
Setelah sehari kemarin dia telah mengobrak-abrik bagian depan markas perkumpulan Pedang Hitam, maka hari ini dirinya telah sampai di satu gerbang desa kecil yang berada di suatu lembah gunung. Berdekatan dengan sungai bening dan bersih yang mengalir deras.
Sung Han memandang keindahan alam ini dengan sedikit senyum. Dia sengaja memperlambat langkahnya sungguhpun gerbang desa itu sudah terlihat beberapa meter di depannya. Namun Sung Han ingin lebih berlama-lama di sini untuk menikmati keadaan alam sekitar.
Sekedar untuk menghibur hati, Sung Han bahkan sampai berhenti dan berdiri di pinggiran sungai. Matanya menyapu ke sekelilingnya dengan sayu, namun mulut itu masih memyunggingkan senyum tipis.
Walau sudah dihadapkan dengan keindahan alam yang begini menakjubkan, bahkan tidak bisa untuk mengusir kedukaan Sung Han tentang serentetan kejadian akhir-akhir ini. Soal Kay Su Tek yang berbelok arah, kematian nona dan nyonya Han, perginya Yang Ruan dan lalu yang paling menyakitkan adalah Sung Hwa.
Sung Han tenggelam dalam pikirannya dan pandangannya lama-kelamaan berubah makin sayu hingga akhirnya kosong. Entah apa yang dia lihat, seolah sedang melihat namun tidak melihat.
Mulut itu lambat laun juga makin mengendur senyumnya akhirnya menghilang sama sekali. Sung Han berdiri termenung, ditemani kesunyian alam yang diisi dengan gemericik air dan kicau burung.
Tiba-tiba, dia mendengar langkah kaki banyak orang yang datang menuju kepadanya. Sung Han segera tersadar dari lamunannya dan begitu melihat kiranya mereka itu adalah orang-orang desa yang jumlahnya kurang lebih lima belas orang.
Walau mereka hanya datang saja tanpa alat apa-apa, namun jelas sikap mereka tidak terlalu bersahabat. Sung Han menghentikan lamunan dan pikirannya yang tadi hendak menerawang lagi, dia kini berdiri tegak menghadap rombongan itu.
Beberapa saat kemudian, tibalah rombongan itu di hadapan Sung Han dan mereka segera memandang pemuda ini penuh perhatian.
Salah satu dari mereka, seorang pemuda yang bertubuh jangkung dan kurus, maju selangkah dan menjura, "Selamat datang pendekar muda, jika anda berkenan bolehkah memberitahu kami apa tujuan anda datang ke mari?"
Pertanyaan itu halus dan terdengar ramah, namun Sung Han dapat melihat betapa sepasang mata dari pemuda itu menunjukkan kewaspadaan.
Sung Han balas menghormat pula, "Maafkan bila saya mengganggu kenyamanan tuan-tuan sekalian. Saya hanya ingin singgah beberapa waktu di desa ini sebelum melanjutkan perjalanan. Jika tuan-tuan tak berkenan, maka saya sudi memutar arah melewati desa ini."
Semua orang memandang kepada Sung Han penuh perhatian. Mereka memandang mata Sung Han penuh selidik seolah sedang mencari ketidak jujuran di sana. Tiga orang tua yang terlihat sepuh sekali saling pandang dan mengangguk-angguk.
"Jujur." bisik salah satunya. Sung Han mampu mendengar namun pura-pura tak sadar.
Orang yang berbisik itu mendekati si pemuda jangkung dan membisikkan sesuatu. Lalu pemuda jangkung itu kembali menghormat, "Maaf bila sikap kami lancang dan menganggu, sekarang tujuan sudah jelas terlihat, silahkan anda berkunjung ke desa kami."
__ADS_1
Sesaat setelah ucapan ini selesai, mereka semua membungkuk memberi hormat dan pergi dari sana.
Sung Han memandang heran dan berdiri dengan bengong.
"Hah? Apa-apaan mereka?" gumamnya dan setelah rombongan itu masuk desa, dia melangkahkan kakinya menuju ke desa itu.
Setibanya di gerbang desa, agaknya orang-orang sudah mengenal dan langsung membiarkan Sung Han masuk. Pasti rombongan tadi yang menyuruh agar tidak mengganggu Sung Han.
Perut Sung Han sudah keroncongan, dan dia langsung menuju ke warung makan kecil pinggir jalan. Setibanya di sana nampak seorang paruh baya dengan baju sederhana ala pelayan, menyamnutnya dengan senyum.
"Ah....selamat datang." sambutnya.
"Bakpauw hangat semangkuk penuh." ucap Sung Han.
Pria itu lekas menyiapkan pesanan pelanggangnya, lalu dengan gerakan yang lincah sekali pinggangnya yang gendut meliak-liauk menghindari meja kursi yang menghalangi jalannya. Nampan itu diletakkan dengan rapi di meja Sung Han, kemudian dia memindahkan mangkok dari nampan ke meja Sung Han.
Masih dengan senyumnya yang ramah, dia menjawab, "Ada apakah tuan muda?"
Sung Han mencomot satu bakpauw dan mulai memakannya. Setelah habis satu suapan dia bertanya lagi, "Aku tadi di depan desa dihadang oleh rombongan orang-orang sini. Sikap mereka nampak waspada dan hati-hati. Memang ada apakah?"
Pemilik warung itu seketika pucat mukanya dan menjatuhkan nampan sampai berkerontangan di atas lantai. Tubuhnya menggigil dan wajahnya jadi buruk sekali.
"Ada apa memangnya?" tanya Sung Han lagi dengan santai. Melihat gelagat orang ini, kalau bukan soal demit siluman pastilah campur tangan orang jahat yang mungkin mengacau desa. Dia sedikit banyak sudah dapat menebak maka dapat dengan tenang melanjutkan makannya.
"Duduklah." kata Sung Han, "Dan ceritakan."
Pemilik warung itu buru-buru duduk di hadapan Sung Han, lalu dia mulai bercerita dengan nada sedikit gemetar, "Itu....baru saja kemarin...rombongan orang persilatan dunia hitam lewat sini."
Sung Han mengerutkan kening. Kali ini dia benar-benar terkejut sungguhpun tak nampak pada wajahnya.
__ADS_1
"Ceritakan lebih jelas."
"Baik!" orang itu menarik napas panjang, "Jadi kemarin pagi-pagi, ada serombongan orang banyak sekali lewat dusun sini. Dan banyak dari mereka yang berpakaian seragam. Membaea bendera yang bertulis....." pemilik warung itu menoleh ke sana-sini seolah sedang ketakutan akan sesuatu.
"Bertulis apa?"
Dia mendekat lalu berbisik, "Serigala Tengah Malam...."
Sung Han melotot, hampir saja bakpauw di tangannya itu remuk jadi pasir jika dia tak menahan gejolak hatinya. Lagi-lagi mereka, mengapa setiap kaki ini melangkah selalu bertemu dengan mereka? Batin Sung Han penuh rasa penasaran.
"Tak hanya di desa ini. Katanya di desa sekitar juga dilewati rombongan ini. Dan di desa tetangga sebelah barat sana, kata salah seorang pendekar yang saat itu kebetulan sedang singgah, dia mampu mengenal salah satu tokoh dari rombongan itu."
Jantung Sung Han mulai berdebar. Jika ada Serigala Tengah Malam, pasti gabungannya adalah golongan sesat. Dan semua golongan sesat di tanah utara ini sudah dikepalai oleh dua raja. Pangeran Chang Song Ci selaku ketua Serigala Tengah Malam yang telah menundukkan banyak partai hitam, juga Kay Su Tek yang telah resmi menjadi pimpinan kaum sesat yang belum mau tunduk kepada kekuasaan Serigala Tengah Malam.
"Siapa?" tanya Sung Han gugup. Boleh jadi tokoh itu adalah bawahan Kay Su Tek atau yang lebih buruk adalah Kay Su Tek itu sendiri!
"Katanya dia hanya berlengan satu, yang lengan kiri buntung. Pakaiannya putih semua, ada pedang di punggung. Walau cacat, dia ternyata lihai bukan main. Ketika ada pengacau yang berlagak menantang rombongannya, orang ini hanya sendirian saja merobohkan mereka." pemilik warung itu kembali mendekatkan tubuhnya dan berbisik seperti ketakutan, "Mereka membawa bendera yang bertuliskan Dunia Hitam."
Tak salah lagi!! Pastilah itu Kay Su Tek! Demikian Sung Han berpikir dan mukanya berubah sedikit pucat. Ia langsung habiskan seluruh bakpauw yang tersisa dan segera membayar dengan uang lebih.
"Terima kasih." kata Sung Han singkat dan berjalan keluar dengan buru-buru.
Desa sebelah barat, pasti di sana dia dapat mengumpulkan informasi.
Berpikir demikian, ketika sedang berjalan dia sampai tak sadar bahwasannya dari jauh sedang diikuti orang. Orang ini sudah mengikutinya semenjak dia masuk desa. Entah apa artinya ini...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1