Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 190 – Pengecut


__ADS_3

Dengan langkah buru-buru dan nafas tak beraturan, Kushinage Tenko dengan hati sakit meninggalkan teman-temannya. Mata dan wajahnya merah karena marah dan malu. Marah karena tak mampu memenangkan pertempuran itu, dan malu kepada diri sendiri karena tak berani mati demi menyelamatkan kawan-kawannya.


Dia menuruni jalan menurun yang terdiri dari batu-batu tajam itu dengan sedikit susah payah. Dia memiliki kepandaian tinggi sehingga ketika menuruni jalan ini gerakannya terhitung cepat, namun karena jalannya yang demikian terjal ditambah telah dikacaukan oleh Tok Ciauw, maka Tenko menjadi kerepotan juga.


Pedang katana yang biasanya ia letakkan di pinggang kiri itu kini dipegangnya agar tidak mengganggu pergerakan. Lompat sana lompat sini, tak jarang dia harus mencium batu keras karena kakinya tersandung kerikil kecil yang tak nampak di malam gelap. Namun walau begitu dia tetap lanjut berlari.


Cukup sulit juga untuk menuruni jalan ini di malam yang gelap. Namun setelah satu jam ia berusaha mati-matian, akhirnya sampai juga dia di bawah dan terus berlari menuju pantai.


Kiranya di pantai yang menjadi tempat perkemahan kekaisaran Jeiji itu telah ramai orang. Mungkin sedang melakukan persiapan untuk penyerbuan esok hari.


Begitu melihat Tenko datang dengan wajah pucat dan nampak buru-buru.


Semua orang memandang dengan heran, ada juga yang terbelalak. Orang yang


terbelalak ini adalah para ronin yang agaknya telah menduga apa yang telah


terjadi.


“Tuan Kushinage!” seru salah seorang ronin bawahannya yang berlari menyongsongnya di luar perkemahan. Dia ini diikuti oleh dua orang lainnya, “Di mana yang lainnya?” tanyanya dengan heran dan perasaan tidak enak.


Tenko menghentikan langkahnya dan mengambil napas beberapa hirup. Dia


memandang ketiganya dengan ekspersi takut-takut, “Terjadi peristiwa hebat, aku harus segera melaporkannya kepada jenderal Suga.”


“Mari kami temani.”


Tawaran ini disetujui oleh Tenko dan bersama tiga kawannya, dia menuju ke tenda jenderal Suga yang berada di tengah perkemahan.


Keempatnya tak memedulikan teguran dua orang penjaga yang menjaga di luar tenda itu. Keempatnya langsung masuk dengan Tenko di depan.


“Jenderal Suga!” seruannya sedikit tertahan ketika melihat dua orang wanita cantik yang dengan genit terkekeh-kekeh di kanan kiri jenderal Suga.


Jenderal yang bertubuh tak terlalu tinggi itu melongo selama beberapa saat. Kemudian dia berdeham dua kali dan berkata kepada dua orang wanita di kanan-kirinya itu. “Harap kalian bisa keluar sebentar. Ada urusan penting.”


Dua wanita itu terkekeh genit dan pergi keluar. Bahkan salah satu dari mereka ada yang menyempatkan untuk mengusap dagu jenderal itu sebelum pergi keluar.


Kembali jenderal Suga berdeham dan dia membenarkan posisi duduknya. Memandang kepada Tenko penuh perhatian dan berkata, “Ada apa kau begitu terburu-buru? Ada sesuatu?”

__ADS_1


Pertanyaan ini segera menyadarkan empat orang itu dan Tenko segera membuang segala macam pikiran kotor mengenai kejadian barusan. Dia kembali berwajah pucat, “Mereka semua telah tertangkap. Tiga di antaranya telah tewas di tangan mereka.”


Wajah jenderal itu menggelap dan jadi tak enak dipandang. Kemudian ucapnya


singkat, “Jelaskan!”


Tenko menjelaskan dari awal sampai akhir. Betapa mereka melalui jalur pantai dan mendaki lewat jalan terjal yang banyak sekali terdapat batu besar kecil. Lalu begitu tiba di atas, mereka dikejutkan dengan adanya sebuah peti mati berwarna hitam yang tahu-tahu telah ada di sana.


“Kau tak menguburkannya?” jenderal Suga memotong ucapannya. “Tolong dengarkan dulu jenderal.”


Kemudian Tenko melanjutkan ceritanya. Setelah menemukan peti itu mereka dikejutkan dengan kedatangan tiga orang pendekar dan akhirnya bentrok dengan mereka.


“Rumor yang dikatakan memang terbukti benar adanya. Pendekar-pendekar Chang terdiri dari orang kuat yang berkepandaian tinggi. Kami berdelapan menyerang tiga orang itu menjadi kewalahan.” Tenko sengaja tidak menceritakan bagian di mana dia dapat dibanting oleh Sung Han dalam sekali gebrak. Itu amat memaluka harga dirinya.


“Kalian merupakan orang-orang sakti. Namun menghadapi para pendekar Chang kalian tidak mampu?” terdengar nada suara jenderal Suga sedikit kecewa, “Memangnya sekuat apa sih mereka itu?”


Tiga orang yang tadi ikut masuk bersama Tenko juga menjadi tegang wajahnya. Mereka ini lebih percaya kepada Tenko karena sama sama seorang ronin. Dan mereka menganggap bahwa Tenko bukanlah seorang pembual. Sudah pasti apa yang diomongkannya tadi benar adanya. Jika demikian, apakah masih ada kesempatan bagi kekaisaran Jeiji untuk merebut Goa Emas. Mengingat keberadaan para pendekar sakti kekaisaran Chang itu. Walau belum pernah melihat secara langsung, ketiganya bergidik.


Jenderal Suga pun diam-diam ngeri juga. Jika benar para pendekar mereka sekuat itu, apakah mungkin masih ada kesempatan bagi kekaisaran Jeiji?


Mendengar ini, jenderal besar yang sudah sejak bertahun-tahun lalu berkcimpung dalam medan tempur, menjadi merah mukanya. Masa mereka yang memiliki pasukan banyak dan terkenal dengan kelihaian pedang katananya, harus mundur dari sedikit ancaman seperti ini? Mau ditaruh mana muka mereka jika nanti bertemu dengan pangeran?


“Tidak!” tolak jenderal Suga dengan keras, “Kita akan terus maju dan tak akan pernah mundur. Besok kita melakukan serangan!”


Tenko bersama tiga orang lain terbelalak. Tenko yang sudah melihat dengan mata kepala sendiri betapa mengerikannya tiga orang itu cepat membantah, “Jenderal, mereka bukan manusia. Kepandaian mereka di luar jangkauan kita!”


“Jika kau takut dan mengambil sikap pengecut, bawa pergi semua ronin bawahanmu itu dan jangan mengganggu kami para samurai kerajaan melaksanakan kewajiban kami!”


Disinggung seperti itu, panas juga dada mereka dan wajah keempatnya berubah merah. Tenko dan semua pendekar pedang lain paling pantang untuk disebut sebagai pengecut. Maka kini ketika jenderal itu mengatakan bahwa dia pengecut, bangkit kembali semangatnya yang telah padam dan dia berkata dengan tegas, “Para ronin akan tetap ikut!”


...****************...


Empat orang ronin itu ternyata cukup keras kepala, entah siksaan apa yang diberikan kepada mereka sama sekali tak membuat mereka buka mulut soal rencana kekaisaran Jeiji.


“Ctar… ctar… ctar…”


Entah sudah lecutan keberapa itu, namun keempatnya tetap meneguhkan hati

__ADS_1


untuk tidak menjawab satu pertanyaan pun mengenai kekaisaran mereka. Lebih


baik mati daripada menjadi pengkhianat!


“Hebat, sungguh mengagumkan sekali…” suara ini berhasil menghentikan gerakan si pemegang cambuk dan menoleh. Kiranya yang mengeluarkan suara memuji ini adalah Sung Han yang sejak tadi menonton dari atas pohon.


“Kekaisaran Jeiji memang memilik banyak pendekar gagah. Tidak seperti orang sini yang kebanyakan main ancam untuk mendapatkan satu tempat. Betapa pengecutnya.”


“Hahahaha…” terdengar suara serak-serak basah yang tertawa. “Anak muda, kau jangan memancing…” lanjut suara itu yang ternyata berasal dari Tok Ciauw.


“Apa maksudmu bocah?” tanya Bo Tsunji dengan wajah merah menahan marah.


Sung Han malah menoleh menghadap empat tawanan itu yang juga memandangnya. Dia terkekeh dengan senyum mengejek, “Nah, kau lihat sendiri bukan? Dia hendak menyangkal perbuatannya.”


Tentu saja empat orang itu menjadi bingung karena tidak paham. Namun semua orang di sana paham apa maksud dari ucapan penuh ejekan dari Sung Han.


Yang dia maksudkan adalah kelakuan Serigala Tengah Malam yang mengambil Goa Emas dengan sedikit ancaman kepada Tok Ciauw.


“Hahahaha…” kali ini terdengar Kay Su Tek tertawa di antara rombongannya. Semua orang menoleh penuh perhatian.


“Kali ini aku sependapat dengannya. Bahkan takut kedudukannya terancam, dia sampai mohon-mohon agar musuhnya tidak menyerang. Hahaha… betapa pengecutnya tindakan itu!”


“Kalian!” Yu Fei dan Bo Tsunji telah menyiapkan senjata. Pedang Darah dan Tongkat Besi Hitam hasil rampasan.


Akan tetapi baik Sung Han dan Kay Su Tek nampak tenang-tenang saja. Bahkan mereka masih senyum dengan seringai penuh ejekan.


“Tahan, kalian berdua.” Ucap topeng emas menengahi, “Tak perlu ribut di antara orang sendiri. Lebih baik cepat buh empat orang itu.”


“Hahahaha… takut… sikap takut yang ditunjukkan secara terang-terangan!!” Ejekan Sung Han ini dijawab dengan kelebatan Pedang Gerhana Matahari yang telah memotong kepala empat orang ronin itu. Sung Han tertawa makin kencang.


“Jangan menghina kau bocah!!”


“Jangan bertindak bodoh!!” seruan Tok Ciauw ini berhasil menghentikan beberapa orang yang hendak mengeroyok Sung Han, “Kalian berada di Goa Emas. Jangan terlalu lancang!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2