
Keduanya memelesat dalam waktu yang hampir bersamaan. Sinar merah biru saling bertumbukan di udara disusul suara nyaring memekakkan telinga yang membuat mereka terpaksa mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi indra pendengar.
Dua orang muda yang berada di tengah arena itu sudah saling bertukar jurus dengan amat cepat dan hebatnya. Entah ilmu pedang apa yang dipergunakan oleh Sung Han namun sejak awal pertandingan sampai sejauh ini, ilmu Ayunan Pemecah Surya milik Kay Su Tek sama sekali tak dapat menembus pertahanan lawan.
Memang hal ini tidak aneh dan lumrah. Ilmu pedang Kay Su Tek adalah ciptaan Xiao Shi Yan yang dimaksud untuk mengalahkan Pedang Gerhana Matahari. Tapi itu bukan berarti memang mampu mengalahkan keampuhan pedang lawan.
Sejatinya, Kay Su Tek dan Sung Han memiliki kekuatan yang berimbang. Bahkan saat Kay Su Tek mainkan ilmu ini sekali pun, tetap saja tak bisa lebih unggul dari Sung Han.
Ini mungkin satu dari sekian banyak kutukan dari pedang Souji. Entah kebetulan atau bagaimana, namun sama seperti sejarah beberapa ratus silam, di mana Xiao Shi Yan tak bisa mengalahkan Xia Shi Yong.
"Trang!"
Kembali pedang beradu entah untuk keberapa kalinya. Keduanya terhuyung mundur dengan tangan kebas dan kesemutan. Baik Kay Su Tek dan Sung Han, merasa maklum kekuatan hawa saktinya berimbang.
"Dari mana kau dapatkan kekuatan semengerikan ini?" tuntut Kay Su Tek.
"Aku juga berhak menanyakan pertanyaan yang sama!" balas Sung Han.
Keduanya saling hadap dalam diam dengan napas memburu. Mereka mengatur napas sekaligus beristirahat setelah kurang lebih seratus jurus lewat dengan sengitnya.
Pohon-pohon dan batu-batu di pinggiran banyak yang pecah menjadi korban keganasan mereka berdua. Bahkan para penonton mengambil sikap aman dengan berdiri di kejauhan.
Tiba-tiba Kay Su Tek merapatkan kedua kakinya dan mengacungkan pedang ke depan. Diarahkannya pedang itu ke dada Sung Han.
"Kau hendak mengadu tenaga?" kekeh Sung Han. "Boleh!"
Sung Han segera ambil sikap serupa, kedua kaki dirapatkan dan pedangnya mengacung ke pedang lawan. Sedangkan tangan kirinya dengan jari tangan terbuka berada di depan dada seperti orang berdoa.
"Hadapi ini, Sung Han!" pekik Kay Su Tek dan mengerahkan tenaga.
Hawa dingin menguar dari pedang Gerhana Bulan yang mengeluarkan kilat-kilat dari setiap ukirannya. Penonton sekitar merasakan perubahan suhu yang tiba-tiba ini dan mereka cepat duduk bersila mengatur pernapasan untuk melindungi diri sendiri.
"Haaaa!!"
Sung Han memekik ketika mengerahkan tenaga Yang untuk memapaki hawa dingin Kay Su Tek. Segera udara berubah panas dan para penonton menjadi kewalahan.
"Hebat..." puji salah satu kakek pertapa. "Ini luar biasa. Kekuatan seorang muda yang di luar nalar!"
Sedangkan di sisi lain, Yang Ruan dan Sung Hwa duduk bersila sambil bergandengan tangan. Menyatukan tenaga untuk melindungi tubuh masing-masing. Kekuatan mereka berdua masih terpisah beberapa tingkat di bawah Sung Han dan Kay Su Tek.
Udara menjadi panas dingin ketika dua hawa itu saling bertumbuk di udara. Angin bergemuruh bagaikan di sekeliling tempat itu sedang dilanda badai. Semua orang baik yang di puncak maupun di kaki gunung, merasa ngeri.
__ADS_1
Sung Han mengerahkan tenaga sekuatnya, begitu pula dengan Kay Su Tek. Wajah keduanya sudah sama-sama memerah dan dihiasi bulir-bulir keringat sebesar jagung.
Hingga setengah jam berselang, napas Kay Su Tek mulai tak karuan. Pedangnya bergetar-getar dan makin lama makin hebat.
"Ugh..." keluhnya ketika dari sudut bibir mengalir darah segar.
Sung Han melihat ini dan lebih mendesak lagi. Ia kerahkan tenaganya sampai ke tingkat paling akhir, diiringi hawa sakti bumi yang maha dahsyat.
"Desss!!"
Bagaikan daun kering, tubuh Kay Su Tek terlempar jauh beberapa tombak dan jatuh berdebuk. Cepat dia duduk bersila untuk memulihkan diri. Mulutnya sudah belepotan darah segar.
Wajahnya yang amat pucat belum begitu membaik ketika dia bangkit kembali. Napasnya masih terengah-engah namun kedua matanya menyinarkan sorot penuh semangat. Sama sekali tidak terlihat putus asa.
"Apa masih belum cukup?" ucap Sung Han datar.
"Heh, aku akan mati," jawab Kay Su Tek. "Luka ini tak mungkin disembuhkan lagi."
Sung Han menyipitkan mata. "Kau hendak mengadu nyawa?"
"Siapa takut?"
"Baiklah."
Kay Su Tek pun melakukan kuda-kuda. Siap sedia untuk mati bersama Sung Han.
"Haiiit!!"
Keduanya memekik secara bersamaan ketika tubuh mereka melesat saling terjang. Sinar merah dan biru bergerak memanjang saking cepatnya gerakan mereka.
Begitu sudah tiba dekat, ketika keduanya saling tusuk, Sung Han masih sempat mengelak dengan cara melakukan gerakan aneh yang tahu-tahu membuat tubuhnya melambung dengan kepala di bawah dan kaki di atas.
Kay Su Tek terkejut, namun tak ada pilihan untuk menghindar.
"Crookkk!!"
Dengan telak, Pedang Gerhana Matahari menggorok leher Kay Su Tek. Suara berdebuk terdengar lebih nyaring dari biasanya ketika tubuh pemuda itu jatuh terlungkup sedangkan orang-orang sekeliling menahan napas.
Dalam sepersekian detik itu, barulah terbuka mata Kay Su Tek. Betapa dia telah bertindak sewenang-wenang dalam menggunakan pedangnya. Sama sekali tidak mengindahkan peringatan Xiao Shi Yan.
Penyesalan menjalar ke seluruh tubuhnya di saat ajal hendak menjemputnya.
__ADS_1
Yang Untung Akan Celaka
Dan dia telah menggunakan Pedang Gerhana Bulan sebagai keuntungannya belaka. Dia seperti buta. Takdir Xiao Shi Yan terulang lagi kepadanya.
Tepat sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, ia melihat ke arah Yang Ruan.
"Maaf..." gumamnya lirih.
Pedang Gerhana Bulan telah kalah!
...****************...
Berkali-kali Sung Han mencoba berpikir sesuai keadaan dan fakta, bahwa tindakannya ini tidaklah keliru. Namun dia sama sekali tak mampu melepaskan diri dari rasa duka dan bersalah karena telah membunuh sahabatnya sendiri.
Ia meringkuk menempel batu sedangkan Yang Ruan menangisi jenazah bekas tunangannya. Sung Han maklum, bagaimanapun juga, Yang Ruan masih memiliki rasa kepada Kay Su Tek.
Sung Han melihat Sung Hwa mencoba menenangkan gadis yang sudah buntung sebelah kakinya itu. Entah kenapa dia ingin menangis. Namun cepat ditahannya sekuat mungkin.
"Sekarang, semuanya sudah selesai," gumam Sung Han. "Kay Su Tek, kau tenanglah di sana."
Semua penonton membisu, tak ada yang berani bergerak membela salah satu pihak karena tiga orang pertapa itu sudah berdiri seolah tahu jika dibiarkan akan terjadi keributan.
Dua orang gadis itu masih terus berada di samping jenazah Kay Su Tek yang lehernya hampir putus.
"Kanda Kay Su Tek...ohh...kasihan sekali engkau." ratap Yang Ruan.
Sung Han menjadi tak tahan, ia menghampiri keduanya. Ketika sampai, dua orang itu sama sekali tak melirik padanya, seolah tak melihat.
"Ini sudah takdir," kata Sung Han. "Andai saja kau tahu betapa selama hidupku, aku berusaha keras untuk menghindari keadaan ini."
Yang Ruan tak menyahut.
"Maaf, Yang Ruan."
"Tidak apa," Yang Ruan menjawab. "Ini jalan yang dia pilih, dia tak seharusnya tersesat seperti ini hingga harus menantang seluruh pendekar gagah di dunia. Dia sudah memilih jalan sesat, ini sudah adil."
Isak Yang Ruan semakin kuat. "Hanya saja kesedihan dan kekecewaanku tak mampu dibendung lagi."
Sung Han bingung hendak mengutarakan apa. Sehingga dia hanya mampu diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG