Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 69 – Satu Tujuan


__ADS_3

"Ke mana ini....ke mana aku harus pergi?" Sung Han bergumam tak jelas. Kadang kepalanya menunduk, kadang mendongak. Kakinya menendang-nendang batu apa saja yang dilaluinya.


Bajunya sudah lusuh sekali, agaknya harus diganti lagi. Dia tidak sadar kalau dirinya sudah tertimbun di dalam gundukan batu selama lebih dari dua minggu. Wajar saja, kalau dia sampai sadar, satu hal mengerikan. Bagaimana mungkin seseorang yg dikubur bisa tahu kapan hari berganti.


Banyak sudah desa dan hutan dilewati. Bahkan sesekali dia menginap di satu kota. Bagaimana dia menginap sedangkan uangnya telah habis?


Sung Han dengan cerdik melamar pekerjaan ke suatu penginapan atau rumah makan, sehingga dia mendapat upah sekaligus tempat tinggal. Karena itulah baju yang sudah sobek tak karuan tertimbun batu, kali ini sudah ia buang dan ganti dengan yang baru. Walaupun dari bahan yang jauh sederhana.


Pedangnya dililit dengan kulit pohon kuat dan keras. Kemudian ditali sedemikian rupa dengan akar pohon yang ulet sekali. Sehingga jika hanya dengan bacokan pisau dapur atau golok pemotong daging, itu tak akan tembus. Dengan cara ini, Sung Han dapat dengan tenang meninggalkan pedang itu di kamarnya sewaktu ia bekerja.


"Sudah terpikirkan olehku sejak saat itu, bagaimana kalau aku kembali ke Perguruan Awan?" gumamnya lagi memandang ke satu arah, tempat perguruan berada. Matanya menyipit, "Bukannya aku mau menumpang tidur, aku hanya ingin mengunjungi Kay Su Tek dan Coa Ow serta calon istrinya."


Sung Han menghela napas berat dan menyempatkan diri untuk mandi di satu anak sungai. Setelah mengenakan pakaian dan membasuh rambut, ia buka lilitan pedangnya dan menyampirkan pada sabuk hitamnya. Kali ini penampilannya sudah menjadi pendekar tulen.


"Baiklah, ke sana sajalah."


...****************...


"Apa kau bilang? Mustahil! Gila!!"


Mi, saudara tertua dari dua bersaudara itu menunduk dalam dan tubuhnya gemetaran. Jika nonanya sudah melotot-lotot seperti itu, pastilah marahnya lebih hebat dari auman singa.


"Siapa yang bilang!!!??" bentaknya sambil menggebrak meja.


"I-itu nona....salah satu pendekar yang sedang makan di lantai bawah sana. Aku tidak sengaja mendengar." jawab Mi takut-takut.


Sung Hwa lekas bangkit dan membawa pedangnya, kemudian berlalu pergi menuju pintu kamar. Sambil berjalan ia berkata kepada Mi, "Tunjukan di mana orangnya!"


Mi segera menurut dan berjalan tergopoh-gopoh mengikuti nonanya. Membawa turun dari lantai dua penginapan untuk kemudian tiba di restoran makan sederhana. Mi dan Sung Hwa berdiri di depan tangga, dengan ragu Mi menunjuk dua orang di pojokan.


"Itu nona..."


"Hmph!" mendengus singkat, Sung Hwa berjalan menghampiri dua orang lelaki itu. Dua orang pria tiga puluhan tahun yang cukup tampan andai saja brewok yang berlebihan itu sedikit dicukur.

__ADS_1


Tanpa ragu, Sung Hwa langsung menarik satu kursi dan duduk di sana. Tentu hal ini mengejutkan dua orang itu, tapi mereka menjadi sedikit sumringah ketika tahu yang datang adalah wanita cantik. Pakaiannya ketat lagi.


"Nona...ada apa?" tanya salah satunya ramah.


Sung Hwa melempar dua koin emas. Kaki kirinya diangkat untuk kemudian ditumpangkan di kaki kanan. Dengan datar ia berkata.


"Soal Hati Iblis yang meratakan Perguruan Awan, orangku ini bilang kalian tahu sesuatu."


Mata dua orang itu berbinar, antara senang dengan hadiah dua koin emas dan girang karena didatangi gadis muda. Tangan mereka dengan cekatan menyambar koin itu. Sambil tersenyum lebar salah satunya segera mengoceh menjelaskan.


Beberapa waktu lalu Hati Iblis memang menyerang Perguruan Awan. Tak sendirian, tapi mereka juga bersama pasukan pemerintah yang dipimpin oleh pangeran Chang Song Ci.


Mereka juga dibantu oleh banyak perguruan dan partai silat yang sebelumnya merasa tidak puas dengan tindakan Perguruan Awan menculiki para gadis.


"Hanya itu?" tanya Sung Hwa merasa sedikit tak puas.


"Hanya itu, memang apa lagi? Kami tidak ikut dalam pertempuran, hanya melihat dari jauh dan itu pun mempertaruhkan nyawa, kau tahu?" salah satu dari mereka berkata dengan intonasi digagah-gagahkan.


"Jadi sekarang, Hati Iblis bermarkas di Perguruan Awan?" tanya gadis itu lagi.


Kening Sung Hwa berkerut, jelas dia sangat tidak suka dengan tindakan semena-mena Jin Yu. Dia pergi bukan untuk hal seperti ini, dia pergi untuk mencari Sung Han, meminta bantuannya. Kalau Hati Iblis bertempat di Perguruan Awan yang strategis, maka saat bersama Sung Han dia menyantroni markas itu, akan sangat mencolok. Segala kejadian soal Hati Iblis akan cepat menyebar dan kalau sampai terdengar oleh pemerintahan, pasti akan repot.


"Bangsat! Mengapa pula setan tua itu membantu pemerintah?" umpat Sung Hwa dalam hati.


Ia lantas berdiri dan menjura sedikit dalam. Guna memberi hormat dan mengucapkan terima kasih. Tapi saat dirinya hendak pergi, dia dikejutkan oleh sambitan dua koin emas dari belakang.


"Tap–tap!" dengan mudah dapat ditangkapnya.


"Apa ini?" Sung Hwa bertanya datar.


Dua orang itu tersenyum aneh, keduanya saling lirik seolah hati mereka sudah sepakat dengan rencana masing-masing. Salah satunya berdiri lalu berjalan menghampiri. Firasat Sung Hwa tidak nyaman.


"Nona manis, kami kembalikan dua koin emasmu, hanya informasi sepele itu tidak perlu dibayar." katanya ramah.

__ADS_1


"Oh, terima kasih." Sung Hwa berkata singkat dan hendak pergi. Tapi tangannya sudah lebih dulu kena pegang orang yang tanpa malu-malu melanjutkan gerakan memeluk pinggangnya.


"Sebagai gantinya.....yah, kau tahu..." ujarnya dengan seringai, begitu pula satu kawan lainnya.


Amarah Sung Hwa bangkit, ia mengepalkan tangan dan berniat memukul pecah kepala orang ini. Sung Hwa bukan orang jahat, justru sebaliknya, hatinya teramat lembut. Hanya saja karena dia hidup di tengah para penjahat kejam, tentu kejahatan mereka ada yang sedikit menempel pada diri Sung Hwa.


Tapi sebelum kepalan tangannya terayun, lelaki itu sudah terpental dengan dua gigi depan lepas dari tempatnya. Kiranya itu adalah pukulan Mi yang sudah naik pitam. Wajahnya merah sekali.


"Hayo katakan sekali lagi!! Kali ini bukan gigimu yang hilang, tapi sukmamu!!" katanya garang. Ia lantas merebut dua koin emas dari tangan nonanya dan dilempar ke arah jidat masing-masing dua orang itu.


Karena ilmu kepandaian Mi jauh lebih tinggi dari mereka, dua orang itu tak sempat mengelak dan dengan tepat koin itu mendarat di jidat masing-masing.


"Ambil itu, dan selesai perkara!!"


...****************...


Dengan wajah bersinar dan bersemu, senyum lebar menghiasi bibirnya, pemuda berjubah putih itu melesat cepat melintasi hutan itu.


Tangannya hanya tinggal sebuah, tapi melihat gerakannya yang demikian cepat, tentu membuat orang mengkirik ngeri. Di pinggangnya terdapat sebatang pedang dengan ukiran-ukiran indah.


Pemuda ini tak lain adalah Kay Su Tek, tuan muda Perguruan Awan.


Seratus hari sudah terlewat, dia menggembleng diri di ruang bawah tanah itu tanpa lelah. Entah seratus hari lewat berapa jika perjalanan menuju jantung goa aneh itu dihitung sekalian.


Jelas ke mana arah perginya pemuda ini dengan kecepatan seperti itu, pastilah ke Perguruan Awan.


Ia sudah sangat tidak sabar untuk menemui kedua orang tuanya dan meminta restu, sungguhpun dia merasa sedikit khawatir akan Yang Ruan yang marah karena ia tak kunjung datang berkunjung untuk melamar.


Tapi memikirkan kemarahan dan kekhawatiran Yang Ruan, hatinya semakin girang dan bahagia.


"Hahahahaha.....tunggu sebentar lagi cintaku!!" dia berteriak lantang tanpa sadar bahwa saat itu sedang melintasi sawah pedesaan.


Tentu saja, mendengar jeritan itu disusul kelebatan bayangan putih yang bergerak cepat sekali, orang-orang desa yang polos menjadi ketakutan. Pagi hari berikutnya muncul rumor di desa tersebut akan lewatnya iblis penjaga hutan yang sudah lama tertidur.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2