
Pasukan Kekaisaran Jeiji menjadi kocar-kacir dengan masuknya bala bantuan dari kota raja. Demikian pula para pasukan Jeiji yang sedang berusaha menggempur benteng Mustika Naga, terpaksa mundur ketika datang serbuan tentara tangguh dari kota raja.
Sung Han melihat ini semua dengan hati lega. Setidaknya kematian saudara-saudaranya di Desa Alang-Alang cukup terbalaskan.
Dia lalu mencari-cari sosok Sung Hwa hingga akhirnya menemukan gadis itu yang sedang mengamuk di garis depan. Matanya berkilat ketika mengetahui Nie Chi dan Khuang Peng berada di sampingnya.
"Hm ... kami harus segera pergi," gumamnya dan memaksakan diri untuk mengerahkan ilmu lari cepatnya.
Lukanya belum sembuh benar, bahkan masih terasa sakit. Ketika dia mulai berlari, kakinya makin lama terasa makin lumpuh. Akan tetapi ia terus bertahan sungguhpun dadanya berdentaman seperti dihantam palu godam tak kasat mata.
Tiba di medan tempur, dengan tangan kosong Sung Han melempari setiap prajurit yang terlihat. Ia terus mendekat ke tempat Sung Hwa berada.
"Syutt–syutt!"
Sung Han merasakan angin tajam yang menyambar dari kanan kiri. Matanya melotot saking terkejutnya. Bukan karena suara desing serangan itu, namun karena dia mengenal hawa sakti. Cepat ia mengelak dengan mendorongkan tubuh atasnya ke bawah, lalu bergulingan.
"Jangan lari!" Nie Chi membentak lalu menghantamkan tongkatnya ke ubun-ubun Sung Han.
Demikian pula dengan Khuang Peng yang sudah menusukkan pedang itu ke tengkuk Sung Han.
Dia tak sempat untuk mengelak lagi. Beda cerita jika keduanya itu adalah pendekar biasa. Kali ini yang dihadapinya adalah pendekar sejati yang mana kecepatan geraknya sudah melampaui orang biasa. Dia sadar jika mengelak akan terlambat dan itu hanya membawa pada kematiannya sendiri.
Sung Han berbalik dan mengangkat dua lengan, masih dengan posisi berjongkok. Hawa sakti bumi akan jadi lebih kuat jika dia makin dekat dengan bumi.
Maka begitu Sung Han menyentakkan tangannya dengan ilmu Tangan Menopang Bulan, dua senjata itu membalik.
"Desss!"
Ketiganya terhuyung sampai dua tombak dan mengucur darah dari sudut bibir masing-masing. Akan tetapi Sung Han yang paling parah.
Sung Han hendak bangkit kembali ketika dirasanya kakinya kesemutan. Dua serangan itu sudah datang dan tak ada lagi kesempatan mengelak.
"Trang!"
Kembali dua orang itu terpental ketika ada sinar biru berkelebat memapaki serangan mereka berdua. Betapa kaget mereka saat melihat siapa yang menangkis itu.
"Han Ji?!" seru keduanya bersamaan.
Han Ji atau Sung Hwa itu sudah berdiri di depan Sung Han dengan Pedang Gerhana Bulan di tangan. Sikapnya mengancam seolah dia bisa menebas apa pun yang dipandangnya.
"Maaf, hanya sampai sini pertemuan kita." Sung Hwa berkata perlahan sebelum membantu Sung Han untuk melarikan diri dari sana.
__ADS_1
Sekitar satu jam kemudian, pasukan Kekaisaran Jeiji berhasil diusir pergi. Dan ini merupakan kabar baik. Setidaknya untuk saat ini.
...****************...
"Uaghh!!"
"Kenapa kau menyusulku!" Dengan setengah marah Sung Hwa membantu Sung Han mengurut punggungnya.
"Kau tak bisa di sana lebih lama lagi. Atau identitasmu terungkap," ucap Sung Han sambil menyeka darah di sudut bibirnya. "Lebih baik sekarang kita bersembunyi."
"Mengambil jalan pengecut?"
"Goblok!" umpat Sung Han. "Lihat keadaan kita, Sung Hwa. Apa yang bisa dilakukan oleh dua pewaris pedang gerhana?"
"Banyak," jawab Sung Hwa sengit. "Kita tak bisa dikalahkan jika bersama!"
"Kita hanya akan dijadikan rebutan orang-orang. Dan aku tak menginginkannya! Kita hanya akan dimanfaatkan, baik oleh Kekaisaran Chang atau Kekaisaran Jeiji."
Sung Hwa terdiam. Sudah ada beberapa kalimat yang hendak dikeluarkan namun seperti terhenti di tenggorokan. Dia bingung apakah Sung Han mengatakan sesuatu yang pengecut atau sesuatu yang menjadi kebenaran.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Akhirnya ia bertanya.
"Benteng Mustika Naga tak berhasil direbut, dan itu cukup memberi kita semua waktu. Setidaknya Kekaisaran Jeiji tak akan mengirim serangan langsung ke wilayah timur kita," katanya. "Kecuali jika mereka mendatangkan pasukan dari selatan sana. Dan mengirim pasukan bantuan dari daratan mereka ke selatan sebelum dikirim ke mari."
"Itu sama saja. Kita hanya akan mengulur waktu."
"Begitulah. Tapi aku yakin kaisar dan yang lainnya sudah memikirkan cara untuk menanggulangi itu."
"Tapi–"
"Apa kau tak paham?" sergah Sung Han. "Waktu telah diulur dan pasukan besar Jeiji hanya yang menduduki Desa Alang-Alang. Itu memberikan cukup waktu bagi kita untuk memulihkan diri sebelum kembali terjun ke pertempuran!"
Sung Hwa melongo, beberapa saat kemudian mengangguk-angguk. Dia paham dengan maksud Sung Han. Pemuda itu secara tidak langsung berkata, untuk sementara ini jangan ikut campur dengan peperangan lebih dulu.
"Sung Hwa, kita itu buronan," ujar Sung Han setelah sekian lama. "Tak peduli seberapa teguh tekad kita untuk membela tanah air, namun semua orang menganggap bahwa kita adalah penjahat."
Sung Hwa diam mendengarkan.
"Kita tak bisa seperti Nie Chi atau Khuang Peng yang bisa bergerak bebas dalam medan tempur. Kita hanya bisa membantu dari balik layar," suara Sung Han memelan. Nampak letih. "Tolong pahami itu."
Sung Hwa mengangguk.
__ADS_1
"Bisakah kau hapus riasanmu itu? Aku merasa seperti bicara dengan orang lain."
Dan lagi-lagi, Sung Hwa patuh tanpa banyak cakap. Entahlah, ada perubahan besar terjadi pada dirinya. Melihat Sung Han yang seperti itu, ia merasa iba dan serba salah. Merasa berdosa jika ia tak menuruti omongan Sung Han.
...****************...
Pada waktu itu, seperti dugaan Sung Han, kaisar lekas menyuruh pasukan bantuan dari kota raja itu untuk segera menyerbu Desa Alang-Alang guna melakukan pembersihan.
Mudah saja bagi pasukan Chang untuk melakukan tindak pembersihan di Desa Alang-Alang. Pasukan yang di sana masih kelelahan serta kalah jumlah. Maka terpaksa siapa pun yang selamat, berlari mundur ke selatan.
Lalu kembali turun titah kaisar untuk membangun blokade di sepanjang Pegunungan Tembok Surga. Mencegah pasukan dari selatan memasuki utara tanpa sepengetahuan prajurit. Dengan dibantu para penduduk, blokade yang cukup sederhana akhirnya mampu dibuat di sepanjang kaki Pegunungan Tembok Surga.
Untuk sementara, wilayah utara aman dari penyerbuan pasukan Jeiji dari selatan. Mereka hanya perlu fokus terhadap serangan armada Jeiji yang masih harus pikir-pikir dulu untuk mengirim serangan kedua. Hal ini cukup menenangkan.
Namun setelah setengah tahun berlalu sejak keributan di benteng Mustika Naga, kembali terjadi keributan. Yang bahkan lebih luar biasa.
Waktu itu, pangeran Chang Song Ci mengirimkan tiga gadis cantik kepada kaisar untuk hadiah ulang tahun. Kaisar menerimanya dengan tangan terbuka.
Akan tetapi, seperti biasa, putra mahkota Chang Song Jue dan putri Chang Song Zhu menaruh rasa curiga di setiap gerak-gerik pangeran Chang Song Ci. Apalagi untuk putri Song Zhu yang sudah melihat kemunafikan kakaknya itu. Mengajaknya memberontak dan menjadi ketua Serigala Tengah Malam. Merasa penasaran sekali.
Ketika pada keesokan malamnya, saat putri Song Zhu memerintahkan beberapa pelayannya, yang sejatinya seorang pendekar yang menyamar, menyelidiki tiga sosok selir itu, belum sampai satu jam mereka sudah kembali ke kamar dengan wajah tegang.
"Apa yang terjadi?" tanya Song Zhu mencoba bersikap setenang mungkin.
Tiga orang itu dengan wajah pucat, kesulitan menjawab. Namun salah satunya memberanikan diri untuk bersuara dan itu membuat putri Chang Song Zhu hampir pingsan.
Pada malam hari itu juga, tak lama kemudian, kaisar dikabarkan telah meninggal akibat tikaman pisau beracun. Ketika para perwira menyelidik, kiranya seorang di antara tiga selir baru itulah yang telah menusuk kaisar dan memilih untuk bunuh diri.
Keesokan paginya, seluruh kekaisaran berkabung atas meninggalnya sang kaisar. Namun lain halnya dengan orang-orang di istana. Mereka lebih fokus untuk saling lirik kanan dan kiri, mencurigai satu dengan yang lainnya.
Sungguh satu hal yang teramat hebat. Di saat kekaisaran terancam bahaya penjajah, tampuk kepemimpinan tertinggi justru telah pergi lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Sepasang Pedang Gerhana...
...Bagian 5 : Serbuan di Pantai Timur...
...Selesai...
BERSAMBUNG
__ADS_1