Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 119 – Peti Hitam


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang didengar Sung Han dari ucapan topeng bintik merah itu, dia menyuruh rombongan ini untuk melalui jalan rahasia di sungai Ekor Ular. Kiranya pada malam hari setelah sehari perjalanan, mereka mulai memasuki jalan yang aneh sekali.


Jalan itu berada di pinggir sungai Ekor Ular, namun sedikit ke tengah hutan. Begitu tiba di sebuah tikungan, mereka berbelok dan berbelok sekali lagi. Sehingga jalan mereka tidak melalui jalan setapak yang ada di sana.


Sung Han mengerutkan kening, namun terus lanjut berjalan untuk mengikuti. Sampai beberapa saat kemudian, mereka melewati sekumpulan rumpun bambu hijau dan kuning. Bambu-bambu ini amat rapatnya sampai seolah membentuk pagar tinggi.


Tak sampai di sana keanehan itu. Saat tiba di depan, ada sebuah goa yang ukurannya lumayan besar, tertutup rumput alang-alang tinggi.


Si topeng itu memerhatikan keadaan sekitar, setelah dirasa aman tanpa ada halangan, dia memimpin rombongan ini memasuki goa itu.


"Tempat apa ini sebenarnya?" gumam Sung Han penuh rasa heran sambil memerhatikan kanan dan kiri. Deretan bambu itu demikian aneh, saking rapatnya, jika Sung Han ingin lewat di sela-sela bambu, harus miringkan tubuhnya. Jika berjalan biasa, kedua pundaknya tidak muat.


"Mereka masuk ke sana? Ck, menyulitkan saja!" kesal Sung Han lalu mulai jalan berindap-indap mendekati goa itu.


Akan tetapi kurang lima tombak dari mulut goa, telinganya mendengar suara desing angin tajam dari kanan kiri. Kepekaannya bangkit dan tanpa menoleh Sung Han melompat untuk berjungkir balik di udara.


"Crangg!!" dua pisau senjata rahasia saling berbenturan.


"Syutt-syutt-syutt!"


"Woah, setan kurang kerjaan, jangan ganggu aku!" umpat pemuda ini ketika secara aneh beberapa bambu di kanan kiri itu melengkung dan menukik tajam, menusuk-nusuk ke arahnya. Tentu saja Sung Han menjadi sedikit kerepotan mengingat hari yang sudah gelap gulita. Dia tak mau menghancurkan bambu itu karena akan menimbulkan suara dan jika demikian, pasti lebih merepotkan lagi. Beberapa orang dari rombongan akan kembali untuk melihat situasi.


"Hap!"


Sung Han berputaran di udara. Tepat ketika ada sebatang bambu kuning hendak menusuk tulang iganya, dia berkelit cepat dengan melintangkan tangan kiri ke batang bambu tersebut. Lalu tangan kanan bergerak dan patahlah bambu itu.


"Trak!"


Begitu tubuhnya melayang turun, pemuda ini bergulingan sampai jauh sambil menangkis serangan bambu-bambu aneh itu. Kurang lebih setelah sejauh tiga puluh tombak dari mulut goa, serangan aneh ini berhenti.


"Inikah komplotan penculik putri itu?" tanya Sung Han kepada kehampaan. Di sana sepi sekali, tidak terdengar suara satu pun makhluk. Hanya desir angin lembut yang menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


"Peringatan untuk engkau, segera angkat kaki dari sini. Tak ada untungnya kau mengikuti mereka." terdengar suara berat yang menjawab ucapan Sung Han setelah sekian lama terjadi keheningan.


Sung Han memicingkan matanya, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tapi yang dilihatnya hanyalah sebuah tarian rumpun bambu. Tunggu!


"Hm....gerakan bambu ini seirama...." batin Sung Han, lalu dia melirik rambut panjangnya yang dikuncir. Tak berselang lama matanya mendelik kaget, "Padahal angin sedang bergerak tak menentu!" teriaknya dalam hati begitu menyadari kibaran rambutnya yang tak kenal arah.


Sung Han memasang kuda-kuda, dalam hati telah menduga jika lawan kali ini cukup lihai, sangat lihai malah. Bahkan dia yakin kepandaian lawannya jauh lebih kuat dari pada dia sendiri. Gerakan bambu-bambu yang terus berbareng dan searah itu telah membuktikan semuanya.


"Pendekar terhormat, apakah anda sudah merendahkan harga diri ke lubang kehinaan dengan menjadi anjingnya pemberontak?" tanya Sung Han lagi. Kali ini ucapannya lebih sopan, maklum siapa yang sedang dihadapi.


"Khehehe....anak muda yang menarik. Tapi sayang sekali aku sudah lupa dengan apa itu harga diri." jawab suara menyeramkan itu. "Lagipula, aku dan mereka hanya saling terikat satu perjanjian. Bukan berarti aku membantu mereka. Mana sudi aku ikut campur dengan rebutan kursi kaisar itu?",


"Orang sekuat anda, untuk apa takut terhadap orang-orang itu?"


"Heh, takut!?" suara itu terdengar seperti bentakan. "Mana ada takut, bahkan aku berani mati untuk melawan ribuan pasukan mereka. Hanya saja janjiku pada guru akan selalu kupegang. Walaupun banyak orang yang menyebut aku iblis, aku tak peduli selama kebaktianku terhadap guru tak pernah pudar!"


Lagi-lagi Sung Han terkejut. Aneh benar orang ini. Dia bilang sudah lupa dengan harga diri, tapi dia sendiri yang mengaku masih berbakti dengan gurunya. Apa maksudnya? Apakah gurunya menyuruh ia untuk membuang harga diri?


Selagi berpikir ini dan itu, tiba-tiba angin berhenti berhembus. Sung Han terkesiap.


"Brakk!!"


Bayangan itu tiba di depan Sung Han, sejauh tujuh tombak. Kiranya itu adalah sebuah kotak persegi panjang berwarna hitam. Tingginya sedikit lebih tinggi dari Sung Han.


"Tunggu, itu...peti?" kata Sung Han tiba-tiba begitu sadar akan apa yang baru saja tiba di hadapannya.


Sebelum rasa penasarannya terjawab, terdengar suara seram itu lagi. Dan mengejutkannya, suara itu benar-benar berasal dari peti mati tersebut.


"Cukup dengan perbincangan ini, aku ingin segera menyelesaikan urusanku!"


Setelahnya, angin bergerak tak karuan. Berpusingan ke sana-sini seolah hendak menerbangkan apa saja. Rumpun bambu di sekitar Sung Han mengeluarkan suara berisik sekali karena di dalam angin kacau itu, mereka saling bertumbukan.

__ADS_1


Sung Han sendiri mengerahkan tenaga mati-matian untuk menjaga kedudukannya. Ia menyilangkan kedua lengan ke depan wajah untuk mengalau pasir dan kerikil yang mengarah mukanya.


Tiba-tiba sekali, angin badai itu berubah. Masih kacau tak karuan, namun rumpun bambu di sekeliling bergerak dengan seirama lagi. Untuk bambu kuning, berputaran ke kanan. Sedangkan bambu hijau berputaran ke kiri.


"Anak muda, sayang seribu sayang kau harus mati di sini." kata suara itu lagi.


Sedetik kemudian, "Syutt-syutt-syutt!"


Seluruh bambu kuning yang berada di dekat Sung Han menukik dan menusuk betisnya. Cepat pemuda ini melompat seraya menekuk lutut.


Hampir bersamaan dengan itu, terdengar sambaran angin lagi dan ternyata bambu-bambu hijau sudah bergerak cepat menusuk ke arah kepala.


Sung Han menundukkan kepala dan berputaran. Tapi celakanya, delapan bambu kuning yang tadi saling tusuk itu bergerak melenting dan menyabet mukanya dari bawah sana.


"Waahhh!!"


Tak ada pilihan lain, Sung Han tak suka ini tapi demi nyawa dia harus melakukannya. Tangan kanannya bergerak, detik berikutnya tahu-tahu ada sinar-sinar hitam kemerahan yang berkelebat. Beberapa tebasan kemudian, tiga belas bambu yang tadi tusuk-menusuk itu sudah tercincang semua.


Sung Han mendarat dengan indah. Sadar akan keahlian lawan, begitu kakinya menjejak tanah dia sudah memasang kuda-kuda. Pedang Gerhana Matahari berada di atas kepala, sedangkan tangan kiri dengan jari terbuka mengarah depan.


Betapa terkejutnya ia ketika melihat peti itu tahu-tahu lenyap dan sudah tiba persis di depan wajahnya. Pada bagian kaca itu, Sung Han melihat sesuatu yang membuatnya menjerit dan refleks membacokkan pedang.


"Waaahhhh!!"


"Sraatt!"


Gerakannya sungguh luar biasa, peti itu tahu-tahu jatuh dan bergerak mundur. Sampai di posisi semula, dia bangkit berdiri lagi.


"Hihh....setan!! Bagaimana bisa kau bergerak sedangkan tubuhmu hanya tinggal kerangka!!" seru Sung Han penuh kengerian ketika tadi melihat wajah yang hanya seperti tengkorak terbungkus kulit. Tanpa rambut sedikit pun.


"Khehehe....pedang gerhana? Akan kulihat, selihai apa engkau sampai bisa mendapatkan pedang itu." katanya menghiraukan ucapan Sung Han. Sekali lagi, angin badai bertiup dan Sung Han harus meloncat ke sana-sini menghindarkan maut dari ujung bambu-bamu runcing itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2