
Tebasan Pedang Gerhana Matahari itu demikian cepatnya dan karena jarak terlalu dekat, maka Giok Shi tak sempat mengelak dengan sempurna. Akibatnya, pundaknya kena serempet ujung pedang.
"Menjauh!" teriaknya kepada Gu Ren dan Bao Leng ketika melihat Sung Han mulai mengganas.
Cepat ia keluarkan kedua kipas dari balik jubahnya dan lekas mengibaskannya ke depan. Tindakan ini bukan semata-mata untuk melawan pedang Sung Han karena hal itu jelas tidak mungkin. Namun orang tua itu melakukan tindakan ini guna membuang tubuhnya ke belakang. Dengan pantulan anginnya yang menabrak tubuh Sung Han, maka anginnya sendiri membalik dan melemparkan tubuhnya ke belakang.
"Sial, kekuatanku yang sekarang belum cukup untuk menandingi keampuhan pedang itu!" kata Giok Shi dalam hati sembari mengerahkan tenaga untuk menghentikan pendarahan di pundaknya.
Orang-orang yang tadinya menguburkan mayat-mayat itu sudah mundur jauh atas instruksi dari Gu Ren. Mereka memandang pertempuran dua orang itu dengan jantung berdebar.
Sung Han tak memikirkan lain hal lagi, ia terlanjur dibuat kecewa oleh ucapan Bao Leng tadi dan karena hatinya sedang berduka, maka hanya satu dua kata seperti itu saja sudah membangkitkan emosinya.
Ketika Sung Han melesat maju, Yu Ping masih diam di tempat dan bergeming. Seolah tak sadar kalau di belakangnya sedang terjadi pertempuran hebat.
Tebasan-tebasan pedang Sung Han ini adalah ilmu pedang warisan gurunya yang bernama Bulan Menyapa Bumi. Ilmu ini sungguh lihai, menitik beratkan pada gerkan tusuk ke arah ubun-ubun kepala, juga berbagai macam gerak tipu yang membingungkan lawan.
Sedangkan Giok Shi yang khawatir kipas pusakanya akan hancur begitu tercium ujung pedang Sung Han, maka dia tak berani memainkan ilmu keramatnya yaitu Gulungan Ombak Samudra.
Giok Shi menggunakan ilmu silat yang lebih memfokuskan pada ilmu meringankan tubuhnya, bernama Muslihat Siluman Ular. Sesuai namanya, ilmu ini sangatlah licin dan sulit digapai jika lawannya tak punya kelihaian sepadan.
Sedangkan sembari menghindar, sesekali Giok Shi melakukan totokan-totokan yang mengancam bagain berbahaya Sung Han. Dia sama sekali tak mau bertemu langsung dengan pedang lawan.
Lewat lima belas jurus, agaknya dua orang ini berimbang. Sebenarnya pengalaman Giok Shi jelas lebih tinggi, namun dia menjadi lemah karena pedang Sung Han yang demikian hebat. Maka dari itulah, dia tak mampu mengeluarkan potensi sejatinya dan lebih banyak menghindar.
Sung Han melompat, lalu tubuhnya meluruk ke bawah, mengancam ubun-ubun Giok Shi yang botak licin.
Kakek ini tak menajdi gugup, ia putar tubuhnya sampai membuat kuda-kuda rendah. Kemudian ketika ia menggelinding ke samping, kipasnya bekerja mengirim angin puyuh yang dahsyat sekali. Membuat laju Sung Han sedikit terhambat dan menjadi terapung di udara.
Hal ini disadari Giok Shi dan kembali dia bergerak cepat. Dengan kedua kipasnya, ia hendak menotok lumpuh Sung Han.
Akan tetapi pemuda ini melakukan gerakan aneh, berputaran di udara dan tahu-tahu pedangnya sudah berkelebat mengancam tubuh Giok Shi.
__ADS_1
Untuk menghindar sudah tak mungkin lagi, maka Giok Shi menjadi nekat dan menerjang terus.
"Hyaaaahh!!"
"Craatt!!"
Darah menyembur dari luka lebar di dada Giok Shi. Sedangkan totokan kedua kipasnya luput karena Sung Han sudah mengirim serangan susulan berupa hantaman dua telapak kaki di dadanya.
Giok Shi terhuyung ketika memuntahkan seteguk darah segar. Namun dirinya bersyukur karena agaknya Sung Han masih menahan diri. Sehingga walau pun luka itu cukup parah, itu tidak membahayakan nyawa.
"Kalian ini seperti anak kecil!" bentak gadis cilik yang daritadi duduk di depan makam kakaknya. "Tak lihatkah saat ini kondisi kita sedang berkabung? Apakah kalian ingin memamerkan kepandaian di hadapan para arwah saudara kita?"
Semua orang terkejut sekali. Kaget hati mereka ketika mengetahui seruan itu keluar dari mulut Yu Ping yang sudah bangkit berdiri.
Dia membalikkan tubuh dan hati Sung Han seperti diremas menyaksikan keadaan gadis itu. Matanya memerah, air matanya membanjir keluar membasahi sepasang pipinya yang putih mulus.
"Yu Ping...."
Setelah berteriak seperti itu, ia jatuh memeluk lututnya dan lanjut menangis.
Giok Shi, Gu Ren, Bao Leng dan semua orang yang ada di sana, terutama Sung Han, amat menyanyang kepada sepasang saudari bermarga Yu itu.
Karena itulah, melihat satu di antara mereka telah mati, dan melihat keadaan Yu Ping, tak ada satu pun dari mereka yang merasa tidak sedih.
Sung Han menegakkan berdirinya, memasukkan kembali pedang ke sarung dan meludah ke kiri.
"Cuih, tindakan sia-sia!" katanya, "Memang seharusnya kita tak pernah saling jumpa dan bertegur sapa. Sudahlah, antara aku dan kalian tak ada musuh-musuhan, juga tak ada teman-temanan. Aku orang luar, dan aku hanyalah mantan kacung di Rajawali Putih, sehingga sudah sejak awal seharusnya aku tak ikut campur."
Ia membalikkan tubuh dan berjalan pergi. Kemudian melanjutkan, "Aku pergi, jaga Yu Ping. Setidaknya itulah yang dikatakan Yu Ceng terakhir kali sebelum aku pergi ke desa."
Dengan tenaga dalamnya yang sudah tinggi, Giok Shi mampu menghentikan pendarahan dalam beberapa detik saja, sungguh pun rasa nyeri masih amat terasa.
__ADS_1
Dia terbelalak ketika tahu-tahu Yu Ping bangkit dan berlari menuju Sung Han, lalu memeluk pemuda itu dari belakang.
"Aku ingin ikut kakak! Kemana pun itu!" katanya.
"Kau harus di sini, kau tak bisa ikut aku karena sebentar lagi mungkin aku akan terlibat urusan rumit dengan Hati Iblis. Aku tak mau membahayakanmu." jawab Sung Han perlahan sambil melepaskan pelukan Yu Ping.
"Kalau begitu, aku mau pergi dari sini. Terserah kakak mau meninggalkan aku di mana, yang penting jangan di sini. Kakak Ceng dan yang lainnya sudah tak ada, untuk apa aku berlama-lama menetap di tempat ini?"
Pemuda ini memandang dengan raut wajah sulit diartikan. Ingin dia membantah tapi melihat sinar mata dengan kebulatan tekad itu, rasanya sukar untuk membujuk Yu Ping.
Tiba-tiba terdengar suara dari rombongan sana, kiranya suara Giok Shi yang memberi usul. "Bawalah saja dia bersamamu. Daripada di sini, dia akan selalu dalam bahaya. Setidaknya bawa dia ke tempat aman."
Selain Giok Shi, semua orang membungkam. Begitu pula dengan Gu Ren dan Bao Leng.
"Kau yakin?" tanya Sung Han memastikan, "Tak akan menganggap aku sebagai pencuri?"
Giok Shi menggeleng sambil tersenyum lembut, "Tidak....ambilah saja, kami percayakan padamu."
Setelah berpikir beberapa saat, Sung Han langsung menggendong Yu Ping di punggungnya. Kemudian berjalan menjauh dari sana. Setelah agak jauh, dia berbalik dan berseru, entah untuk salam perpisahan atau tujuan lainnya. Namun seruan ini cukup menusuk hati para murid Naga Hitam.
"Setidaknya bandit di sini masih punya hati. Kalau begitu aku pergi, ingatlah wajah dan namaku. Kalau suatu saat berjumpa lagi di masa depan, mau melanjutkan perkara lima tahun lalu atau tidak, itu urusan kalian. Dan aku akan terus maju jika kalian ingin menuntut balas."
Sung Han mulai berjalan lagi, namun ucapannya ternyata belum berhenti, "Hei Bao Leng, jika memang ini salahku, maka kutunggu dirimu di masa depan dan menuntutlah balas! Aku akan meladenimu!"
"Bocah arogan!!" bentak Bao Leng.
Hari itu, merupakan hari paling buruk dalam sejarah Naga Hitam. Giok Shi sebagai pemimpin sekaligus pendiri merasa malu sekali karena telah membiarkan banyak anak muridnya mati sia-sia.
Karena hal inilah, sejak saat itu ketua Naga Hitam bukan lagi Giok Shi, melainkan murid langsung kakek itu yang kelak akan menjadi pendekar lihai. Dialah Gu Ren.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG