Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 39 – Keganjilan


__ADS_3

Setelah mendapat keterangan dari warga setempat tentang di mana letak berdirinya markas Perguruan Awan, mudah saja bagi Sung Han untuk menemukannya karena memang letak dari tempat itu cukup strategis.


Dari atas perbukitan ini, dia dapat melihat persimpangan empat jalur Sungai Buaya yang lebar dan besar. Dia terkesima sejenak dengan pemandangan Sungai Buaya yang gemerlapan terpapar sinar matahari itu.


Tapi tiba-tiba satu pikiran aneh masuk ke dalam kepalanya dan dia sedikit bergidik.


"Hih....Sungai Buaya? Pasti banyak buayanya."


Tak ingin membuang waktu lagi, Sung Han lekas menuruni bukit dan menuju ke salah satu desa yang tepat berada di pinggir sungai. Berseberangan dengan markas Perguruan Awan yang sudah terlihat dari sini.


Memasuki desa itu, dia langsung menuju ke dermaga untuk minta jasa sewa perahu. Tak lama ia akhirnya dapatkan perahu sungguhpun sangat sederhana dan nampak usang.


"Mau ke mana anak muda?" kakek pemilik perahu bertanya ramah sembari menyiapkan sebuah bangku untuk Sung Han.


Pemuda ini melompat dan duduk di bangku itu. Yang membikin kagum adalah, tepat saat kakinya menyentuh perahu, alat transportasi air ini sama sekali tidak bergerak. Kakek perahu itu terbelalak dibuatnya.


Sung Han menunjuk ke satu arah, ke arah markas Perguruan Awan yang sedikit tertutup rimbunya pepohonan. "Ke sana, Perguruan Awan." katanya.


Raut wajah kakek itu sedikit berubah, tapi sedetik kemudian ia mengangguk-angguk dan tersenyum. "Nikmati perjalananmu, hati-hati kalau ada buaya terbang. Yah...tapi dengan kemampuanmu, sepertinya tak akan ada buaya yang bisa mengganggu kita." ujarnya mencoba akrab dengan penumpang.


Sung Han hanya tersenyum sebagai tanggapan, sekaligus untuk menutupi rasa herannya dengan perubahan ekspresi yang hanya sekedipan mata tadi.


Sepanjang perjalanan menyeberangi sungai ini, kakek itu dengan ramah membicarakan ini dan itu. Sekedar pencair suasana dan supaya tidak canggung. Sung Han pun membalas dengan ramah dan sesekali ikut menimpali.


Ketika sampai di tengah sungai, kakek itu tiba-tiba terdiam. Sung Han tak mempermasalahkan hal ini karena menganggap bahwa si kakek sudah lelah bicara. Namun saat ia kembali bicara, nadanya serius sekali.


"Anak muda, kau hati-hatilah di sana. Walau pun kau lelaki sih...."


Sung Han lantas menoleh cepat, keningnya berkerut dalam. "Apa maksudmu?"


Kakek itu menoleh sekilas dan terlihat terkejut, ia memandang Sung Han dari ujung matanya. Tatapannya tajam penuh selidik, tapi hingga beberapa saat berlalu, ia menghela nafas.


"Kukira engkau sudah tahu." ia bersuara, "Ini hanya diketahui beberapa orang, salah satunya diriku. Dan aku bisa mati jika membicarakan hal ini padamu. Tapi di tengah sungai macam ini mana ada yang jadi mata-mata selain para buaya?" tuturnya.


Sung Han merasa tidak enak dan kembali bertanya, "Ada apa memangnya?"


"Kau pasti datang ke sana karena ada urusan soal penyakit ketua perguruan itu bukan?" dia balas bertanya, dan dijawab anggukan oleh Sung Han.


"Anak muda, sudah banyak pendekar yang kuantar ke seberang sana. Tapi sekitar dua puluhan orang pendekar yang kuantar, tak lebih dari segini yang dapat keluar." ujarnya menunjukkan kelima jari tangannya.


"Jadilah orang berikutnya yang dapat keluar, entah apa yang mereka sembunyikan." lanjutnya lagi memperingatkan Sung Han.


Setelah ucapan terakhir itu, tak ada lagi yang memulai pembicaraan karena larut dalam pikiran masing-masing. Hingga kurang lebih sepuluh menit kemudian, mereka tiba di seberang.


"Terima kasih tumpangannya kek. Aku ada sedikit daging kering, ambilah untuk anak istrimu." dengan ramah Sung Han memberikan satu bundelan yang berisi daging kering.


"Hahaha, kau memang pintar. Saku kosong tak ada uang kau kasih aku makanan." gelak tawanya membahana, membuat Sung Han sedikit malu. Tapi walaupun begitu, ia tetap menyambar bundelan itu.


Tapi sedetik kemudian, wajahnya langsung berubah, "Aku ada cucu di rumah, tapi dia tak pernah pulang lagi."


Sung Han terperanjat, matanya melotot tanda tak percaya.

__ADS_1


Kakek itu menunjuk markas Perguruan Awan di sebelah dalam hutan sana, "Setelah masuk ke sana, dia lenyap."


Sung Han ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh kakek itu. Rasa curiga yang besar timbul di hatinya.


"Kenapa kau tak ambil tindakan?" tanya Sung Han.


"Kau tak kenal dengan mereka? Perguruan silat yang kuat dan amat tersohor, namanya terkenal di mana-mana. Karena itulah aku memperingakanmu secara sembunyi-sembunyi, jika tidak itu bisa mencemarkan nama baik mereka dan bisa saja aku diburu." katanya bersungut-sungut.


"Andai saja aku punya kepandaian macam engkau, pastilah saat ini aku tidak akan tinggal diam!" ujarnya lagi mulai emosi.


Sung Han makin heran, tapi rasa curiganya makin besar. Ia memandang markas perguruan itu lamat-lamat.


"Aku pergi dulu, ingat pesanku anak muda, semoga kita bertemu lagi." kata kakek itu yang ikut memandang pula ke arah Perguruan Awan, "Kau tentu bisa mengeraskan suaramu dengan tenaga dalam bukan? Nah, kau teriaklah dari sini jika saat pulang butuh bantuan aku."


Setelah itu, kakek ini membalikkan perahunya dan pergi dari sana dengan perlahan. Sung Han kaget sekali saat ada moncong buaya menyantol di pinggiran perahu. Namun dia lebih kaget lagi saat kakek itu dengan dayungnya megebuk kepala dan mata buaya yang segera beringsut pergi ketakutan.


"Aneh...aneh...." gumam Sung Han tak habis pikir.


...****************...


"Putriku sudah tiga hari tidak pulang, itu setelah murid-murid kalian datang ke rumah dan katanya butuh bantuan putriku untuk menyembuhkan ketua perguruan ini!!"


"Tuan, maaf saja tapi penyembuhan itu sangat rahasia. Dan jujur kami tidak tahu menahu soal itu." seorang berusaha menenangkan.


"Plakk!"


Tamparan keras mendarat di pipi orang itu yang segera meringis kesakitan.


Sung Han memandang dari balik semak, tepat di depan gerbang itu sedang terjadi ribut-ribut seorang lelaki dengan beberapa murid perguruan. Tapi lelaki ini sungguh berani, ia sama sekali tak gentar menghadapi beberapa murid perguruan itu.


Tapi semua tetap sia-sia, setelah puas melampiaskan kemarahannya, ia diusir secara halus oleh murid lainnya. Sedangkan seorang murid yang tadi boyok kena hajar si pria pembuat onar, hanya memandang kepergian pria itu sembari memaki.


"Sialan, sebenarnya apa sih yang disembunyikan tuan muda?"


"Mana kutahu? Kita hanya ditugaskan untuk berjaga bukan?"


"Memang, tapi bukan sekali ini ada orang yang datang dan buat onar. Sudah tiga kali!" kata si boyok.


Teman-teman yang lainnya hanya diam dan dalam hati masing-masing sebenarnya ada rasa tidak puas dengan perilaku Kay Su Tek yang merahasiakan sesuatu.


"Aku harus menyelidik sendiri!" gumam Sung Han dan bergerak cepat. Menotok lumpuh keempat penjaga yang menjadi pingsan malang melintang.


"Maaf saja, kalian tidur lah lebih dulu."


...****************...


Pertama-tama, yang ia cari tentu gedung tempat bersemayamnya Kay Ji Kun, ketua Perguruan Awan.


Memakai pakaian putih dengan aksen hijau muda, bersabuk ungu yang berbahan dari sutra. Rambutnya di gelung tinggi menggunakan pita ungu pula. Wajahnya sawo matang.


Dia inilah Sung Han, yang sedang menyamar sedemikian rupa setelah mencuri satu set pakaian di gudang penyimpanan. Soal wajahnya, ia dengan cerdik menggunakan getah pohon dan mengoleskannya secara merata. Membuatnya seperti orang desa biasa.

__ADS_1


Tapi semua orang bersikap hormat dan selalu menundukkan kepala begitu melihat Sung Han. Hal ini dikarenakan oleh sabuknya. Sabuk ungu menandakan murid tingkat dua yang berkepandaian cukup tinggi, sedangkan sabuk emas adalah murid tingkat satu yang hanya berjumlah tiga orang saja. Yaitu Kay Su Tek dan dua orang lainnya.


Sung Han bersyukur dalam hati atas keberuntungannya. Dia tak pernah berpikir kalau sabuk ungu menandakan seorang murid yang cukup tinggi di perguruan ini. Padahal sabuk yang ia pakai adalah sabuk selendang yang biasa digunakan istri Kay Ji Kun. Hanya karena sudah sedikit usang, maka ia membuangnya. Dan Sung Han tidak sadar akan hal ini.


Dia tidak tahu di mana gedung Kay Ji Kun, maka saat ada seorang murid menyapa dan berbasa-basi, ia mendapat kesempatan.


"Ah...senior, hendak kemanakah pagi ini?" sapa murid sabuk putih, murid tingkat rendah.


"Oh, aku ingin menjenguk ketua." ucap Sung Han singkat dan menundukkan kepala. Lalu ia berjalan ke sembarang arah menuju tempat yang terlihat paling besar.


"Senior!"


"Berhasil!" pikir Sung Han.


Ia membalikkan badan dan memasang tampang bodoh.


"Tempat ketua ada di sana." kata murid sabuk putih tadi menunjuk ke salah satu bangunan.


Sung Han tersenyum canggung dan berlagak menguap, "Haaaahh...aku masih ngantuk, tak tahu jalan. Terima kasih!"


Dengan langkah pasti, Sung Han menghampiri bangunan besar itu. Sampai di sana, pemandangan pertama yang menjadi sambutan adalah sebuah patung singa besar tepat di depan pintu utama. Seperti menyambut para tamu yang datang.


Sung Han berjalan ke samping kiri singa dan hendak menuju pintu, namun ternyata ada penjaga di sana yang sama-sama bersabuk ungu.


"Aku ingin menjenguk ketua." ucap Sung Han tanpa ditanya.


"Kami disuruh menjaga dan tak seorang pun boleh masuk!" kata salah satunya tegas.


"Hah?" Sung Han terperangah. Pura-pura pintar dan sok tahu ia menjawab, "Kemarin tidak seperti itu." dan hebatnya, membuahkan hasil.


"Kemarin diperbolehkan. Tapi mulai pagi ini, penatua Ki Yuan melarang keras. Dan tuan muda pun menyuruh kami menjaga di sini." ucap salah satu penjaga sambil menggerakkan tangan seperti mengusir.


Satunya lagi tersenyum riang, "Aku bosan menjaga di sini." katanya, "Bagaimana kalau pergi ke perpustakaan denganku?"


"Mau apa di sana? Aku cukup senang membaca, tapi bukankah kebosananmu itu akan makin jenuh dengan mrmbaca buku-buku?"


"Dia tak ingin baca buku." tukas seseorang yang tadi menggerakkan tangan mengusir.


"Lantas?" Sung Han makin heran dan tanpa sadar larut dalam pembicaraan.


"Tukang sapu di perpustakaan cantiknya.....cantik....."


Pemuda ini tentu merasa heran sekali, keningnya berkerut dan menoleh ke belakang. Ia juga terperangah melihat seorang perempuan membawa sapu dan berjalan ke salah satu bangunan.


Merasa diperhatikan, wanita ini menoleh dan menjura sambil tersenyum untuk memberi salam.


Sung Han mengumpat dalam hati.


"Keparat, aku tak boleh dekat-dekat perpustakaan jika ingin segera membinasakan si gundul itu!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2