
"Mereka sudah mulai menyerang!"
Nie Chi, yang menjadi pimpinan ikut menyertai penjagaan di hulu sungai, segera meninggalkan tempat duduknya yang lalu untuk kemudian memanjat bebatuan tinggi. Dari atas sini, hampir semua tempat di kejauhan terlihat jelas, demikian pula dengan barisan yang dari jauh tampak seperti sekumpulan semut pindah rumah.
"Saudara, apa yang harus kita lakukan?" seorang bawahannya ikut pula melihat. "Pasukan kita tidak cukup banyak untuk bertempur langsung melawan mereka.
"Menurut di peta, aliran sungai ini seharusnya berbelok jauh ke timur, menjauhi perkemahan pasukan, kan?" Nie Chi memastikan.
"Benar," jawab bawahannya itu sambil menoleh ke belakang. "Air sudah terkumpul terlalu banyak, kalau dibiarkan terus bisa kacau."
Seringaian muncul di mulut Nie Chi. "Heh, seperti kau tidak tahu saja. Lakukan rencana selanjutnya tepat ketika aku memberi perintah!"
Orang itu segera melompat turun dan mengabari kawan-kawannya. Mereka menjadi girang, lalu cepat menyiapkan diri pada tempat-tempat yang sudah disediakan.
Air dibendung di bagian hulu. Tak hanya dibendung, bahkan selama beberapa hari ini, diam-diam pasukan pendekar melakukan penggalian untuk membuat semacam danau buatan. Bentuknya acak-acakan, namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat serangan tiba-tiba.
Bendungan buatan ini sudah direncankan sejak semula. Tentu akan sia-sia saja jika hanya membendung sungai tanpa melakukan apa-apa dengan itu. Maka Sung Han mengusulkan untuk membuat danau buatan di atas.
Orang-orang Jeiji bergerak makin dekat dengan letak danau buatan itu. Mereka bersorak-sorak ketika mengetahui dari atas batu penghalang sungai, berdiri seseorang yang bukan lain adalah Nie Chi. Namun mereka segera dapat menduga bahwa tentu pria yang berdiri dengan tangan bersedekap itu bukanlah orang biasa.
Hoko Ryo yang menjadi pimpinan pasukan ini, yang melihat dari jauh, diam-diam mengerutkan kening. Walaupun dalam keadaan terhimpit, namun dia tidak mau membiarkan dirinya putus asa sampai melakukan hal-hal tak masuk akal. Demikian pula dengan sekarang ini.
Melihat Nie Chi berdiri di atas sana, kemarahannya meluap karena dia merasa diejek. Namun Ryo mencoba tetap tenang, memikirkan hal apakah yang mampu membuat orang itu demikian sombong sampai berani menunggu pasukannya di atas batu besar.
Dia mengamati lebih teliti, kiranya batu yang dipijaki oleh Nie Chi itu memanjang ke kanan-kiri, menutupi sungai yang hanya mengalirkan sedikit sekali air. Dia sudah hampir melepas amarahnya ketika teringat akan sebuah dongeng kuno mengenai taktik perang para samurai.
Di mana pada waktu ia masih muda, pernah ada satu dongeng entah nyata atau tidak, yang mengatakan ada satu jenderal menggunakan siasat menenggelamkan lawan. Dengan membendung aliran sungai besar lalu menumpahkannya kepada lawan ketika keadaan terdesak.
Mengingat ini, wajah Ryo memucat. Begitu ia melihat ke depan, kiranya barisan paling depan sudah dekat sekali dengan tumpukan batu-batu penghambat sungai!
__ADS_1
"Mundur! Mundur! Ini jebakan!" ia berseru dengan sia-sia. Karena orang-orang yang sudah dilanda amarah itu tanpa peduli lagi mulai memanjat batu penghalang.
Dari dalam, lambat laun terdengar suara dentuman-dentuman. Batu penghalang itu mulai bergetar makin kuat.
Orang-orang dapat menduga bahwa tentu ini adalah perbuatan para orang sakti yang memukul-mukul batu itu. Namun mereka tak peduli. Pasukan Jeiji tetap memanjat.
Hingga ketika batu yang dipijak oleh Nie Chi tadi terguling, disusul batu di bawah dan di bawahnya lagi, barulah mereka sadar.
Air bah datang bagai gulungan ombak lautan, suara deras memekakkan telinga terdengar ketika gelombang air itu menghantam dinding cadas di kanan dan kiri sungai. Membuat dinding itu bergetar dan menjatuhkan sedikit batu-batu.
Mereka semua menjadi panik. Sedapatnya mencari tempat perlindungan. Namun apa daya, posisi mereka cukup terhimpit dengan pohon-pohon dan tebing di kanan dan kiri. Kalaupun ada tempat yang lebih tinggi, tak cukup untuk menampung lebih dari lima orang.
Namun karena bendungan itu dibuat secara tergesa-gesa dan dalam waktu singkat, sehingga tak cukup banyak menyimpan air. Begitu batu jebol, hanya setengah menit pertama yang mengerikan, selebihnya air mulai surut sungguhpun masih amat deras. Aliran air sungai pulih kembali walau dengan ketinggian di atas rata-rata.
"Bangun, siapkan senjata!" perintah Ryo yang tadi bersembunyi di bawah pohon tumbang. Bajunya sudah basah kunyup ketika dia muncul dan pedangnya sedikit retak di ujung. Agaknya menghantam sesuatu.
Namun wajahnya menampilkan kengerian luar biasa ketika pasukannya tak lebih dari seratus yang mampu bangkit dengan pedang di tangan. Selebihnya ada yang masih terseret arus atau mengaduh-aduh di bawah tindihan pohon tumbang.
Begitu sekumpulan orang ini muncul, dengan ganasnya mereka mengamuk. Melibas semua orang Jeiji yang terlihat tanpa pandang bulu. Bahkan yang sudah mati pun ditusuk lagi untuk memastikan benar-benar tewas.
Apalagi si pemuda bertongkat, begitu tubuhnya melayang, dengan sekali kibasan tongkat besinya itu empat orang terpelanting dengan kepala retak.
Ryo menjadi marah, lalu dengan nekat ia menerjang maju dengan tusukan pedang.
"Hyaaatt!"
"Trang!"
Tongkat Nie Chi menyambar dan membuat pedang katana itu membalik, hampir terlepas dari pemegangnya. Tak berhenti sampai di sana, Nie Chi melanjutkan serangan dengan tusukan tongkat ke ulu hati, lalu disusul sapuan ke lutut kaki.
__ADS_1
"Wuut-wuutt!"
Ryo mulai terdesak. Sungguhpun dua serangan itu dapat ditangkisnya, namun tetap saja tangannya terasa nyeri dan panas. Mulailah dia main mundur dan berteriak-teriak minta bantuan. Namun makin lama pertempuran kecil itu berlangsung, makin tampaklah siapa yang lebih kuat.
Pasukan Jeiji sudah kalah, baik secara siasat, jumlah, maupun semangat. Sehingga sebentar saja aliran sungai yang lebih besar dari biasanya itu dipenuhi dengan tubuh-tubuh tak bernyawa yang merubah warna air menjadi merah gelap.
...****************...
Sung Han hanya mampu tersenyum miring. Di sampingnya, Gu Ren duduk dengan sikap bagaikan kaisar, dada membusung dan melirik ke lawan bicaranya.
"Bahkan kepalanya tidak perlu turun tangan langsung," celetuk Gu Ren memecah kesunyian itu.
Jenderal Khu beserta para perwiranya mengepalkan tangan dengan muka merah. Ini benar-benar tamparan yang luar biasa bagi mereka. Memalukan!
Mereka yang seorang tentara, yang menganggap bahwa ilmu perang dan siasat mereka sudah hebat, kalah dengan siasat seorang bocah pendekar! Betapa memalukannya.
Apalagi mengingat sambutan mereka yang penuh dengan ucapan dan tatapan meremehkan. Sungguh tak patut.
"Mereka sudah habis," kata Sung Han. "Benar, kan?" tanyanya kepada Nie Chi meminta kepastian.
Pemuda itu mengangguk. "Seharusnya. Bahkan ronin pimpinan mereka pun sudah binasa."
"Hahaha, bagus. Kini biarlah terbuka mata mereka bahwa para pendekar bukan hanya tukang rusuh," Gu Ren berseru. Kemudian bangkit dan menjura. "Kalau begitu, seharusnya tugas kami di sini sudah habis."
Sung Han dan yang lain pun ikut berdiri pula, kemudian menjura. "Kami pergi," ujar Sung Han singkat.
Tanpa menanti jawaban, lima orang Raja Dunia Silat generasi dua pergi meninggalkan ruangan itu dan menghampiri pasukan mereka untuk bersiap menghadapi tugas berikutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG