Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 107 – Siasat Kekaisaran Jeiji [][][]


__ADS_3

Kekhawatiran jenderal Hong Ciu dan putri Chang Song Zhu cukup tepat sasaran, bahkan sangat tepat. Soal kekaisaran Jeiji yang di pesisir timur sana menyebar luaskan pengaruh untuk menarik hati rakyat.


Memang pada masa itu, setelah berhasil menguasai pantai timur daratan selatan kekaisaran Chang, Daijin Nakagi, putra mahkota kekaisaran Jeiji sekaligus pemegang tanggung jawab penuh pada penyerangan kali ini, melarang keras seluruh anak buahnya untuk mengganggu rakyat.


Bahkan dia juga menurunkan perintah tiga hari kemudian setelah perang usai, untuk membantu rakyat membangun desa-desa sepanjang pesisir. Mengirim pasokan bahan makanan secara teratur, dan membuat tagihan pajak baru. Sedikit lebih murah dari sebelumnya.


Selain tidak mengganggu rakyat, berupa wanita dan anak-anak, Daijin Nakagi juga memberi kebebasan pada mereka. Untuk bekerja mencari nafkah dan lain sebagainya. Bahkan untuk berdagang ke luar daerah pesisir pun diperbolehkan. Akan tetapi tentu saja untuk pedagang dari luar akan melalui serentetan pemeriksaan yang amat ketat.


Tentu saja dengan ini, rakyat yang sebelumnya hendak pergi mengungsi ikut bersama rombongan lain, menjadi ragu. Bahkan lama kelamaan setelah sekian minggu dan bulan, mereka sudah tak ada niat untuk mengungsi lagi. Untuk apa mengungsi kalau pengurus daerah mereka demikian baik, bahkan lebih baik dari pembesar sebelumnya.


Maka lambat laun, rakyat di sekitar pesisir mulai menerima kekaisaran Jeiji dengan tangan terbuka. Ada beberapa yang tetap bersikeras dan tidak menerima kekaisaran itu, namun suara rakyat kecil yang hanya beberapa jumlahnya itu bisa apa?


Ini terkesan baik, sangat baik dan terlalu baik. Tapi orang cerdik akan berpikir jutaan kali jika dia hendak menganggap hal ini adalah suatu kebaikan atau berkah bagi rakyat pesisir kekaisaran Chang. Ada satu hal yang tak boleh dilupakan, bagaimana pun juga, pangeran Daijin Nakagi adalah seorang putra mahkota! Putra mahkota dari kekaisaran lain.


Seperti pemikiran beberapa orang tua yang setiap harinya selalu menggantungkan hidup kepada anak-anak mereka. Yang saat ini sedang duduk melingkar saling berhadapan di depan salah satu pondok kecil pinggir pantai.


"Bagaimana jika pangeran itu mempunyai maksud lain? Jelas dia ingin membuat prestasi besar agar cepat diangkat menjadi kaisar."


"Benar katamu, aku setuju sekali." jawab temannya yang berumur tujuh puluhan tahun. Giginya sudah rontok semua. "Jika berhasil merebut daratan Chang, itu bukan hanya prestasi tapi keajaiban! Pangeran Nakagi akan dikenal sepanjang sejarah kekaisaran Jeiji!"


"Itu yang mengkhawatirkan. Apa kataku!?" sahut orang ketiga. Dia nampak yang paling muda walaupun umurnya sudah setengah abad lebih lima belas tahun. Dia berkata lagi, "Ini pasti ada sesuatu."


"Hah...orang kecil seperti kita, berdebat akan hal ini apa untungnya? Tidak ada manfaatnya, siapa mau dengar?" kata orang pertama. Sedang dua orang lainnya mengangguk setuju.

__ADS_1


Memang sejatinya pangeran Daijin Nakagi bukan secara tulus melakukan itu semua. Ini sesuai dengan perkiraan jenderal Hong Ciu dan putri Chang Song Zhu. Semua itu dilakukan untuk mengambil hati rakyat.


Jika rakyat sudah berpihak pada kekaisaran Jeiji, maka akan lebih mudah untuk merongrong kekaisaran Chang. Jika kekaisaran itu sudah kehilangan dukungan rakyat, maka bisa apa? Suatu kekaisaran atau negara tak akan bisa disebut demikian jika tidak ada yang namanya rakyat.


Juga dengan siasat ini, pangeran itu sama sekali tidak rugi. Mungkin hanya sedikit rugi kebutuhan pangan yang harus dibagikan secara rutin. Selebihnya malah untung.


Salah satunya tentu saja mendapat simpati rakyat. Lalu keuntungan lainnya adalah para rakyat yang diperbolehkan pergi berdagang ke luar daerah pesisir.


Untuk saat ini keadaan masih terkendali, namun makin lama pihak kekaisaran Chang akan mencurigai rakyat pesisir. Pada puncaknya, rakyat pesisir akan dianggap pemberontak karena bersekutu dengan kekaisaran Jeiji. Jika sudah seperti ini, bukankah semuanya seolah sedang menari di atas telapak tangan putra mahkota itu?


Usaha jenderal Hong Ciu tak berarti banyak. Para mata-mata dan penyusup yang ditugaskan untuk mengajak keluar rakyat pesisir berakhir buruk. Makin hari rakyat di sana makin percaya pada pangeran Nakagi dan makin sulit dibujuk. Hanya beberapa anak muda dan orang sepuh yang sudah pikun saja yang berhasil diungsikan ke kota Emas sekitarnya.


Sampai sini, tak ada pilihan lain bagi jenderal itu untuk memperketat penjagaan di perbatasan pantai. Memeriksa siapa pun yang hendak masuk, apalagi jika ketahuan dia merupakan pedagang dari pesisir. Jenderal itu tak sadar jika makin lama mereka telah bermain dalam rencana Daijin Nakagi.


Berminggu-minggu lamanya, bahkan lebih dari sebulan mereka melakukan perjalanan. Karena banyaknya rombongan pada perjalanan kali ini, membuat waktu tempuh yang diperlukan menjadi lebih lama.


Akan tetapi mereka tak begitu was-was dengan para pemberontak atau kekaisaran Jeiji. Karena untuk saat ini, pengaruh kaisar masih amat besarnya, juga pangeran Chang Song Ci agaknya belum begitu gila untuk melakukan tindakan di masa-masa ini. Sungguhpun kekaisaran sedang terancam bahaya, pangeran itu tak bisa asal turun tangan mengacau dan harus membuat rencana ulang. Hal ini merupakan prediksi putri itu.


"Keadaan menjadi berantakan setelah datangnya kekaisaran Jeiji. Ini bisa dimanfaatkan oleh kaum pemberontak!" Pek Kok, jenderal yang menemani putri itu bicara di luar kereta kuda sang putri. Namun putri Chang Song Zhu membuka tirai kereta karena sengaja hendak mengobrol dengan jenderalnya itu.


"Para pemberontak tak bisa asal bertindak, setidaknya untuk saat ini."


"Kenapa begitu?"

__ADS_1


"Jelas sekali, jika mereka bertindak, bisa-bisa malah menjadi sasaran kekaisaran Jeiji. Tujuan utama pemberontak adalah mengambil tahta kaisar, bukan menyerahkan tempat itu untuk penjajah. Aku yakin sementara ini seharusnya mereka sedikit diam." jelas putri itu seraya teringat akan kakaknya. Kakak tunggalnya, kakak kandungnya, yang sekaligus ia tahu menjadi pemberontak.


Mengapa dia bisa menganggap kakaknya seperti itu? Karena dahulu beberapa tahun sebelumnya, dia sendiri pernah diajak untuk merebut kursi kaisar. Hanya saja dia menolak keras.


Saat itu, dia hampir terbunuh di tangan kakaknya namun berhasil lolos. Ketika dia melapor kepada kaisar, lelaki tua itu tak bisa membenarkan ucapan putrinya karena sama sekali tidak ada bukti kuat. Chang Song Zhu sadar akan hal ini karena saat ajakan itu diajukan, dia sedang seorang diri dan sama sekali tidak ada yang tahu kecuali kaki tangan Chang Song Ci.


Saat itu Chang Song Zhu tak bisa berbuat banyak karena kalau dilanjutkan, bisa-bisa kaisar menganggap dia pemberontak karena memfitnah kakak sendiri. Maka dari itulah dia mundur dan seolah mensudahi urusan itu.


Jika dijelaskan, baik Chang Song Zhu atau pun Chang Song Ci sama sekali dalam posisi rugi. Jika salah satu bergerak, maka bisa dianggap pemberontak oleh kaisar. Hal ini disadari keduanya, maka dari itulah mereka bersikap hati-hati sekali selama merekrut orang-orang pandai untuk dipersiapkan jika harus saling gempur nantinya.


Tapi saat ini, agaknya putri itu yang sedikit lebih untung, karena di utara sana nama pangeran Chang Song Ci tak cukup baik di mata rakyat. Banyak orang yang diam-diam menganggap pangeran satu ini merupakan pemberontak. Walaupun ini hanya kabar tak jelas yang entah dari mana asal-usulnya.


Tapi pangeran itu seolah tak peduli, dan sikapnya ini memang benar sekali. Karena selama tidak ada bukti, maka tiada seorang pun yang dapat mencap dirinya sebagai pemberontak. Malah sebaliknya, jika ada orang seenaknya berkata dia pemberontak, bisa jadi dia sendiri yang dianggap pemberontak.


Tak terasa, akhirnya mereka sampai juga di bagian terluar Pegunungan Tembok Surga. Setelah melewati kota Sungai Putih, maka mereka tidak akan menemukan kota lagi. Hanya ada desa-desa kecil di sepanjang sana sebelum akhirnya benar-benar masuk ke wilayah Pegunungan Tembok Surga.


Putri itu memerintahkan untuk berhenti di kota Sungai Putih untuk sekedar beristirahat. Lalu melanjutkan perjalan menuju Pegunungan Tembok Surga.


Tiada satu pun orang yang tahu bahwasaannya di dalam gugusan gunung-gunung raksasa itu, sedang terjadi satu kejadian yang hebat sekali. Dan putri ini secara tidak sengaja dan tanpa diduga, harus berhubungan dengan seorang tokoh penting nantinya. Seorang yang nantinya akan menggegerkan rimba persilatan, seorang tokoh muda yang kesaktiannya bahkan lebih hebat dari kebanyakan tokoh tua. Dan putri ini akan bertemu dengannya!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2