Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 92 – Kabur


__ADS_3

Belasan orang Serigala Tengah Malam itu termenung memandang ke arah kereta kuda. Di sana berdiri tujuh orang sisa anggota Rajawali Putih yang masih berdiri tegap dengan sikap gagah sekali.


Tapi yang membuat mereka terheran adalah, betapa pria tua yang tadinya menjadi incaran mereka, tiba-tiba hilang tak berbekas. Menyisakan tujuh orang itu yang sudah menerjang lagi membuka jalan darah untuk meloloskan diri.


"Heyaaaahhh!!" tujuh orang itu berteriak nyaring untuk membakar semangat, kemudian menerjang maju dengan ganasnya. Mereka tadi sudah mengorbankan diri sendiri untuk membiarkan Wan Jin, Khuang Peng dan si kusir untuk lolos. Kali ini hanya ada dua pilihan, lari atau mati!


Pimpinan Serigala Tengah Malam itu berdiri di kejauhan dengan kening berkerut. Tadi dia yang terus memantau sama sekali tidak melihat bagaimana cara tiga orang itu pergi. Diam-diam dia merasa penasaran dan marah sekali karena kehilangan mangsa.


Saking marahnya, dia ingin melampiaskan itu semua ke tujuh orang ini. Maka dia berseru, "Habisi!!"


...****************...


Di tempat yang cukup jauh dari pertempuran itu, nampak dua bayangan yang melesat cepat sekali menuju ke barat. Mereka ini adalah Khuang Peng dan Wan Jin yang memanggul tubuh si kusir. Keduanya pergi melarikan diri atas desakan saudara-suadara mereka. Karena bagaimana pun "sesuatu" yang dibawa si kusir itu akan membahayakan semua orang kalau sampai jatuh ke tangan Serigala Tengah Malam.


"Kau masih membawanya kan?" tanya Wan Jin kepada si kusir. Ini merupakan pertanyaan yang sudah diulang ke seratus dua puluh tiga kali.


Kemudian pria tua itu menjawab ke seratus dua puluh tiga kalinya sesaat setelah merogoh-rogoh jubah di sebelah dada kananya.


"Aman!"


Wan Jin mengangguk dan melanjutkan perjalanan. Khuang Peng semenjak tadi hanya diam saja. Di samping merasa kesal karena harus meninggalkan suadara mereka, dia juga berwaspada kepada rombongan lawan kalau sampai mengejar.


Beruntung keduanya ini mempunyai kepandaian yang cukup mumpuni, sehingga dalam keributan tadi, dua orang ini dapat bertindak cepat membawa pergi si kusir.


Caranya sungguh amat aneh dan kiranya jika sekali gagal, mereka tak akan bisa lolos lagi.


Penyelamatan ini dilakukan dengan cara melambung tinggi ke atas. Ketika ada empat orang Serigala Tengah Malam melakukan serangan berupa tubrukan dari atas. Empat orang Rajawali Putih segera menyambut. Saat itu digunakan oleh Wan Jin dan Khuang Peng untuk melambung tinggi dan menyelinap di antara rimbunnya daun pohon. Karena tubuh mereka tertutup oleh delapan orang yang sedang bertumbuk di udara, sehingga jika tidak teliti naka tak nampaklah kelebatan dua orang ini.


Tentu saja awalnya Wan Jin dan Khuang Peng menolak untuk melarikan diri. Namun atas desakan kawan-kawannya, mereka terpaksa meninggalkan pertarungan hanya untuk menyelamatkan "sesuatu" yang dibawa si kusir.

__ADS_1


Ketika Wan Jin telah mengulangi pertanyaan yang sama sebanyak dua ratus sembilan belas kali. Dan si kusir yang sudah menjawab sebanyak dua ratus tiga puluh empat kali, pria bercaping itu memutuskan untuk beristirahat.


Mereka duduk di bawah sebatang pohon besar di tengah hutan. Melepas penat sekaligus berlindung dari teriknya sinar matahari siang itu.


Namun baru beberapa menit duduk, mereka mendengar suara derap kaki kuda dari kejauhan. Serentak dua orang pendekar ini bangkit dan bersiap.


"Pasukan berkuda....hem, mereka bukan Serigala Tengah Malam." kata Khuang Peng setelah mengamati rombongan belasan orang itu beberapa saat.


Sedangkan Wan Jin mengerutkan kening, "Hm....aku yakin lari kita tadi lebih cepat dari kuda, kenapa mereka bisa mengejar? Apakah mereka mengejar kita dari awal?"


Benerapa saat kemudian, dua orang ini mengeluarkan seruan tertahan ketika melihat cara menunggang kuda dari belasan itu. Sungguh di luar perkiraan dan amat aneh.


Pasalnya, mereka mengejar bukan hanya mengandalkan kecepatan lari kuda saja. Melainkan saat kuda itu sedikit melambung di udara karena gerakan berlari, dengan dibantu kepandaian si penunggang, kuda itu dapat melambung sedikit lebih tinggi dan lebih lama. Membuat lari kuda jauh lebih cepat dari biasanya.


Yang lebih hebat lagi adalah sebuah tandu mewah yang dipikul empat orang berkuda. Gerakannya amat cepat namun juga amat halus, seolah tandu itu tidak mengalami guncangan sedikit pun. Maklumlah dua orang ini jika empat orang pemikul tandu itu merupakan orang-orang pandai.


Sampai di hadapan tiga orang ini, rombongan dua belasan orang itu berhenti dan orang terdepan melompat turun. Dia menjura hormat ke arah tiga orang itu lantas menyapa.


Wan Jin dan Khuang Peng terkejut, begitu juga dengan si kusir. Cepat Wan Jin membalas penghormatan dan menjawab sekaligus menyindir, "Jika memang demikian, mengapakah tuan-tuan rombongan dari pemerintah tidak turun tangan membantu? Apakah Serigala Tengah Malam cukup gila untuk mengusik pangeran Chang Song Ci? Saya pikir mereka masih punya rasa takut."


Wan Jin memandang wajah pemimpin rombongan itu dengan tajam, "Kami terpaksa meninggalkan saudara-saudara kami karena tak ada pilihan lain. Pastilah akan lain cerita kalau pangeran Chang Song Ci yang bijaksana sudi membantu."


Si pemimpin rombongan itu sedikit tergetar juga hatinya menatap tatapan tajam dari Wan Jin. Namun saat itu terdengar kekehan halus yang berasal dari tandu mewah, disusul tersingkapnya kain penutup tandu.


"Pangeran...." si kusir itu memberi hormat dengan berlutut. Namun tidak dengan Wan Jin dan Khuang Peng yang hanya menjura biasa.


Memang penghuni tandu itu adalah pangeran Chang Song Ci sendiri. Pria berkumis tipis yang mulutnya selalu terhias senyum itu tertawa ringan sebelum berkata.


"Maaf saja tuan, kami tidak membantu bukan karena ingin, melainkan datang terlambat. Kami melihat tuan bertiga keluar dari pengepungan dan lari, maka kami mengikut karena aku khawatir di tengah jalan tuan bertiga akan dihadang orang Serigala Tengah Malam."

__ADS_1


Dia melompat turun dari tandu, gerakannya ringan dan tangkas, menunjukkan bahwa ilmu kepandaiannya tidak lemah. Lantas ia bicara lagi ketika sudah berdiri saling berhadapan dengan Wan Jin.


"Agaknya ada sesuatu yang diperebutkan di antara kalian sampai membuat Serigala Tengah Malam mengerahkan pasukan topengnya." pangeran itu melirik si kusir yang masih nerlutut, "Entah kenapa, kalian hanya menyelamatkan orang ini?"


"Maaf saja itu tidak ada hubungannya dengan pemerintah atau pangeran sendiri. Kalau begitu kami mohon diri." Wan Jin berkata dan mengajak Khuang Peng beserta kusir kuda untuk pergi dari sana.


Akan tetapi baru beberapa langkah berjalan, terdengar seruan si pangeran yang mengejutkan hati ketiganya.


"Kenapa tidak memberikan barang rebutan itu kepada kami. Kami akan mengamankannya." pangeran itu memandangi tiga orang itu lebih teliti, "Ah...kiranya saudara-saudara dari Rajawali Putih..."


Wan Jin berbalik dan menjawab, "Suatu kehormatan bagi kami karena pangeran telah mengenal. Namun karena pangeran sudah tahu siapa kami, agaknya tak perlu berkhawatir lagi dan kami bisa menjaga diri, juga bisa menjaga barang ini. Terima kasih atas tawaran pangeran."


Setelah menjura sekali lagi, dia berbalik hendak pergi. Namun Wan Jin menjadi marah sekali saat mendengar dan melihat sikap yang ditunjukan pangeran itu.


"Memang benda apa sih yang diperebutkan?" katanya dan tiba-tiba tubuhnya melesat ke arah si kusir. Tangan kanan terulur hendak mencengkeram pundak orang tua itu.


Wan Jin bertindak cepat, tangannya bergerak untuk menangkap tangan pangeran. Sedangkan Khuang Peng sudah menarik si kusir ke sisi lain.


"Tap!"


Pergelangan tangan itu mampu dicengkeram oleh Wan Jin dengan erat dan sempurna. Pangeran itu sendiri terkejut.


Lalu pria bercaping ini berkata, "Harap pangeran tidak terlalu penasaran. Kami Rajawali Putih bukanlah sekumpulan semut yang akan takut dengan macan!"


Ini merupakan ancaman, juga sindiran bagi pangeran itu. Semua orang tahu ini dan keadaan memanas. Belasan orang itu sudah mencabut senjata masing-masing.


Sedang pangeran itu tersenyum, "Mengapa kau begini pemarah, bukankah akan aman jika kami yang membawa barang itu dan secara otomatis Rajawali Putih terbebas dari teror Serigala Tengah Malam?"


Khuang Peng mendengus dan kali ini dia tak tinggal diam, "Kami para rajawali tak pernah takut menghadapi sekumpulan serigala!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2