Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 247 – Ini yang Terakhir


__ADS_3

Sung Hwa merapihkan bajunya sebelum bangkit dari pembaringan batu itu. Tempat tidur di dalam goa ini berbeda dengan pondok di dekat air terjun yang bertilamkan rumput kering. Di sini, hanya terbuat dari balok batu padat yang keras. Walau sudah ditutupi rumput-rumput kering, tetap saja masih terasa keras.


Apalagi tadi malam, dimulai saat bulan baru muncul, betapa Sung Han sama sekali tak memberinya napas. Teringat akan hal ini, Sung Hwa bergidik dengan muka memerah. Dia sama sekali tak mau repot-repot memikirkan nasibnya malam ini. Palingan tidak beda jauh.


Maka dari itu, untuk mengalihkan pikiran ini, Sung Hwa keluar dari dalam goa dan berdiri pada pinggiran tebing, memandangi laut lepas di pagi hari. Duduk di sana seorang diri benar-benar menenangkin pikiran dan hatinya.


Suara debur ombak yang menghantam karang, ditambah kicauan burung yang sedikit tersamarkan akibat berisiknya guncangan air di bawah tebing. Bukannya menjadikan suasana bising, justru sebaliknya, membuat perasaan Sung Hwa kosong dan sunyi. Inilah ketenangan, pikirnya.


Sung Hwa tak ingin menyia-nyiakan momen ini. Ia lekas duduk bersila dan memejamkan mata. Bukan untuk bermeditasi, hanya sekadar menikmati sensasi tenang dan sunyi yang tak pernah membosankan hatinya selama seminggu ini.


Memang mereka berdua telah berdiam di sini selama satu minggu. Sesuai janji Sung Han, seharusnya hari ini mereka akan keluar dan pergi menuju kota raja. Maka dari itulah pagi-pagi Sung Hwa sudah bangun dan menyempatkan diri untuk menikmati momen itu beberapa lamanya.


Ketenangan itu terusik dengan suatu kebisingan. Bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam diriinya sendiri. Sontak Sung Hwa membuka mata dan napasnya sedikit memburu. Seolah dia baru saja dikejar-kejar oleh sesuatu.


Beberapa saat lalu, tiba-tiba ada sekelebatan pemikiran yang tak pernah ia kehendaki untuk muncul.


Jika perang sudah berakhir, bagaimana nasib mereka? Demikian pikir Sung Hwa.


Bukan hanya mereka berdua, tapi juga tiga orang pewaris pusaka keramat. Selama ini, perebutan pusaka itu sedikit mendingan hanya karena peperangan sengit melawan Kekaisaran Jeiji.


Di mana kekaisaran itu menjadi momok menakutkan bagi seluruh rakyat Chang. Jika mereka diingatkan soal Perang Sejarah, tubuh mereka akan bergidik. Lebih bergidik lagi ketika melihat satu fakta bahwa musuh utama perang itu sudah tiba di daratan mereka.


Karena hal itulah, mayoritas pendekar dunia persilatan dapat bersatu. Namun itu adalah karena mereka memiliki musuh dan ketakutan yang sama. Setelah semuanya, lalu? Apalagi? Tak ada hal lain selain berebutan pusaka.


Dia dan suaminya akan menjadi incaran nomor satu. Karena walaupun Sepasang Pedang Gerhana tak setua dan sekuno Raja Dunia Silat, namun dua pusaka itu adalah pusaka terampuh dan paling keramat mengingat keberadaan kutukannya.


Sung Hwa merasa bimbang. Ingin ia mengatakan pada suaminya agar tetap di sini saja, hidup berdua bersunyi diri. Namun ketika dia baru ingin kembali ke goa dan mengatakan hal itu, di belakangnya sudah berdiri sosok yang baru saja hendak didatangi.


"Selamat pagi, kenapa wajahmu murung? Tak seperti biasanya? Walau biasanya memang galak," Sung Han menyapa ketika dia berhasil menyusul istrinya ke tempat ini. "Ada masalah yang mengganggumu?"

__ADS_1


"Suamiku ...," Sung Hwa bergumam lirih. Lalu membalikkan tubuhnya, kembali menghadap ke laut.


Sung Han mengerutkan kening. Tidak biasanya Sung Hwa bersikap seperti ini. Jika mendapat sindiran Sung Han, tak mungkin dia tidak membalas. Minimal dia akan mengerucutkan bibir dan tak mau bicara minimal satu jam jika tidak dipaksa.


Namun kini, selain tidak marah, Sung Hwa bahkan menunjukkan raut wajah kusut. Ada apa ini?


Sung Hwa menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Sung Han menghampiri dan duduk di sana. Selama beberapa waktu berselang, tidak ada percakapan yang terjadi. Hanya helaan napas Sung Hwa yang terdengar berkali-kali.


Setiap beberapa menit sekali, Sung Han mencuri pandang kepada istrinya. Namun nyonya muda itu sama sekali tidak meliriknya dan hanya mendesah pasrah.


"Ada apa sih?" Sung Han tak sabar membuka pertanyaan.


"Ada hal yang amat memberatkan hatiku. Ini ... soal perang. Maksudku, setelah selesai perang."


Sung Han termangu. Kenapa tiba-tiba Sung Hwa memikirkan hal itu? Selama ini, kelihatannya gadis itu hanya mengikut ke mana pun dia pergi.


"Sung Hwa, kupikir kau sudah tahu. Kau yang paling paham tentangku. Itu sedikit lucu betapa dahulu kau yang paling memusuhiku," Sung Han terkekeh.


Sung Han menampilkan senyum pahit. "Sung Hwa istriku, aku lelah. Amat lelah."


"Nah, benar, kan?!" Sung Hwa berseru dengan mata berbinar. Dia kemudian memegang lengan Sung Han erat. "Suamiku, ayo kita tinggal saja di sini sampai mati. Kukira tak akan ada yang mengetahui letak ruangan rahasia Goa Emas. Sehingga bahkan jika tempat ini diserbu pun, kita tak akan terancam. Marilah kita menghabiskan umur di sini, jauh dari keramaian dan keruwetan dunia."


Akan tetapi, jawaban yang diharapkan oleh Sung Hwa tak kunjung datang. Senyum Sung Han makin lebar. Makin pahit.


"Aku pun inginnya begitu. Tapi mengingat semuanya, di mana aku masih muda dan sehat sekali, mana mungkin aku berpaling dari rakyat yang terpuruk akibat perang? Tidak, aku tidak bisa."


"Suamiku, dengar. Setelah perang ini usai, kita berlima, para pewaris pusaka akan menjadi incaran semua orang dunia persilatan." Sung Hwa mencoba bernegosiasi. "Lalu, kau pasti sudah paham bahwa kita selama ini aman hanya karena serbuan kekaisaran lawan. Jika mereka sudah jatuh, bahkan pangeran Song Ci pun sudah lenyap, mereka tak punya penghalang lagi untuk berebut pusaka dengan kita."


"Mereka siapa?"

__ADS_1


"Para pendekar, siapa lagi?"


Tiba-tiba, Sung Han tertawa. Tawa yang amat keras bahkan bisa menindih suara debur ombak di bawah sana. Mau tak mau Sung Hwa menjadi bingung, bahkan jengkel.


"Apa maksud tawamu?" tanyanya sinis. Kembali ke sifat semula.


"Hahaha, ternyata hanya itu yang kau khawatirkan? Tenang saja, selama kita terus berdiam di dalam Goa Emas, kurasa tak akan ada yang mampu menemukan kita."


"Tapi ...."


"Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa tak akan ada yang bisa menemukan kita di sini?"


Sung Hwa semakin meragu. Sebenarnya tak hanya itu saja yang menjadi beban batin Sung Hwa. Ada hal lain lagi yang tak bisa ia jelaskan kepada Sung Han, itu adalah soal firasat. Perasaannya tak enak soal perang kali ini.


Akhirnya, setelah menunduk beberapa saat, Sung Hwa mencoba meyakinkan diri sendiri.


"Suamiku, tolong dengarkan. Sekali ini saja. Perasaanku tak enak, tolong jangan pergi ke perang kali ini," Sung Hwa berkata dengan raut khawatir. Cengkeramannya pada lengan Sung Han makin keras.


Kembali Sung Han tertawa. "Hahaha, itu berarti kau masih sehat dan instingmu tajam. Mana ada perang yang memiliki firasat baik? Perang itu hanya soal pembantaian dan pertumpahan darah. Dari mana firasat baiknya?"


"Kau ..., jangan buat lelucon–"


Sung Hwa tak mampu melanjutkan kalimatnya karena Sung Han telah membungkam mulutnya dengan bibirnya sendiri. Ciuman penuh kasih sayang yang berasal dari hati terdalam.


"Suamiku ..., tolong ...," gumam Sung Hwa setelah Sung Han melepas ciumannya.


Pemuda ini menempelkan jidatnya ke kepala Sung Hwa. Sedang tangan kanannya mengelus belakang kepala Sung Hwa lembut. "Kau percayalah padaku, bukankah kita sudah sering melewati keadaan hidup mati? Sekali ini saja, ini yang terakhir. Setelah itu, pewaris Pedang Gerhana Matahari hanya akan sebatas nama. Akan kubawa pedang ini namun tak akan pernah kucabut lagi. Ini pertempuran terakhir, terakhir kalinya aku menggunakan pedang. Aku bersumpah."


Tanpa terasa, Sung Hwa meneteskan air matanya. "Aku bersumpah, ini yang terakhir kalinya ... ini terakhir kalinya Rajawali Merah memegang pedang. Aku bersumpah ...."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2