Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 204 – Menuju ke Tempat Pertarungan


__ADS_3

Bukan karena putri Chang Song Zhu yang tidak berani bergerak, namun karena larangan kaisarlah yang membuat perempuan hampir kepala empat itu tak bisa bertindak leluasa.


Sebelumnya, beberapa tahun lalu dia telah kehilangan nama dengan matinya topeng emas yang ternyata bukanlah Chang Song Ci seperti yang dilaporkannya. Hal itu membuat kaisar murka dan benar-benar membatasi pergerakan Song Zhu.


Namun bukan berarti diamnya dia selama beberapa tahun terkahir ini karena dia pasrah saja dengan keputusan kaisar. Dia sadar betapa gawatnya posisi kekaisaran Chang saat ini. Ancaman dari pemberontak dan kekaisaran musuh terus membesar.


Memang saat ini pemberontak bertindak pasif dan Chang Song Ci melakukan tugasnya dengan baik di kota Daun sana. Namun dia yakin benar jika nanti seandaianya kekaisaran Chang dapat mengusir Jeiji, maka momen riskan itulah yang akan dimanfaatkan oleh para pemberontak untuk menyerang balik.


Ketika saat itu kekaisaran benar-benar lemah dan belum stabil akibat perang.


Mengantisipasi hal ini, diam-diam putri Chang Song Zhu menghimpun pasukan dibantu oleh jenderal setianya, Tang Lin. Jenderal itu membawa pasukannya untuk berdiri di naungan sang putri dan siap menerima perintah kapan pun juga.


Tak hanya bantuan dari para tentara, juga putri itu mencari bantuan sebanyaknya dari dunia persilatan. Yang menjadi perantara untuk ini adalah Khong Tiat. Pria yang sudah berusia kurang lebih empat puluh lima tahun berjuluk Singa Gunung Naga. Sebuah nama tidak resmi.


Entah apa tujuan pria itu hanya untuk mendekati sang putri atau memang tulus membantu, namun sejak persekutuan ini dilakukan, Khong Tiat menjadi jarang berada di markas dan lebih sering merantau mencari bala bantuan.


Tentu saja Giok Shi mengetahui hal ini. Namun dia hanya membiarkan saja karena tujuan sang putri menurutnya cukup baik dan bijaksana. Bahkan jika sampai timbul bentrokan, dia dan Naga Hitam akan mendukung sang putri.


Tapi karena larangan kaisar, maka putri Chang Song Zhu tak bisa bergerak secara berterang. Karena itulah sampai bertahun-tahun, keberadaan putri itu seakan telah lenyap dari bumi.


...****************...


Pertarungan adu pedang gerhana dilakukan di sebuah puncak gunung yang amat terasing. Di sebuah antah berantah yang tak mungkin dicapai oleh orang biasa kecuali orang-orang golongan pendekar. Itupun pendekar tingkat tinggi.


Sung Han sudah mendengar ini selama di perjalanan dan dia tanpa ragu bergegas menuju ke tempat itu. Entah kapan pastinya pertarungan itu akan dimulai, namun Sung Han yakin dia tak akan terlambat.


"Orang-orang setengah dewa itu pasti juga akan datang."


"Semoga saja. Semoga kita bisa melihat tokoh-tokoh dongeng."

__ADS_1


Sung Han sedikit tertarik dengan percakapan di sudut rumah makan itu. Dia meliriknya dan melihat dua orang duduk saling berhadapan dan bercakap-cakap dengan serunya. Membicarakan pertempuran dua gerhana yang akan segera berlangsung beberapa hari lagi.


"Menurutmu siapa yang akan menang?"


Salah satu dari mereka berpikir sejenak. "Entahlah. Bahkan Pendekar Tangan Satu itu memiliki ilmu kesaktian yang tinggi sekali."


Mendengar itu, Sung Han juga merasa heran. Pangeran Chang Song Ci tidak sesakti itu sampai dia mampu menandingi Kay Su Tek. Bagaimanapun juga Kay Su Tek adalah pendekar sejati, tak mungkin mampu dilawan oleh pangeran itu.


"Itu pertempuran antar dua kelompok, bukan dua individu." tiba-tiba orang yang berada di samping mereka menyahut. Entah siapa itu.


"Maksudmu?"


"Maksudku, siapapun yang akan dijagokan untuk bertarung, itu merupakan kebebasan dari masing-masing pihak," dia berhenti sesaat. Memerhatikan semua orang yang memandang ke arahnya. "Yang jelas, kedua belah pihak harus memegang pedang gerhana."


"Kenapa kau tahu begitu banyak?"


"Aku salah satu dari mereka." ujar orang itu yang mengejutkan semua orang. Seketika seluruh isi rumah makan itu ribut dan panik. Kedua belah pihak yang hendak bertempur merupakan orang-orang golongan hitam.


Sung Han memerhatikan orang itu. Dia merasa yakin dari pihak Kay Su Tek, pemuda itu sendiri yang akan maju. Namun dia bertanya-tanya, siapakah yang akan maju dari pihak Serigala Tengah Malam?


"Semoga bukan kenalanku." gumamnya dan segera pergi. Bergegas menuju tempat yang hendak dijadikan medan tempur itu.


...****************...


Dua hari berlalu tanpa terasa, dan siang hari inilah seharusnya yang menjadi waktu perjanjian untuk mulai pertarungan itu.


Gunung tempat di mana akan diadakan pertemuan ini benar-benar terpencil. Harus melewati beberapa jurang dan lembah curam. Air sungai berarus deras yang lebar, bahkan kawasan kabut tebal menyesatkan.


Beruntung pada pagi hari itu Sung Han sudah berhasil tiba di kaki gunung itu. Tempat ini mengingatkannya dengan Jurang Sungai. Bukan teringat akan jurangnya, melainkan suasananya yang dipenuhi oleh orang-orang.

__ADS_1


Diam-diam Sung Han masih berharap akan menemukan Yang Ruan di sini. Walaupun setelah beberapa waktu kemudian dia tak kunjung menemukannya.


Tempat itu sudah ramai. Dipadati oleh orang-orang persilatan yang hendak menonton pertarungan itu. Namun hati Sung Han merasa bingung dengan sikap mereka. Pertarungan akan diadakan nanti siang, mengapa orang-orang itu masih bersikap tenang?


Ketika dia mengambil sikap acuh dan mencoba mendaki, seseorang menegurnya.


"Hahaha, anak muda, jangan kau berlagak untuk mendaki gunung ini. Atau kau mau mati?"


Sung Han menoleh. "Maksudmu?"


"Kau pikir mengapa kami masih di sini? Karena kami tak mampu naik ke sana," orang itu menghela napas dan terkekeh. "Kami saja tokoh-tokoh jaman dahulu tak mampu mendakinya, apalagi engkau. Hanya akan bernasib seperti orang itu."


Sung Han mengikuti ke satu arah yang ditunjuk oleh orang tersebut. Dia terkejut.


Seorang pria dengan tubuh tak utuh lagi, mandi darah dan mayatnya dibiarkan begitu saja.


"Hanya karena binatang buas, jangan katakan kalian takut?" ujar Sung Han meremehkan. Dia tak pakai sopan santun terhadap orang yang diduganya berasal dari golongan hitam itu.


Terdengar suara tawa di sana-sini. Jelas orang-orang itu memandang remeh dirinya. Namun dia tak ambil pusing bahkan tak marah. Menurut gurunya, pendekar tingkat tinggi yang marah karena provokasi orang, itu bukan tingkat tinggi namanya.


Akan tetapi ketika dia kembali memandang ke depan dan melihat, wajahnya memucat seketika. Seekor kera raksasa telah menunggunya di kejauhan sana. Menggereng-gereng dengan mata menyiratkan kemarahan.


"Nah, lawanlah setan itu. Dia tak akan melanggar garis batas. Tetaplah di sini dan kau akan hidup!" ucap orang yang tadi.


Akan tetapi Sung Han hanya sebentar saja merasa kaget, dia sudah berhasil menentramkan hatinya kembali. Itu hanya binatang yang ukurannya sedikit lebih besar dari selayaknya, untuk apa takut? Pikirnya.


"Lihatlah kalian semua, bahwa aku memang pantas untuk naik ke atas."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2