
Sung Han terkejut dan bingung sekali, saking kaget ditambah kengeriannya, dia bahkan tak sempat bertindak menolong bocah itu. Ia hanya mampu memandang bengong tatkala tubuh kecil itu terkulai lemas jatuh dari kursi.
"Apa yang terjadi...." ia bergumam seorang diri seolah ditujukan kepada diri sendiri. Kepalanya bergerak-gerak memandangi tiga mayat itu secara bergantian.
Tak berselang lama kemudian terdengar suara berisik teriakan-teriakan orang dari luar. Sung Han mendekati jendela dan memandang ke luar. Kiranya para petugas dan penduduk sudah datang menghampiri rumah ini karena mendengar teriakan tersebut.
"Celaka!"
Sung Han cepat berbalik dan berlari menuju pintu belakang. Sebelum itu matanya tanpa sengaja melihat sesuatu di pintu rumah. Ia mengerutkan kening dan mengingat-ngingat tanda itu di kepala. Sesaat kemudian dia benar-benar pergi meninggalkan tiga buah mayat tersebut.
...****************...
"Aku melihatnya!! Melihatnya jelas!" orang itu berteriak-teriak di depan wajah si petugas yang kelihatan gusar, "Bahkan saat lewat di depan rumah, dia melirikku! Mencurigakan sekali bukan?"
Petugas itu saling pandang dengan kawannya, ia sedikit mendorong tubuh pria itu agar menjauh. Kemudian terdengar dia berkata, "Lebih baik kita kuburkan mayat-mayat ini dulu."
Dibantu para warga, mereka menggali lubang tanah di samping rumah itu. Setelah selesai pemakaman, si petugas tadi menghampiri pria itu yang belum juga bisa tenang.
"Tuan, jelaskan bagaimana ciri-ciri orang tersebut."
Orang itu mengangguk dan lekas menjelaskan, "Pakaiannya sederhana, jubah biasa yang lengannya lebar. Sabuknya hitam, ada pedang di sana. Pasti dia seorang pendekar." kemudian setelah menghela napas, dia berkata lagi, "Wajahnya masih amat muda, paling seumuran dengan putriku. Rambutnya dikuncir."
Si petugas mengangguk-angguk. Kemudian bertanya lagi, "Apakah benar kau melihatnya masuk ke rumah ini?"
"Benar!" jawab si pria itu cepat-cepat.."Pasti dialah pelakunya!!"
Petugas itu saling pandang dengan kawan-kawannya, seolah memberi kode. Kawan-kawannya mengangguk dan salah seorang dari mereka pergi ke satu arah guna melapor kepada perwira pemimpin desa.
"Tunggu perkembangan selanjutnya, kami akan coba menyelidik."
...****************...
"Sialan! Aku benar-benar telah menjadi kambing hitam!"
Sung Han yang melihat kejadian itu dari atas genteng rumah merasa dongkol sekali. Kalau misal dia bukan warga desa, pasti sudah diberi hajaran.
Setelah orang-orang pergi, dia masih tetap berada di sana. Matanya terpaku pada rumah tempat sekeluarga itu tewas. Lebih tepatnya memandang tanda tiga garis yang dioles menggunakan darah di pintu rumah.
__ADS_1
"Sebenarnya apa itu?" Sung Han berpikir keras karena merasa pasti ada kaitannya dengan tanda tersebut.
Kemudian ia ingat akan sesuatu. Bukankah pria yang tadi mengkambing hitamkan dirinya, adalah orang yang sama di rumah yang terdengar jeritan tangis itu? Jika memang iya, jangan-jangan....
"Benar! Aku harus ke sana!!" pemuda ini bangkit, bergerak cepat melompat-lompati atap rumah untuk mencapai kediaman itu. Bagaimana pun dia tak mau mencari keributan dengan berkeliaran di jalanan desa.
Begitu sudah sampai, kiranya ada seorang anak gadis yang berdiri di depan rumah dengan raut wajah khawatir. Ia lekas memeluk ayahnya yang baru pulang sambil menangis.
"Ayah...aku takut...."
"Tenanglah...kita serahkan pada para petugas." kata ayahnya mencoba menenangkan gadis itu. Saat membuka pintu, nampak wanita yang seumuran dengannya sedang sibuk mengelap air matanya.
Begitu pintu tertutup kembali, jantung Sung Han berdegup mengetahui sesuatu familiar yang ada di sana. Sebuah tanda tiga garis yang dioles memggunakan darah.
"Itu sama dengan yang di rumah tadi! Pasti ada yang tidak beres!"
Ingin hati pergi menyelidik, tapi Sung Han menjadi bingung harus mulai dari mana. Dia sama sekali tidak tahu duduk permasalahannya, tapi dia tak bisa membiarkan semua ini dan pura-pura buta. Akhirnya, dia memilih untuk menunggu sampai malam tiba, matanya terus memandang rumah itu.
...****************...
Perwira yang menjadi pimpinan seluruh prajurit di desa itu berjalan berindap-indap keluar dari pos penjagaan. Setelah jauh, ia lari cepat menuju ke hutan dekat dengan desa.
"Lama sekali!" bentak salah satu dari mereka.
Si perwira cepat menjura dalam, "Maafkan junior ini, semua sudah siap. Tanda sudah dipasang. Dia merupakan gadis paling cantik di desa."
Orang itu mendengus dan memandang ke enam temannya. Ia memberi tanda dengan kepalanya kemudian berkata, "Pergi! Aku akan menunggu di sini."
"Baik!!"
Mereka lantas berkelebatan pergi menuju desa. Kemudian si perwira itu menjura sekali lagi dan kembali ke desa pula. Tinggalah si pria bertopeng yang menjadi pimpinan mereka, duduk di sebuah batu.
Tiba-tiba matanya melotot dan tubuhnya kaku sesaat ketika terdengar suara dari atas.
"Tinggal menunggu? Tugasmu enak sekali."
Orang ini bangkit dan memandang, tangannya secepat kilat sudah mencabut pedang. Tampaklah olehnya seorang pemuda belasan tahun, tak akan lebih dari dua puluh, duduk di atas dahan pohon. Tatapannya dingin menusuk.
__ADS_1
"Katakan, apa yang menjadi masalah di desa ini!" pemuda itu berkata. Nadanya ketus memerintah.
Pria bertopeng itu mendengus, "Heh, benarkah engkau seorang pemuda yang menjadi kambing hitam itu? Aku mendapat laporan tadi siang, dan mengacuhkannya. Kiranya memang kau tidak pantas untuk diperhatikan!" tentu saja dia memandang rendah.
"Hm...." pemuda yang bukan lain adalah Sung Han itu bergumam. "Seharusnya kau mencari dan membunuh aku." katanya.
"Hahaha, untuk apa!? Ada atau tidaknya dirimu bukan masalah!! Kalau mau mati baiklah, akan kukabulkan!!"
Bersamaan dengan itu, orang ini meloncat tinggi didahului sinar pedang yang menyambar ganas, berusaha menyambar kaki Sung Han.
Pemuda itu seolah tak melihat serangan ini. Pandangannya dialihkan untuk melihat ular lewat, sedang tangannya menggapai sembarangan ke bawah.
"Tang!!"
Pedang itu terpantul, memablik dan orang bertopeng itu terkejut setengah mati dengan tangkisan menghina semacam itu. Ia melompat turun lantas memandang terbelalak.
"Bangsat!! Setan!"
Orang ini kembali menerjang, kali ini lebih pintar dan hati-hati. Tubuhnya melambung tinggi ke atas sampai melewati tubuh Sung Han. Lalu berputaran dan menukik dengan pedang di bawah, menuju kepala Sung Han.
Ia menjadi girang sekali melihat Sung Han sama sekali tidak berusaha menghindar. Bahkan bergerak pun tidak. Ia berseru lantang, "Huahahahaha....matilah bocah sombong!!"
Sung Han melirik ke atas sejenak, kemudian meraba pedangnya. Ketika hendak dicabut, ia tersentak akan sesuatu dan mengurungkan niatnya. Seolah ada sesuatu yang mengingatkan ia, Sung Han tak jadi menarik pedang.
Sebagai gantinya dia gunakan jari telunjuk dan tengah untuk melakukan totokan. Bukan totokan biasa, melainkan totokan maut menuju leher.
"Syuut!!"
Tangannya bergerak cepat, merupakan bayangan samar yang bergerak cepat sekali seperti patokan ular. Orang itu dapat melihat, tapi tak sempat menghindar saking cepat gerkannya.
"Cuuss!!"
Jari Sung Han dengan telak mengenai leher orang itu, melesak sampai beberapa senti. Lalu secepat kilat tangan kirinya merebut pedang sekaligus melempar tubuh tanpa nyawa itu ke bawah. Dia tersenyum miring.
"Matimu cukup berguna."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG