Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 77 – Timbul Dendam


__ADS_3

"Apa, jadi dia itu Sung Han!? Kenapa tidak bilang sialan!!??"


Sung Hwa menampar kepala Yu, hanya menampar akibat kesal saja, tak ada niat memecahkan kepala orang itu. Matanya melotot tajam ketika kembali mengirim umpatan.


"Kau jangan bohong!!"


Melihat adik seperguruannya mengaduh-aduh sambil berjalan mundur perlahan, Mi segera maju dan berkata, "Kami tidak bohong. Pertemuan kami dengan dia tidak seberapa lama, tentu wajahnya tak banyak berubah. Ingatan kami masih tajam nona."


Mendengar penuturan yang sungguh luar biasa itu, yang mengatakan bahwa Sung Han adalah seseorang yang baru saja bentrok dengannya, membuat Sung Hwa panas dingin. Antara bingung dan penasaran. Ternyata orang yang dicari-carinya itu dan diharapkan sudi menolong, justru malah sosok pembantai perkumpulannya.


Sung Hwa memandang ke arah mana Sung Han tadi pergi dengan tatapan aneh. Tangannya masih terkepal dan tubuhnya makin lama gemetaran. Yu dan Mi melihat ini tak ada nyali hanya sekedar untuk bergerak.


"Setan!!"


"Braaakk!!"


Kakinya bergerak menendang dan satu tembok bangunan kecil roboh.


"Lupakan soal Sung Han!! Sekarang akan kubunuh dia!! Dia yang telah menghancurkan Hati Iblis!!" katanya dengan kemarahan meluap-luap.


Ketika Yu hendak membantah, seniornya telah memegang pundaknya. Dia tidak menghendaki akhir yang buruk baik bagi diri sendiri atau juniornya, maka Mi lekas berkata.


"Biarlah, kita mengikut saja." bisik Mi ke dekat telinga Yu. Ketika Sung Hwa berjalan menuju pintu gerbang, dua orang ini hanya mengikut saja.


...****************...


Selepas perginya Sung Hwa bersama dua orang kepercayaannya, para pelayan dan koki yang tadi meringkuk ketakutan dan hanya melihat dari jauh baru berani keluar. Dengan wajah pucat dan perut mual, mereka memandangi tumpukan mayat dan darah di tempat itu.


Koki gemuk yang dijuluki babi galak itu maju dan berseru, "Mampuslah kalan!! Karma sudah diturunkan!!" ucapnya tanpa rasa takut.


Tak berselang lama, nampak bayangan putih berkelebat yang tahu-tahu telah berdiri di sana. Gerakannya sungguh luar biasa dan macam setan saja, tiba-tiba datang tanpa suara. Semua orang terkejut dengan ngeri, menyangka orang itu adalah orang Hati Iblis atau pemerintahan yang masih selamat. Namun si babi galak sudah sadar lebih dulu dan menjatuhkan diri berlutut.


"Kami merasa girang dan bersyukur sekali tuan muda dapat selamat. Kiranya Petaka Para Pendekar itu tak cukup untuk menghilangkan nyawa anda." ucapnya hormat. Mendengar ini semua orang tersadar dan cepat berlutut pula.


"Aku juga merasa bersyukur sekali kalian bisa selamat. Mana anak-anak lain?" tanya Kay Su Tek. Mencoba berpikir kalau murid-murid Perguruan Awan telah dikurung di satu tempat.


Wajah mereka tampak sedih dan memucat. Babi galak kembali yang harus menjawab, "Tidak ada yang tersisa tuan. Hanya anda seorang yang masih hidup di antara para pendekar Perguruan Awan."


Hati Kay Su Tek terasa tertusuk dan disayat-sayat. Ia masih punya satu harapan sungguhpun tidak masuk akal. Kembali dia bertanya kepada koki itu.

__ADS_1


"Ayah dan ibu?"


Babi galak dan mereka semua tak dapat menahan kesedihan lalu menangis menjadi-jadi. Dari yang sebelumnya berlutut, mereka menjadi sujud penuh rasa takut di hadapan Kay Su Tek. Pemuda itu hendak membangunkan mereka namun urung saat mendengar suara babi galak.


"Mereka telah meninggal tuan, maafkan kami yang telah lalai."


"Ceritakan!" perintah Kay Su Tek.


Babi galak tak ada alasan untuk menolak, dia menceritkan dengan singkat namun cukup jelas. Begitu selesai, Kay Su Tek mengeluarkan pekik mengerikan dan berkelebat cepat sekali. Detik berikutnya, Pedang Gerhana Bulan sudah tercabut untuk mencabik hancur tubuh mayat-mayat itu.


"Bajingan kalian semuaaaa!!" teriaknya mengerikan sambil terus menghancurkan mayat-mayat itu. Api kemarahan dan dendam meluber keluar begitu mendengar perlakuan terakhir mereka terhadap ayah bundanya. Kay Su Tek berubah jadi seperti orang gila.


Para pelayan dan koki, tak kuasa melihat itu semua dan hanya mampu menangis. Semua telah berlalu, tapi jelas kenangan pahit itu tak akan dapat dihalau pergi dari hati masing-masing. Dendam mereka terhadap pangeran Chang Song Ci berkumpul menjadi satu. Dan tak ada satu orang pun yang dapat menanggung beban ini kecuali pendekar bertangan tunggal itu.


...****************...


Sung Han kena diakali orang. Dan itu pun tidak ia sadari sampai saat ini, sehingga pemuda itu hanya dapat mengumpat dan memukul-mukul pohon sebagai bahan pelampiasan.


"Bangsat!! Aku kehilangan mereka!! Jika dibiarkan bisa gawat!"


Kembali satu pohon roboh terkena pukulan ampuhnya.


Memang dua orang bertopeng perak itu tidak benar-benar pergi. Mereka berlari jauh seolah telah pergi dari sana, padahal diam-diam berbelok arah untuk masuk ke salah satu bangunan di pekarangan Perguruan Awan.


Sung Han sebenarnya ingin pergi melanjutkan perjalanan, tapi ingat akan perahu kakek Bu, mau tak mau dia harus mengembalikannya.


Dua orang bertopeng itu dilupakannya dan cepat Sung Han menuju ke tempat terpencil di mana perahunya diletakkan. Ia terkekeh geli saat melewati satu tempat di mana tadi dia ribut bersama Bu Cai, bahkan membantingnya.


Namun mulutnya mengeluarkan gerengan sebal ketika ia sampai di tempat perahu dan melihat seseorang duduk di sana.


Orang itu menoleh, dia memakai cadar. Namun dari tarikan matanya jelas orang ini sedang menampakkan senyum mengejek yang diarahkan padanya.


"Aku tahu kau bukan seorang yang lepas tanggung jawab. Perahu ini pasti tak akan pernah kau terlantarkan." orang itu berkata. Bukan lain Bu Cai adanya. Di tangan kanan dia memegang satu buah berwarna kemerah-merahan.


Begitu Sung Han datang, tangan kirinya melempar satu buah yang sama kepada Sung Han.


"Mengapa kau masih di sini?" Sung Han bertanya. Ia menyempatkan diri untuk duduk di pinggir rawa dan memakan buah itu.


"Menikmati suasana alam, sekaligus untuk mencarimu andai saja kau kabur tanpa mengembalikan dulu perahu ini." balas Bu Cai acuh.

__ADS_1


Pemuda itu mengeryitkan dahi, kedua alisnya seakan menyambung jadi satu. Dia berkata setengah mencibir, "Lihat dirimu, siapa di sini yang kabur tanpa pamit dengan pemilik rumah?"


Bu Cai terbatuk dengan wajah memerah.


"Tak bisa mengukur diri sendiri, kau pikir dirimu seorang dapat mengobrak-abrik tempat ini?"


Bu Cai hanya diam, namun duduknya mulai tak nyaman.


"Kau pikir aku akan mati?"


"Siapa yang mengkhawatirkanmu!!" Bu Cai tak dapat menahan diri dan memekik. Buah di tangan Sung Han jatuh perlahan akibat keterkejutannya.


"Siapa yang bilang kau khawatir padaku?" balas Sung Han tanpa dibuat-buat, benar-benar bingung.


Bu Cai salah tingkah dan suaranya hanya berhenti di tenggorokan. Batuk tiga kali untuk menghilangkan rasa gugupnya, ia mulai mendayung pergi.


"Sudahlah." katanya ketus.


Pemuda ini menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu naik pula ke atas perahu dan ikut mendayung.


...****************...


"Keadaan benar-benar rumit, Chang Song Ci itu, sebenarnya apa yang dia pikirkan?"


"Mendengar namanya saja sudah membuatku jengkel." ketus Bu Cai, "Jelas dia pemberontak!!"


"Tapi tak ada bukti!" tukas Sung Han keras. Khawatir kalau-kalau gadis ini kembali bertindak gegabah tanpa memedulikan sekitar, "Kalaupun benar, maka kita akan dianggap pemberontak karena menyerang dia tanpa bukti kuat."


"Biar!" gadis itu membandel, "Lagipula kita ditangkap sebagai pemberontak tak ada ruginya kan? Paling cuma mati, setelah itu habis perkara. Kalau kepala Song Ci itu dapat terpenggal, tak usah hiraukan lain-lain lagi."


"Gila orang ini!"


Wajah Sung Han sedikit memucat, ia khawatir kalau Bu Cai kembali bertindak nekat. "Sudahlah." katanya menyejukkan suasana, "Tak usah pikir itu lagi, lebih baik kau urus kakekmu."


Bu Cai menoleh, melihat Sung Han yang duduk di perahu lain, "Kau sendiri."


"Akan kucari kesalahan dari Chang Song Ci itu!" tangannya terkepal, matanya mencorong tajam mengeluarkan kilat-kilat mengerikan. Tak dapat dipungkiri, Bu Cai bergidik.


"Akan kucari bukti-bukti kalau dia memang pemberontak!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2