
BACA PESAN INI DULU!!!
Sedikit informasi kepada pembaca sekalian, bahwasannya di judul tertera tanda "[][][]", itu adalah simbol dari cerita sampingan. Jadi cerita ini merupakan sebuah cerita sampingan yang tidak terlalu terhubung dengan garis utama (entah di chap mendatang ada cerita sampingan lagi atau tidak)
Mulai dari chap ini sampai 115, saya katakan Sung Han TIDAK AKAN PERNAH muncul di cerita sampingan ini. Mengapa demikian? Nah, baca ini.
Cerita sampingan ini dibuat bukan semata-mata untuk memperbanyak chapter atau jumlah kata. Walau bisa dikatakan demikian sihπ
Tapi bukan berarti cerita sampingan ini sangat tidak penting sama sekali. Tergantung siapa yang membaca, bisa jadi penting, bisa juga tidak.
Intinya, jika kalian adalah tipe pembaca yang tidak mau melwatkan satu pun chapter, maka bisa baca cerita sampingan ini mulai dari chap 105 sampai 115. Tapi buat kalian para pembaca yang hanya ingin fokus ke jalan cerita utama, maka bisa lompat ke chap 116.
Hanya cerita sampingan bukan berarti cerita ini tidak nyambung dan tidak penting, justru penting untuk melihat dan mengetahui alasan dari perubahan sikap si pemeran utama dalam cerita sampingan ini. Tapi jika tidak membaca cerita sampingan ini pun, tetap akan nyambung.
Jadi buat kalian yang mau skip, silahkan skip. Saya akan usahakan agar cerita tetap nyambung dari [Bagian : 3] dengan atau tidak membaca cerita sampingan ini.
Terima kasih, selamat membacaππ
...----------------...
Pangeran Chang Song Jue, pemuda tampan berumur dua puluh lima tahun itu menampakkan ekspresi pahit tatkala mendengar laporan salah satu pengawal ayahnya. Putra mahkota ini demikian terkejut sampai dia menjatuhkan secawan teh hangat yang tadi sudah dipegang hendak diminumnya.
"Kau cukup menganggu pertemuan dengan putraku yang baru saja dimulai. Tapi tak apalah, masalah itu amat pentingnya. Kau boleh pergi." Chang Song Bian, lelaki berusia kurang lebih enam puluh tahun itu mengibaskan tangan menyuruh pengawalnya pergi.
Setelah perginya pengawal dan pintu tertutup, seorang pelayan lekas menghampiri tempat Chang Song Jue untuk membersihkan pecahan gelas keramik itu. Sedang seorang lagi mengambil gelas baru dan menuangkan teh dari wadah ke dalamnya.
"Bisakah kalian keluar sejenak, aku hendak bicara penting."
"Baik Yang mulia." jawab lima orang pelayan di ruangan itu. Kemudian berturut-turut mereka pergi dari sana.
Setelah menyisakan dua orang itu, keadaan menjadi sunyi. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kaisar yang awalnya mengundang putra mahkota hanya sekedar untuk mengobrol, urung karena surat dari putrinya yang dibawa oleh pengawal tadi.
Kaisar meletakkan surat itu di atas meja, dan membiarkan putra mahkota membacanya.
"Bacalah sendiri surat dari kakakmu."
Pangeran Chang Song Jue menurut dan mengambil kertas itu. Lalu dibacanya dan hatinya makin tak enak.
"Ayahanda kaisar, kekaisaran Jeiji sudah datang menyerbu selatan. Mereka datang dari arah timur dan kali ini sudah menguasai seluruh pelabuhan timur kami. Mereka sedang melakukan perjalanan menuju ke kota Emas. Harap ayahanda kaisar suka mengirim bantuan."
Setelah membacanya, ia letakkan kembali kertas itu di atas meja. Menghela napas berat dan berkata, "Mereka cukup pendendam ya..."
"Entah apa yang membuat mereka kembali. Apakah daratan kita semenarik itu?"
"Ratusan tahun silam, Perang Sejarah terjadi dan dimenangkan setelah membuat lautan darah. Apakah kali ini, Perang Sejarah akan menginjak tahap ke dua?" gumam putra mahkota itu seolah kepada diri sendiri.
"Bertahun-tahun lalu, sejak aku masih muda sampai sepuh seperti sekarang, aku selalu sibuk memberantas pemberontakan. Dan baru kali ini lah aku merasa sedikit tenang. Tapi kali ini....hah, rasa-rasanya rambutku akan makin habis untuk memikirkan semua itu." kata kaisar sembari mengusap-usap kepala botaknya. Yang di mana pada bagian atas, rambut putihnya sudah tak dapat tumbuh lagi.
Setelah itu kembali keheningan yang cukup lama menemani keduanya. Setelah habis satu teko teh hijau itu, Chang Song Jiu berkata.
__ADS_1
"Ayahanda, apakah anda akan mengirim bantuan untuk kakak?"
Kaisar itu mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya, "Tak ada pilihan lain. Bersamaan dengan itu, akan kuberi titah padanya agar pulang ke mari. Biarkan di sana dipimpin oleh jenderal Hong Ciu."
Putra mahkota itu mengangguk-angguk, tapi keningnya berkerut. "Saya tak punya pendapat apa-apa. Hanya saja, saya sedikit khawatir dengan kakak Song Ci?"
"Mengapa pula dengan itu?"
"Kabar yang beredar..."
"Cukup! Jangan biarkan segala macam rumor itu memengaruhi pikiranmu. Itu hanya rumor yang tak tahu benar salahnya. Jika dia memang pemberontak, pastinya akan kubasmi. Tapi selama tak ada bukti, itu tak mungkin terjadi."
Pangeran Chang Song Jiu hanya diam saja, tak bisa menjawab dan memang tak mau. Tapi di dalam hati, dia merasa khwatir sekali akan dua anak selir itu. Disamping kekhawatirannya dengan keributan yang akan datang, juga khwatir jika pangeran Chang Song Ci akan menargetkan dia selaku anak sah dari permaisuri.
...****************...
Kuda itu melaju cepat sekali. Sungguhpun si penunggang berubuh tinggi tegap lengkap dengan zirah perang besi yang berat, namun hewan tersebut seolah tak merasa keberatan dan terus berlari. Benar-benar kuda tangguh.
Orang ini sudah menderita luka di pundak. Zirah pada pundaknya itu sudah hancur. Beberapa kali dia menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Tak nampak adanya ketakutan, lebih condong ke arah kekhawatiran.
"Aku harus cepat-cepat beritahu tuan putri..."
Sampai senja datang, akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat di salah satu danau yang ada di hutan itu. Ia melepas helm besinya. Saat itu barulah nampak rambutnya yang sudah berwarna dua, orang ini tak mungkin kurang dari empat puluh tahun.
Ketika dia menunduk untuk mengambil air danau dan membasuh muka, keningnya berkerut ketika insting perangnya merasakan ada bahaya datang. Namun dia berusaha untuk tetap tenang.
Saat sudah mengambil segenggam air, dari pantulan air itu nampak kelebatan bayangan hitam di atas kepalanya. Disusul kilauan senjata pedang lengkung panjang.
Orang ini membalik dan menyambarkan air digenggamannya itu pada si penyerang gelap. Disertai aliran tenaga dalam, air itu berubah menjadi panas dan mrndidih, jika terkena wajah bisa membuat kulit melepuh. Sambil berlaku demikian, orang ini menggelinding ke kiri.
"Happ!!"
"Sraatt!!"
Dengan mudah saja cipratan air itu dibelahnya, lalu pedang lengkung itu terus menyambar turun. Sayang sasarannya sudah menghindar dan serangan itu hanya mampu mengenai tanah kosong.
"Memang hebat jenderal dari kekaisaran Chang, sangat kuat."
Terdengar suara memuji dari arah belakang. Kiranya dia adalah pria seumuran jenderal itu bersama dua orang lain. Di pinggang mereka ada sebatang pedang panjang yang bentuknya sedikit melengkung.
"Orang-orang Jeiji yang arogan, kekalahan beberapa abad lalu tidak cukupkah memberi pelajaran?"
"Hahaha...." orang itu tertawa lepas. Lalu melanjutkan, "Orang-orang Chang yang sombong, kemenangan tipis beberapa abad lalu tidak cukupkah membuat kalian sadar diri?"
"Harusnya kalian yang sadar diri!!"
"Hahaha...apa maksudmu? Tanpa bantuan Pendekar Hantu Kabut bersama istrinya, juga si tua Pengelana Tanpa Bayangan, Sastrawan Sakti, serta tokoh-tokoh kosen lain, apakah kalian dapat menang menghadapi kami? Itu semua tak lain disebabkan oleh ulah tokoh-tokoh pendekar legenda itu. Apakah kau tak pernah belajar sejarah?"
Jenderal ini menggertakkan giginya menahan amarah, dia membentak, "Mereka masih rakyat Chang!!! Sudah kewajiban untuk membela negara!"
__ADS_1
"Hhhh..." orang itu mendengus dan mencabut pedangnya, diikuti dua orang lain. "Lekas bunuh lalat satu ini!" perintahnya.
Maka empat orang itu cepat mengurung dan menyerang dari segala sisi. Jenderal ini telah mencabut goloknya dan diamainkan sedemikian rupa. Hebat sekali, kiranya dalam keadaan terluka dia masih bisa menahan gempuran empat orang lihai itu.
"Hiyaaatt!!"
"Trang-trang!"
Dua kali tebasan, dua kali sinar terang bergulungan, dua batang pedang terlempar ke udara. Dua orang itu terkejut juga, namun mereka lebih terkejut ketika pedang jenderal ini sudah melakukan gerakan membacok.
"Haiit!!"
"Aughh!!"
Jenderal itu menjerit kesakitan ketika pedang di tangan pimpinan mereka, berhasil menggores pundaknya yang terluka. Alhasil bacokannya gagal total dan dia melompat mundur untuk menyelamatkan diri.
Jenderal ini melirik pundaknya beberapa saat dan dia menotok beberapa bagian untuk menghentikan pendarahan. Lantas dia berdiri lagi.
"Pantas untuk jadi pahlawan, namamu harus dikenang sepanjang masa." kata pimpinan mereka. Dan ini murni berasal dari hati nurani yang penuh kekaguman.
Dia menerjang maju lagi, mengarahkan pedangnya ke dada jenderal itu yang agaknya sudah tak mampu menghindar.
Jenderal ini hanya dapat memejamkan mata karena terlalu banyak pendarahan di pundak, membuat ia lemas dan sulit bergerak. Dalam keadaan berlutut itu, dia sudah tak mampu melawan.
"Trangg!!"
Jenderal itu terkejut sampai membuka matanya lagi. Kupingnya tidak tuli dan sangat tajam untuk mendengarkan suara tangkisan keras barusan. Lawannya tadi melompat mundur dan nampak tangannya gemetaran. Tiga orang lainnya sudah memasang sikap kuda-kuda penuh.
"Pengemis-pengemis busuk, mengapa kalian mengacau!!?"
"Hah...!??" lelaki paruh baya, mungkin baru berumur awal empat puluhan, berdiri seenaknya dengan sikap seperti orang tolol. Dia sedikit bungkuk dan natanya sayu.
"Kalianlah yang mengacau, kami dari perkumpulan Bunga Teratai hanya melakukan tugas berupa bela negara." dia menoleh ke arah jenderal itu yang sudah ditolong dua kawannya, "Jenderal, cepat selesaikan urusanmu. Kalian berdua, kawal dia sampai tujuan!"
"Baik!" dua orang itu membantu jenderal ini dan segera pergi dari sana. Meninggalkan kudanya yang memang sudah lari ketakutan sejak tadi.
Pengemis bongkok tadi kembali memandang empat orang lawannya. Sikapnya amat menjengkelkan dan membikin darah tinggi.
"Nah, tak lekas pergi?"
"Hei pengemis Bunga Teratai, apakah kau tidak terlau arogan menantang kami berempat?"
"Apakah kalian tak cukup sombong untuk menantangku hanya dengan berempat?" balas pengemis itu acuh tak acuh. Ia menggerakkan ranting kayunya yang tadi digunakan menangkis untuk menggaruk-garuk lututnya.
"Tuan, dia ini..." kata salah satu orang Jeiji itu yang agaknya kenal dengan si pengemis. Serentak tiga orang lain memandangnya penasaran.
"Dia siapa?" tanya pimpinannya.
Dengan wajah pucat, orang itu menjawab, "Melihat ciri-cirinya, kalau tidak salah dia yang dijuluki sebagai Macan Teratai Putih!"
__ADS_1
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
BERSAMBUNG