
Sung Han menyuruh beberapa orang untuk pergi menyelidiki keadaan di sekitar bukit tersebut. Memang benar ucapan jenderal Khu, bahwa di sebelah barat terdapat aliran sungai besar dan deras sekali. Lalu di utara dan timur terdapat jurang yang mustahil dilalui manusia. Kemudian di atas bukit, banyak terdapat formasi batu-batu raksasa yang menjadi semacam tembok perlindungan bagi pasukan yang terkurung itu.
Ketika Sung Han menanyakan perkiraan jumlah pasukan tersebut, mereka belum mengetahuinya secara pasti. Yang jelas terdapat seratus atau dua ratus orang yang menjaga di bagian luar formasi batu. Akan tetapi terlihat cahaya terang sekali dari dalam formasi batu, entah berapa banyak orang yang ada di sana.
"Jadi, menurutmu, bagaimana kita harus bergerak?" Gu Ren bertanya ketika pada suatu malam, mereka berkumpul di tenda yang memang disediakan untuk pimpinan pendekar saling berunding.
Lebih dulu Sung Han mengetuk-ngetukkan jari di atas meja kayu. Satu hal yang sepertinya sudah jadi kebiasaan sejak beberapa waktu lalu.
"Jika kita melakukan perang gerilya, terdapat keuntungan di kedua pihak. Dan poin keuntungan itu sama persis. Adalah letak formasi batu-batu raksasa itulah."
"Begitulah yang paling jelas. Batu-batu itu bisa dijadikan tempat kedua pihak berlindung. Kecuali jika mereka memadamkan api unggun. Kedua pihak akan mengalami kerugian besar. Bertempur dalam keadaan buta," Khuang Peng menyahut.
"Jika seperti itu, jelas para pendekarlah yang untung," sela Sung Hwa tiba-tiba. "Coba kaupikir. Para pendekar di bawah kita bukan pendekar kemarin sore. Mereka adalah para pendekar pilihan dengan kualitas bagus. Pertarungan di dalam gelap, hanya membuat buta, tapi tak membuat mereka tuli."
Tepat sasaran, ucapan Sung Hwa benar sekali. Bagi para pendekar yang bertarung di bawah mereka, sudah mencapai tingkat tinggi. Apalagi mereka berlima, pertarungan dalam gelap pun seharusnya bukan masalah besar.
"Tapi kita tidak tahu apa yang mereka miliki. Bagaimana jika para samurai dan ronin itu memiliki kemampuan yang sama?" Sung Han mengingatkan.
"Kau takut? Tidak mungkin, kan?"
Sung Han menggeleng. "Tentu saja aku tidak takut. Tetapi kita harus bisa membuat perang pertama ini jatuh korban seminimal mungkin."
Sung Hwa tak mampu mendebat. Ini adalah kesempatan untuk membuat nama mereka naik. Bukan untuk diremehkan lebih jauh.
"Jadi, apa rencanamu?"
Sung Han berpikir sejenak. Matanya memutar ke sana-sini tetapi keningnya berkerut. Tiba-tiba, dia teringat kejadian di desa ketika dia menjadi kambing hitam dari penculikan gadis-gadis. Tanpa terasa mulutnya tersenyum.
"Bagaimana jika melakukan perang batin?"
Mereka berempat terbengong. "Hah?"
__ADS_1
"Perang fisik, beradu senjata dan tinju, akan amat merugikan dan sulit bagi kedua belah pihak. Sedangkan perang batin, lebih mudah bagi kita yang seorang pendekar. Kita bisa membakar sekeliling bukit itu, tapi seperti yang dikatakan jenderal Khu, tempatnya terlalu lembab dan dingin."
"Tunggu, perang batin apa maksudmu tadi?" Nie Chi belum paham.
"Kita serang batin mereka. Dengan cara menebar teror dan ketakutan. Aku yakin ini sudah terpikirkan oleh jenderal Khu dan lain-lain, tapi mereka tak mampu melakukannya karena orang-orang Jeiji banyak terdapat pendekar sakti. Tidak dengan tentara Chang yang mengandalkan ilmu perang. Jadi, yang bisa melakukan tugas ini hanya pasukan kita, para pendekar," jelas Sung Han dengan tegas.
Keempatnya mengangguk-angguk dan menjadi girang. Benar apa kata Sung Han. Kita bisa membuat mereka bertekuk lutut dengan intimidasi berlebihan. Bahkan di tingkat tertinggi, boleh jadi mereka akan menyerahkan diri dengan sukarela.
Keesokan harinya, mulailah Sung Han memulai rencana. Dia mengumpulkan seluruh para pendekar dan mengatakan apa yang perlu mereka lakukan. Dia juga berpesan untuk menghiraukan ucapan dan cemoohan para tentara. Kini adalah waktu bagi para pendekar untuk unjuk gigi.
Pertarungan mental yang disebutkan Sung Han memang akan berdampak amat luar biasa. Bagi seorang petarung, entah tentara atau pendekar, setinggi apa pun keahliannya, jika semangatnya lenyap, maka dia tak akan jadi semenakutkan itu.
Sebaliknya, bahkan jika seorang petani yang setiap harinya hanya memegang cangkul, jika semangatnya berkobar seperti dendam misalnya, mereka bahkan biaa mencabik-cabik orang.
Itulah rencana Sung Han, melumpuhkan orang-orang Jeiji untuk kemudian disapu habis.
Langkah awal, pada setiap malam mereka akan memasang obor-obor di sekeliling bukit. Dipasang pada sebatang bambu lalu ditancapkan ke tanah. Dari jauh, orang akan mengira bahwa bukit itu sedang dikepung ratusan bahkan ribuan orang. Maka tak heran jika setiap pagi akan ada banyak sekali anak panah yang berserakan di sekeliling obor. Pasukan Jeiji telah tertipu!
Namun siasat ini hanya berhasil sampai dua hari sebelum mereka menjadi lebih pintar dengan membiarkan obor-obor itu mati sendiri.
"Untuk pengecoh. Lakukan saja. Satu orang bawa dua puluh anak panah tumpul, biarkan yang dua tetap tajam seperti sedia kala."
Walau bingung, mereka menurut. Lain halnya dengan Raja Dunia Silat lain yang memandang kagum. Mereka sudah sedikit mengerti akan rencana Sung Han.
Malam hari di hari ketiga, seratus orang dikirim untuk mendekam di antara semak-semak lereng bukit itu. Di atas, orang-orang Jeiji menyalakan banyak obor, sehingga mudah untuk menargetkan mereka.
Perintahnya jelas, Sung Han hanya menyuruh memanah. Maka ketika tanda dibunyikan, mereka segera memanah. Entah itu panah tumpul atau tajam.
Hasilnya luar biasa, awalnya orang-orang Jeiji itu panik dengan serangan tiba-tiba. Tapi mereka menjadi terkejut setengah meremehkan ketika panah-panah itu tidak ada ujung tajamnya. Segera dilakukanlah serangan balasan.
Akan tetapi betapa terkejut dan heran orang-orang itu ketika satu per satu dari mereka tumbang dengan kepala atau dada tertembus anak panah. Kiranya panah-panah yang asli disembunyikan di antara panah-panah tumpul!
__ADS_1
Malam hari keempat, seolah tak ingin memberi napas, Sung Han kembali menurunkan perintah.
Dia menyuruh mengumpulkan seluruh anak panah Jeiji yang telah terbuang sia-sia. Kemudian menyuruh pasukan Sung Hwa, yang ahli dalam senjata rahasia, untuk naik ke bukit itu. Tentu saja secara sembunyi-sembunyi.
"Lakukan penyerangan dari barat. Pancing beberapa orang keluar dari kandang dengan anak-anak panah kita. Lalu kemudian tembakkan anak-anak panah Jeiji itu ke dalam kandang sementara orang-orang tadi masih kebingungan di pinggir sungai," ujar Sung Han.
Sung Hwa sendiri yang memimpin penyerbuan kali ini. Mereka tak butuh gendewa kecuali untuk menyulitkan diri sendiri. Ketika sampai di tepi sungai besar, mereka naik perlahan.
Terlihat lima puluhan orang yang berjaga di sana. Sung Hwa memberi isyarat dan pasukannya melemparkan anak-anak panah itu. Secara sembarangan dan ngawur, tidak benar-benar mengancam musuh.
"Siapa di sana?" bentak salah seorang kekaisaran Jeiji dan mereka menembakkan anak panah.
Beberapa orang milik Sung Hwa sengaja berteriak untuk memberi kesan tembakan itu berhasil. Orang-orang Jeiji itu menjadi girang dan lekas menghampiri tempat persembunyian Sung Hwa.
Namun saat itu dengan cekatan pasukan Sung Hwa memutar dan menembakkan anak-anak panah Jeiji ke dalam perkemahan di balik formasi batu besar itu.
"Bagus, kita mundur dan lihat hasilnya!" ucap Sung Hwa setelah mereka berhasil menyebar anak-anak panah Jeiji ke perkemahan itu.
Puluhan orang keluar dari perkemahan, dan mata mereka mencari-cari. Mereka berjalan ke arah datangnya anak panah dan betapa terkejut begitu mengetahui lima puluhan orang tadi, dengan gendewa di tangan, mencari-cari di antara semak belukar.
"Bangsat kalian, apa kalian hendak menyerang kawan sendiri?" bentak seorang ronin dari perkemahan.
"Apa maksudmu? Tadi ada penyerangan."
"Jangan bohong jika kau seorang jantan. Ini buktinya!" Dia mencabut anak panah yang menancap di pundaknya. "Ini panah-panah kalian, kan? Memang samurai busuk, kalian memandang rendah kami para ronin!"
Sung Hwa kembali kepada Sung Han dan melapor. "Mereka saling bertikai. Walau dapat ditenangkan kembali oleh seorang ronin tua, tapi yang tewas cukup lumayan. Ada puluhan."
"Bagus."
Sung Han memandangi peta. "Rencana selanjutnya."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG