Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 135 – Para Pemberontak


__ADS_3

"Capp-capp!"


"Sakit sialan!!!"


Gadis itu memekik nyaring begitu pundaknya tanpa disengaja kena serempet lemparan pisau-pisau lawan. Dia berlari menuju hutan menjauhi tembok kota raja itu. Dikejar-kejar oleh orang-orang golongan rimba persilatan.


Jauh di belakang, nampak belasan orang prajurit kekaisaran berpakaian lengkap ikut mengejar pula. Namun mereka sama sekali tidak mau terlalu dekat dengan si gadis karena maklum akan kepandaian orang muda itu.


Tiba-tiba gadis ini membalikkan tubuhnya, kelebatan merah dari kibaran jubahnya nampak mengagumkan ketika dia melompat tinggi. Lalu dari atas sana, tangannya berturut-turut menyambar ke bawah mengirim hawa pukulan hebat.


Belum juga turun ke atas tanah, kedua kakinya bergerak cepat ke kanan kiri dan berhasil mementalkan tiga orang pengepung sekaligus. Ditambah hawa pukulan dari atas tadi, maka sudah ada lima orang yang roboh.


Namun pada saat itu, prajurit kota raja sudah bergerak mengurungnya. Si gadis menjadi marah dan matanya melotot-lotot. Melirik ke kanan dan kiri untuk mencari jalan keluar, namun telinganya menjadi panas seketika saat mendengar orang berkata.


"Rajawali Merah, pemberontak hina!!"


Dengusan kasar terdengar dari hidung gadis itu ketika menoleh. Jarinya yang lentik menunjuk wajah orang itu seraya membentak garang, "Siapa itu Rajawali Merah? Kalian salah orang!"


"Kami bukannya salah, justru tepat sekali!" teriak seorang lain yang melemparkan gulungan kertas ke muka gadis itu. Si gadis cepat menangkap untuk melihat. Dia mengeluarkan pekik tertahan.


"Siapa yang berani melukiskan gambarku ini? Lalu apa-apaan dengan hadiah keping emas ini, apakah aku menjadi buronan!?"


"Sudah tahu jangan berlagak bodoh!"


Dua orang kaum pendekar membentak panjang pendek. Orang di sebelah kanan berlari dengan badan ditundukkan. Sedang orang di sebelah kiri berlari dengan dada membusung. Gadis itu heran sekali melihat perpaduan serangan dua orang ini.


Akan tetapi dia terkejut ketika sadar apa tujuan keduanya. Itu bukan lain yang sebelah kanan ingin menangkap pinggulnya, lalu yang kiri bertugas mengeksekusi. Entah itu memukul dada, leher atau kepala.


Si gadis menjadi makin marah, maka lalu ia mencabut pedang yang sejak tadi selalu tergantung di punggungnya. Sinar-sinar putih keperakan nampak bergulung-gulung disusul robohnya dua orang itu dalam keadaan mandi darah.


"Lepas anak panah!" seru seorang perwira dan mereka menjauh. Kemudian mulai menembaki dengan anak panah.


Mendengar nama julukannya, pastilah sudah dapat tertebak siapa adanya gadis ini. Dia bukan lain adalah Sung Hwa, putri Hati Iblis yang sedang melakukan perjalanan seorang diri menuju ke kota raja untuk menemui tuan putrinya. Putri Chang Song Zhu.


Namun di luar tahunya, ketika di desa kecil itu dia bersama Kay Su Tek mengamuk hebat, ternyata orang-orang itu telah memberi nama julukan kepada keduanya. Untuk Sung Hwa adalah Rajawali Merah, melihat gerakannga yang lebih berfokus pada kaki serta jubahnya yang merah.

__ADS_1


Beberapa waktu lalu, akhirnya dia sampai di kota raja yang amat ramainya. Ketika dia sudah lelah mengantre sampai tenggorokan kering, akhirnya tiba gilirannya. Namun ketika para penjaga melihat Sung Hwa, tiba-tiba mereka mengeluarkan kertas dan memandang kertas itu penuh perhatian. Lalu mereka membanding-bandingkan kertas itu dengan gadis yang akan masuk kota itu.


Salah satunya cepat berseru, "Dia Rajawali Merah!!"


"Pemberontak itu?"


"Serbu!!"


Ketika itu, atas perintah kaisar yang juga telah mengetahui tentang pemberontak Rajawali Merah dan Pendekar Tangan Satu. Maka dia memerintahkan sendiri untuk melakukan penjagaan ketat.


Yaitu dengan bantuan tokoh-tokoh persilatan yang telah menggabungkan diri dengan pemerintahan. Saat Sung Hwa datang pun, di pintu gerbang nampak banyak orang rimba persilatan yang ikut menjaga.


Maka dapat dibayangkan betapa repot dia menghadapi pengeroyokan itu. Walaupun kepandaiannya sudah tinggi sekali dengan penguasaan hawa sakti, tapi dia tak mau menambah musuh dengan membunuhi orang ini


Di sela-sela menghindari terjangan anak-anak panah yang luar biasa banyaknya, teringat ia akan peristiwa di desa bersama Kay Su Tek itu. Akhirnya dia dapat menduga mengapa dia dianggap sebagai pemberontak. Dia mencebik kesal.


"Merepotkan!"


Sekali renggut, dua buah anak panah berhasil kena tangkap dan dilontarkan kembali ke arah pemiliknya. Terdengar suara jerit kesakitan disusul robohnya dua orang ketika dua anak panah itu tepat mengenai pundak mereka.


...****************...


Mantel lebarnya itu berwarna hitam berkibaran tertiup angin yang berhembus dari arah gerbang kota. Jalannya demikian gesit menyelinap-nyelinap di antara hiruk pikuk warga kota.


Tanpa sengaja, ada seorang tinggi besar membawa pikulan yang entah berisi apa. Ketika tiba dekat dengan sosok berjubah, orang ini berbelok dan barang pikulannya menghantam tubuh di jubah.


Si jubah itu menahan suaranya untuk tidak mengaduh-aduh. Dia melihat ke arah gerbang kota yang masih ribut itu, buru-buru ia berjalan ke jalanan sepi untuk menyembunyikan diri.


Dia bukan lain adalah Sung Hwa. Setelah kabur dari pengejaran di gerbang kota, dia dapat menyelinap masuk dengan sedikit usaha lebih banyak. Lalu dia mendapat mantel itu yang entah menjambret dari mana, lalu berjalan berindapan di tengah jalanan kota.


"Sialan, kenapa pula aku menjadi pemberontak. Jelas sekali dua perwira itu yang salah!"


Ketika dia sedang muring-muring, dilihatnya di salah satu tembok rumah. Dia cepat mendekat dan melihat. Lalu setelah mengumpat panjang pendek, ia menyobek kertas itu dan diinjak-injaknya.


Itu adalah gambar dirinya sendiri lengkap dengan harga buronan. Ternyata dia benar-benar menjadi buronan!!

__ADS_1


Dia menjadi makin terkejut ketika melihat gambar buronan lain. Ia cepat melihatnya dan saking kagetnya, dia menutup mulut dengan kedua tangan.


Terlihat di salah satu kertas, nampak gambar seorang pemuda tampan yang sangat dikenal Sung Hwa. Di sana tertulis, Pendekar Tangan Satu. Itu adalah Kay Su Tek yang menjadi buronan pula.


Di sebelahnya, terdapat gambar seorang pemuda pula yang bahkan sedikit lebih tampan dari Kay Su Tek. Sung Hwa sudah kenal pula dengan orang ini, dia berseru.


"Sung Han...?"


...****************...


"Tuan putri, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."


Putri Chang Song Zhu yang sedang menikmati waktu santainya setelah menempuh berbagai macam marabahaya, mengerutkan kening dan tanpa menengok dia menjawab.


"Siapa?"


"Dia hanya menyebut dirinya Si Tabib Obat Merah. Dia berkata jika setelah melihat wajahnya, tuan putri pasti akan langsung mengenal."


Mendengar ini, putri itu mengerutkan kening untuk mengingat-ingat. Belum pernah dia mendengar orang berjuluk Si Tabib Obat Merah, apalagi bertemu. Siapa dia?


Akhirnya dia menyuruh pelayannya itu untuk mempersilahkan masuk. Ketika orang yang datang sudah tiba di ruangannya, ternyata dia memakai topeng.


"Engkaukah yang menjuluki diri dengan Si Tabib Obat Merah?" tanya putri itu sambil tersenyum tipis


Bukannya menjawab, orang itu justru menjatuhkan diri berlutut di kaki putri Chang Song Zhu sambil menangis sesenggukan. Hal ini tentu mengejutkan putri itu yang menjadi salah tingkah dan buru-buru menarik pundak orang itu.


"Ehh...nona, ada apakah?"


Gadis bertopeng itu membuka topengnya, saat itu putri memekik nyaring dan menutup mulutnya.


"Sung Hwa?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2