
Atas informasi yang diberikan oleh sastrawan itu pula, Sung Han jadi mengetahui di mana kira-kira letak putri Chang Song Zhu saat ini. Sastrawan itu berkata jika mereka berangkat dari desa paling dekat Pegunungan Tembok Surga. Desa yang sedikit ke arah barat sana.
Hari dia bertanya itu adalah tiga hari lalu, maka mungkin sekali saat ini putri Chang Song Zhu sudah melakukan perjalanan cukup jauh. Maka dia menuju ke kota Talas dan melanjutkan perjalanan ke utara menuju kota raja mengikuti aliran sungai Buaya.
Berhari-hari lamanya dia melakukan perjalanan dan pasukan pemerintah itu belum juga kelihatan. Pasukan penjemput putri, seharusnya nampak jelas karena pasti pasukan itu bukan pasukan kecil.
Untuk apa Sung Han hendak mencari putri itu? Hal ini disebabkan oleh dua hal.
Pertama adalah dia khawatir kalau-kalau para pemberontak berani membikin ribut dengan menghadang jalan putri itu. Ingin ia melihat dan memastikan sendiri bahwa pasukan itu memang bawahan pangeran Chang Song Ci.
Yang kedua adalah soal Serigala Tengah Malam. Tak menutup kemungkinan jika mereka melakukan pergerakan, mengingat nama mereka yang sedang naik daun, bisa jadi kali ini putri itu yang menjadi incaran.
Siang hari itu, dia sampai di satu kota kecil yang masih berada di pinggiran sungai Buaya yang amat panjang. Kota itu ia tahu bernama kota Sutra Putih. Satu kota kecil yang letaknya paling dekat dengan kota Zamrud, kota raja kekaisaran Chang. Seharusnya, hanya beberapa jam, paling lama setengah hari dari kota Sutra Putih maka akan sampai ke kota Zamrud.
Setibanya Sung Han di sana, dia melihat antrean panjang di pintu gerbang. Yang membikin keningnya berkerut adalah, mereka antre dalam keadaan geger. Membentak-bentak penjaga gerbang yang juga balas membentak untuk mengusir pergi mereka.
Entah apa maksudnya ini namun tak ada satu pun para pengantre itu yang berwajah ramah. Mereka nampak gusar dan tidak senang. Sung Han yang penasaran buru-buru berjalan ke barisan paling depan tanpa menghiraukan antrean itu.
"Apa-apaan ini? Kemarin kami bisa keluar masuk dengan bebas, mengapa sekarang dilarang?" bentak pria paruh baya yang disampingnya ada seorang wanita seumuran. Agaknya suami istri itu merupakan pedagang sayur-sayuran.
Penjaga gerbang itu dengan wajah lelah dan letih, namun juga jengkel, membentak, "Apa penjelasan kami yang sudah berulang kali itu tak cukup membuatmu paham? Sedang terjadi keributan di kota, ini demi semua orang!!"
"Memang keributan apa!?"
"Itu rahasia kami, orang luar tidak boleh tahu!!"
Dua orang itu masih terus berdebat dan berbantahan, Sung Han sudah mendengar sebagian dan dia lekas pergi. Pemuda ini sudah menyimpulkan garis besarnya, kemungkinan di kota ini sedang terjadi sesuatu yang sangat gawat sampai-sampai merahasiakan dari rakyat sendiri.
Dia berjalan ke tempat sepi di balik semak dan pohon-pohon. Setelah memandang ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada satu pun orang, Sung Han melompat cepat memanjat pohon di sebelahnya yang memiliki tinggi sampai lima belas meter lebih. Setibanya di puncak, dia bersembunyi di balik rimbunnya daun untuk menyamarkan diri agar tidak terlihat oleh penjaga tembok.
__ADS_1
"Tidurlah sebentar...." gumam pemuda ini dan mencuil ranting kecil. Kemudian dengan pergerakan pergelangan tangannya, ranting itu meluncur cepat menotok penjaga tembok itu dan membuatnya pingsan seketika.
Melihat ini dan setelah memastikan keadaan aman sekali lagi, dia melompat ke tembok kota itu. Lalu cepat melompat turun dan menyelinap di balik bayang-bayang bangunan. Setelahnya dia berjalan melalui gang-gang kecil di sela-sela bangunan kota itu. Ketika sudah tiba di bagian sedikit ke tengah dari kota, dia keluar dari gang dan bersikap seolah tak ada yang terjadi.
"Sebenarnya ada apa sih?" gumamnya masih dengan perasaan bingung sekali. Tak terkecuali para warga.
Terlihat di sana para tentara yang berlari hilir mudik tak karuan. Ada yang menunggang kuda ada yang berlari. Tapi jelas dari sikap mereka itu, para tentara ini sedang mencari sesuatu.
Dua orang pasukan belasan orang di depan sana saling bertemu, masing-masing pasukan dikepalai oleh seorang perwira berkuda. Begitu bertemu, dua perwira berkuda itu saling bertegur sapa.
"Bagaimana di sana? Ada tanda-tanda?"
Perwira satu lagi menggeleng lemah, "Tidak ada sama sekali."
"Baiklah, kau pergi ke arah lain, aku akan menghadap jenderal untuk melaporkan ini."
Kedua pasukan itu lalu berpisah, satu orang menuju ke arah Sung Han ini sedang satu lagi ke arah sebaliknya. Sung Han yang ingin menyelidik karena bermodalkan rasa penasaran, mengikuti ke mana perginya pasukan yang tadi berkata hendak melapor kepada jenderal.
Kiranya mereka tiba di sebuah gedung yang besar sekali. Ada bendera kekaisaran Chang berkibar di sana. Pasukan ini memasuki halaman dan si penunggang kuda masuk ke dalam bangunan setelah menitipkan kudanya kepada anak buah.
"Sial!!" Sung Han sedikit mengumpat karena mau tak mau harus menyusup ke dalam untuk menyelidik. Bisa saja dia menyelidik dari atas genteng, mencuri dengar. Tapi tidak terlalu efektif.
Dia memasuki halaman itu dengan cara mepet-mepet ke dinding. Untung di sana banyak terdapat pohon hiasan taman yang cukup membuatnya terlindungi. Begitu tiba di samping bangunan, hampir saja dia terpekik ketika mendengar suara orang di belakangnya.
"Siapa itu!!??"
Sung Han sudah siap dengan tinjunya. Namun dia bernapas lega setelah mengetahui maksud orang tersebut.
"Ah, kau mengagetkanku." kata perwira yang tadi membentak. Ternyata dia telah dikejutkan oleh kedatangan temannya yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Kau disuruh berjaga, tapi mana senjatamu!?" kata temannya itu menegur sedikit tegas.
Dia tertawa, "Siapa berani main gila untuk memasuki gedung ini dengan penyusupan? Bukankah sama saja dengan cari mati?"
"Tapi kau terlalu sembrono!"
Orang pertama itu kembali tertawa. Tapi anehnya, sedetik kemudian, tawa itu berhenti terlalu tiba-tiba disusul robohnya orang itu bersama kawannya yang menegur.
Tak berselang lama, di situ sudah berdiri Sung Han yang tersenyum jahil. "Hihi...maafkan aku."
Ia melucuti pakaian salah satu dari mereka dan memakai pakaian itu. Kemudian menyembunyikan tubuh keduanya di bawa jembatan taman.
Setelah dirasa aman, dia melompat ke atas genteng, membuka salah satu genteng dan melayang turun ke dalam gedung dengan amat ringannya. Setibanya di sana, dia bersikap biasa. Seolah dia memang seorang pengawal penjaga dalam ruangan ini.
Begitu masuk, dia memutuskan untuk berjalan secara acak saja, karena memang tidak tahu ke mana perginya orang yang diikutinya tadi. Hingga tak terasa, dia tiba di bagian tengah gedung yang di depan sana nampak dua tangga terpisah. Satu menuju kanan dan satu ke kiri.
"Terima kasih tuan, kalau begitu saya pergi dulu." ucap seseorang yang baru saja keluar pintu, membungkuk hormat dan pergi dari sana menuruni tangga.
"Itu dia!" batin Sung Han girang begitu mengenal bahwa orang yang baru keluar itu adalah orang yang tadi diikutinya.
Dia lalu menaiki tangga itu dan menyapanya ketika berpapasan. Saat orang itu sudah peegi jauh, Sung Han menuju ke ruang yang baru saja orang itu keluar tadi. Setibanya di sana, dia dikejutkan dengan suara orang
dari arah belakangnya sana, lebih tepatnya dari arah bawah tangga, terdengar suara langkah kaki manusia. Dia datang dari dalam bangunan, bukan dari arah di mana Sung Han tadi masuk.
Cepat pemuda ini memutar otak, menoleh ke sana-sini untuk menemukan jalan keluar. Beruntungnya di sebelah kiri sana terdapat jendela yang cukup lebar. Tanpa ragu lagi Sung Han melompat ke sana dilanjut merayap naik ke genteng bangunan ini.
"Hampir saja...." katanya menghela napas lega dan membuka tutup genteng di ruangan yang menjadi tujuannya tadi. Matanya langsung membeliak begitu mengetahui siapa orang yang sedang duduk di sana.
"Dia kan..."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG