Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 111 – Rahasia Chunglai [][][]


__ADS_3

Setelah hilangnya nona Songli lima tahun silam pasca pemujaan dewa bulan dan matahari, secara otomatis posisi pendekar terkuat manusia gunung dipegang oleh Chunglai. Tangan kanan nona itu sekaligus orang yang memiliki posisi tertinggi tepat setelah raja. Bahkan banyak yang menganggap, saat nona Songli masih berada di kerajaan, posisi lelaki itu boleh dibilang setara raja.


Memang pria ini selain tabib terpandai di seluruh kerajaan manusia gunung, dia juga merupakan sosok petarung paling kuat. Karena selain menguasai kekuatan dari dewa, dia juga menguasai ilmu tenaga dalam milik para pendekar dataran rendah. Tapi tenaga dalamnya itu lebih sering ia gunakan untuk penunjang dirinya sebagai tabib.


Maka tak heran jika orang setinggi itu, mempunyai otoritas dan wewenang yang tidak sepele di antara para kepala suku. Sejatinya, sejak hilangnya nona Songli, Chunglai sudah mengambil sikap.


Ada lima ketua suku yang menjadi orang-orang kepercayaannya. Tepat tiga hari setelah hilangnya nona Songli, Chunglai mendatangi mereka.


Waktu itu Chunglai mengatakan sesuatu yang terlampau berani. Demikian ucapnya.


"Jangan pernah percaya kepada raja. Tidak masuk akal rasanya kalau nona Songli yang kekuatannya sangat tinggi dan tak terbatas, bisa hilang tanpa meninggalkan jejak."


Lima orang itu awalnya sangat bingung, akan tetapi mereka ini juga sosok yang amat setia kepada nona Songli. Saat salah satu dari mereka bertanya, "Apakah kita akan melakukan sesuatu terhadap raja?"


Chungali menjawab, "Jangan bergerak dan bersikaplah seperti biasa. Urusan nona Songli biar aku yang urus. Nantinya tunggu kabar dariku."


Maka demikianlah, sejak saat itu sejatinya kerajaan manusia gunung sudah mulai terpecah menjadi dua. Mereka adalah pendukung Chunglai dan pendukung raja.


Lalu dua tahun lalu, Chunglai kembali mendatangi mereka. Dan mengatakan sesuatu yang bahkan dia senndiri tak pernah menyangka.


"Ternyata dia itu bukan nona Songli, dia orang lain. Tapi tak apa lah, terpaksa kita menggunakan pendekar untuk mengetahui motif sebenarnya dari raja. Jika memang hilangnya nona Songli tiga tahun silam diakibatkan oleh raja, maka kali ini setelah mengira nona Songli pulang, dia pasti akan bertindak."


Kemudian untuk ketiga kalinya, Chunglai mendatangi mereka tepat satu minggu sebelum ritual pemujaan dewa bulan dan matahari.

__ADS_1


"Kalian tak ikut dalam ritual kan? Nah, siapkan pasukan dan berjaga-jaga di wilayah kalian sendiri. Jangan bergerak dan melakukan sesuatu yang sembrono sebelum turun perintah dariku."


Sejak saat itu, sejatinya keadaan mulai memanas. Raja pun sudah curiga, maka dia mengirim banyak pasukan khususnya yang seperti patung itu untuk mengikuti rombongan ritual. Sayang sekali Chunglai sudah mengantisipasi hal ini, maka tiga hari sebelum berangkat dia meminta kepada lima orang itu untuk mengirim pasukan terbaiknya. Satu orang sepuluh pasukan.


Dan semua ini tak disadari oleh Sung Hwa, Mi Cang dan Yu Nan Sia yang sejatinya menjadi pemeran utama!


Pada malam hari saat raja mengajak makan bersama di ruangannya, kecurigaan Chunglai memuncak. Awalnya dia ingin memanfaatkan Sung Hwa dan dua orang kawannya, tapi setelah dua tahun hidup bersama, ada rasa suka di hatinya. Dia melupakan identitas mereka sebagai pendekar dan diam-diam menganggap ketiganya sebagai keluarga sendiri. Entah ini didorong dengan hati nurani atau kemiripan Sung Hwa dengan nona Songli.


Saat mereka bertiga menunggu makanan hadir, Chunglai yang lihai sekali itu menyelinap ke dalam dan menotok lumpuh seorang pelayan. Ia pakai pakaiannya dan menggunakan ilmu kedokterannya, dia mengubah wajahnya menjadi sedikit gelap. Dia pun memakai kumis palsu yang terbuat dari akar serabut pohon.


Saat mengantarkan araknya dari dapur ke meja, hampir dia marah dibuatnya. Matanya yang tajam sebagai tabib itu sudah dapat membedakan mana arak asli dan campuran. Dan dari tiga arak itu, semuanya sudah dicampur dengan obat. Dua obat perangsang, satu lagi yang cawan putih obat tidur.


Ingin ia meletakkan arak ini kepada sang raja, tapi pelayan lain mengatakan, "Dua arak itu untuk nona Songli dan saudara Yu. Sedangkan satu lagi yang cawan putih untuk saudara Mi Cang."


Tak ada pilihan lain, Chunglai meletakkan tiga cawan arak itu sesuai perintah. Tapi dia ingin melihat kelanjutan dari rencana raja jika arak ini berhasil meracuni targetnya. Maka terpaksa sekali dia biarkan arak milik Sung Hwa dan Yu Nan Sia, sedangkan milik Mi Cang sudah dia beri obat penawar secara diam-diam. Memang dia lihai sekali, bahkan beberapa pasukan khusus yang selalu mengintai sosok Chunglai itu sudah kehilangan targetnya sejak tadi. Tak sadar jika dia sedang menyamar menjadi pelayan.


"Sekarang hanya menunggu." gumam Chunglai ketika lima orang itu sudah masuk kamar masing-masing dan hendak pergi tidur.


...****************...


"Bedebah!" umpat Chunglai ketika mengetahui kamar Sung Hwa telah dibakar orang. Bersama Mi Cang yang beberapa saat lalu sudah dibangunkan dan diberitahu semua rencananya, mereka melesat keluar menuju kamar Sung Hwa.


"Bawa keluar, lari ikuti aku!" kata Chunglai membopong tubuh Sung Hwa. Sedang Mi Cang membawa juniornya.

__ADS_1


Lelaki itu mengangguk singkat dan berlari keluar dari komplek kuil itu mengikuti ke mana Chunglai pergi. Jalanan amat gelapnya, dia hanya mengandalkan pendengaran untuk mengetahui di mana letak Chunglai berlari.


"Kanan, cabut pedang dan tangkis sejajar kepala!" perintah Chunglai tiba-tiba dan ini membingungkan Mi Cang. Tapi dia sudah cepat-cepat mencabut pedang dan membabat ke arah kanannya setinggi kepala.


"Trang-trang-trang!"


Terkejutlah ia, kiranya ada tiga buah senjata rahasia berupa biji batangan yang setipis tangkai daun. Dia merinding jika Chunglai tak memperingatkan, maka kepalanya sudah pasti tembus.


"Hiyaatt!!" pekik Chunglai ketika sambaran angin dahsyat keluar dari balik lengan kirinya. Berturut-turut terdengar pekik tiga kali dan robohlah tiga orang penyerang gelap itu.


"Sialan......kiranya firasatku selama ini benar!! Sial!!" Chunglai mengumpat panjang pendek. Lalu dia memasukkan jari jempol dan jari tengah yang disatukan ke dalam mulut. Kemudian meniupnya.


"Suiitt....suiitt...." terdengar suara lengkingan bagai kicauan burung. Suara ini disambut dengan suara yang sama dari kejauhan. Disusul serbuan puluhan orang yang pakaiannya bermacam-macam sesuai suku masing-masing.


"Lindungi tuan Chunglai dan nona pendekar!! Robohkan semua pengejar!!" seru salah seorang dari mereka. Pakaiannya serba hitam dan tubuhnya tinggi sekali.


Maka terjadilah perang berdarah di malam itu. Lima puluhan anggota suruhan Chunglai melawan puluhan orang pasukan khusus raja. Pasukan patung yang kekuatannya paling kuat di seluruh kerajaan.


Pada saat itu, dari arah komplek kuil sudah datang banyak orang yang ikut membantu pasukan khusus ini. Ternyata keributan ini sudah disadari dan makin kacaulah keadaan.


Ini merupakan awal dari perang besar di antara suku manusia gunung. Perang saudara yang penuh darah. Sebuah perang akibat perpecahan yang ditimbulkan oleh satu orang. Sebuah perang yang diakibatkan oleh hilangnya satu orang.


Ini adalah peristiwa besar!!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2