
"Kenapa kau menolong aku dengan membahayakan dirimu sendiri?"
"Mengapa tidak? Tidak boleh? Aku mengenalmu sebagai orang yang hendak membunuh Jin Yu, orang yang sudah meratakan perguruanku. Aku hanya membalas budi."
Sung Hwa hanya diam mendengar itu, dengan langkah pelan-pelan dia berjalan tak tentu arah. Mukanya pucat dan kepalanya selalu menunduk. Rambutnya awut-awutan.
Hampir saja dia bunuh diri tepat setelah bangun dari pingsannya jika Kay Su Tek tidak cepat-cepat bertindak menotok lumpuh tubuhnya. Setelah tenang, barulah totokan itu lepas dan dia diajak pergi.
"Lagipula, kita senasib. Aku kehilangan guruku, dan kau kehilangan dua saudaramu itu." ujar Kay Su Tek kemudian dengan lirih hampir tak terdengar.
Sung Hwa hanya menanggapi itu dengan dengusan singkat. Dia membenarkan omongan pemuda itu. Bahkan dia berkata setelah beberapa saat.
"Memang dunia ini tidak adil. Hanya karena aku keturunan orang jahat, semua nasibku selalu sial. Tak ada yang baik. Entah nasib pahit apa lagi yang menungguku di depan sana."
Kay Su Tek menoleh cepat, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju. Setengahnya terkejut mendengar bahwa gadis itu keturunan orang jahat, namun tak ia hiraukan dan berkata, "Bukan dunia yang tidak adil, melainkan ini sudah takdir kita."
"Lalu kenapa harus kita!!? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini!!?" bentak Sung Hwa dengan suara keras. Kay Su Tek menghela napas dibuatnya.
"Jika orang lain yang mengatakan itu padamu, kau akan jawab apa?"
Mulut Sung Hwa membuka, tapi tak ada satu pun kata yang terdengar. Dia tak mampu membantah. Akhirnya Sung Hwa kembali menunduk dan merenung, berjalan asal melangkah saja.
Entah berapa lama mereka dalam keheningan itu, tiba-tiba Sung Hwa berkata, "Kenapa kita pergi bersama?"
"Setidaknya kita akan keluar dari Pegunungan Tembok Surga ini bersama-sama. Kau hendak ke utara atau selatan?"
Ingin ia menjawab selatan, tapi teringat akan kematian dua kawannya itu, dua temannya yang terakhir, hatinya perih. Jika tanpa Mi Cang dan Yu Nan Sia, pergi ke selatan hendak berbuat apakah? Dia seperti kehilangan arah saat ini.
Tiba-tiba teringatlah akan Sung Han, pemuda tampan bermata kuning teduh itu, terbayang wajahnya di depan muka Sung Hwa. Gadis ini mengepalkan tangannya, menggertakkan gigi-giginya. Dia menjawab.
"Utara."
"Bagus, kita satu tujuan. Marilah kita ke utara."
Akan tetapi baru juga selesai ucapan ini, tiba-tiba mereka mendengar suara tangis dari arah belakang. Serentak Kay Su Tek dan Sung Hwa menoleh dan saling pandang. Jika arahnya dari belakang, seharusnya mereka sudah melewati tempat itu. Tapi kenapa tadi tidak terlihat satu pun manusia? Bahkan yang sedang menangis?
Seperti dikomando, keduanya berbalik dan berjalan mengikuti ke mana suara tangis itu berasal. Kiranya suara itu terbawa angin, asalnya dari arah barat sana, sedikit menurun di balik lembah.
Keduanya mempercepat langkah ketika di bawah lembah sana nampak seorang wanita yang menangis sesenggukan di samping mayat lelaki empat puluhan tahun. Begitu tiba di sana, Kay Su Tek menegur.
__ADS_1
"Maaf nona, mengapa anda di sini sendirian? Lalu, siapakah tuan gagah ini?"
Sedangkan Sung Hwa melihat sekitar. Di sana terdapat beberapa orang pasukan yang dia kenal berada di pimpinan raja. Mereka berjumlah belasan dan mati malang melintang dalam keadaan mengenaskan.
Wanita itu berbalik untuk menatap Kay Su Tek penuh tanda tanya, "Kau sendiri siapa anak muda?"
Kay Su Tek terkejut, kiranya orang yang dipanggil nona itu sudah cukup berumur. Dia mengira itu lebih muda darinya, tapi setelah melihat dari wajah yang sudah matang dan nampak dewasa, mungkin umurnya tak kurang dari tiga puluh tahun.
Kay Su Tek merubah panggilannya, "Nyonya, kami ini merupakan orang–"
"Panggil saja nona. Kau sudah benar dalam sebutan panggilanku, mengapa kau rubah? Aku belum kawin!" kata wanita itu sedikit tak suka.
Kay Su Tek salah tingkah dan kembali mengulang perkataannya, "Kami hanya orang lewat nona. Anda dan tuan ini siapakah?"
Wanita itu menangis lagi sambil memeluki jasad si lelaki tua. Sambil menangis seperti itu, dia bercerita secara singkat.
Ternyata dia ini adalah seorang nona dari sebuah keluarga bangsawan. Tadinya dia hendak pergi mengungsi ke utara menghindarkan diri dari pertempuran, tapi ketika memasuki Pegunungan Tembok Surga, mereka secara tak sengaja bertemu dengan manusia-manusia gunung yang sedang berperang.
Celakanya, rombongan mereka ikut kena dampak peperangan itu dan dibasmi oleh pasukan manusia gunung. Dia bersama pengawal setianya itu pergi melarikan diri. Namun saat pengawal itu melakukan penyelidikan, dia ketahuan oleh pihak manusia gunung dan diserang.
Ketika dirinya datang, pengawal itu sudah dalam keadaan sekarat dan tak lama setelahnya meregang nyawa.
"Lebih!" kata wanita itu cepat, "Bahkan dua ratus orang."
"Ahhh..." Sung Hwa baru teringat sekarang. Kiranya nona satu ini adalah bagian dari rombongan yang ia lihat dari atas bukit bersama Mi Cang dan Yu Nan Sia. Tak disangkanya dia dan Kay Su Tek akan bertemu dengan nona mereka.
"Kau hendak ke utara kan? Mari kami antar, kami juga hendak ke utara." kata Sung Hwa lagi.
Perempuan itu bangkit dan lekas menjura untuk menghaturkan terima kasih. Dia masih menitikkan air mata sungguh pun tak sebanyak tadi. Sambil terharu dia berkata.
"Terima kasih, tapi tidak perlu aku merepotkan kalian berdua sepasang kekasih. Biar aku pergi sendiri."
Wajah Kay Su Tek dan Sung Hwa mau tak mau memerah mendengar ini. Cepat-cepat Sung Hwa menunduk dan Kay Su Tek ambil alih.
"Kami hendak ke kota raja, mau ikut?" dia berbohong. Karena memang dia merasa khawatir sekali untuk meninggalkan seorang wanita sendiri di tengah hutan ini.
Wanita itu kelihatan kaget, kembali menjura dan berkata lagi. Kali ini tidak ada penolakan, "Kalau begitu aku akan merepotkan kalian berdua."
Kay Su Tek tersenyum lega. Dia dan Sung Hwa balas menjura. Lalu pemuda ini berucap untuk memperkenalkan diri, "Namaku Kay Su Tek. Sebelumnya, aku ingin mengatakan kalau kami hanya sahabat, bukan sebagai kekasih. Dan dia ini....."
__ADS_1
Ketika Kay Su Tek berhenti berkata karena belum mengetahui nama Sung Hwa, gadis itu sudah hendak memeperkenalkan diri. Tapi lebih dulu Kay Su Tek memotong.
"Namanya Songli."
Sung Hwa memandang tajam. Memang wajahnya itu mirip sekali dengan guru pemuda ini, tapi bukan berarti dia dapat mengganti nama orang seenaknya.
Kay Su Tek yang dipandang seperti itu, hanya mengedipkan sebelah matanya dan berbisik perlahan sekali.
"Kapan-kapan kita saling berkenalan."
Bahkan wanita itu tak mendengar suara Kay Su Tek ini.
Wanita itu tersenyum saat menjawab, "Sebelum itu, bisakah kalian berdua bantu aku menguburkan pengawal setiaku ini?"
Dengan cepat Sung Hwa dan Kay Su Tek menyetujui. Lalu wanita ini berkata lagi, "Perkenalkan, namaku Zhu Tiang."
...****************...
Walaupun bisa dibilang mengantar, tapi sikap pemuda itu amat aneh ketika tiba di desa terdekat dari Pegunungan Tembok Surga. Ketika di sana nampak banyak sekali pasukan pemerintah, Kay Su Tek berubah raut wajahnya.
"Kau kenapa?" tanya Zhu Tiang. Sedang Sung Hwa mengerutkan kening karena sudah bisa menebak isi pikiran pemuda itu.
"Ah...tak apa-apa." jawab Kay Su Tek, tapi dia berkata lagi, "Aku harus segera menemui seseorang di dekat desa ini. Kalau begitu kita harus berpisah di sini. Nona Zhu dan Songli, aku pamit." katanya dengan wajah tidak enak. Dia memandang pasukan pemerintah itu beberapa saat kemudian sebelum benar-benar pergi.
Seperginya dia, Zhu Tiang bertanya, "Dia kenapakah?"
Sung Hwa menjawab, "Dendam kesumat. Mungkin?"
Zhu Tiang mengerutkan kening, perasaannya tidak enak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Sepasang Pedang Gerhana...
...Cerita Sampingan : Dendam...
...Selesai...
BERSAMBUNG
__ADS_1