Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 217 – Kau Orang Baik 4


__ADS_3

Untung di dalam sana masih ada banyak pasukan pendekar yang telah sigap membendung serangan lawan. Sehingga dalam beberapa saat setelahnya, kekacauan terjadi. Hujan anak panah dan suara berdentingnya pedang, jeritan kesakitan, membahana memenuhi seluruh penjuru medan pertempuran.


Han Ji melompat ke sana-sini, menghindari berbagai macam serangan yang datang untuk kemudian balas menyerang. Demikian pula dengan Khuang Peng dan Nie Chi yang diam-diam mengkhawatirkan gadis itu, sehingga mereka bergerak mendekat kepada Han Ji.


"Haaaaa!!"


Han Ji memekik dan melakukan satu putaran penuh. Angin bertiup ke atas bagai tornado yang menerbangkan belasan sanurai sekaligus. Kekuatan pendekar sejati mulai diperlihatkan dan banyak dari pihak lawan yang mengkirik.


Pasukan tiga dan empat sudah bergerak turun dari benteng dan mengepung di kanan-kiri. Satu terompet komando berkumandang ketika teriakan-teriakan terdengar dan pintu gerbang bawah ditutup menggunakan pintu lapisan kedua. Satu siasat yang tidak dipahami oleh pasukan Jeiji maupun pendekar. Kiranya benteng bawah sengaja dibiarkan jebol untum membiarkan para samurai itu membanjir masuk dan terperangkap.


Tentu saja pasukan Jeiji yang sudah terlabjur masuk ke benteng bawah menjadi bingung, sedangkan yang di luar mencari cara untuk menyelamatkan rekan mereka yang berada di dalam. Namun saat itu kembali terompet berkumandang, dari arah kanan kiri sebelah luar benteng bawah, menyerbu pasukan satu dan dua.


Perang pembukaan ini, berhasil dimenangkan oleh pihak Chang.


...****************...


"Jadi, kau mau bilang bahwa kami mengorbankan kalian?" Guo Cu bertanya. Wajahnya terkesan angkuh penuh kemenangan. "Kalian memang sedikit untuk jadi umpan, tetapi kalianlah kunci keberhasilan perang ini. Bagus!"


Han Ji menggertakkan gigi karena tak terpikirkan satu kalimat pun untuk membantah perkataan jenderal itu. Dia melirik kepada dua pemuda di sampingnya, Khuang Peng dan Nie Chi, keduanya sama sekali tidak berusaha melawan.


"Ck, terserahlah!" Tanpa pamit, Han Ji pergi ke luar.


Diikuti oleh Khuang Peng dan Nie Chi yang segera menjura hormat dan pamit.


"Kenapa kau tampak begitu jengkel? Kita baru saja menang." Nie Chi berkata setelah mereka pergi agak jauh dari tempat Guo Cu.


Han Ji merengut. "Tetap saja, kita seperti anjing-anjing yang hanya jadi penurut. Bukan seperti itu watak para pendekar."


Khuang Peng menahan tawanya. Dan Han Ji meliriknya tajam. "Jelaskan maksud tawamu!"


"Haha, kau ini lucu sekali. Kita menang kau mengomel, kalau kita kalah aku yakin kau tak akan terima. Lantas, apa maumu?"


Wajah Han Ji memerah dan sekali lagi dia tak mampu mendebat. Akhirnya gadis ini memilih untuk pergi meninggalkan keduanya dengan kaki dihentak-hentakkan.

__ADS_1


Han Ji tidak kembali menuju tempat para pendekar, justru dia menuju ke benteng Mustika Naga dan naik ke bagian paling tinggi. Di atap menara jaga benteng itu, memandangi sekumpulan armada lawan yang masih bersiap di laut timur Chang.


Diam-diam Han Ji mengeluh, apakah kelak kekaisaran Chang akan menang? Kalau hanya itu pertanyaannya, maka di benteng Mustika Naga ini Han Ji lebih dari pada yakin mereka akan menang. Tapi bagaimana dengan wilayah lainnya? Apakah mereka akan mampu bertahan lebih baik dari benteng Mustika Naga?


Han Ji memeras otaknya karena merasa bingung dengan sikap pimpinan lawan. Apakah mereka cukup bodoh atau sama sekali tidak ada penjelasan di kekaisaran Jeiji sana tentang seberapa kuatnya benteng Mustika Naga. Apalagi tepat pada bagian teluk ini, itu merupakan inti kekuatan dari benteng Mustika Naga.


Jika mereka berpikir hendak menantang benteng ini, apa tidak lebih baik untuk menggempur wilayah benteng yang lain, yang memudahkan mereka untuk meraih kemenangan?


Berpikir dalam keheningan dan kesendirian ini justru membuat segala dugaan makin membesar. Dan hal itu bukannya berakhir dengan jalan keluar, justru membuat kepala pening.


Setelah sekian lama, Han Ji merasa ada yang berdiri di belakangnya. Dia pura-pura tak dengar, paling kalau tidak Khuang Peng, pasti Nie Chi. Memang siapa lagi?


"Apa yang kau lakukan? Bersantai di tempat seperti ini?"


Suara berat itu, Han Ji mengenalinya! Bukan milik Khuang Peng, tidak juga milik Nie Chi. Namun seseorang yang jauh lebih ia kenal dari keduanya.


Matanya membeliak dan buru-buru dia berbalik. "Sung ..., ah, Sung Han, ada apa?"


Pemuda dengan caping dan mantel hitam itu langsung ambruk begitu Han Ji memandang padanya. Mantelnya sudah robek dan terbakar di sana-sini. Juga topi capingnya tidak dalam keadaan sehat lagi dan begitu ambruk, terlepas lalu terbang entah ke mana. Bercak-bercak darah kering membekas di seluruh jubah pemuda itu.


Han Ji, yang sebenarnya adalah Sung Hwa itu, cepat mengangkat kepala Sung Han dan meletakkannya dalam pangkuan. "iya ini aku. Sung Hwa." Menggunakan sapu tangannya, dia menggosok-gosok wajahnya. Seketika nampaklah wajah Sung Hwa si Rajawali Merah.


Sung Han tiba-tiba mencengkeram kerah bajunya. "Apa yang kau lakukan, bangsat?!"


Seketika Sung Hwa menjadi bingung, juga sedikit jengkel dengan sikap Sung Han. Ia tepis tangan Sung Han dengan kasar dan berkata. "Ada apa denganmu? Kau tak lihat? Di sini sedang terancam bahaya besar!" Sambil berkata, Sung Hwa menunjuk ke arah laut. "Armada kekaisaran Jeiji sudah bersiap untuk menyerang lagi!"


Sung Han menekan dadanya yang, jika dilihat dari ekspresinya, nampak amat sakit. "Pergilah ..., ugh, peringatkan yang lain ..., evakuasi warga dan pergi."


"Apa maksudmu?!" Sung Hwa menjadi berang dan membentak. "Kau menyuruh kami menyerahkan wilayah ini begitu saja?"


"Ini hanya pengalihan!!" Sung Han memaksa untuk berteriak. Namun segera dia batuk-batuk. Akan tetapi dia tetap melanjutkan. "Pasukan mereka berhimpun di tempat antara daerah ini dan desa Alang-Alang. Kau tahu? Desa Alang-Alang telah hancur karena perhatian kalian teralihkan di sini."


Sung Hwa mengerutkan kening. "Jangan menakut-nakutiku di saat seperti ini. Apa buktinya desa Alang-Alang telah hancur? Tak ada satu pun kabar."

__ADS_1


"Mereka membunuh setiap pembawa pesan yang dikirim ke mari."


"Saat aku datang ke sini, tidak ada yang mencegahku."


Sung Han diam, dan Sung Hwa mulai yakin jika pemikirannya benar. Namun ternyata, apa yang diucapkan Sung Han jauh lebih masuk akal. "Kau datang ke sini beberapa hari sebelum penyerbuan dimulai. Mereka pasti tahu ..., ugh ..., tapi membiarkanmu lewat supaya kau terkurung di sini. Setelah menaklukkan desa Alang-Alang, mereka akan bergerak ke mari."


Wajah Sung Hwa memucat. Dia menyibakkan rambut Sung Han yang menutupi matanya dan melihat mata pemuda itu penuh perhatian. Tak terlihat kebohongan, juga bukti betapa tubuhnya penuh luka itu sudah menjelaskan semuanya.


"Sung Han ..., apa yang sebenarnya terjadi?" ucapnya lirih. Dia merasa kasihan dengan pemuda itu. "Apa yang telah kau lalui? Matamu seperti mata orang mati ..., katakan padaku, apa yang terjadi?"


Sung Han menarik napas berat, tersenggal-senggal. "Sungguh, sekuat apa pun seorang pendekar, mereka pasti keok melawan serbuan ribuan orang."


"Ribuan orang? Sungguh? Menaklukkan desa butuh ribuan orang?"


Sung Han mengangguk. "Mereka ingin kepastian untuk mencapai kemenangan. Dan ..., kau tahu ...?"


"Apa? Tahu apa?" tuntut Sung Hwa tak sabar.


Sung Han nampak begitu rapuh, dia terlihat seperti ingin menangis, namun ditahannya dengan menggigit bibir bawah. Sung Han mencengkeram pergelangan tangan Sung Hwa, seolah dengan seperti itu, dia memiliki kekuatan lebih agar tidak menumpahkan air mata.


"Gadis-gadis diperkosa. Anak-anak, baik pria maupun wanita, dibunuh secara masal dan mayat mereka digantung di seluruh penjuru desa. Dan kami ..., para pendekar ..., tak berdaya untuk menolong ..., kami sudah lemah, yang melawan pasukan ribuan orang Jeiji itu bahkan tak sampai dua ratus orang ..., dan mereka dengan kejam, tidak langsung membunuh kami, melainkan membiarkan kami untuk melihat kekejian itu ...."


Suara Sung Han mulai mengandung isak. "Dan ... dan ... saudara-saudara yang lain mengorbankan nyawa untuk menyelamatkanku ..., mereka bilang padaku untuk pergi ke mari dan menyuruh kalian segera menyusul ke sana ...." Sung Han berhenti sejenak, cengkeramannya makin kuat. Namun Sung Hwa membiarkannya.


"Lalu?" tanya Sung Hwa lirih. Penuh pengertian.


"Sung Hwa ... ah, tolong katakan padaku ... aku penjahat ... aku pengkhianat ... aan ambil pedang gerhana ini lalu bunuhlah aku sekarang ...." Air matanya mulai menetes. "Aku malu ...."


Sung Hwa tak tahu harus melakukan apa selain memeluk pemuda itu erat. Dia membiarkan Sung Han terisak dalam pelukannya, tapi sungguh luar biasa, Sung Han sama sekali tidak mengeluarkan suara menangis!


"Bunuh diri adalah tindakan paling pengecut bagi para pendekar," ucapnya lirih, berbisik di telinga Sung Han. "Oh, Sung Han, hatimu terlalu lembut untuk seorang pendekar. Kau memang orang baik."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2