Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 87 – Siasat Topeng Emas


__ADS_3

Setelah pertempuran Sung Han di malam itu, dan si topeng emas, Yu Fei serta Bo Tsunji berhasil meloloskan diri, mereka segera pergi jauh dari desa itu. Pergi ke arah barat dan singgah di desa-desa.


Selama itu pula, karena pasukan Serigala Tengah Malam sudah tersebar ke mana-mana, maka mudah saja bagi si topeng emas untuk mengumpulkan mereka di setiap desa itu.


Si topeng emas, selaku pemimpin Serigala Tengah Malam telah mendengar akan tokoh-tokoh rimba persilatan yang tangguh. Salah satunya adalah Ratu Elang dan pemuda murid kakek cebol aneh.


Mendengar ini, hatinya tertarik sekali untuk merekrut mereka. Karena topeng emas ini berpikir jika mereka sampai menjadi sekutu, sukar bagi siapa saja untuk mengalahkan Serigala Tengah Malam.


Tapi di lain sisi, sadar akan ketangguhan orang-orang itu, maka topeng emas tak mau bertindak sembrono. Maka dari itu dia membuat surat ancaman di salah satu desa, desa tempat Yang Ruan dan lain-lain bertempur.


Surat yang menyatakan bahwa dalam waktu seminggu mereka akan datang menyerbu.


Harapan topeng emas berhasil, berita itu menyebar ke mana-mana tapi karena tempat ini terpencil, hanya tiga pemuda itu yang datang. Tapi betapa girang hatinya ketika melihat si Ratu Elang sendiri juga hadir di sana tepat dua hari sebelum penyerbuan.


Tapi dia sedikit kecewa ketika tidak melihat sepasang murid dan guru itu. Bahkan diam-diam dia ingin agar pemilik Pedang Gerhana Matahari itu datang pula di desa tersebut.


Tiga hari sebelum penyerbuan.


"Tuan, benarkah kita melakukan ini? Bukankah terlalu berbahaya? Itu Ratu Elang." Yu Fei memperingatkan, jelas dia merasa jeri terhadap ratu satu itu.


"Yu Fei, ratu itu tak perlu kau hiraukan, dia bukan ancaman terbesar." kata pula Bo Tsunji.


"Lalu?" Yu Fei yang penasaran kembali bertanya.


"Tentu saja sepasang murid dan guru itu. Apalagi gurunya. Kakek cebol yang amat aneh itu benar-benar lihai. Dia tokoh kosen."


Yu Fei hanya mengangguk saja.


Di tenda itu, terdapat topeng emas, dua orang kakek rambut panjang dan pendek, serta Yu Fei dan Bo Tsunji. Mereka sedang merundingkan rencana apa yang tepat untuk menyergap desa itu.


Setelah percakapan singkat Yu Fei dan Bo Tsunji, mereka memandang penuh perhatian ke arah topeng emas. Menanti perintah.


"Lakukan perang gelap. Jangan menyerang secara berterus terang, serang dari titik buta agar lebih mudah merobohkan mereka." kata si topeng emas. Lalu melanjutkan, "Yang paling perlu diwaspadai adalah pewaris pedang gerhana itu."


Raut muka Yu Fei dan Bo Tsunji seketika berubah, wajah mereka mengeras dan napasnya memburu. Jika mengingat pertempuran malam itu, di mana yang dihadapi adalah pewaris pedang gerhana, tak dapat dipungkiri hati mereka sedikit jeri.

__ADS_1


Berbeda dengan dua orang itu yang nampak jeri, adalah dua kakek lain terlihat kaget. Dan si rambut panjang bertanya, "Tuan sudah pernah melawan pewaris pedang gerhana?"


Si topeng emas mengangguk lalu berkata, "Sudah, dan dia benar-benar lihai."


Lalu dia lanjut berkata, "Sayangnya saat itu dia menyamar sebagai anak buahku. Dia memakai topeng, aku tak bisa melihat wajahnya."


"Lalu bagaimana kita bisa tahu dia akan datang?" kali ini kakek rambut pendek bertanya.


"Beruntung aku masih ingat bentuk dari pedang itu. Saat itu di sana keadaan cukup terang dengan penerangan api obor." sambil berkata demikian, topeng emas mengambil secarik kertas dan kuas gambar. Kemudian dia mencoret-coret kuas itu di atas kertas membentuk sebuah lukisan indah sekali.


Sebatang pedang yang berbilah indah. Mereka kagum menyaksikan ingatan yang kuat dan gambar bagus sekali dari tuan mereka itu.


"Kira-kira seperti inilah." kata topeng emas saat selesai dengan gambarnya.


Kedua kakek itu mengangguk-angguk lalu si rambut panjang berkata, "Saya agaknya tahu cara agar dapat menangkap mereka."


Lalu si rambut panjang ini mengatakan rencananya, dan dibalas dengan tawa bergelak si topeng emas.


"Hebat!" komentar si topeng emas itu kemudian menyuruh mereka menjalankan rencana.


...****************...


Si topeng emas mengangkat muka memandang. Begitu pula dengan Yu Fei dan Bo Tsunji yang memandang penuh perhatian.


"Pemilik pedang gerhana telah muncul, dia sudah tiba dan mengacau! Harap segera beri perintah." kata orang itu yang berlutut di hadapan si topeng emas.


Topeng emas lalu melirik ke arah Yu Fei dan Bo Tsunji. Dua orang itu sudah paham dan mengangguk. Kemudian Bo Tsunji mewakili tuannya berkata.


"Kita mundur, tujuan kita bukan untuk membunuh mereka. Mereka itu kelak akan mencari kita dan dalam keadaan kekuatan penuh baru kita dapat menangkap mereka."


Si pelapor kelihatan kaget sekali, dia bertanya, "Bukankah dalam rencana, seharusnya saat ini tuan bertiga sendiri yang langsung turun tangan bersama pasukan lain?"


Bo Tsunji memandang pria itu beberapa lama, lalu berkata lagi, "Penyerangan di desa itu hanya untuk memancing agar mereka keluar. Serta melihat sampai sejauh mana kekuatan mereka." dia berhenti sejenak ketika melihat perubahan ekspresi pada wajah si pelapor, "Tapi sekarang kondisi tak memungkinkan, pasukan yang kita bawa jelas dapat mereka ratakan." lanjutnya kemudian.


Orang ini hendak membantah lagi, namun si topeng emas sudah bangkit berdiri dan berkata tegas, "Kita mundur!!"

__ADS_1


...****************...


"Hebat....kau benar-benar luar biasa."


Sung Han memuji sungguh-sungguh akan kepandaian Yang Ruan. Nyatanya dia tak membantu gadis itu sedikit pun untuk melawan si kakek. Kiranya tadi Yang Ruan kerepotan hanya karena dikeroyok saja beberapa anggota yang meninggalkan sanderanya.


"Ah, mana ada hebat. Kau terlalu memuji." gadis ini menyembunyikan rona merah di wajahnya. Tak dapat dipungkiri, semua wanita sangat senang ketika mendapat pujian. Untung dia memakai cadar sehingga rona kemerahan itu tak tampak dari luar.


"Eh, bukankah kipas itu milik ketua Naga Hitam?" Sung Han menegur ketika melihat sepasang kipas yang digunakan Yang Ruan untuk bertempur tadi.


Belum sempat mendapat jawaban, para warga menghampiri mereka untuk mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih kepada tuan-tuan dan nona yang sudah sudi menyelamatkan desa kecil ini." kata kepala desa membungkuk hormat diikuti oleh semua orang.


Pertempuran telah selesai dan ternyata hanya dengan empat orang tangguh itu semua sudah dapat dibereskan. Walaupun masih ada beberapa penduduk yang tewas, tapi itu tidak banyak.


Sung Han dan Yang Ruan menerima penghornatan itu tanpa berlebihan. Diam-diam mereka kaget mengapa sepasang guru dan murid tadi sudah hilang tanpa jejak sesaat setelah menyelesaikan lawannya.


Ketika si kepala desa hendak bicara lagi, Yang Ruan pura-pura menyibukkan diri dengan menarik tangan Sung Han dan berbisik. Selain menyampaikan berita penting, dia juga merasa risih dengan rasa terima kasih yang berlebihan itu.


"Sung Han, di pihak mereka agaknya masih ada pemimpinnya. Saat aku pergi menyelidik, aku melihat sosok bertopeng emas dan ada batu berkilau di sini." Yang Ruan berkata sambil menunjuk dahinya sendiri di akhir kalimat.


Sung Han terhenyak kaget, mengenal orang bertopeng emas itu sebagai sosok yang dicari-cari. Cepat ia bertanya sampai tanpa sadar mengguncang-guncangkan bahu Yang Ruan, "Di mana dia!?"


"Di hutan sana."


"Kalau begitu lekas temani aku melihat ke sana!!"


Sung Han menarik tangan Yang Ruan dan tanpa pamit pergi dari sana menuju hutan. Tapi betapa dia merasa kecewa sekali oleh kenyataan. Ternyata mereka kembali lolos!


"Sial!!" umpatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2