Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 60 – Celaka, Pantas dan Untung


__ADS_3

Kay Su Tek termangu sejenak memandangi tulisan itu. Bukannya apa, melainkan dia heran mengapa pula tak boleh bawa senjata ke dalam? Memangnya ada apakah? Pertanyaan-pertanyaan ini sama sekali tidak menemukan jawaban bilamana dia tidak mencoba membuktikannya sendiri.


"Ah, siapa peduli." gumamnya acuh dan lanjut berjalan seolah tidak melihat tulisan-tulisan sebelumnya.


Tapi setelah beberapa tombak berjalan, ia mengeurtkan keningnya dalam. Matanya menyipit tajam seolah menemukan sesuatu entah apa itu.


Kay Su Tek lantas berbalik dan kembali ke tempat semula, ia teringat pada tulisan pertama untuk menjaga sopan santun. Bukannya ia takut dengan penghuni goa ini jika memang ada, hanya saja dia merasa sungkan.


Maklum bahwa tempat ini tentu bukan buatan alam melainkan karya seni manusia sakti, Kay Su Tek tak berani bertindak sembrono. Diam-diam ia mencela diri sendiri yang hampir saja berlaku lancang di tempat orang.


"Maafkan si bodoh ini..." ucapnya di depan tulisan terakhir itu seraya berlutut dan menunduk dalam. Kemudian ia kembali bangkit dan berlalu pergi.


Keadaan di dalam sini masih sama seperti sebelumnya, sunyi senyap tanpa suara sedikit pun kecuali langkah kakinya sendiri. Penerangan berasal dari obor di kanan-kiri itu juga tidak bergerak jika saja ia tidak lewat dan menimbulkan angin ringan di sana.


Setelah beberapa waktu, sampailah ia di sebuah pertigaan. Kay Su Tek memerhatikan papan tulisan yang terpampang tepat di tengah pertigaan.


"Pilih salah satu dan bawa keluar apa saja yang ada di sana. Dengan satu syarat, kau harus bertanggung jawab!"


Kay Su Tek tentu saja bingung, ia bahkan tidak tahu tempat apa ini dan sekarang disuruh memilih. Tentu saja pilihannya kali ini hanya berdasarkan firasat tak berdasar, ia pilih jalan ke kiri.


Beberapa tombak berjalan, ia menemukan tulisan di dinding kanan yang ditulis pada lempengan kayu kualitas tinggi.


"Pantaskah kau ke mari?"


"Hah, apa maksudnya?" Kay Su Tek heran sendiri membaca tulisan itu. Tak hanya heran, ia malah merasa seperti diejek oleh lempengan kayu tak bernyawa itu, "Mari kita buktikan!" katanya tegas dan terus melangkah maju.


Sekitar sepuluh langkah, ia hampir mengumpat jika saja tidak ingat pesan untuk menjaga sopan santun di tulisan pertama tadi. Kembali Kay Su Tek menemukan lempengan kayu bertulis huruf-huruf indah.


"Ini ujian, kau pantas jika di tanganmu tiada senjata dan di tubuhmu tiada penolakan."


Tak memedulikan hal itu, Kay Su Tek terus melangkah. Tapi diam-diam ia terus waspada dengan mengedarkan tenaga dalam melindungi seluruh tubuh.


Sampailah ia di suatu ruangan yang cukup lebar. Terkejut juga hatinya mengetahui perubahan ukuran ruang yang begitu tiba-tiba.


Kali ini, cahaya obor tak hanya berasal dari dinding, melainkan ada juga yang menggantung di langit-langit. Refleks dia mendongak untuk menatap obor di atas itu dan matanya segera terbelalak mengetahui ukiran halus di batu itu.


"Kau akan untung jika kau celaka, dan kau akan celaka jika kau untung."

__ADS_1


"Apa maksudnya??"


Belum juga rasa penasarannya hilang, hidungnya tiba-tiba mengendus bau amis yang kuat sekali. Insting mengatakan ada bahaya besar di sekitar. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan banyak sekali lubang-lubang kecil di sekeliling ruang itu, wajahnya memucat.


"Sial!" ia putar balik ketika dari lubang-lubang itu keluar asap putih kusam yang menyebarkan bau aneh. Tapi betapa kaget ia ketika tubuhnya berbalik, tempat masuk tadi sudah lenyap, seolah di sana memang tidak ada jalan.


Kay Su Tek lantas mengucek matanya beberapa kali untuk melihat apakah dia memang salah lihat. Tapi nihil, hasilnya sama saja.


"Apa....apa yang terjadi?" dia menjadi linglung dan bergumam seperti orang mengigau.


Saat itu, dari lubang-lubang sana muncul banyak sekali ular berbentuk aneh. Warnanya hitam pekat dan matanya merah darah, dari mulutnya menyembul keluar dua taring tajam berwarna keemasan. Sedangkan asap itu keluar dari hidung mereka.


Kay Su Tek baru sadar akan hal ini ketika ada satu ular yang sudah melilit kakinya. Ia berteriak ngeri dan cepat mengerahkan tenaga memukul si ular.


"Buggg!"


"Ahhh!!"


Kay Su Tek berteriak kesakitan ketika ular itu dengan gesit menghindari dan tanpa dapat dicegah lagi tinjunya bersarang pada betis kanan. Yang lebih aneh lagi, seharusnya ia merasa jauh lebih sakit dari ini karena Kay Su Tek sadar benar tadi kepalannya sudah teraliri tenaga dalam.


Walau tanpa tenaga dalam sekali pun, tinju dan tendangan seorang pendekar sepertinya sudah lebih dari cukup untuk membuat kepala sapi retak dan perut gajah berguncang. Sehingga hanya ular-ular kecil panjang itu dapat diatasi oleh Kay Su Tek walau kesulitan sekali.


Ia merenggut satu ular dan digunakannya sebagai pecut yang menyambar-nyambar. Banyak sekali ular tewas di sekelilingnya, tapi seakan tak pernah habis, dari lubang-lubang itu terus bermunculan.


Sampai beberapa menit atau bahkan mungkin jam, ular-ular itu belum juga menunjukkan tanda-tanda punah dari ruangan ini. Mereka terus bermunculan dan seolah tidak pernah berkurang satu pun.


"Keparat!!!" ia mengumpat sembari menyabet tujuh ekor ular yang melompat padanya. Ketika tujuh ekor itu jatuh, tanpa sengaja ia melihat satu lubang besar seukuran tubuhnya yang sama sekali tidak mengeluarkan ular atau asap. Jika saja dia berjongkok untuk melewatinya, tentu akan muat.


Kay Su Tek girang sekali mengetahui hal ini, cepat ia bergerak ke arah lubang itu sambil tangannya terus bergerak lincah membabati ular-ular itu.


"Masih ada kesempatan, lubang itu pasti jalan keluarnya!" serunya girang dengan mata memerah, "Aku harus keluar....aku pasti bisa keluar!!"


Perlahan, dirasakan tenaga dalamnya perlahan mulai kembali. Ia berseru semakin girang dan gerakan pecut ularnya makin hebat. Meliuk-liuk untuk mengirim sambaran angin badai luar biasa. Semakin girang lagi ketika ia merasa bekas-bekas gigitan ular itu makin lama makin hilang.


Seiring berjalannya waktu, lukanya seperti tidak ada dan tubuhnya segar bugar tanpa rasa sakit.


"Hahaha, kiranya penghuni tempat ini hanya pandai menggertak!!"

__ADS_1


"Bressss!!"


Puluhan ekor ular terbang terkena terjangan hebat pecut ular Kay Su Tek. Kurang lima langkah lagi ia sampai di lubang itu.


Tiga langkah....


Dua langkah....


Satu langkah.....


"Eh...?" Kay Su Tek menyadari sesuatu.


Ia teringat pesan di langit-langit ruangan ini, kembali ia memandang ke atas sana.


"Kau akan untung jika kau celaka, dan kau akan celaka jika kau untung."


Keningnya mengernyit, tak dipedulikannya keroyokan ular aneh itu yang makin lama semakin tidak sakit gigitannya.


Lalu ia teringat dengan pesan sebelumnya, "Ini ujian, kau pantas jika di tanganmu tiada senjata dan di tubuhmu tiada penolakan."


Mengingat ini, ia bergumam tak jelas.


Lalu seperti orang tak sadar, dengan tatapan kosong Kay Su Tek kembali berjalan ke tengah ruangan. Kerumunan ular itu sudah mengerubungi tubuhnya kecuali pada bagian kepala.


Sampai di tengah ruangan itu, dia tertawa.


"Hahahahahaha.....!!!" tawanya menggelegar menggetarkan seisi ruang. Namun ular-ular itu seolah tak mendengar dan terus menyerang.


"Jika cara mendapat untung adalah dengan celaka, dan syarat pantasnya adalah menyerah, maka akan kulakukan!!" teriaknya lalu merebahkan diri di tengah hiruk pikuk desisan ular-ular itu, "Nah, aku menyerah dan akan celaka, mari kita....lihat.....bagaimana....."


Belum habis omongannya, pandangannya telah menggelap lebih dulu dan sebentar kemudian ia sudah tak dapat merasakan tubuhnya lagi.


Kesadarannya hilang total, di tengah tumpukan ular bergigi emas itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2