Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 114 – Rencana Terakhir [][][]


__ADS_3

Semua orang diam dibuatnya. Pertempuran mendadak berhenti total tepat setelah terdengarnya suara seruan halus barusan. Mereka terlalu terkejut, heran dan bingung secara bersamaan ketika gadis cantik ini datang tiba-tiba.


Secara refleks, baik pasukan Chunglai maupun raja, menolehkan kepala menatap Sung Hwa. Lalu menatap gadis itu lagi dan menatap Sung Hwa lagi. Tindakan ini dilakukan berulang kali banyaknya, akan tetapi belum cukup membuat mereka semua percaya.


Masih dalam keadaan hening total, perempuan itu berkata lagi, "Kalian semua sudah mengenal aku. Pasti bingung untuk saat ini, tapi karena saudari kecil ini, akhirnya aku bisa melihat kenyataan."


"Nona...." ucap Chunglai dan raja itu bersamaan. Lantas keduanya berlutut dengan dada naik turun. Menahan isak yang sudah tak terbendung lagi.


Perempuan itu bukan lain adalah nona Songli yang asli. Yang disangka semua orang telah mati jatuh ke jurang lima tahun lalu! Bersama muridnya, dia datang ke tempat ini untuk melihat keramaian. Sudah lebih dulu muridnya yaitu Kay Su Tek ditotok lumpuh dan ditinggalkan di belakang sana, tersembunyi di balik semak belukar. Karena jika tidak begitu, pasti muridnya akan mengacaukan rencana terakhirnya.


Nona Songli memandang ke arah raja itu, "Untuk apa kau menangis? Bukankah kedatanganku tidak kau inginkan? Bukankah kau ingin aku mati?"


Raja itu mulai menangis perlahan, namun ditahannya ketika menjawab, "Memang benar begitu....tapi....bukan berarti aku....."


"Kau bahkan tetap ingin membunuh penggantiku."


"Itu karena aku membenci para pendekar!"


Nona Songli lalu menoleh ke arah kiri, menatap Chunglai. Kali ini dia tersenyum, "Chunglai, lelaki paling gagah di kerajaan ini. Mengapa kau menumpahkan air matamu? Bukankah kau sudah menemukan penggantiku?" yang dia maksudkan Sung Hwa itulah.


"Saya sudah tahu jika dia bukan anda." jawab Chunglai singkat hampir tersedak ludahnya sendiri karena isak.


Nona Songli geleng-geleng kepalanya, masih dengan senyum tersungging ia lambaikan tangan ke kanan dan kiri. Ucapnya perlahan dan halus penuh kesabaran, "Bangkitlah kalian..."


Seperti ada tangan gaib, tiba-tiba tubuh Chunglai dan raja itu tertarik ke atas dan secara otomatis berdirilah mereka. Ini bukan pertunjukan aneh mengingat yang melakukan itu adalah nona Songli. Sosok paling kuat, paling tinggi dan paling disegani di kerajaan manusia gunung.


"Aku akan kabulkan keinginan kalian. Sebagai permintaan maaf, sebagai nona kalian, dan sebagai contoh untuk semuanya. Sebagai contoh bahwa kita bertiga sama sekali tidak dapat dijadikan contoh." katanya tegas, lalu dia mengembangkan tangan kanan dan kiri. Mengarah dada dua orang lelaki itu.


"A-apa maksud nona?" raja itu bertanya. "Benarkah...kau akan menerimaku kali ini?"


Gadis itu tersenyum, senyum manis namun penuh kedukaan. Umurnya yang sudah kepala lima itu sama sekali tidak nampak baik di wajah maupun tubuhnya.


"Nona...apa maksud anda untuk mengabulkan keinginan kami?"


Pertanyaan Chunglai ini hanya dibalas dengan reaksi yang sama. Senyum tipis.

__ADS_1


Dia berkata lagi, menoleh ke kanan, "Raja Torgan, engkau sudah memimpin kerajaan ini dengan baik. Masa lalu biarlah menjadi rahasia kita bertiga, kau sama sekali tidak mencelakakan rakyat sendiri. Kau tak mencampurkan urusan pribadi dengan urusan kerajaan."


Setelah beberapa saat, ia lanjut berkata, "Tapi peperangan ini terjadi karena aku. Karena keberadaanku. Karena hilangnya aku. Jika aku tak pernah lahir, maka semua ini tak akan terjadi. Karena itulah, lima tahun terakhir kau ingin aku mati dengan menjatuhkanku ke jurang akibat kemarahanmu karena penolakanku, sebagai permintaan maaf, kukabulkan keinginanmu."


Tangan kanan nona itu melambai singkat. Saat itu juga, tahu-tahu tubuh taja Torgan menegang. Lalu tangan kanannya terangkat ke atas dengan pedang menghunus. Wajahnya memucat.


"N-nona...tonggu...."


"Kemarilah...." ujar nona itu singkat dan halus. Masih dengan senyumnya dia memutar pergelangan tangan kanan dan seketika tubuh raja Torgan tertarik. Tanpa mampu dicegah lagi, pedangnya menembus iga kanan nona itu.


"Caaappp!!!"


"Nona!!"


"Nona Songli!!"


Bahkan Sung Hwa pun terkejut dengan muka pucat memandang ini. Dia terharu dan sedih sekali. Orang-orang di sana sudah berteriak panjang pendek dengan kelakuan nonamya itu.


"Rebahlah semua." kata nonanya itu penuh daya sihir dahsyat. Seketika semua orang jatuh malang melintang, hanya mampu melihat tak dapat brrgerak.


"Jangan...." desis Chunglai yang mulai menangis.


"Aku cinta padamu....ucapan pada malam hari di bawah sinar bulan purnama itu selalu kuingat. Akan kukabulkan permintaanmu sekaligus sebagai permohonan maafku. Kemarilah...."


Ia melakukan hal yang sama seperti kepada raja itu tadi. Begitu tangan melambai, tubuh Chunglai bergerak sendiri. Tangannya mencabut pedang dan dia tertarik ke depan untuk menusukkan pedangnya.


"Nonaaaa!!!" pekik Chunglai ngeri.


"Crookk!!" kali ini tepat menghantam iga kiri. Dapat dipastikan jantung wanita itu sudah tembus.


Tapi wanita itu tak hiraukan tubuhnya sendiri. Ia batuk darah banyak sekali, mukanya mulai memucat. Tapi sebelum nyawanya tertarik keluar, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Chunglai. Sejenak ia mengecup bibir lelaki tiga puluhan tahun itu.


"Kau sudah membuktikan ucapanmu itu.....sekarang lupakanlah aku....urusan kerajaan....kuserahkan kepada kalian berdua....Nah, selamat berpisah...."


Diiringi tangisan semua prajurit, nona Songli, sosok paling diagungkan di seluruh kerajaan manusia gunung, meregang nyawa di tangan dua orang itu. Dua orang paling dekat dengannya. Dua orang teman masa kecilnya, juga dua orang pencabut nyawanya.

__ADS_1


Sung Hwa yang melihat semua ini, menangis sesenggukan, juga Mi Cang. Dia merasa sedih sekali atas kematian juniornya.


Kiranya dari belakang sana, Kay Su Tek yang sudah terbebas dari totokan dan hendak menolong sudah terlambat. Gurunya telah mati dalam keadaan berdiri sambil tersenyum. Pemuda ini hanya mampu menangis bersandarkan pohon besar. Tak mampu berkata sepatah kata pun.


Sampai lama mereka menangisi kepergeian nona Songli itu. Chunglai sibuk memeluki dan menciumi muka dari mayat itu. Tapi mustahil untuk bangun lagi.


Sedangkan raja Torgan, berdiri dengan muka pucat dan wajah menunduk.


Kiranya kejadian belum selesai sampai sana, Mi Cang yang merasa tak terima atas kematian adiknya sudah bangkit berdiri dengan pedang di tangan. Tubuhnya yang penuh luka itu berlari menerjang raja Torgan.


"Mati kau keparaaatt!!!" teriakan mengguntur ini dibarengi dengan tusukan pedang kilat mengarah leher raja Torgan. Raja itu melihat serangan ini, walau berduka dia masih tetap waspada. Ia tusukkan pedangnya pula.


Akan tetapi karena batinnya terguncang, dia tak cukup tangkas dan cepat. Akibatnya, baik pedangnya maupun pedang Mi Cang berhasil mendarat tepat pada sasaran masing-masing.


"Crookk-crookk!!"


"Aaahhh!!" Sung Hwa berseru ngeri. Kesedihannya memuncak dan tanpa dapat dicegah lagi, ia pingsan seketika. Bersamaan dengan jatuhnya tubuh dua orang itu.


"Pendekar keparat!!"


"Bunuhh!!"


Karena Mi Cang adalah kawan Sung Hwa, dan telah diketahui Sung Hwa adalah orang luar, bukan nona Songli, maka mereka menjadi berang. Melupakan pertempuran yang lalu, mereka menyerbu ke arah Sung Hwa yang sudah pingsan.


Saat itu, terdengar bentakan mengguntur dari Chunglai. "Hentikan!!!"


Berbareng dengan ini, nampak bayangan putih berkelebat dari belakang dan tahu-tahu sekali sambar, tubuh Sung Hwa telah lenyap entah ke mana.


Mereka semua menjadi kebingungan. Tapi dengan begitu, semua suku telah bersatu kembali dengan datangnya nona Songli. Tiada perang, tiada kebencian. Namun yang pasti, ketidak sukaan mereka terhadap pendekar bertambah besar!


Kalau saja Sung Hwa tak pernah datang, pasti raja Torgan tak akan bertindak, nona Songli tak akan muncul dan perang ini tak terjadi. Demikian pikir mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2