Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 260 – Pertentangan Paham


__ADS_3

Pondok itu ditelan dalam keheningan yang mencekam. Mereka tidak memiliki alasan jelas untuk menyangkal kebenaran tersebut. Memang harus ditentukan seorang pemimpin tunggal di antara mereka.


Ini tak bisa dihindari. Lima orang, lima kepribadian, lima otak, lima pasukan. Tak akan pernah bersatu kecuali berujung perpecahan jika menempatkan mereka semua pada posisi "pimpinan". Dan hal ini amat berbahaya untuk kemudian hari. Bisa-bisa sejarah Raja Dunia Silat akan terulang kembali, di mana mereka saling ribut sendiri.


Sung Han melirik istrinya, sama sekali tidak ada penolakan dari mata nyonya muda tersebut. Hanya memandang kosong ke kejauhan yang membuat Sung Han tak bisa menebak jalan pikirannya.


Dia mengalihkan pandangan, melihat Khuang Peng dan Nie Chi. Sama-sama menundukkan muka dengan kening berkerut. Terakhir, ia melihat Gu Ren. Yang dengan sikap paling seniornya, di mana dia memang yang paling tua, memandang Sung Han penuh selidik.


"Sung Han, apa yang kaupikirkan?" desis Gu Ren tajam.


"Maksudmu?"


"Seharusnya aku yang bertanya? Kita berlima adalah pimpinan para pendekar, berdiri sejajar. Kita inilah kepala-kepalanya."


Mau tidak mau, ekspresi Sung Han menampakkan raut ketidak setujuan. "Aku tidak mau kita berlima menjadi seperti tuan putri dan pangeran itu."


"Jelaskan!"


"Mereka berdua sama-sama pemimpin di satu wilayah. Memiliki tujuan yang berbeda, dan dengan begitu saling bertikai sendiri."


Gu Ren lantas menggeberak meja. Mukanya merah dengan mata melotot. "Sung Han, apa yang kau pikirkan?! Ucapanmu baru saja hampir memecah kita berlima! Kita memiliki tujuan dan berada di pihak yang sama, musuh kita satu yaitu Kekaisaran Jeiji! Apa lagi yang perlu dipusingkan?"


"Apa kau tak memercayai kami?" Nie Chi kini ikut menimbrung. Walau terlihat tidak memihak siapa pun, namun nadanya jelas menyatakan ketidak setujuan atas usul Sung Han. Dan baru sekali inilah dia nampak amat serius. "Tolong lupakan saja pemikiran itu."


"Aku tahu kalian semua tidak bodoh dan dapat melihat kenyataan," ujar Sung Han dengan berusaha membuat suaranya setenang mungkin. "Kita adalah pendekar-pendekar terkuat di sini. Jadi–"


"Jadi apa?!" Sung Hwa membentak. Perempuan itu sudah bangkit berdiri. "Kau ingin menguasai pendekar-pendekar terkuat ini?"


"Bukan begitu. Aku hanya khawatir dengan persaingan yang akan muncul di kemudian hari."


"Tuan putri sudah cukup dijadikan sebagai pemimpin kita," sela Khuang Peng. Alisnya berkerut dalam.


"Kalau benar demikian, seharusnya beliau sudah mampu mengelola para pendekar tanpa minta bantuan kita waktu itu!" bantah Sung Han.


"Oh, ayolah, kau hanya terpengaruh dengan anggotamu."


Sung Han menahan napas. Awalnya dia juga berpikir begitu, namun setelah lama dipikirkan, ternyata ada benarnya juga.

__ADS_1


Para pendekar merupakan sekumpulan orang-orang aneh. Sung Han yakin hanya tuan putri seorang tidak akan mampu benar-benar bisa mengatur mereka. Cara satu-satunya untuk mengelola mereka adalah dengan pimpinan pendekar sendiri.


Sekarang Raja Dunia Silat ada lima, dan lima pasukan pula berdiri di bawah pimpinan mereka. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi ke depannya jika beberapa orang merasa iri dengan pasukan lain. Bukankah para pendekar amat sulit menerima kekalahan begitu saja? Jika pasukan dibagi lima dengan pimpinan yang berbeda, itu sama artinya seperti sedang bersaing. Berlomba-lomba membuat jasa terbesar untuk tuan putri.


Tapi Sung Han bingung bagaimana cara menjelaskan itu kepada mereka semua.


Sung Han menggeleng-gelengkan kepalanya lemah. "Jika lima pimpinan dan lima pasukan. Bagaimana jika orang-orang itu akan menganggap bahwa ini adalah persaingan? Seperti kalian tidak paham saja dengan jalan pikir para pendekar. Lalu, bukankah dengan kita terpecah menjadi lima, ada kesempatan baik bagi jenderal brengsek di meja pertemuan itu untuk mengadu domba kita semua? Pimpinan tunggal dibutuhkan untuk mencegah hal itu."


Sung Hwa yang keras hati itu hendak membantah. Dia sudah membuka mulut namun tidak ada perkataan yang keluar. Demikian pula dengan Gu Ren. Sedangkan Nie Chi bersama Khuang Peng, sejak tadi masih kelihatan ragu-ragu.


"Tolong pikirkanlah baik-baik. Aku bicara bukan karena mencari kedudukan. Mungkin pada awalnya aku terhasut omongan anak buahku, tapi kalau dipikir-pikir masuk akal juga."


...****************...


Tanpa terasa, waktu berjalan cepat dan satu bulan sudah terlewati. Waktu yang diberikan tuan putri bagi mereka berlima untuk membentuk pasukan kuat yang siap maju ke medan tempur.


Betapa girangnya tuan putri mengetahui laporan kelimanya bahwa dalam jangka waktu satu bulan ini, pasukan mereka sudah berkembang amat pesatnya. Selain bertambah kuat dalam kelompok, juga bertambah kuat dalam kekuatan individu.


Tuan putri melakukan permainan iseng-iseng dengan itu. Dia menyuruh seratus prajuritnya dengan dipimpin seorang jenderal ahli siasat untuk menggempur satu per satu pasukan Raja Dunia Silat itu secara bergantian.


Siapa yang menang adalah mereka yang dapat menjatuhkan pimpinan pasukan dalam posisi tengkurap.


Kelima pasukan mampu memenangkan permainan itu dengan strategi gerilya milik Serigala Tengah Malam. Membuat si jenderal kerepotan dan harus mengakui keunggulan para pendekar.


Namun dari sini saja, sudah terlihat jelas pasukan siapa yang paling kuat dan paling lemah. Itu tak lain adalah milik Sung Han dan Sung Hwa. Di mana Sung Hanlah yang terkuat.


Dari sini saja, sudah terasa perubahan suasana yang tidak menyenangkan. Ketiga saudaranya menganggap usul Sung Han itu sebagai penghinaan. Karena mereka berpikir Sung Han menganggap pasukan selain pasukannya lebih lemah. Sehingga mengusulkan itu untuk memutuskan siapa yang pantas memimpin.


Walau istrinya sama sekali tidak berubah dan menganggap hal itu wajar saja. Namun ketika di kamar dia menegur dengan keras.


"Suamiku, apakah usulmu untuk pemilihan ketua ini adalah karena rasa angkuh bahwa pasukanmu pasti yang terkuat?"


Pertanyaan itu amat menusuk perasaannya. Bukan ini yang dia inginkan, justru inilah yang sangat ingin ia hindari. Jika saja di antara mereka ada satu pemimpin, pasti empat orang lain akan menganggap bahwa dirinya adalah orang kepercayaan si pemimpin. Bukan seperti saat ini yang masing-masing menganggap diri sendiri sebagai pemimpin. Sehingga memiliki keyakinan sendiri-sendiri yang belum tentu sejalan satu sama lain.


Pertemuan berikutnya, lebih panas dari sebelumnya.


"Jangan memfitnah suamiku!" Sung Hwa menggebrak meja pondok dan menuding hidung Gu Ren. "Orang tua sialan, jangan kau kira suamiku bicara seenak jidat!"

__ADS_1


Gu Ren bangkit berdiri dan memandang terbelalak. "Sekarang semua sudah dibuktikan nyata. Sung Han merasa yakin dirinya pasti menang sehingga mengusulkan usul tersebut. Pasukannya adalah pasukan terkuat, jadi dia menganggap bahwa dirinya terpandai dan terhebat. Bisa saja selama ini dia mengamati latihan pasukan lain dan setelah merasa yakin dia bisa menang, dia mengusulkan pemilihan itu."


"Keparat tua!!" Sung Hwa bangkit berdiri pula. "Kiranya sumpah saudaramu beberapa waktu lalu hanya bualan! Kau masih mendendam terhadap suamiku. Aku sudah mendengar segala ceritanya, betapa Naga Hitam adalah bekas bandit yang kemudian insyaf. Lalu ada satu tempat di Naga Hitam yang musnah karena diserbu musuh-musuh suamiku. Kau menyalahkannya karena hal ini dan mencari kesalahannya untuk membalas dendam, kan?!"


Wajah Gu Ren sebentar merah sebentar pucat. Dia sama sekali tidak menduga akan diingatkan oleh masa kelam Naga Hitam itu. "Kau jangan asal bicara! Ini tak ada hubungannya dengan masa lalu. Aku hanya mengingatkan agar suamimu tidak tamak. Itulah yang namanya saudara!"


"Omong kosong! Aku lihat kemarin kau dan dua cecunguk ini saling bisik-bisik sambil melirik suamiku dengan tatapan iri. Kalian tak terima suamiku menang, kan?" Napas Sung Hwa memburu untuk beberapa saat. Dia memandang Gu Ren, Khuang Peng dan Nie Chi bergantian. "Aku kurang setuju dengan pemilihan pemimpin tunggal itu. Tapi bagaimanapun dia tetap suamiku! Dan tak ada siapa pun di dunia ini boleh menghinanya di depan hidungku kecuali harus berkenalan dengan bilah pedang ini!"


Tiba-tiba, tampak sinar berkelebat dan tahu-tahu Sung Hwa telah menggenggam Pedang Gerhana Bulan.


Ucapan tadi sungguh luar biasa. Muka Gu Ren, Khuang Peng dan Nie Chi sudah memerah seperti dipanggang. Tentu saja harga diri mereka terguncang mendengar tuduhan luar biasa itu.


Khuang Peng dan Nie Chi bangkit pula. Mata mereka memandang tajam.


"Sung Hwa, tolong jaga bicaramu!" Khuang Peng yang bersikap lembut itu menegur. "Kita saudara, kan?"


"Saudara apanya yang menatap saudara lain dengan tatapan iri dengki? Hah, hayo mengaku! Kalian tak terima suamiku menang, kan?" Sung Hwa menegakkan tubuhnya dengan sikap menantang.


Sung Han sejak tadi hanya diam sambil menundukkan muka. Biarlah. Biarlah mereka ribut sendiri agar tahu betapa tepat ucapannya beberapa waktu lalu. Inilah yang disebabkan jika satu sama lain merasa dirinya seorang "pemimpin".


"Kau!!" Gu Ren menggeram dan tubuhnya melayang ke pekarangan. "Sebagai seorang gagah, lebih baik kita selesaikan urusan ini di ujung senjata. Siapa yang benar tak bisa ditentukan dengan adu mulut!"


"Adil!" Sung Hwa berseru dan melompat pula. Ketika sudah berdiri di depan Gu Ren, dia menudingkan pedangnya menunjuk Khuang Peng dan Nie Chi. "Pengecut-pengecut kotor. Kalau takut, tonton saja dari jauh. Si tua ini jago kalian dan aku jago suamiku!"


Dikatakan pengecut, Khuang Peng dan Nie Chi yang sebelumnya mengambil sikap netral itu menjadi marah juga. Wanita ini sudah keterlaluan, pikir mereka. Harus disadarkan.


"Sung Hwa, kau kelewatan!" Nie Chi membentak dan tongkatnya sudah menyambar.


"Sebagai saudara, aku harus mendisiplinkammu!" Gu Ren pun melayang dengan kedua kipasnya.


Sedangkan pemuda berpedang merah itu, tanpa berkata-kata telah melompat maju. Mereka sudah menggunakan senjata masing-masing karena maklum betapa beratnya jika melawan Sung Hwa yang berpedang itu tanpa menggunakan senjata.


Sung Han hanya melihat dari pondok. Dengan hati perih dia memejamkan mata, pura-pura tidak tahu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2