Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 193 – Pilihan


__ADS_3

Dari kejauhan, Bo Tsunji dapat melihat siapa orang yang dimaksud "naga" oleh Kay Su Tek tadi. Kiranya dia adalah Kushinage Tenko yang telah bentrok hebat dengan Kay Su Tek tadi malam.


Dari atas sana, dia sudah dapat melihat betapa lihainya sosok manusia yang bernama Kushinage Tenko itu. Maka ketika saat ini dia datang dengan membawa pasukan ronin, cepat Bo Tsunji memberi tanda untuk mundur.


Sedangkan di sisi lain, Kay Su Tek dan Tenko sudah bertukar jurus dengan hebatnya. Ini perang sungguhan, tidak ada yang mewajibkan dia menawan musuh untuk dimintai keterangan. Maka Kay Su Tek pun tanpa ragu-ragu mengayunkan pedangnya dengan ilmu Ayunan Pemecah Surya.


Pedangnya bergulung-gulung dengan hebatnya mengurung tubuh Tenko yang mulai terdesak dan berulang kali mengeluarkan pekik kaget. Sinar hitam kebiruan yang tertimpa sinar matahari itu seolah berubah menjadi ayunan ribuan bintang yang terarah dan dapat menembus apa saja.


Tentu sjaa Tenko anat terkejut dengan ini. Ia menggerakkan katananya yang bernama Pedang Naga dengan lebih hebat lagi berusaha membendung semua serangan ganas Kay Su Tek. Namun dia tak lebih hanya dapat bertahan, sama sekali tidak ada satu pun kesempatan memyerang.


Kay Su Tek terus memperhebat gerakannya, kali ini ia memgerahkan hawa saktinya sedikit demi sedikit.


"Woaahhh!!" Tenko melompat ke kanan dan bergulingan.


Kiranya tadi ada angin menyambar berbareng dengan ayunan pedang gerhana itu. Sebuah angin tajam berhawa amat dinginnya yang telah merobohkan banyak pohon di belakang.


Mereka sudah bertanding sebanyak tiga puluh lima jurus. Ketika Kay Su Tek menoleh, kiranya kawan-kawannya sudah mulai bergerak naik. Kay Su Tek kembali memandang Tenko yang berwajah pucat dan tersenyum miring, "Kita lanjutkan di atas sana."


Kay Su Tek memandang sekilas kepungan para ronin yang mengurung di kanan kirinya dengan muka takut-takut. Ia terkekeh dan menggerakkan pedang.


"Sraatt...sraatt....sraatt!!"


Tiga orang ronin tewas seketika dan dia sudah melambung tinggi pergi ke bagian atas dari tempat ini. Semakin dekat dengan Goa Emas.


Sedangkan Tenko masih berlutut dengan muka pucat memandang ujung pedang pusakanya. Sedikit retakan yang berada di ujung pedang itu benar-benar mengguncang hatinya, baru sekaranglah terbuka matanya jika lawan memiliki banyak pendekar tangguh.


"Si buntung itu amat kuat. Biar aku yang lawan, kalian urus sisanya!" kata Tenko kepada teman-temannya.


...****************...


Pasukan gabungan pendekar golongan hitam dan Serigala Tengah Malam itu sudah menanti di tempat yang sedikit lapang dekat dengan Goa Emas. Mereka bersembunyi di balik batu-batu atau menimbun di dalam tanah.

__ADS_1


Pasukan Jeiji butuh beberapa waktu untuk memulihkan luka dan semangat para prajurit. Karena bagaimana pun juga, dalam pertempuran tadi semua orang sadar bahwasannya kekaisaran Jeiji hanya menang tipis. Hanya karena datangnya para ronin maka musuh mencoba main aman.


Kini setelah semua pasukan berkumpul dan membentuk barisan lagi, jenderal Suga memerintahkan mereka untuk kembali berjalan. Akan tetapi baik dia, atau Tenko yang berdiri di sebelahnya, atau para komandan bawahannya, tahu belaka jika saat inilah pertempuran yang sebenarnya.


Tenko sudah memberi laporan bahwasannya tiga orang yang dia lihat semalam tidak muncul di perang tadi kecuali hanya si buntung. Dia memperingatkan akan keberadaan satu pemuda bermata kuning yang tak kalah mengerikan dengan si buntung.


"Bagaimana perawakannya?" tanya jenderal Suga tepat setelah Tenko memberi laporan ketika mereka sedang sibuk mengobati yang terluka.


Tenko berpikir sejenak, mengingat-ingat, "Rambutnya panjang dikuncir, tingginya hampir sama dengan si buntung tadi tapi dia sedikit lebih pendek." Tenko berhenti sesaat, "Yang paling mudah diingat adalah matanya. Bola matanya kuning cerah."


Jenderal Suga menyipitkan mata. Ia meminum air jernih dari perbekalannya dan berkata lagi, "Semengerikan apa dia?"


"Mengerikan sekali, tak ada yang tidak mengerikan dari tiga orang itu. Menurut perkiraanku, hanya dengan pasukan kita ini mungkin kita akan menerima kekalahan. Kecuali jika kita membawa jenderal lainnya yang masih berada di sisi pangeran."


Tangan jenderal Suga mengepal. Dia tidak suka akan ucapan itu. Ya, dia benci. Dia merupakan seorang jenderal yang mohon langsung kepada pangeran Nakagi untuk pergi menaklukkan Goa Emas ini. Dia sudah berkata yakin menang dan mampu tanpa bantuan jenderal lainnya.


Akan tetapi ucapan Tenko barusan seperti menghinanya. Dia yang ingin mendapat posisi dengan membuat jasa besar menaklukkan Goa Emas, masa harus minta bantuan jenderal lain setelah ia mengatakan yakin akan mampu? Betapa memalukannya!


Memang jenderal satu ini pergi ke Goa Emas dengan membawa sedikit pasukan dan sedikit kesombongan. Dia tak pernah berpikir betapa di utara sudah banyak bermunculan para pendekar sejati akibat gegernya banyak masalah. Yang bukan lain karena pemberontakan Pendekar Tangan Satu, Rajawali Merah dan Sung Han. Juga karena peristiwa besar pemilihan ketua golongan hitam. Dan bahkan mereka sudah banyak bermunculan dengan peristiwa hebat secara berturut-turut sejak beberapa tahun lalu. Sejak gegernya tiga partai terkenal dunia persilatan, sejak beredarnya kabar munculnya warisan keramat Raja Dunia Silat.


"Kita tak akan kembali...kita tak akan minta bantuan." desis jenderal itu keras kepala.


Maka ketika mereka sudah hampir tiba ke tempat yang sedikit lapang itu, jantung mereka berpacu lebih keras. Semua orang sadar jika saat ini pertempuran mati-matian akan terjadi. Pihak lawan pasti akan mengerahkan kekuatan penuhnya saat ini.


Ketika pasukan semakin dekat, jalan mereka sedikit melambat seolah meragu. Namun teriakan-terikakan pembakar semangat berupa lagu ketentaraan samurai itu dinyanyikan keras guna mengusir pergi perasaan ngeri.


Akanntetapi mereka langsung terdiam begitu secara tiba-tiba, tak ada yang sadar, di atas salah satu batu telah berdiri empat orang dan sebuah benda. Sikap keempatnya kereng sekali dan mendatangkan rasa dingin si tengkuk masing-masing orang samurai itu.


Mereka bukan lain adalah Sung Han, topeng emas, Kay su Tek, Burung Walet Hitam. Dan ada satu lagi yang membuat mereka makin merasa mengkirik, adalah dengan berdirinya sebuah peti hitam.


"Siapa mereka?" gumam jenderal Suga.

__ADS_1


Tenko menyipitkan mata, dan wajahnya memucat, "Jenderal, yang itu...itu...dan itu, adalah tiga orang yang bentrok denganku semalam." kata Tenko menunjuk Sung Han, Kay Su Tek dan Walet Hitam.


"Dan apakah itu adalah topeng emas yang jadi pimpinan mereka?" jenderal itu bertanya.


"Agaknya begitulah."


"Lalu peti itu?" jenderal ini diam-diam ngeri juga ada peti di tengah medan tempur seperti ini.


Tenko tak langsung menjawab, melainkan memandang penuh perhatian dengan berbagai perasaan berkecamuk dalam dirinya. Namun dari semua perasaan itu, yang jelas tidak ada perasaan baik.


"Dia peti yang tiba-tiba muncul dan membuat salah satu temanku tersandung." katanya berbisik, "Entah isinya setan atau demit, yang jelas pasti itu bukan barang mati."


Jenderal Suga terhenyak kaget, matanya membeliak dan buru-buru ia tolehkan kepala memandang peti itu. Dari tempatnya ini, samar-samar dia dapat melihat sepasang mata mencorong yang menatapnya tajam.


"Hihhh...." tanpa sadar jenderal ini merinding dan mundur satu langkah.


Ketika seluruh pasukan sedang bingung dengan perilaku jenderal mereka yang nampak ketakutan itu, tiba-tiba entah dari mana datangnya terdengar sebuah suara yang mengandung peringatan.


"Goa Emas milikku, milik guruku dan milik para guru sebelum guruku dan sebelumnya lagi lalu sebelumnya lagi. Tempat ini merupakan warisan yang tiada bandingannya dan aku sudah terikat janji untuk menjaganya. Kuberi pilihan, lupakan tugas kalian dan pulanglah ke selatan. Katakan pada pimpinan kalian, aku Tok Ciauw tak akan menyerahkan goa ini apapun yang terjadi!" suara serak-serak basah yang mengerikan itu berhenti sejenak, "Atau kalian hendak memilih yang kedua? Bentrok sampai seluruh kepala masing-masing dari kalian terpisah dari badan?"


Tanpa terasa seluruh pasukan Jeiji itu merasa seram. Tubuh mereka menggigil hebat dan semangat mereka lambat laun mulai pudar. Apalagi ketika melihat betapa leti itu terbuka perlahan-lahan. Mereka tadinya mengira jika salah satu dari empat orang itu yang berbicara, namun agaknya pikiran mereka keliru.


Begitu peti terbuka, nampak sosok mengerikan yang mirip seperti tengkorak. Seorang kakek menyeramkan dengan pakaian serba hitam.


"Pilih yang mana?" tanyanya masih dengan suara mengerikan itu.


"Jenderal...." Tenko hendak memperongatkan, tapi terlambat sudah.


"Pilih yang ketiga!! Kalian akan diratakan oleh kekaisaran Jeiji! Dan Goa Emas menjadi milik kami!!" bentak jenderal itu.


Mata Tok Ciauw menyipit, "Berarti kalian pilih yang kedua."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2