Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 140 – Nona Han


__ADS_3

Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar dari dalam. Segera saja nampak oleh mereka seorang kakek tua enam puluhan tahun yang punggungnya sedikit bongkok. Di tangan kanan memegang sebatang tongkat yang tadi digunakannya untuk mengemplang kepala Sung Han.


Begitu melihat adanya seorang pemuda tampan dan gadis bercadar berdiri di depan rumahnya, dia menjadi berang. Matanya merah seiring wajahnya yang berubah merah pula. Dia memaki.


"Siapa ini pagi-pagi sudah mengganggu rumah orang!" tongkatnya sudah diangkat lagi siap untuk mengirim sabetan ke ubun-ubun Sung Han. Namun saat itu terdengar teriakan melengking dari dalam ketika tubuh kakek itu tertarik ke belakang.


"Ayah, mengapa kau ribut-ribut dengan orang tak dikenal!?" kata si wanita itu setelah menarik kerah ayahnya dengan keras.


Lelaki tua itu seketika menjadi linglung dengan matanya melotot ke sana-sini. Hanya suara "ah-uh-ah-uh" saja yang keluar dari kerongkongannya.


Wanita itu menatap Sung Han dan Yang Ruan dengan tatapan tidak enak. Dia lalu tersenyum untuk mempersilahkan keduanya masuk. Sedang dia sendiri berjalan ke ruang belakang untuk mengantar ayahnya ke kamar.


Keduanya lantas masuk dan duduk di kursi yang ada di sana. Tak berselang lama kemudian, wanita itu keluar lagi membawa dua gelas minuman. Ia letakkan di atas meja dan dia buka suara setelah mendudukkan diri pula.


"Tuan dan nona, kalian berdua siapakah dan mau apa datang ke sini?" ucapnya sambil tersenyum ramah.


Sejenak Sung Han kagum juga dengan senyum itu, namun dia cepat menjawab, "Aku Sung Han, dan dia Yang Ruan. Kami hanyalah pelancong biasa yang sedang penasaran dengan keadaan desa ini. Kata orang, rumah ini merupakan keduaman dari sosok pak tua Cao?"


Wanita itu mengangguk membenarkan. Kemudian Sung Han berkata lagi.


"Maaf saja, menurut kata orang di rumah makan tadi pagi, pak tua Cao telah menjadi gila setelah melihat pembantaian Rajawali Merah. Benarkah itu?"


Raut wajah wanita itu menunjukkan perubahan, nampak sedikit tidak senang. Keningnya berkerut dan mulutnya cemberut. "Mengapa kau berkata demikian? Apa urusannya denganmu?"


Kali ini, Yang Ruan yang menjawab. Karena takut kalau Sung Han akan menyinggung perasaannya lagi.


"Seperti yang sudah dijelaskan, kami hanyalah pelancong-pelancong biasa. Kami takut kalau nantinya kami pergi ke salah satu desa, ternyata desa itu akan didatangi Rajawali Merah."


"Kalau begitu kalian tidak beruntung sekali karena desa ini sudah menjadi incaran iblis itu. Lebih baik lekas pergi."


"Kalau boleh tahu, di mana kah pak tua Cao melihat pembantaian itu?"

__ADS_1


Hening sampai beberapa lamanya setelah Yang Ruan mengajukan pertanyaan itu. Wajah wanita itu masih cemnerut tak senang, namun setelah itu tiba-tiba dia terisak dan menangis. Tentu saja Yang Ruan menjadi bingung dan cepat dia mendekat untuk memeluk pundak wanita itu.


"Itu malapetaka....malapetaka besar...." gumam wanita itu tak jelas, "Desa itu sudah hancur lebur. Tak ada yang hidup di sana. Untung saat itu aku dan ayah bisa keluar hidup-hidup."


Setelahnya, ruangan tamu itu menjadi sunyi kecuali diisi oleh isak tangis si wanita. Sung Han dan Yang Ruan yang ingin mengajukan pertanyaan lebih lanjut menjadi sungkan sendiri dan mengurungkan niat. Maka mereka memutuskan untuk menunggu sampai tangisnya berhenti.


Setelah wanita itu berhenti mengucurkan air mata dan sedikit tenang, barulah Sung Han berani bicara, "Sebenarnya kami sudah tahu kalau Rajawali Merah datang ke sini tadi malam. Sebenarnya, benda apakah yang dia lempar itu sanpai membuat semua orang diam tak dapat bicara?"


Saat itulah, tangis wanita ini berhenti total, digantikan ekspresi tegang dengan wajah pucat pias. Tubuhnya tiba-tiba menggigil hebat, dapat dirasakan oleh Yang Ruan yang masih terus memelukknya.


"Ada apakah nona? Sebenarnya benda apa itu?"


Wanita itu buru-buru menjawab, "Ahh....aku tak berani bilang soal itu. Bagaimana pun kalian orang luar. Lebih baik tanyakan sendiri kepada nona Han."


"Sebenarnya siapa nona Han itu?" tanya Sung Han penasaran karena sudah dua kali hari ini dua mendengar nama itu.


"Dia anak dari nona tercantik di desa ini. Rencananya, seminggu dari sekarang rombongan pemerintah akan datang untuk menjemputnya dan mengangkat ia menjadi dayang istana bersama putrinya. Tapi dia...ahhh, tidak-tidak...lebih baik tanyakan sendiri kepada nona Han. Rumahnya terdapat pohon besar yang memiliki tanda rajawali merah. Rumah itu sudah ditandai oleh iblis itu."


Sung Han dan Yang Ruan saling pandang lalu mengangguk. Kemudian keduanya lekas berpamit kepada tuan rumah dan cepat menuju ke rumah nona Han itu.


...****************...


"Nona!!"


Panggil Sung Han dari kejauhan melihat gadis itu sedang dalam perjalanan hendak masuk menuju rumah. Sontak dia berhenti dan membalikkan tubuhnya.


Setibanya di sana, gadis itu menegur, "Eh...bukankah kalian ini dua orang yang datang ke sini kemarin?"


Sejenak, Yang Ruan dan Sung Han memandangi wajah nona Han itu lebih teliti. Baru sekaranglah mereka maklum akan wajah gadis itu yang demikian cantik manis. Dengan mata lebar dan bulu mata lentik, bibirnya yang kemerahan bergerak-gerak ketika dia berbicara. Menambah daya tarik dari wanita ini.


Cepat Yang Ruan berkata, "Benarkah nona yang dipanggil nona Han?"

__ADS_1


"Benar, dari mana kalian tahu?"


"Lupakan itu. Apakah hubunganmu dengan barang yang dilempar okeh Rajawali Merah tadi malam?"


Kembali nampak ekspresi terkejut ketika mendengar pertanyaan itu. Sudah tiga kali pada hari ini Sung Han dan Yang Ruan mendapatkan reaksi sama ketika mereka menanyakan soal barang itu.


Nona Han tak langsung menjawab, melainkan dia mengajak mereka masuk ke rumahnya, "Mari masuk."


Setelah mereka masuk, nona Han mempersilahkan mereka duduk. Setelahnya, ruangan menjadi hening karena tak ada yang buka suara. Suasana terlalu tegang.


Sampai keheningan yang canggung itu terpecah oleh suara nona Han, "Itu adalah sebuah gelang."


Melihat dua orang tamu itu masih diam menunggu ucapan selanjutnya, nona Han kembali berkata, "Itu gelang khusus yang diperuntukkan bagi kaum wanita yang akan dikirim ke istana kaisar." lalu dia menarik jubahnya dan nampaklah gelang emas indah di pergelangannya. Ada semacam batu indah tembus pandang yang menghiasi gelang itu.


"Seperti inilah gelang itu. Dan ibuku memilikinya."


Sampai sini, Sung Han malah makin heran. "Apa istimewanya dengan gelang itu. Mengapa para warga yang kami tanyai mengenai barang yang dilempar Rajawali Merah, wajah mereka langsung menegang?"


"Ibuku sudah hilang sejak beberapa hari lalu. Entah siapa penculiknya. Lalu tadi malam, Rajawali Merah melemparkan benda ini, itu artinya berarti dialah yang menjadi dalang penculikan."


"Jika sudah tahu, bukankah bagus?"


Nona Han menatap Sung Han lamat-lamat, berkatalah ia menanggapi ucapan pemuda itu, "Desa ini terkenal sebagai desa patriot. Karena kaum muda akan dikirim ke istana untuk dilatih menjadi tentara. Sedang para wanitanya akan menjadi dayang atau malah selir kaisar. Jika ibu belum ditemukan sampai seminggu lagi, di mana pasukan penjemput akan datang...."


Yang Ruan yang agaknya sudah paham sontak memotong, "Kalian akan dianggap pemberontak!?"


Nona Han mengangguk dengan ekspresi sulit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2