
Pada masa itu, ketegangan antara putri Chang Song Zhu dan pangeran Chang Song Ci sedang memanas. Hanya saja terjadi semacam perang dingin, tidak banyak orang yang tahu. Tapi diam-diam dua orang itu saling berselisih hebat sungguhpun terpisah jarak yang berjauhan.
Di bagian sebelumnya, telah dijelaskan bahwasannya Chang Song Ci ini merupakan pemberontak yang hendak menggulingkan tahta Chang Song Bian. Tapi hal itu masih belum ada bukti sama sekali, hanya berdasarkan prasangka dan dugaan semata. Sehingga baik kaisar maupun putri Chang Song Zhu tak bisa ambil tindakan.
Jadi, jikalau rombongan Chang Song Ci yang pagi ini sedang menyeberangi Sungai Buaya, orang-orang serempak akan saling berbisik.
"Pasukan pemerintah...." gumamnya kepada diri sendiri. Ia menoleh ke belakang, ke arah kakeknya yang sibuk dengan barang-barangnya, "Kakek, kira-kira apa yang akan dilakukan pasukan pemerintah di sini?"
"Mana kutahu?" dengan singkat si kakek menjawab. Saat itu juga tangannya masih sempat menggebuk kepala buaya yang tiba-tiba menyembul keluar. "Lagi berpelesir, mungkin?" lanjutnya.
Dia berujar lagi, "Bu Cai, percepat laju perahu. Aku sudah lapar, semalam kita tidak pulang!"
Wanita bercadar itu nampaknya masih fokus ke arah pasukan pemerintah sehingga ia tak sadar jika kakeknya bicara. Baru setelah kakeknya mengulang kalimatnya lagi, dia baru tersadar.
"Ah, baiklah..."
Memang perahu besar-besar itu adalah pasukan pemerintah. Lebih tepatnya pasukan Chang Song Ci yang entah bagaimana pagi-pagi sudah datang ke mari. Tujuan mereka juga tak ada yang tahu.
Bergegas, rombongan empat puluhan orang itu turun dari perahu saat transportasi air itu mendarat di daratan seberang. Dari dalam dek perahu paling besar, keluar seorang pria empat puluhan yang memiliki paras cukup menawan.
Wajahmya sedikit lonjong dengan dagu runcing. Hidungnya mancung, dan bibirnya selalu terhias senyum tipis. Namun kumis yang hanya beberapa helai di kanan dan kiri itu terlihat cukup menggelikan.
Pakaiannya mewah sekali, sebuah jubah merah dari kain sutra berkualitas tinggi. Ada sulaman naga di bagian dada orang itu. Tapi meskipun pakaiannya mewah, itu masih terbilang cukup ringkas jika dipakai seorang pangeran.
Dia inilah pangeran Chang Song Ci.
"Sudah sampai yang mulia, langsung mampir?" tanya salah seorang panglimanya dengan hormat.
"Tunggu apa lagi? Ayo."
Langsung saja empat puluhan orang ini bergerak menaiki bukit kecil yang menuju ke Perguruan Awan. Pada pagi hari seperti ini di sekeliling perguruan itu diselimuti kabut tebal, sehingga sedikit menyembunyikan bangunan besar di sana.
Sambil berjalan, Chang Song Ci terus tersenyum seraya memandang sekeliling. Mulutnya bergerak-gerak ketika ia berdecak kagum memuji keindahan alam di sana. Di kanan dan kiri, terdapat dua orang bertopeng perak yang hanya diam.
__ADS_1
Tak berselang lama, rombongan pemerintah ini tiba di pintu gerbang Perguruan Awan yang masih tertutup rapat. Beberapa murid yang berada di atas tembok sana terkejut begitu melihat siapa yang datang, bergegas mereka masuk ke dalam dan pergi melapor.
Chang Song Ci melihat itu, sehingga dia melarang panglimanya yang hendak berteriak memberi salam. Sehingga, begitu sampai rombongan ini hanya diam dan menunggu. Kedatangan yang sedikit sombong karena menunggu sambutan lain pihak.
Pintu berderak dan tak berselang lama terbukalah lebar-lebar. Menampakkan sepuluh orang yang terdiri dari sembilan orang sabuk ungu, dan satu sabuk emas. Si sabuk emas maju melangkah dan menjura.
"Kiranya pangeran Chang yang datang, mengapa begitu tiba-tiba sehingga tidak ada kesempatan bagi kami untuk menyambut lebih awal?" Coa Ow, si murid sabuk emas baru itu berkata ramah.
Chang Song Ci tak membalas penghormatan orang, hanya mengangguk singkat saat menjawab, "Tak masalah, lagipula dari awal kami tidak ingin sambutan Perguruan Awan yang muluk-muluk dan berlebihan. Santai saja."
Sepuluh orang itu segera menyingkir memberi jalan dan Coa Ow berkatalah lagi, "Mari masuk yang mulia."
Setelah pangeran masuk, Coa Ow berjalan mendampingi. Sedangkan sembilan kawannya baru masuk setelah seluruh rombongan telah memasuki gerbang.
Diam-diam para murid yang menonton dari kejauhan, memandang dengan sengit dan perasaan campur aduk. Bagaimana pun juga, pangeran satu itu sudah terkenal dengan potensinya sebagai pemberontak.
Sebelum memasuki pintu aula utama, Coa Ow menyempatkan diri memberi kode mata ke satu murid sabuk ungu di sana. Dia segera sadar dan tepat saat pintu aula tertutup kembali, sekeliling aula telah dijaga ketat oleh murid-murid sabuk ungu.
"Ada urusan apakah pangeran datang ke mari?"
Pangeran itu tak langsung menjawab. Matanya justru melirik ke kanan dan kiri seolah mencari sesuatu. Hal ini membuat Coa Ow sedikit jengkel karena merasa tidak dihargai orang.
"Sombong benar orang ini!" hati Coa Ow bersama sembilan murid sabuk ungu lain mengumpat dalam hati.
"Mana ketua kalian? Aku tidak lihat." katanya ramah sambil tetap tersenyum.
Ini merupakan pertanyaan bilamana yang bertanya adalah seorang bocah ingusan atau tukang kayu lewat atau orang yang tak tahu menahu soal daerah sini. Tapi ketua mereka sudah cukup terkenal, tak ada keraguan di hati Coa Oe bahwasannya nama Kay Ji Kun sudah sampai ke istana akan sepak terjangnya. Begitu pula kejadian akhir-akhir ini.
Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut seorang pangeran, tentu mereka merasa marah. Jelas pangeran ini berniat mengejek, dia pastinya sudah tahu keadaan Kay Ji Kun seperti apa.
Tapi Coa Ow mencoba menyabarkan diri dan menjawab seadanya, "Beliau sedang sakit."
Chang Song Ci hanya mengangguk ringan sambil terkekeh singkat. Tangannya terulur mengambil bakpaw yang piringnya baru saja diletakkan oleh seorang pelayan. Tapi kepalanya pasti sudah raib kalau saja sepuluh orang itu tidak ingat dia pangeran. Pasalnya, sambil mengambil bakpaw, terlihat jelas jari-jarinya masih sempat untuk mencubit punggung tangan si gadis pelayan. Juga tangan kirinya tak bisa diam untuk tidak melakukan gerakan cubitan di paha gadis itu. Membuat si gadis berseru tertahan.
__ADS_1
Coa Ow menggertakkan gigi, "Apa mau orang ini bangsat!!?"
Dengan gerakan kepala, Coa Ow menyuruh si gadis yang sudah sedikit dilecehkan itu untuk pergi. Setelah itu, ruangan menjadi tegang. Hanya ada suara kecapan menyebalkan dari mulut menjengkelkan pangeran Chang Song Ci.
"Murid tingkat satu, marilah menjadi wakil dari ketuamu untuk menyetujui permintaanku ini." kata pangeran setelah menyelesaikan bakpawnya.
"Apa itu?"
Pangeran terkekeh, "Heheheh, Perguruan Awan, akan membantu kami menempuh tujuan besar kami."
Serentak sepuluh murid tingkat atas dan terkuat dari Perguruan Awan itu meraba gagang pedang di pinggang. Wajah mereka menegang siap menghadapi segala kemungkinan. Begitu pula dengan para panglima dan prajurit, mereka sudah bersiap dengan senjata masing-masing.
"Maksud yang mulia?" Coa Ow mencoba berlagak bodoh.
"Menguasai seluruh daratan." katanya ringan seolah hal itu hanya lah hal sepele.
Coa Ow dengan sigap bangkit, "Kutolak!" jawabnya tegas, "Kami menolak!"
"Eit..." pangeran itu ikut berdiri dan menggerakkan dua tangan ke depan, "Jangan terburu-buru sahabat....aku masih bisa memberi kalian waktu. Tiga hari, tiga hari dari sekarang kami akan kembali dan meminta jawaban dari kalian. Bagaimana?"
"Jawaban kami tidak berubah!" tegas Coa Ow.
"Ah....galak amat." cibir Chang song Ci. Kemudian tanpa basa-basi lagi ia berbalik menuju pintu keluar, "Tiga hari waktu kalian." katanya kemudian.
"Jika kami tetap menolak?"
Chang Song Ci tak menjawab. Bersama para panglima dan prajurit, dia berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
"Keparat!" umpat Coa Ow menggebrak meja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1