
Tiga orang itu sudah berdiri berhadap-hadapan dengan para penduduk desa. Sikap mereka kereng dan penuh misteri karena begitu tiba mereka hanya bungkam tak bersuara.
"Jadi kalian yang hendak merampok desa ini? Heh, hanya tiga orang?" kata pemuda yang dari tadi terus melirik ke arah Yang Ruan, "Apa kalian meremehkan kami?" lanjut pemuda itu jumawa.
"Kalian yang meremehkan kami." balas orang tersebut yang suaranya sedikit serak dan berat. "Hanya kalian yang berjumlah beberapa puluh orang ini saja, apa sulitnya bagi kami?"
"Hahahahaha!!!" pemuda itu tertawa bergelak sampai mendongak menatap langit. Para warga sedikit merasa tenang karena pemuda itu nampak lebih kuat dari tiga orang bertopeng tersebut.
"Jangankan melawan mereka, hadapi aku dulu kalau kalian memang mampu dan punya kepandaian."
Hampir bersamaan dengan berhentinya suara ini, dia melesat maju dengan pukulan kuat. Sebuah pukulan yang berkekuatan sama dengan ketika dia memecahkan batu tadi.
Terdengar suara angin menyambar menuju wajah salah satu pria bertopeng. Pria ini mendengus dan dengan mudah mengelak ke kiri. Bersamaan dengan itu kakinya bergerak untuk menekan perut si pemuda dengan lutut.
"Bughh!!"
"Auughh..." pemuda itu mengeluh dan terjatuh setelah melayang sejauh tiga langkah. Sakitnya perut sama sekali tidak terasa, lebih hebat lagi rasa malunya saat samar-samar mendengar kekehan Yang Ruan yang sudah datang dekat.
"Kalian ini hendak mengangkat nama di dunia persilatan dengan cara kotor seperti ini?" Yang Ruan berkata tenang, matanya hampir terpejam tapi tiga orang itu dapat merasakan ancaman hebat.
"Ah nona!!" kepala desa berseru karena khawatir akan nona itu, tapi Yang Ruan terus melangkah sampai hidungnya hampir menyentuh topeng salah seorang pria tersebut.
"Siapa kau bocah lancang?" tegur si pria bertopeng.
"Menurutmu?" Yang Ruan malah menantang.
Si pria bertopeng mendengus dan mundur selangkah. Lalu melayangkan kakinya menuju leher kiri Yang Ruan.
Gadis ini tersenyum tipis ketika tangannya berkelebat dan menotok lumpuh kaki itu. Si topeng terkejut ketika tahu-tahu kakinya lemas dan jatuh dengan sendirinya. Ia tak sempat bereaksi ketika kepalan Yang Ruan bergerak cepat menuju batok kepala.
"Caaapp!!"
Tangannya melesak ke dalam, dapat dipastikan otak orang itu tidak utuh lagi bentuknya. Dengan mengenaskan pria ini mati setelah berkelojotan sejenak.
"Kau berani!!" dua orang lain bergerak maju.
Terdengar dengusan pendek dari mulut Yang Ruan. Berbareng dengan ini entah bagaimana tubuhnya sudah melayang dengan kaki terbentang ke kanan-kiri. Lalu cepat tubuhnya berputar dan kedua kakinya berhasil menghantam leher masing-masing lawan.
"Uaaghhh!!"
__ADS_1
Dengan singkat tiga orang itu jatuh tewas tanpa dapat berkata-kata lagi.
Begitu pula dengan tiga pemuda dan para warga desa. Mereka merasa kagum sekali karena gadis pendatang yang baru tiga hari berada di sini itu demikian lihai. Si pemuda yang tadi berlagak makin malu dan tak berani mengangkat muka.
"Terima kasih nona." tiga orang pemuda serentak menjura mewakili para warga desa.
Dengan datar Yang Ruan menjawab, "Jangan senang dulu, kalian benar-benar berpikir bahwa mereka hanya mengirim tiga orang?"
Tatapan bingung yang menjadi tanggapan dari ucapan ini.
"Maksud nona?" sang kepala desa yang bertengger di atas punggung kerbau bertanya.
"Lihat!" Yang Ruan menunjuk dengan tangannya ke atas genteng-genteng rumah warga. Kiranya di sana sudah berdiri sekitar lima puluhan orang bertopeng yang sikapnya mengancam sekali.
"Ini belum apa-apa."
...****************...
Mereka semua berdiri terbelalak dengan muka pucat. Tubuh gemetaran dengan kaki mengigil. Gigi atas dan bawah bergemelutuk seperti orang kedinginan karena rasa takut yang menyusup ke setiap celah tubuh mereka.
Yang Ruan sadar mereka menggantungkan harapan padanya, maka sebisa mungkin dia terus bersikap tenang. Ia maju beberapa langkah dan menegur puluhan orang itu.
"Hm...." gumaman ini keluar dari sosok tinggi dengan rambut panjang berwarna putih semua. Dia bersedekap dada dengan kepala sedikit mendongak, melambangkan kesombongan.
"Kalau mata tuaku tidak salah, melihat ciri-ciri dan gerakan saudari tadi, pastilah yang kuajak bicara ini adalah pendekar wanita berjuluk Ratu Elang?"
Para penduduk desa mengeluarkan seruan kaget, terutama sekali tiga pemuda yang memang sudah pergi mengembara ke banyak tempat, mengenal tokoh-tokoh hebat. Salah satunya tokoh baru yang membikin geger dunia persilatan belum lama ini, seorang gadis bercadar putih dengan kesaktian luar biasa.
"Jadi....dia ini Ratu Elang?" gumam pemuda yang tadi bersikap sok hebat. Makin tak ada muka untuknya memandang Yang Ruan.
Warga desa bukannya tidak tahu akan julukan itu, mereka juga sering mendengar akan sepak terjangnya yang cukup luar biasa. Membantai para bandit atau perampok di sepanjang jalan sehingga memudahkan pelancong dan para pedagang lewat.
Mendengar ucapan orang, Yang Ruan bersedekap dan menjawab lantang, "Setidaknya begitulah sebutan orang-orang yang ditujukan padaku."
Kakek tinggi besar itu terkekeh-kekeh, "Hehehe....kalau begitu aku yang tua dan sudah kaku-kaku gerakannya ini harus banyak waspada." ia lantas melompat turun ke depan Yang Ruan, "Tapi bukan berarti kau dapat bersikap langit!"
"Hmph! Aku hanya membela orang yang benar!"
"Hahahah!!" kakek ini segera menerjang maju dengan pukulan-pukulan hebat.
__ADS_1
Ratu Elang melihat ini segera menggerakkan badan mengelak ke kanan dan kiri. Dia belum mau menyerang karena lebih dulu hendak menganalisis kekuatan lawan.
Juga ada satu hal yang cukup membuatnya heran. Selama ini dia cukup percaya diri akan kepandaian dan kebesaran nama julukannya, bahkan tokoh dedengkot golongan hitam pun harus bersikap hati-hati sekali sebelum mati ditangannya.
Tapi kakek ini dengan beraninya menerjang maju sambil tertawa. Pasti ada sesuatu!! Pikir Yang Ruan.
Dan memang benar, setelah selama sepuluh jurus dia terus menghindar, barulah ia sadar akan siasat lawan.
Dari dua tangan itu berhembus hawa pukulan yang rasanya cukup aneh. Rasa panas disertai sensasi menusuk seperti jarum-jarum halus. Kiranya itu adalah hawa beracun yang makin lama melemaskan tubuhnya tanpa dia sadari.
Yang Ruan tersadar akan satu hal, dan itu membuatnya marah.
Jelas kakek ini tidak mau membunuhnya sekarang, melihat dari cara menyerang yang penuh dengan hawa racun melumpuhkan, pastilah kakek ini berniat lebih buruk daripada sekedar membunuh. Sudah sering kali ada orang yang mencoba berbagai cara untuk mencicipi bibir di balik cadarnya, dan semua itu tewas mengenaskan. Agaknya kakek ini akan menjadi orang berikutnya.
Dengan marah, disertai pekikan nyaring, tiba-tiba tubuh Yang Ruan melambung tinggi dan berputaran. Lalu menukik turun dengan kedua tangan membentuk cakar mengancam ubun-ubun.
Kakek itu terkekeh dan menghindar. Ketika Yang Ruan melejit dan mengirim tendangan, si kaki mengulurkan tangan berniat menangkap kaki itu. Tapi Yang Ruan tak sudi! Ia tarik kakinya dan menendang dengan kaki lain mengarah jurusan yang berbeda.
"Tidak buruk! Sesuai dengan namanya!" kekeh kakek itu dan menyampok kaki kiri Yang Ruan yang tadinya mengarah lambung.
Tangan yang masih bebas bergerak cepat hendak menjambret cadar itu. Begitu tiba dekat, tiba-tiba cadar Yang Ruan sedikit terbuka dan nampak sinar putih berkelebat.
Kakek ini memekik dan melompat mundur sambil memegangi tangan kirinya. Jelas hal ini membuat mereka semua bingung sekali. Setelah kakek itu mencabut sesuatu dari telapak tangan kiri, barulah rasa kaget mereka lenyap.
Kiranya tadi Yang Ruan menyingkap cadarnya dengan tiupan halus. Lalu secepat kilat mulutnya sudah menggigit jarum kecil yang entah dapat dari mana dan dengan lekas menusuk tangan kiri kakek itu.
"Itu jarum racun. Letak tangan lebih dekat dengan jantung. Pergilah ketika aku masih berbaik hati."
Terdengar terlalu welas asih, tapi inilah mengapa dia sampai mendapat julukan "Ratu".
Hal ini karena kebijaksanaannya yang seperti sosok ratu. Yang Ruan tak mau dengan gelap mata asal membunuh orang, dia selalu memberi kesempatan satu kali bagi orang tersebut untuk pergi dan bertobat. Tapi jarang sekali orang yang melakukan hal itu karena sudah buta oleh nafsunya memandang keelokan Yang Ruan.
Kakek ini yang mendengar ucapan Yang Ruan makin marah. Merasa diremehkan, dia melompat mundur lalu mulutnya berseru.
"Serbu!! Ratu itu harus mati hari ini!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1