
Sung Hwa bersama Mi Cang dan Yu Nan Sia melajukan kudanya dengan cepat menaiki atas bukit kecil. Wajah mereka sama sekali tidak ada yang baik. Tegang dan terlalu tegang.
Pertempuran pecah di bawah bukit itu dengan hebatnya. Pasukan raja bersama berupa pasukan khusus dan beberapa pasukan kepala suku menggempur pasukan yang dikepalai oleh Chunglai.
Akan tetapi sosok Chunglai itu demikian luar biasa hebatnya. Memang pantas sebagai orang kedua di kerajaan manusia gunung setelah nona Songli. Kepandaiannya sungguh di luar nalar.
Dengan golok di tangan kanan dan pisau bsracun di tangan kiri, sekali tebas tak cukup hanya dua tiga nyawa melayang. Sedikitnya enam jiwa berhasil dikirim pulang oleh lelaki itu.
Sung Hwa yang dari atas menatap ke bawah itu diam-diam merasa khawatir sekali kepada gurunya. Dia yang selama ini sudah merawatnya di kerajaan gunung selama lebih dari dua tahun. Menurunkan ilmu-ilmu tinggi dan mengajarinya bahasa manusia gunung.
Sedangkan Yu Nan Sia yang berada di sebelah kiri nonanya, sejak tadi terus memandang wajah Sung Hwa. Rasa sakit hati dan bersalah di hatinya tak pernah dapat dilenyapkan dengan cara apa pun. Dia selalu merasa bersalah dan berdosa karena hampir memerkosa nonanya sendiri.
Sejak saat itu, walaupun nonanya sudah maklum dan memaafkan, namun dia yang batinnya terlalu tertekan dengan rasa bersalah, tak pernah bisa senyum lagi.
Mi Cang, yang berada di samping kanan nonanya, sejak tadi pandangannya kosong. Seperti orang merenung, dia memandang ke arah pertempuran, tetapi juga tak memandangnya. Dia melihat, tapi tak melihat.
"Inilah akibat dari dendam...." ingin dia berkata demikian kepada nonanya agar sadar, namun tak sampai hati dia berkata seperti itu.
Ingin dia sejak dahulu mengajak pergi nona dan juniornya secara diam-diam, tapi keduanya yang selalu menolak. Bahkan pernah di satu ketika, Mi Cang sampai dimusuhi keduanya karena terlalu pemaksa. Kali ini meliahat akibatnya, dua orang itu tak bisa berkata apa-apa. Menyesal, marah, sedih, semua bercampur jadi satu.
Tak bisa disangkal lagi, perang saudara antara manusia gunung itu adalah ulah dari mereka bertiga. Jika saja mereka tak pernah datang ke sini, pasti kerajaan manusia gunung masih damai-damai saja seperti biasa. Walau hidup dalam kepalsuan.
"Membingungkan...." gumam Mi Cang yang sudah lelah dengan semuanya. Dia akhirnya memejamkan mata, tak sudi melihat peperangan yang timbul akibat diri mereka itu.
Saat itulah, dengan kebetulan sekali rombongan putri Chang Song Zhu datang. Pada saat perang sudah mencapai pertengahan, mereka tiba di balik bukit tepat di mana perang itu terjadi.
Tentu saja kedatangan ini disadari oleh Sung Hwa dan dua kawannya. Tapi gadis ini memilih bergeming dan tak bergerak.
"Ada apa nona?"
"Biarkan, mereka tak cukup bodoh untuk melewati bukit ini." ujar Sung Hwa menjawab perkataan Mi Cang.
Tapi baru saja ucapan ini selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah kanan mereka. Kiranya sepasukan manusia gunung telah datang menyerbu barisan tak dikenal itu.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana ada pasukan di sini?"
"Itu pasukan manusia gunung!" kata Sung Hwa lalu menoleh ke belakangnya. Setelah mengamati sejenak, dia berkata lagi, "Itu pasukan raja. Dia berusaha membokong pasukan guru."
"Sial, kita harus hentikan mereka!!" Yu Nan Sia sudah hendak bertindak.
"Percuma." kata Sung Hwa sedih. Kepalanya menunduk dan dua tetes air mata jatuh. "Percuma...pasukan sebanyak itu, kita tiga oang bisa apa? Lagipula, bukankah perintah guru adalah untuk melihat? Aku tak mau menjadi murid pembangkang."
Saat itu perang terjadi di kedua sisi, hanya bukit kecil tempat Sung Hwa berdiri sajalah yang menjadi sekat pemisah. Tiga orang ini merasa menyesal sekali karena tak bisa membantu, mereka hanya dapat melihat pasukan tak dikenal itu diratakan oleh pasukan manusia gunung.
Pasukan ini berjalan memutar gunung dan tiba di belakang pasukan Chunglai. Kemudian dengan aba-aba satu orang yang agaknya berada di tengah barisan, mereka menyerbu dari belakang pasukan Chunglai. Sehingga posisinya sekarang berbalik, yang tadinya chunglai mendesak pasukan raja, sekarang merekalah yang terdesak akrena terhimpit dari dua sisi.
Saat itu Sung Hwa berkata, "Mana raja? dari tadi aku tak melihatnya?"
"Itulah yang kupikirkan sejak tadi." sahut Mi Cang.
Mereka kembali menonton. Akan tetapi tiba-tiba Yu Nan Sia memekik keras dan membedal kudanya menuruni bukti menuju kancah pertempuran. Sung Hwa dan Mi Cang kaget sekali dengan ini. Sebelum keduanya bereaksi, Yu Nan Sia sudah berteriak.
Yu Nan Sia menerobos pasukan itu dengan putaran pedangnya yang luar biasa. Dia selama di sini pun juga memperdalam ilmunya di bawah bimbingan Chunglai. Walaupun tak sebanyak Sung Hwa, namun pelajaran yang ia dan Mi Cang terima cukup berguna dan sangat kuat.
Sebentar saja, belasan orang roboh terkena amukan Yu Nan Sia. Sesuatu yang amat mengejutkan mereka semua karena pemuda ini dikenal sebagai pengawal nona Songli.
Chunglai yang melihat kegegabahan Yu Nan Sia itu mencebik kesal dan melarikan kudanya untuk menyusul. Tapi sudah ada dua puluh orang pasukan khusus yang menghadang dan merepotkan dia. Terpaksa pemuda itu tak mampu tersusul.
"Matilaaaahh!!!" pekik Yu Nan Sia penuh kemarahan sambil menusukkan pedangnya ke arah pria bertopeng banteng itu. Pria ini miringkan kepala, sebagai akibatnya, topengnya terserempet pedang dan pecah berantakan.
"Ughh...." raja itu mengeluh lirih saat dirasanya ada darah mengalir dari pipi.
"Itu rajanyaaa!!!" teriak salah satu kepala suku bawahan Chunglai.
Maka makin ribut dan kacaulah keadaan. Mereka terfokus kepada raja yang kini menjadi kerepotan sekali. Akan tetapi pasukan khususnya sungguh hebat, kepandaian mereka sama dengan Yu Nan Sia yang sudah mengalami peningkatan pesat.
Saat itu, Sung Hwa dan Mi Cang sudah turun dan membuat keributan pula. Apalagi Sung Hwa, kepandaiannya sudah hampir setara dengan Chunglai. Maka sebentar saja dia turun, kacaulah keadaan.
__ADS_1
"Yu Nan Sia, kembali!! Kembali kataku!!" pekik Sung Hwa keras. Akan tetapi pemuda itu sudah gelap mata dan fokus membunuh raja yang dikawal tujuh pasukan khusus.
Yu Nan Sia mengamuk hebat seperti seekor singa terluka. Sung Hwa dan Mi Cang menghadapi pengeroyokan puluhan orang, walaupun mereka dibantu oleh pasukan Chunglai, tetap kerepotan juga. Hanya Sung Hwa saja yang sedikit longgar pengepungannya, karena pasukan raja mengira bahwa Sung Hwa ini adalah nona Songli. Mereka takut sekali menghadapi sosok paling dihormati itu.
Yang paling ngeri adalah Chunglai bersama lima kepala suku. Dengan perintah rajanya sebelum diserbu Yu Nan Sia, dia menyuruh seratus orang pasukan khsusunya untuk memisahkan mereka berenam dan menghabisinya. Sehingga kali ini baik Chungali dan lima kepala suku lain tak mampu mendekati sang raja. Mereka terlalu sibuk dengan pengeroyokan itu.
Kiranya raja ini juga cukup hebat, dia bahkan mampu bertanding satu lawan satu dengan Yu Nan Sia sebelum pemuda itu dikeroyok lagi.
Bergabungnya tiga muda dan mudi itu menjadi bantuan yang amat hebat bagi pasukan Chunglai. Hingga pada akhirnya, setelah dua jam pertempuran berlangsung sengitnya, keadaan mulai mencapai babak akhir.
Tiga kepala suku tewas dan dua orang lain luka parah. Menyisakan Chunglai yang terluka tidak ringan. Saat ini dia berjalan tertatih-tatih menuju tempat Yu Nan Sia berada yang sedang bertempur melawan empat orang. Tiga pasukan khusus ditambah sang raja.
Sedang Mi Cang bersama Sung Hwa masih didesak oleh tiga puluhan orang pasukan khusus terkuat. Sungguhpun tidak terdesak sekali, mereka berdua cukup kerepotan.
Mencapai jurus keseratus lima puluh, pertarungan raja itu agaknya mencapai puncak.
Saat Yu Nan Sia maju dengan tusukan pedang, empat orang lain itu juga menusukkan pedang mereka. Akibatnya, Yu Nan Sia yang sudah nekat itu tak pedulikan tubuh sendiri dan...
"Cap-cap-cap-cap!!"
Empat batang pedang menembus tubuhnya, sedangkan pedangnya sendiri menembus kepala salah satu pasukan khusus yang berada tepat di depannya.
Melihat ini, Sung Hwa, Mi Cang dan Chunglai berseru.
"Yu Nan Siaa!!!!!"
Tubuh pemuda itu roboh dengan seluruh badan terlubang pedang. Tepat ketika kepalanya terkulai menghantam bumi, tahu-tahu di sana sudah berdiri seorang perempuan yang cantik sekali dengan pakaian serba mewah.
"Cukup semuanya, cukup....biarkan si bodoh ini yang menyelesaikan semua. Seharusnya aku sudah turun tangan sejak tadi....dasar egois....memang wanita itu selalu ingin menang sendiri...." ucapnya, dan seketika semua orang melongo memandang paras cantik itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1