Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 46 – Bu Cai


__ADS_3

Sung Han dan Kay Su Tek hanya mampu melirik mereka dengan tajam dari kejauhan, perut mereka sedikit mual melihatnya. Sung Han yang tidak betah, berjalan menuju sungai dan minum air itu, sekalian membasuh muka.


"Mau kau apakan dia?" katanya tanpa menoleh pada Kay Su Tek. Ia lanjut membasuh muka.


Kay Su Tek melirik mayat Ki Yuan dengan tajam. Setelah beberapa saat, ia lalu menusuk punggung kakek itu dengan pedang dan mengangkatnya. Kemudian ia lemparkan menuju sungai.


"Bagus, iblis macam dia sudah mati pun tak patut diberi hati!" Sung Han mendukung perlakuan Kay Su Tek barusan. Ia memandang mayat itu yang kian menjauh.


"Semoga kau bisa melihatnya, Jin Yu!!"


Ia bangkit berdiri dan memutar badan, otomatis pandangannya kembali terarah kepada dua orang muda yang sedang saling peluk sejak sepuluh menit lalu itu. Kay Su Tek dan Sung Han cukup bosan dibuatnya.


"Ah...Chu'er...." rintih Coa Ow sedangkan hanya dibalas dengan isak tangis Fang Chu.


Sung Han menghampiri mereka dan mengetuk kepala masing-masing secara bergantian. Ucapannya sedikit ketus saat berkata, "Sudah tahu masih hidup dan selamat, perlu apa ditangisi. Bersyukurlah!" cercanya pada Coa Ow.


"Kau pun sama! Untuk apa menangis lagi setelah kau diselamatkan oleh dia?" katanya menunjuk perempuan yang seluruh tubuhnya terbalut kain kasar. Rambutnya riap-riapan menutupi muka.


Namun baik Coa Ow, Fang Chu bahkan Kay Su Tek, mereka semua hanya bengong memandang Sung Han. Bahkan memandang heran seolah tidak mengenal pemuda itu.


"Kau siapa?" refleks Fang Chu bertanya.


"Sung Han? Apa yang terjadi dengan wajahmu? Kau sebelumnya tidak setampan aku!" seru Coa Ow yang berhasil membuat panas hati pemuda ini.


"Apa yang kau lakukan sampai bisa merubah wajahmu seperti itu?" Kay Su Tek bergumam, antara kagum dan heran.


Memang Sung Han cuci muka tadi bukan tanpa alasan, ia hendak menghilangkan getah pohon yang ia gunakan untuk penyamarannya itu. Wajahnya sudah gatal-gatal karena terlalu lama memakai getah itu yang membuat kulitnya menghitam.


Dia menjawab sesingjat-singkatnya dan tak memedulikan pertanyaan apapun lagi terkait hal itu. Perhatiannya lebih tertuju pada perempuan yang sekarang masih rebah miring membelakangi mereka.


"Tuan muda, apa yang akan kau lakukan untuk bertanggung jawab?" tanya Sung Han sembari berjalan mendekati perempuan itu. Ia lalu mencabut selembar daun pohon yang lebarnya bisa menutupi satu wajah orang. Kemudian ia ikatkan daun itu di wajah si wanita guna menutupi hidung ke bawah. Menggunakan bantuan tali kecil yang entah dapat dari mana, sehingga daun itu berubah menjadi semacam cadar.


Semua ini dilakukan tanpa membalikkan tubuh si wanita, sehingga selain Sung Han, tak ada yang sempat melihat wajah itu.


"Kau tak menjawab pertanyaanku." Sung Han kembali berujar setelah berhasil menutupi wajah si wanita.


Seperti tersadar dari mimpi, Kay Su Tek terperanjat. Namun tak kunjung juga ia menjawab, justru agaknya pemuda itu larut dalam pikirannya sendiri.


Sebelum Kay Su Tek sempat buka mulut, perempuan itu merintih dan mulai membuka mata perlahan. Hal pertama yang ia lihat otomatis adalah wajah Sung Han yang menatapnya bingung.


Sontak matanya memerah dan tangannya membentuk cakar, lalu sekuat tenaga ia mencakar wajah Sung Han yang dalam jarak amat dekat itu.


"Eiitt!!" Sung Han mengelak dengan memundurkan tubuh atasnya.

__ADS_1


Perempuan itu sudah bangkit, begitu pula Kay Su Tek dan Coa Ow yang bersiaga. Sekilas lihat saja dua orang sabuk ungu dan emas ini sudah tahu kalau wanita itu bisa ilmu silat.


"Fang Chu.....Fang Chu....." mulutnya bergumam seraya matanya melirik sana-sini.


Kemudian matanya terfokus pada seorang wanita yang masih duduk bersimpuh di belakang Coa Ow, juga sedang memandangnya. Wanita bercadar daun itu hampir menangis di buatnya dan lari menubruk Fang Chu.


"Biarkan!!" seru Sung Han sambil menyambitkan kerikil ke pergelangan tangan Coa Ow yang tadinya hendak menebas pedang. Pedang itu jatuh dan tangannya lumpuh seketika.


Saat itu, Fang Chu dan wanita yang hanya mempunyai kain lusuh sebagai penutup tubuh itu sudah saling berpelukan sambil menangis. Membuat Coa Ow dan Kay Su Tek heran sekali, tapi tidak dengan Sung Han yang sudah menduga akan hal ini.


"Terima kasih....terima kasih sudah menjagaku, aku takut....." sayup-sayup terdengar suara Fang Chu di tengah isaknya. Wanita bercadar daun itu hanya membalas dengan anggukan.


Kay Su Tek dan Coa Ow memandang Sung Han dengan penuh pertanyaan.


"Dia ini salah satu korban setan itu, dan masih selamat. Sungguh beruntung luar biasa."


Setelah berkata, Sung Han berkelebat dan tahu-tahu di tangannya sudah memegang banyak buah yang entah dapat dari mana. Agaknya dari pohon sekitar.


Ia taruh buah-buahan tersebut di samping dua wanita itu dan berkata, "Makanlah."


Tapi yang menoleh dan mengambil buah itu hanya Fang Chu seorang, karena sudah sejak beberapa detik lalu, wanita bercadar itu sudah pingsan lagi bersandarkan bahu Fang Chu.


"Hei!!" Fang Chu kaget dan pucat wajahnya, ia goncang-goncangkan tubuh itu namun tak ada reaksi.


"Sekarang bukan waktunya untuk itu!!"


"Lalu untuk apa?"


"Dia dalam bahaya!" katanya menunjuk wanita yang sedang pingsan.


Sung Han memandang dingin, "Kubilang biar aku yang urus, aku tak mau siapa pun melihat wajahnya, takutnya hal itu malah membuatnya bunuh diri."


"Hah!?" jelas jawaban tak masuk akal itu membuat Kay Su Tek tambah jengkel. Namun yang lebih mengherankan lagi, adalah persetujuan dari Fang Chu.


"Tuan Sung Han benar, biar dia saja yang urus." katanya.


"Nah, cepat katakan bagaimana pertanggung jawabanmu!!" tuntut Sung Han tak sabar.


...****************...


Siang hari esoknya, Sung Han dapat melihat Kay Su Tek pulang ke markas dalam keadaan wajahnya yang sudah tak dikenali. Ia dipapah oleh Coa Ow yang juga babak belur. Agaknya Coa Ow tidak tega melihat keadaan tuan mudanya, karena itulah ia ikut "berkorban".


"Setidaknya kau berani membayar atas kesalahanmu. Yah...karena aku tak dirugikan, aku tak bisa berkomentar banyak. Tapi jika aku jadi korban, tentu kepalamu akan kubikin putus!" sarkas Sung Han.

__ADS_1


Namanya Bu Cai, wanita yang sebelumnya bercadar daun dan sudah diganti dengan cadar sungguhan itu hanya diam di belakang sana. Dia hanya membalas obrolan Fang Chu dengan singkat.


Jika membingungkan sebab musabab yang membuat dua orang muda itu babak belur seperti baru pulang dari medan perang, maka jawabannya adalah tentang "tanggung jawab" Kay Su Tek.


Seperti tadi malam, ia dituntut oleh Sung Han untuk bertanggung jawab. Maka dari itu tanpa ragu lagi ia datang ke desa Lonceng Perak dan sekitarnya untuk mengaku akan kesalahannya. Sebagai gantinya, ia siap dipukuli atau apapun itu jika saja ada orang yang ingin menuntut balas atas hilangnya putri atau cucu mereka.


Tapi wibawa Kay Su Tek terlalu kuat, namanya sudah dikenal di mana-mana, maka banyak orang yang menjadi segan dan hanya menangis mendengar itu. Tapi ada juga para jagoan kampung yang bisa sedikit ilmu silat, merasa marah sekali akan pernyataan itu. Orang-orang inilah yang membuat Kay Su Tek dan Coa Ow menjadi seperti itu.


Kay Su Tek yang sudah berjanji, dia tak melawan selama lawannya hanya menggunakan tinju saja. Maka setelah berhasil dipingsankan tiga kali di desa-desa sekitar markas, ia memutuskan untuk pulang.


"Kau tak khawatir, kekasihmu loh..." Sung Han menunjuk Coa Ow yang babak belur seraya melihat Fang Chu.


Namun gadis itu hanya terkikik geli. "Hihi, dia baik-baik saja."


Wajah Sung Han malah berubah tak enak, "Tuan mudamu hampir mati loh...."


"Biar." kali ini Bu Cai menyahut, tatapannya dingin menusuk. Kalau tak ada Sung Han di situ, kiranya Kay Su Tek mungkin sudah pindah alam.


"Bagaimana pun juga, dia termasuk korban penipuan Ki Yuan. Jika kau ingin membalas, maaf saja aku tak mengijinkan." kata Sung Han.


"Untuk apa? Masa depanku sudah hancur!! Kalau saja Fang Chu terlambat datang beberapa menit saja, aku sudah menggantung diri waktu itu!!" katanya tegas, "Jadi bagaimana pun juga aku sedikit tertolong oleh tuan muda ini!!"


Wajah Sung Han tampak prihatin, ia tahu apa yang dimaksud Bu Cai. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum misterius saat mengajukan tawaran menarik.


"Kau tak kuijinkan menuntut balas, tapi aku bisa membalaskannya untukmu." ucap Sung Han, "Rasanya sedikit mengganjal di sini mengetahui tuan muda Perguruan Awan telah mencelakakan banyak orang." lanjutnya menunjuk dadanya sendiri.


"Terserah mau kau apakan!" Bu Cai acuh.


Sung Han tersenyum makin lebar diiringi wajah Kay Su Tek yang makin sulit dijelaskan.


Sekali kibasan tangan, Coa Ow terpaksa menjauh terkena sambaran angin itu. Sung Han datang menghampiri dihiasi senyum aneh.


"Yah, ini tak akan sakit. Aku tidak serius, kalau kau sampai mati berarti salahmu sendiri."


Kay Su Tek memandang penuh keraguan. Tapi sebelum dia sempat berkata-kata, pandangannya sudah menggelap dan ia tak dapat merasakan tubuhnya lagi.


Kiranya tangan Sung Han sudah bergerak cepat meninju ulu hatinya yang membuat tuan muda itu pingsan sambil berdiri.


"Tuan muda!!" seru Coa Ow histeris.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2