Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 216 – Perang Berat Sebelah


__ADS_3

Keistimewaan dari benteng Mustika Naga adalah keadaan alamnya yang sungguh luar biasa. Daratan tinggi menjulang di balik pantai serta teluk yang amat besar, selain menampilkan pemandangan yang indah, juga menjadi tempat pertahanan yang tak tertembus.


Sepanjang pantai timur dipagari oleh benteng Mustika Naga. Namun entah mengapa, kekaisaran Jeiji yang cukup bodoh atau keberuntungan kekaisaran Chang, mereka justru berusaha menggempur benteng Mustika Naga yang berada di teluk. Itu sama dengan bunuh diri.


Batu-batu karang yang menjulang dari permukaan air ketika air surut, dan mampu melubangi lambung kapal jika saat pasang. Serta banyak sekali panah silang dan pasukan jarak jauh yang berjaga di seluruh benteng Mustika Naga. Jika dilogika, seharusnya selama dapat mempertahankan kegigihan, kekaisaran Chang dapat menang.


Namun semua pendekar yang menjadi sukarelawan dalam pertempuran ini merasa cemas. Bukan cemas karena takut kalah, bukan pula cemas karena hendak mati, namun cemas karena kekhawatiran akan mati ditembak kawan sendiri.


Tempat mereka di benteng bawah, yang sejatinya hanya berfungsi seperti batu karang ketika musuh datang. Menahan pasukan musuh selama mungkin sembari regu panah menembaki dari atas. Namun kali ini, benteng bawah diisi dengan pasukan manusia!


Mereka meneguk ludah susah payah ketika pada hari itu, terompet tanda bahaya dibunyikan. Satu tanda yang mengisyaratkan bahwa pasukan pengintai telah melihat armada lawan mulai bergerak.


Keempat jenderal dengan kecakapan luar biasa, cepat mengatur pasukan-pasukannya ke posisi masing-masing. Untuk para pendekar tidak perlu komando, mereka tinggal berdiri di benteng bawah dan mengamuk untuk meratakan siapa saja samurai atau ronin yang mendaki.


Sudah setengah jam seluruh pasukan dalam keadaan siaga, dan armada besar itu belum juga tiba. Sung Hwa, atau yang kini dikenal sebagai Han Ji, berdiri di antara Nie Chi dan Khuang Peng yang bersikap amat tenang.


"Kenapa kalian tenang-tenang saja?" tanya Han Ji penasaran.


"Kenapa harus cemas. Sebagai pendekar bukankah sudah menjadi makanan keseharian jika harus berhadapan dengan maut?" jawab Nie Chi. "Lagi pula, kita hanya perlu menahan musuh, kan?"


"Mati hidup bukan kita yang menentukan," Khuang Peng menyahut. "Kalau sudah ditakdirkan hidup, maka setelah ini selesai, kita juga pasti akan hidup."


"Kalau sebaliknya?"


"Ya berarti mati."


Han Ji terbengong mendengar Khuang Peng bicara soal mati hidup seolah merupakan perkara mudah. Hebat ....


"Katanya sepasang kipas pusaka yang diperoleh oleh Naga Hitam hilang?" Han Ji bertanya.

__ADS_1


Khuang Peng mengangguk. "Sudah bertahun-tahun belum ketemu siapa penculiknya. Terakhir kali kami ditawan oleh Serigala Tengah Malam dan setelah pertempuran di Goa Emas, jenderal Tang Lin mengembalikan senjata kami. Tapi dia tidak membawa pulang sepasang kipas itu."


"Siapa lagi dalangnya kalau bukan Serigala Tengah Malam?" Han Ji terlihat geram.


"Kami juga berpikir begitu. Selama belum pindah tangan, maka pemegang terakhir pusaka itu adalah Serigala Tengah Malam," Nie Chi menyahut.


Mereka terus bicara mengenai hal yang tidak penting. Soal baju kesukaan, makanan yang paling digemari, ilmu silat yang paling mudah atau sulit, serta hal lain lagi. Hal ini bukan bertujuan untuk sekadar mengusir kecanggungan di antara mereka, namun yang pasti adalah mengusir rasa gugup.


Bagaimanapun juga, mereka ditempatkan sebagai umpan yang berdiri di garis paling depan. Peluang mati mereka jelas lebih besar dari peluang hidup.


Suar asap warna merah ditembakkan ke langit ketika armada lawan mulai menembaki dengan anak-anak panah. Sontak pasukan pendekar yang bersenjata jarak dekat, segera tiarap berlindung di balik tembok benteng. Kecuali beberapa gelintir orang yang memang cukup lihai menggunakan panah atau senjata rahasia, mereka bantu menyerang.


Armada itu terbentuk dalam formasi segitiga, di mana di ketiga sisinya, depan, sayap kanan dan kiri, diisi oleh tiga kapal besar. Sedangkan di tengah-tengahnya, banyak kapal-kapal kecil yang berlindung di balik kapal besar.


Akan tetapi begitu sudah dekat dengan pantai, kapal-kapal kecil yang ada di tengah meluncur cepat melewati kapal besar dan menabrakkan diri ke lasir pantai. Sengaja dibuat terdampar karena merekat tidak berpikir untuk kembali. Mati atau menang.


Terjadilah perang tanding hujan anak panah yang sungguh hebat. Tak bisa dibedakan mana anak panah kekaisarana Chang dan mana anak panag milik musuh. Yang bisa dirasakan hanya suara berdesingan sebelum tiba-tiba kepala berlubang.


"Apa yang harus kita lakukan?" Han Ji bertanya dengan sedikit teriakan untuk melawan bisingnya siara tembakan anak-anak panah itu.


"Apalagi, terus tiarap sampai ketiduran," sahut Nie Chi. "Tak ada yang bisa kita lakukan. Jika kita berdiri, tubuh kita akan berlubang depan belakang.


Ttiba-tiba, dari atas sana, ada yang berteriak-terika seraya mengibarkan bendera merah ke arah benteng bawah. Salah seorang pendekar melihat itu dan buru-buru melihat ke pintu benteng.


Baru saja tubuhnya bangkit, tiba-tiba benteng bawah bergetar seasa diguncang gempa dahsyat. Lalu berhenti. Lalu terasa lagi, dan berhenti.


"Alat pendobrak!" seru seorang pendekar.


Mereka semua melongok ke bawah dan melihat betapa gabungan samurai dan ronin menggunakan balok kayu raksasa, menubruk-nubrukkannya ke pintu gerbang benteng bawah.

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan?" salah satu pendekar berseru kepada Khuang Peng yang dianggap oleh mereka sebagai pemimpin.


Khuang Peng mencabut Pedang Darahnya. "Apa lagi? Serang!!"


Mendengar ini, para pendekar menjadi bersemangat dan meloncat ke bawah. Akan tetapi mereka segera disambut oleh todongan puluhan batang tombak.


"Arghhhh!!"


"Aaahhh!!"


Beberapa dari mereka mati tergantung, namun lebih banyak lagi yang selamat dengan cara menangkis atau menghindari todongan pedang senjata itu dengan lihainya.


Han Ji segera mengamuk. Ia kerahkan ilmunya yang paling lihai dari ilmu silat manisia gunung. Meniru gerakan rajawali digabung dengan gerakan garuda atau elang, Han Ji mainkan ilmu Cakar Rajawali Sakti. Kedua tangannya bertindak sebagai paruh yang mematuk-matuk, sedangkan kedua kakinya menyabet sana-sini dengan dahsyatnya. Dia tak berani mengungkapkan jati diri pedang gerhana.


Namun, walau sudah menghadapi keroyokan pendekar, pasukan mereka belum juga nampak berkurang, justru semakin banyak. Dan hal merepotkannya adalah, mereka sama sekali tak mampu mendekati alat dobrak yang dikelilingi oleh para samurai berilmu tinggi.


"Heeeyyyaaaahhhh!!"


terdengar teriakan mengguntur ketika Niea Chi memutar-mutar tongkatnya dan banyak di antara para lawan yang terpental. Di sisi lain, sinar-sinar merah berkelebat. Itulah Pedang Darah milik Khuang Peng.


Perang berat sebelah dilakukan tepat pada gerbang benteng bawah dan pasukan pemanah amat kesulitan untuk membantu karena terhalang oleh benteng itu sendiri.Lalu para pendekar amat kesulitan mendekati alat dobrak itu dan siapa yang berani terlalu dekat, tentunya akan mampus seketika.


"Braaakkk!!"


Pintu jebol dengan suara yang amat nyaringnya, dan pasukan Jeiji membanjir masuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2