
Pakaiannya serba putih, lengan jubahnya lebar sekali sampai-sampai menyembunyikan kedua tangannya. Rambutnya hanya sampai sepunggung, namun hitam berkilau bagai mutiara.
Wajahnya yang cantik itu tambah cantik saat ia menelengkan kepala memandang bingung ke arah depan pintu perpustakaan.
"Emh...saudara, apa yang engkau lakukan?"
"Menunggumu!" jawab Sung Han sedikit ketus, "Engkaukan yang membawa kunci perpustakaan? Aku sudah menunggumu sejak gelap tadi."
Gadis itu terkejut sampai-sampai menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "Ah...belum pernah ada murid seantusias engkau untuk membaca buku. Kenapa tidak dari dulu kau lakukan hal ini?"
"Aku murid baru!"
"Mana ada murid baru pakai sabuk ungu?"
"Sudah cepatlah!" katanya mendesak, "Aku tak sabar lagi."
Gadis itu menghela nafas, berjalan menuju pintu dan meletakkan sapunya di samping pintu. Ia rogoh saku di balik jubahnya dan membuka pintu itu dengan sebuah kunci perak.
"Silahkan." ucapnya ramah sambil tersenyum. Sung Han mendengus dan langsung melenggang masuk. Bukan karena tidak sopan, tapi karena takut "tidak fokus" bila tak sengaja bertemu pandang dengan orang itu.
Sampai di dalam yang dipenuhi oleh rak-rak buku ini, ia menghirup napas dalam. Merasa nostalgia dengan bau buku khas yang selalu menemani kamarnya di Rajawali Putih dahulu.
Ia mulai mencari, buku apa pun itu yang penting menyinggung-nyinggung soal racun. Entah itu ilmu racun untuk pengobatan, untuk racun serangga, bahkan untuk kesaktian ia borong semua. Kemudian ia duduk di sudut dekat jendela dan mulai membaca serius.
Enam buku yang ia habiskan tepat saat tengah hari, namun tak ada satu pun buku yang menjelaskan tentang suatu racun dengan ciri-ciri di tubuh Kay Ji Kun. Bahkan sampai perpustakaan lumayan ramai dan dia mengambil buku baru lagi, tak ada sedikit pun informasi soal racun Kay Ji Kun.
Ia menutup buku terakhir dengan kesal. "Itu pasti kesaktian. Racun dari pendekar!" gerutunya menyimpulkan. Hari sudah senja.
Ia berpikir keras, bagaimana cara untuk mencari racun itu atau bahan-bahan untuk membuat racun itu. Tapi hal itu merupakan tujuan kedua karena tak mungkin Kay Ji Kun diselamatkan. Tujuan pertamanya tentu membunuh Ki Yuan!
Telinganya sudah lama terasa panas mendengar tawa cekikikan dan kelakar tak lucu dari seseorang di depan peroustakaan. Sudah sejak siang tadi sampai senja dan perpustakaan mulai sepi, orang itu tak pergi juga. Bahkan gadis tukang sapu itu selalu menanggapi dengan manis.
"Ck!" ia mendecih dan melempar-lemparkan buku asal. Kelihatannya saja asal padahal semuanya tepat sasaran ke tempat sebelumnya buku itu diletakkan.
Ia berjalan ke luar dengan gusar dan mencibir, "Perpustakaan tak boleh dibuat berisik apalagi tempat bermain cinta!"
Seorang pemuda yang kemarin menjaga gedung Kay Ji Kun, yang mengajak Sung Han pergi ke perpustakaan menoleh dan balas mencibir. "Kemarin tak mau kuajak, ternyata ingin mendahuluku. Mana mungkin aku membiarkannya."
Gadis itu hanya terkekeh ringan.
Sung Han tak memedulikannya dan hendak pergi, namun satu suara berhasil menghentikannya. "Saudara, sabukmu itu bukan sabuk perguruan, kemanakah sabukmu? Rusak? Aku bisa memperbaikinya." gadis itu berkata.
Sontak Sung Han berhenti. Begitu pula si pemuda yang tadi sedang memperagakan sabung ayam, ia menoleh dan memandang bingung ke arah si gadis.
__ADS_1
"Chu'er, apa maksudmu?" ia lantas menoleh memandang sabuk Sung Han, "Eh, aku baru sadar. Sabukmu beda!"
Pemuda ini bangun dan insting pendekarnya bangkit. Sontak ia meraba pedang di pinggang. Sedangkan gadis itu menjadi khawatir.
"Saudara, siapa engkau?" tanya pemuda ini penuh intimidasi.
Sung Han memaksa diri untuk menoleh, namun pandangannya malah tertuju kepada si gadis tukang sapu.
"Ah...persetan dengan racun, yang penting Ki Yuan. Agaknya aku sudah sedikit mengerti sekarang."
Sebenarnya pemuda ini cukup bingung untuk menjawab apa. Namun melihat kedekatan mereka berdua, ia mendapat jawaban yang tak akan menimbulkan permasalahan berarti.
"Kau ingin tahu siapa aku?" tanya Sung Han dengan senyum aneh.
"Ternyata benar, kau bukan orang sini! Pantas aku merasa cukup asing denganmu!" pemuda ini telah mencabut pedang. Untung di situ sudah sepi sehingga tak ada orang lihat.
Sung Han mengayunkan kaki kanan, lalu sedetik kemudian ia sudah berdiri tepat di hadapan si lelaki itu.
"Aku tertarik." katanya singkat, "Boleh kuambil? Atau setidaknya kupinjam?" lanjutnya.
Namun pemuda itu menjadi marah sekali, pasalnya sambil berkata demikian, Sung Han mengarahkan jari telunjuknya ke arah gadis yang dipanggil Chu'er itu. Membuat si gadis jengah dengan wajah memerah.
"Bajingan!!"
Pria ini dengan perasaan mendongkol sekali, menjabat tangan Sung Han kasar, "Baik, bertanding adil! Kalau kau berani menyentuhnya atau bahkan meminjam, kubunuh engaku!"
"Aku hanya bercanda tadi." Sung Han tertawa, "Tapi untuk yang tertarik, aku serius."
"Cih, namaku Coa Ow."
"Calon kita?"
"Bukan calon kita, tapi calonku!" dia memaki, "Namanya Fang Chu."
"Nama yang bagus, tapi sepertinya aku yang menang. Aku suka baca buku." Sung Han menggoda.
"Apa!?" agaknya Coa Ow paham maksud Sung Han. Cepat ia menoleh memandang Fang Chu yang hanya mampu menundukkan kepala. "Aku tak akan kalah." lanjutnya.
Pertarungan yang amat aneh pun terjadi.
...****************...
"Kenapa tiba-tiba tuan?" Coa Ow nampak menuntut. Fang Chu hanya diam saja memperhatikan.
__ADS_1
Ki Yuan maju setindak, ia ditemani oleh Kay Su Tek datang menuju perpustakaan pagi ini untuk menemui Fang Chu. Begitu ia mengemukakan permintaannya, langsung saja ditentang mentah-mentah oleh Coa Ow.
"Coa Ow kan namamu? Eh anak muda, ini demi ketua kalian, aku butuh bantuannya." kata Ki Yuan menyakinkan.
"Kalau begitu biar aku saja, aku juga akan membantu."
"Tidak bisa!" kali ini Kay Su Tek memotong, "Hanya perempuan yang masih gadis."
"Kenapa tuan muda?"
"Entah, aku pun....tidak tahu..." jawabnya sedikit ragu.
Coa Ow memandang Ki Yuan, jelas ekspresinya itu haus akan jawaban. Namun Ki Yuan hanya tersenyum tipis.
"Sudahlah." kata Fang Chu tiba-tiba, "Biarlah aku ikut."
"Chu'er!"
Fang Chu mendekati Ki Yuan dan menundukkan kepala hormat, mulutnya yang merah itu bergerak-gerak saat mengucapkan satu dua patah kata.
"Saya menurut tuan muda dan tuan."
"Terima kasih dan maaf sebesarnya nona Fang." Kay Su Tek balas menjura dalam. "Mari." ajaknya kemudian.
Fang Chu mengirim satu senyum singkat untuk Coa Ow sebelum benar-benar pergi. Sedangkan pemuda bermarga Coa itu hanya mampu memandang bengong. Entah kenapa, dia merasa tidak setuju sekali sungguhpun gadis yang selalu diincarnya itu hendak membantu ketua mereka.
"Miris sekali...."
Coa Ow membalikan badan dan sontak memandang ke atas. Dilihatnyalah Sung Han yang duduk di genteng dengan kaki menggantung. Mulutnya menggigit sebatang ranting kecil.
"Apa maksudmu, kau mengejek?" Coa Ow mulai marah.
Tapi Sung Han tak peduli, pandangannya tertuju kepada Ki Yuan, Kay Su Tek dan Fang Chu yang kian menjauh.
"Ctak!"
Ranting di gigitannya patah seketika.
"Coa Ow!" panggilnya tiba-tiba, nadanya cukup aneh dan tidak ramah lagi seperti perkenalan mereka kemarin. "Ikut aku, ada yang ingin kusampaikan padamu. Agaknya dugaanku selama ini tepat sasaran."
Coa Ow mengerutkan kening bingung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG