sebuah kekuatan seperti Serigala Tengah Malam, yang memiliki banyak sekali pasukan dan kabarnya hampir semua golongan sesat berada di bawah naungannya, tentu saja tidak akan mencapai kemenangan tanpa pengorbangan satu orang pun.


Sebenarnya sang putri pun sedikit menyayangkan akan hal ini. Jika saja saat berangkat dia membawa lebih banyak pasukan pastinya yang jatuh korban tak akan sebanyak sekarang. Namun nasi sudah menjadi bubur, maka siapapun tak ada yang bisa mengubahnya.


Rombongan delapan puluh orang ini berlari-larian cepat menjauhi markas Serigala Tengah Malam. Sesekali mereka menengok ke belakang untuk memastikan tidak ada pengejar dari Serigala Tengah Malam.


Orang-orang di sekeliling sang putri yang termasuk golongan pendekar bahkan tak jarang menengok ke atas atau bawah. Suatu tindakan yang aneh.


Namun tidaklah aneh bagi orang-orang yang paham. Serigala Tengah Malam adalah suatu perkumpulan besar yang diisi banyak pendekar lihai, dan pendekar-pendekar semacam itu dapat bergerak lebih mengamgumkan daripada sepasukan kerajaan.


Bisa saja ada salah seorang atau beberapa orang pendekar Serigala Tengah Malam yang melakukan pengejaran dari atas. Atau ada yang sengaja menunggu dengan menimbun diri di bawah tanah. Siapa tahu?


"Masih ada yang mengejar?" tanya Chang Song Zhu kepada seorang pendekar di sebelahnya. Dia adalah Khong Tiat.


Pria empat puluh tahun yang masih cukup tampan ini memandang kepada sang putri yang sudah ngos-ngosan. Larinya masih cepat namun napasnya tidak menentu. Keringat sudah membasahi seluruh wajah dan lehernya. Melihat ini timbul rasa iba di hati Khong Tiat.


Dia menoleh ke belakang, dan melihat di sana sudah sepi tak ada satu pun pengejar. Namun atas perintah jenderal Tang sebelumnya, dia melarang berhenti sebelum mencapai aliran sungai besar di depan sana.


Khong Tiat merupakan seorang pendekar, dia sudah mengembara ke banyak tempat sebelum akhirnya bergabung dengan Naga Hitam. Tentu saja dia tahu aliran sungai mana yang dimaksudkan oleh jenderal itu, dan dia tahu pula jika dari sini sampai sana masih cukup jauh.


Karena khawatir akan keadaan sang putri, setelah dipikir-pikir sejenak dia mengambil keputusan nekat.


Begitu melewati satu pohon besar, dia melihat ada sebatang dahan yang cukup besar dan kuat. Seketika tubuhnya melambung tinggi sambil menjambret pedang salah seorang perwira.


Ditebaskanlah pedang itu dan putuslah dahan pohon. Ia panggul dahan pohon itu di pinggul kiri sedang tangan kanannya mengembalikam pedang ke tempat semula. Ke pinggang salah satu perwira.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan?" tegur Gu Ren. Mereka semua juga menanyakan hal serupa di hati masing-masing.


Khong Tiat tidak menjawab perkataan ketuanua dan malah mendekati sang putri. Lalu dalam gerakan yang secepat kilat, tanpa mampu dicegah lagi tangan kanannya sudah menarik kerah putri Song Zhu dan dilemparkannya ke atas.


"Dukk!" dengan tepat putri itu duduk di dahan pohon bagian belakang. Di mana dahan pohon itu masih dipanggul di pundak kiri Khong Tiat.


"Maafkan kelancangan hamba paduka, anda kelihatan begitu letih." kata Khong Tiat.


Ramailah keadaan setelah itu. Umpatan panjang pendek dilontarkan dari mulut hampir semua orang. Bahkan jenderal Tang Lin sendiri ikut pula mengirim cacian.


"Bajingan, lancang!! Turunkan paduka putri!!" bentaknya.


Chang Song Zhu tertegun dan termangu. Pandangannya tertuju kepada dahan itu sebelum beralih ke punggung Khong Tiat. Lelaki ini sama sekali tak menggubris setiap cacian yang diarahkan padanya, dia terus berlari dengan membawa putri Song Zhu di atas dahan pikulannya.


Sang putri tersenyum. Ia mengangkat tangan dan berkata, "Diam, fokus ke jalan depan!"


"Tapi paduka...."


"Diam!!" bentak putri itu dengan dada naik turun karena lelah. Seketika jenderal Tang tak berani buka mulut lagi.


Perjalanan ke sungai yang dimaksudkan oleh jenderal Tang kiranya masih membutuhkan waktu dua jam lagi. Dan diam-diam mereka merasa bersyukur atas tindakan Khong Tiat. Jika saja Khong Tiat tidak bertindak demikian, pasti mereka terpaksa harus istirahat lebih dulu karena agaknya sang putri sudah tidak kuat.


Ketika melewati jalan menurun, mereka amat berhati-hati karena memang medan di sini cukup sulit. Setibanya di bawah, mereka menarik napas lega karena akhirnya sudah sampai di sungai besar itu.


"Kita istirahat di sini." kata jenderal Tang Lin.


Mendengar ini Khong Tiat menurunkan tubuh sang putri perlahan. Kemudian dia menjura penuh hormat sekaligus untuk permohonan maaf atas kelancangannya. Sang putri hanya tersenyum saja.

__ADS_1


Mereka segera mendudukkan diri di pinggiran sungai itu. Ada yang minum air sungai, atau membasuh wajah dan luka dengan air jernih itu. Mereka melepas seluruh penat dan ketegangan di tepi sungai ini.


Namun tindakan mereka itu terpaksa harus ditunda saat mendengar omongan sang putri kepada Gu Ren.


"Tuan Gu, mohon bukan topengnya." katanya tanpa menjelaskan maksud dari topeng siapa. Karena jelas semua orang sudah paham.


Seketika keadaan menjadi hening, pandang mata mereka semua tertuju kepada Gu Ren yang masih mencengkeram rambut si topeng emas. Mereka juga penasaran sekali dengan sosok di balik topeng itu, apakah benar dia adalah pangeran seperti yang diceritakan putri Song Zhu? Ketegangan ini bahkan sampai membuat mereka lupa akan kelelahan sendiri.


Gu Ren pun penasaran bukan main, dia tadinya sudah hendak membuka topeng emas itu saat pertempuran masih berlangsung, namun gagal. Sekarang sudah tiba saatnya apakah benar ucapan sang putri bahwa sosok di balik topeng ini adalah pangeran Chang Song Ci.


"Baik, paduka." jawab Gu Ren dan menggerakkan tangan kiri untuk mengambil topeng itu.


Mudah saja baginya untuk melepas topeng yang sebelumnya terpasang erat di wajah orang itu. Saat topeng terbuka, semua orang menahan napas dengan muka pucat dan mata terbelalak. Jantung mereka berdebar seolah dapat menembus dada mereka dari dalam.


Sama halnya dengan orang-orang lain, wajah sang putri memucat dan wajahnyalah yang paling pucat ketimbang orang lain. Keringat dingin menetes dari dahi dan lehernya. Bahkan ada yang jatuh dari sudut dagunya. Seluruh tubuhnya menggigil.


"Benarkah ini.....?" gumamnya dengan suara bergetar.


Terlihat di sana, wajah seorang pria empat puluhan tahun dengan muka yang sudah pucat. Hidung mancung disertai alis tebal dan mata dalam. Tarikan bibirnya sedikit angkuh, tapi....


"Dia bukan pangeran...." gumam semua orang, jampir bersamaan.


"Ini bukan seperti apa yang aku lihat waktu itu." kata sang putri meragu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2