Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 263 – Pertarungan Raja Dunia Silat


__ADS_3

Seperti kebanyakan pertarungan yang dilakukan para pendekar tingkat tinggi, mereka selalu menanti musuh untuk menyerang lebih dulu. Sama halnya dengan lima orang Raja Dunia Silat tersebut. Walau umur mereka teebilang masih muda, namun karena sudah memiliki kesaktian yang tinggi sekali, tentu saja mereka maklum akan keadaan itu.


Siapa yang menyerang lebih dulu, akan membuka satu celah dan celah itulah yang akan menjadi lowongan untuk dimanfaatkan lawan. Maka dari itu, bahkan sampai habis satu pembakaran dupa, tidak ada satu pun yang mencabut senjata. Mereka masih menanti.


Mata mereka saling lirik satu sama lain. Tidak mengandung permusuhan, namun waspada dan awas. Kemudian tiba-tiba.


"Sing!"


Terlihat kelebatan sinar merah dan berturut-turut lima orang itu mencabut senjata. Khuang Peng menjadi orang pertama yang memegang senjata. Hampir bersamaan, empat orang lainnya telah siap pula bahkan dengan kuda-kuda tempur.


Angin semilir berhembus menerbangkan ujung jubah mereka. Makin lama makin keras, akan tetapi sama sekali tidak ada yang berubah. Tubuh mereka bahkan tidak bergoyang.


Nie Chi yang menjadi tidak sabar, mengeluarkan lengking nyaring dan panjang disusul gebukan tongkatnya ke samping kanan. Mengarah Gu Ren.


Sedetik kemudian, Khuang Peng yang berada di sebelah Gu Ren mengelebatkan pedangnya menuju Sung Han.


"Trang!"


"Bress!"


Angin berhembus ketika empat orang itu adu senjata. Lalu melompat mundur dan berganti sasaran. Kini Gu Ren menyerang Khuang Peng sedangkan Sung Han melawan Sung Hwa. Yang dalam hal apa pun, nampak jelas sekali wanita itu bertarung tak sampai setengah hati. Tebasannya sembarangan, tenaganya sama sekali tidak kuat.


Nie Chi melompat, bagai burung elang lalu menukik turun dengan tongkatmya lebih dulu menotok pundak Sung Han.


Pemuda itu segera sadar lalu berkelit ke samping, membiarkan Sung Hwa secara tidak sengaja menangkis totokan itu. Kemudian secara tak terduga, tubuh Sung Han melambung lalu berputaran dan tahu-tahu pedangnya sudah mengancam leher Nie Chi.


"Aihh!" Nie Chi menarik kepalanya sampai tubuhnya hampir jatuh terlentang. Lalu bersalto ke belakang beberapa meter jauhnya sebelum tiga orang itu bertanding dengan seru.


Di sisi lain, Gu Ren yang menggunakan kipas dan Khuang Peng yang berpedang itu tampak seimbang.


Agaknya ilmu silat Khuang Peng sedikit lebih bagus daripada milik Gu Ren. Akan tetapi satu hal yang merepotkan, angin badai yang Gu Ren ciptakan benar-benar mampu membalikkan serangan Khuang Peng! Inilah yang membuat pemuda itu sejak tadi berseru jengkel.

__ADS_1


Ketika pedang membacok disusul tusukan kilat, Gu Ren dengan hebatnya miring ke samping lalu menyampok tusukan pedang. Tangan kiri yang masih bebas bergerak cepat membalas dengan totokan mengarah pundak.


Akan tetapi terpaksa Gu Ren harus menarik tangan kirinya lagi ketika dari bawah pedang Khuang Peng menyambar menuju ketiak. Mereka pun bertanding dengan serunya.


Lain halnya dengan yang di bawah. Mereka menunggu dengan perasaan campur aduk. Cemas, tegang dan girang. Berharap mereka bisa menonton pertandingan itu secara langsung. Apalagi para pendekar yang menjagokan para pimpinannya. Mereka menganggap pimpinan merekalah yang terkuat sehingga tak jarang terdengar sedikit percekcokan di bawah sana.


Tuan putri sendiri mengkhawatirkan mereka semua, tanpa pandang bulu. Bagaimanapun juga mereka berlima adalah pembantu-pembantunya yang paling lihai. Ia takut jika seandainya setelah pertarungan ini, kelimanya akan saling bermusuhan.


Maka dari itulah putri yang biasanya gagah perkasa ini, sejak tadi hanya mampu duduk di bawah pohon sambil menggigit bibir.


Kembali ke pertempuran di atas bukit.


Tanpa terasa seratus jurus telah terlewat dan pertarungan makin sengit dan mati-matian. Yang paling mencolok adalah Sung Han, Gu Ren serta Sung Hwa.


Bukan tanpa alasan, Sung Han dan Gu Ren adalah yang terkuat di antara mereka, semua orang tahu itu. Dan Sung Hwa, adalah yang paling lemah. Lebih tepatnya dia sengaja melemahkan diri apalagi ketika bertanding melawan suaminya. Dia tak segila itu sampai harus melawan suaminya dengan sungguh-sungguh.


Sedangkan Khuang Peng dan Nie Chi, mereka tak lebih seperti pelengkap saja. Melawan Gu Ren atau Sung Han tak mampu, melawan Sung Hwa tak tega. Akhirnya, keduanya bertempur sendiri dengan kening saling berkerut.


Mereka semua tahu Sung Hwa tak selemah itu sampai sekali hantam saja sudah kalah, namun pendekar wanita berjuluk Rajawali Merah itu memilih duduk di pinggiran menonton. Sung Hwa menyerah, dia sudah kalah!


Saat itulah akhirnya Sung Han dan Gu Ren dapat saling beradu dengan serius. Suara hantaman kedua senjata tak lebih baik dari sambaran petir di tengah badai. Baru kini mata mereka terbuka, ternyata dua orang itu sejak tadi sama sekali belum serius. Baru saat inilah seluruh kepandaian mereka dikuras.


Ketika Sung Han menebas, Gu Ren menghindar, saat itulah ada pohon tumbang terkena hawa tajam jarak jauh dari Pedang Gerhana Matahari. Ketika Gu Ren mengibas dan Sung Han meloncat, terdengar suara nyaring ketika sebatang pohon tercabut berikut akar-akarnya.


Mencapai jurus keseratus lima puluh, mereka saling hantam dengan tusukan pedang dan sepasang kipas yang digerakkan secara menggunting. Suara keras terdengar, bahkan Nie Chi, Khuang Peng dan Sung Hwa sampai terpental karenanya.


Setelah itu dua orang ini beradu hawa sakti, di mana inilah babak penentunya.


...****************...


"Paduka ... Paduka!"

__ADS_1


Putri Song Zhu tersentak dan mengusap ujung bibirnya yang basah dengan air liur. Tatapannya linglung ketika dia melihat Khong Tiat, berdiri di depannya dan yang tadi mengguncang pundaknya.


Beberapa saat kemudian, wanita ini meloncat berdiri. "Ah, aku ketiduran. Apa yang terjadi?!"


"Tenanglah paduka. Tolong dengarkan, suara-suara seperti petir itu sudah lenyap," Khong Tiat menjawab. "Itu artinya mungkin mereka sudah selesai.


Putri Song Zhu memerhatikan dan menajamkan indra pendengarnya. Benar juga, suara-suara seperti petir menyambar yang terdengar sepanjang pagi itu sudah lenyap sama sekali. Namun ketika kini matahari sudah berada di atas kepala, kelima orang jagoan itu belum terlihat.


Matanya melihat ke sana-sini, terlihat para prajurit dan pendekar berdiri dengan tegang. "Di mana mereka?"


"Mungkin sebentar lagi akan turun, paduka."


Saat itu, belum sampai lima detik setelah ucapan Khong Tiat berhenti, terdengar suara yang asalnya dari puncak.


"Berkumpulah di dekat paduka putri. Kami sudah selesai."


Tubuh mereka semua menegang, mata terbelalak. Inilah akhirnya, Raja Dunia Silat generasi dua akan mengangkat seorang pimpinan!


Para pendekar yang tadinya menyebar ke sekeliling bukit segera berlari ke tempat asal, berkumpul di dekat tuan putri. Sebentar saja mereka sudah berkumpul dan ramailah tempat itu. Hanya ramai saja tapi sunyi senyap karena suasana diliputi dengan ketegangan.


Perlahan, dari jauh tampak tubuh lima orang yang berjalan gagah menuruni bukit. Dengan Gu Ren di depan, Khuang Peng dan Nie Chi di kanan kiri dan Sung Han bersama sang istri berada di belakang.


Melihat ini saja para pendekar yang di bawah pimpinan Gu Ren telah bersorak. Mengira bahwa Gu Renlah pemenangnya. Sedangkan pendukung Khuang Peng dan Nie Chi hanya biasa saja, mereka tahu pimpinan mereka akan sulit meraih kemenangan. Prajurit Sung Hwa memandang khawatir, dan prajurit Sung Han menjadi kecewa.


Akan tetapi ketika tiba di kaki bukit, keadaan berubah ketika Gu Ren berseru lantang.


"Sung Han, si Setan Tak Berwajah dan pewaris Pedang Gerhana Matahari, telah memenangkan pertarungan yang adil ini! Beri hormat pada pemimpin!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2