Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 90 – Mencurigakan


__ADS_3

Kakek cebol itu melirik muridnya, lantas dia memberi tanda dengan lirikan matanya. Nie Chi mengangguk paham dan mengambil tongkat bambunya yang tadi diletakkan di samping gerobang. Ia menghadapi pria berjubah hitam yang seluruh tubuhnya sedang gemetaran menahan amarah itu.


"Siapa engkau mengganggu orang tua yang sedang lewat?" tegur Nie Chi.


Pria itu mengangkat muka dan menjawab keras, "Harusnya aku yang tanya, ada apakah kau dua orang tua dan muda mengganggu pekerjaan kami?"


Nie Chi memandang kakek tua yang terluka pundaknya itu. Dia masih meringis-ringis menahan nyeri sambil mendekap pundak kirinya yang terus mengucurkan darah. Tapi tangan kiri orang itu mencengkeram dada kanannya, seperti memegang sesuatu. Nie Chi melihat ini namun tak ia pedulikan, kembali dia memandang lawan.


"Bukankah melihat dari pakaian dan lambang di balik jubah lebarmu itu, kalian ini adalah orang-orang yang menamai diri sendiri sebagai Serigala Tengah Malam?" ujar Nie Chi ketika sekelebatan melihat lambang kepala serigala di dada kiri baju dalam lawannya itu.


Orang ini terkejut dan cepat-cepat menutupkan jubah luarnya. Dia membentak, "Memang iya, lantas kenapa? Nah, sudah tahu tak lekas minggir mau apa lagi? Hendak mampus?"


"Kau yang akan mampus!" bentak Nie Chi dan menerjang dengan tongkatnya. Merupakan gulungan sinar kuning yang menyambar-nyambar ganas diiringi suara bersuitan udara yang kena sambar tongkat.


Orang itu terkejut, sebelum tongkat tiba saja angin sambarannya sudah terasa demikian jelas. Maklumlah kini dia sedang menghadapi orang lihai.


Cepat ia gerakkan pedangnya memutar di depan tubuh, membentuk payung lebar yang sekaligus menutupi pandangan lawan. Sedangkan tangan kiri diam-diam berada di samping pinggang siap mengirim totokan apabila lawan sudah tiba dekat.


"Trang-trang-syutt-breett!"


Dua kali tongkat itu berhasil kena tangkis. Namun tangan orang itu terasa bergetar hebat dan gerakan pedangnya menjadi kaku beberapa saat. Kesempatan ini digunakan oleh Nie Chi untuk melakukan gerakan menusuk ke arah mata. Tapi lawan itu masih sempat menghindar dan akibatnya pundak kanannya yang kena tabrak oleh tongkat.


Betapa kaget ia saat melihat baju di pundak kanan sobek seperti dirobek sebatang golok. Wajahnya sedikit memucat tapi dia tetap nekat.


"Heaaahhh!!"


Disertai lengkingan nyaring, ia menerjang maju dengan sebuah bacokan keras. Nie Chi bertindak cepat, tongkatnya menyodok dari bawah dan dengan tepat menotok siku lawan. Membuat tangan lawan lumpuh seketika.


Saat itu juga, Nie Chi memutar tongkat dan menggunakan ujung tongkat satunya, ia mencongkel dagu lawan yang dibuangnya ke tebing curam di belakangnya.


"Uuaaaahhhh!!!" teriakan membahana terdengar saat orang itu terlempar dan terjun bebas ke bawah.


Nie Chi memandang dingin ke arah terjunnya orang itu. Lantas dia mendengus dan menghampiri si pria tua yang sedang terluka. Ternyata gurunya sendiri telah menolong orang itu dengan menotok beberapa jalur darah di pundak, membuat pendarahan orang itu berhenti.


"Terima kasih...terima kasih tuan pendekar sekalian..." ucapnya berkali-kali sambil membungkuk-bungkuk hormat.


Nie Chi malah merasa sungkan sendiri dengan penghormatan berlebihan itu. Dia berusaha membujuk si lelaki tua agar menghentikan tindakannya.


Beda jauh dengan si kakek cebol yang masih duduk mendeprok, tapi matanya yang tajam selalu memandang ke arah dada kanan si lelaki tua. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

__ADS_1


"Waduh, gawat!" tiba-tiba lelaki tua itu berkata. Sebelum ada yang sempat bertanya, lebih dulu dia melanjutkan, "Saya harus cepat-cepat mengantarkan barang, sudah terlambat. Maafkan saya tuan pendekar sekalian, saya buru-buru."


Setelah berkata demikian, orang ini sudah meloncat naik ke atas kudanya dan menjalankan kereta kuda. Ia melewati jalan tikungan sempit itu dengan ekstra hati-hati, selepasnya ia mempercepat perjalanan seolah-olah dia akan mati kalau terlambat sedetik saja.


"Ikuti dia!" kata gurunya tiba-tiba. Nie Chi memandang bingung.


"Eh, tadi guru sendiri keberatan."


"Sekarang berubah pikiran, kejar!!" ternyata kakek ini sudah bangkit dan bergerak cepat sekali. Membuat Nie Chi makin merasa kagum dengan kepandaian kakek cilik yang demikian sakti itu.


...****************...


Dipimpin oleh seorang pria paruh baya bercaping yang selalu menghisap cangklongnya, dua puluh orang itu melesat cepat melintasi kawasan hutan bambu yang amat rimbun itu.


Jelas dua puluhan orang ini memiliki kepandaian yang amat tinggi. Buktinya, batang-batang bambu yang ambruk menghadang di sepenajang jalan itu, berhasil mereka lampaui seolah tiada halangan di sana. Jika saja ada orang bergerak secepat itu, dan kepandaiannya tak cukup tinggi, kiranya dia sudah jatuh bangun laksaan kali.


"Di balik bukit itu, kita akan bertemu dengan dia. Percepat lari kalian!" seru si pria bercaping setelah lebih dulu menghembuskan asap dari cangklongnya.


Di sebelahnya, ada seorang pemuda tampan dengan pakaian amat sederhana, walaupun begitu amat bersih dan terawat. Dari tadi dia nampak diam, dan agaknya sekali inilah baru terdengar suaranya.


"Paman Wan, apakah benar berita itu, bahwa paman tua telah berhasil mendapatkannya?" pemuda ini lantas melirik ke arah lelaki bercaping yang dipanggil paman Wan. Kemudian dia berkata lagi, "Dia hanya pandai silat kampungan, mana bisa mendapatkan itu?"


"Paman Wan Jin, ini terlalu aneh!! Bagaimana jika kita telah dijebak musuh!?"


Wan Jin, salah satu pendekar kawakan dari Rajawali Putih itu melirik sejenak dan menjawab setelah mendengus, "Kalau seperti itu, sikat saja!!"


Khuang Peng, pemuda perkasa dari Rajawali Putih hendak membantah. Namun ia urungkan niat itu dengan helaan napas panjang. Setelahnya, pemuda ini kembali diam.


Selang beberapa menit, mereka akhirnya sampai di puncak bukit dan tanpa menunggu lagi segera menuruninya. Terlihat satu aliran anak sungai di bawah sana, dua puluhan orang ini dengan tangkas menyeberangi sungai itu dan melanjutkan perjalanan. Tak berselang lama, sampailah mereka di tempat yang sudah dijanjikan, di satu lapangan luas tengah hutan.


Begitu sampai, Wan Jin mengerutkan keningnya. Matanya melirik ke kanan dan kiri dengan sikap awas.


Semua tindakan ini tak lepas dari pengawasan Khuang Peng yang segera berwaspada. Diam-diam dia merasa ada yang aneh dengan keadaan ini.


Sunyi...terlalu sunyi...teramat sunyi.


"Mari duduk dan menunggu." akhirnya Wan Jin berkata. Namun matanya tetap tajam dan awas.


Dua puluhan orang ini segera mendudukkan diri di bawah pohon besar. Duduk sekaligus berteduh dari sinar matahari yang mulai terik.

__ADS_1


"Paman Wan..."


"Ya, aku tahu." jawab orang itu cepat, "Entah bagaimana, perasaanku tidak enak."


Khuang Peng mengangguk dan berbisik sekali lagi, "Kalau begitu kita harus waspada."


Wan Jin hanya mengangguk mengiyakan.


Kurang lebih satu jam kemudian, terdengar suara sepatu kuda dari arah hutan di depan sana. Serentak wajah dua puluh orang itu menjadi cerah karena tentu inilah orang yang ditunggu-tunggu.


Tak berselang lama, tampaklah sebuah kereta kuda beserta kusirnya. Seorang lelaki tua yang bahkan lebih tua dari Wan Jin.


"Akhirnya datang...." gumam Wan Jin dan berdiri menyambut kedatangan pria tua itu yang menjadi berseri wajahnya. Wajah tua itu menunjukkan kelegaan.


Namun Wan Jin dan Khuang Peng tiba-tiba mendelik. Hal ini mengagetkan kusir itu sendiri yang menjadi mengerutkan kening.


Sebelum sempat bereaksi, dua orang tua dan muda itu sudah melesat cepat bagaikan burung walet ke arah kereta kuda.


"Awasss!!" seru Khuang Peng. Begitu tiba di kereta kuda, ia menyambar kepala si kusir dan membawanya bersembunyi di gerobak.


Sedangkan Wan Jin, dia sudah memegang cangklongnya, berdiri di atas punggung salah kuda, menarik tali pengendali dengan kakinya membuat kuda itu meringkik dan berdiri dengan kedua kaki belakang. Saat itu pula, dia meniup-niup ke kanan kiri dibarengi sabetan cangklongnya yang luar biasa.


"Wuuss-wuuss-wuuss."


"Trakk-tring-trang!"


Suara senjata-senjata rahasia dari berbagai penjuru yang rontok seketika terkena asap dari cangklong dan tiupan napas Wan Jin. Kemudian pria ini melepas topi capingnya dan menyambar ke arah kanan di barengi bentakan dahsyat.


"Pengecut busuk! Keluar!!"


Angin badai berhembus dari kibasan topi caping itu. Membuat kumpulan pohon di sebelah kanan sana bergoyang dan jatuhlah orang-orang penyambit senjata rahasia yang sebelumnya bersembunyi di atas pohon.


Wan Jin melakukan gerakan yang sama ke arah kiri dan hal serupa pun terjadi. Beberapa orang jatuh dari atas pohon begitu menerima sambaran angin Wan Jin.


"Siapa kalian dan mau apa main gila dengan Rajawali Putih!!" bentak Wan Jin ketika melihat orang-orang berpakaian hitam itu. Kemudian dia berseru kepada kawan-kawannya, "Persiapan tempur, ini penyergapan!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2