
Mereka bertarung dengan sengit dan mati-matian. Sepintas lalu terlihat untuk saling membunuh satu sama lain. Dan itu tak bisa terlalu disalahkan karena agaknya memang demikianlah. Walau nampak di mata mereka ada sinar-sinar keraguan.
Khuang Peng dan Nie Chi, yang sejak tadi mencoba bersikap netral namun terpaksa ikut turun tangan mendengar penghinaan Sung Hwa, sejatinya menjadi penengah dalam pertarungan ini. Diam-diam mereka menjaga serangan agar tidak terlalu memberati Gu Ren maupun Sung Hwa.
Ketika ada serangan Gu Ren yang menuju ke tempat berbahaya di tubuh Sung Hwa. Dengan aneh dan eloknya Khuang Peng dan Nie Chi bekerja sama. Salah satunya akan mendorong Sung Hwa dengan hawa pukulan, salah satunya lagi menangkis serangan Gu Ren.
Jadi bagi Gu Ren, tangkisan itu seolah dilakukan tanpa sengaja karena Sung Hwa menghindar, dan serangannya luput sehingga ditangkis orang lain. Karena saking marahnya, dia tidak sadar betapa tindakan itu sejatinya adalah ulah Khuang Peng dan Nie Chi secara sengaja.
Berbeda dengan Sung Hwa yang lebih awas karena dokeroyok tiga. Dia mampu melihat sikap itu dan dia memuji kesetiaan Khuang Peng serta Nie Chi. Diam-diam dia merasa terharu. Dua orang pemuda itu memang orang-orang gagah.
Sadar bahwa dirinya dilindungi diam-diam, maka dia makin membandel dan tak mau menyerah. Membentak-bentak dengan maki-makian tajam kepada Gu Ren.
"Hayo tua bangka, mengeroyok wanita saja kau tak mampu dan kau hendak menentang suamiku?!" bentaknya sambil melayang dan menendangkan telapak kakinya ke wajah Gu Ren.
Gu Ren tak menjawab, namun merasa girang. Itu adalah kesalahan Sung Hwa yang meloncat. Dia menggerakkan kipas dan melakukan gerakan menebas betis Sung Hwa.
Sung Hwa tersenyum miring negitu merasakan sambaran angin dari belakang. Itu dari tongkat Nie Chi. Dan merasakan serangan itu, dia sadar bahwa Nie Chi tak sedang mencoba menyerangnya. Justru sebaliknya, mencoba menyelamatkannya dengan mendorong punggung dan pura-pura menyerang. Sehingga Sung Hwa menerimanya saja.
"Dukk!"
Tubuh Sung Hwa terpelanting akibat dorongan tongkat Nie Chi, dan serangan Gu Ren luput. Dia mengumpat dalam hati karena sodokan itu nyeri juga.
Ketika bangkit, dari kanan sudah menyambar Pedang Darah milik Khuang Peng. Spontan dia merendahkan tubuh dengan menelungkupkan badannya. Saat itu, menyambar angin pukulan tepat di atas kepala. Tahulah dia bahwa kini Khuang Peng secara tidak langsung menyelamatkannya dari serangan Gu Ren.
Sung Hwa bangkit dan melanjutkan serangan-serangannya yang lebih berfokus pada Gu Ren. Orang tua itu hilang kesabaran dan benar-benar ingin menundukkan Sung Hwa.
Tanpa terasa satu jam terlewat dan lebih dari seratus jurus mereka melakukan pertarungan. Namun harapan Khuang Peng dan Nie Chi yang ingin agar Sung Hwa dapat menyerah, malah semakin beringas begitu sadar mereka melindunginya. Tentu saja rasa jengkel melonjak ke dada dan menganggap Sung Hwa tak tahu diri.
Akhirnya, setelah beberapa waktu berselang, Sung Hwa benar-benar dikeroyok tiga. Mereka serius ingin menundukkan Sung Hwa.
"Menyerahlah, Sung Hwa! Kita bisa bicara!" Nie Chi mengingatkan, sembari melirik Gu Ren. Menyiratkan bahwa dia juga memperingatkan orang tua itu.
__ADS_1
Namun Sung Hwa masih terus membandel. Sadar mereka kini benar-benar mengeroyoknya, dia semakin tak sudi untuk kalah. Apalagi di depan suaminya. Sung Hwa menyerang mati-matian.
Khuang Peng benar-benar sudah hilang kesabaran. Sung Hwa memang amat keras kepala, sejak dirinya bernama Han Ji dulu itu. Dia memang mengagumi bahkan mencinta wanita itu, hanya karena sudah menjadi suami Sung Hanlah maka dia tak terlalu berani dekat-dekat. Mengingat kebandelan Han Ji dahulu, juga cinta kasihnya yang gagal, tanpa sadar dia menjadi marah dan rasa egois sekelebatan menyelinap dalam benarknya. Membuat satu bentakan nyaring penuh kemarahan terlontar dari mulutnya.
"****** sialan! Menurutulah!!"
Pikiran Sung Hwa kosong seketika dan dia terbengong. Begitu pula dengan Gu Ren dan Nie Chi yang terkejut sekali dan membuat serangan mereka melenceng.
Sung Hwa yang sama sekali tidak menyangka akan mendengar bentakan itu dari mulut Khuang Peng menjadi bingung dan tidak memiliki kesempatan menghindar ketika Pedang Darah menyerempet perutnya.
"Craaass!!"
Sung Hwa terpelanting dengan darah muncrat-muncrat. Saat itulah Khuang Peng merasa jantungnya diremas dan dia kembali ke kenyataan. Apa yang telah dilakukannya membuat pemuda itu menjerit dan menubruk.
"Sung Hwa!" teriaknya panik ketika wanita itu jatuh terlentang tak bergerak lagi.
Akan tetapi pada saat itu, terlihat bayangan hitam dari samping yang bergerak cepat sekali. Terdengar teriakan-teriakan Gu Ren dan Nie Chi yang seperti sedang mencegah sesuatu. Namun terlambat.
"Sraaatt!!"
Lehernya berdarah. Cairan merah gelap menyembur deras dari goresan memanjang secara horisontal dari kiri ke kanan. Dia memegangi luka itu erat-erat dan bersyukur tidak dalam sekali sampai memutus urat nadinya.
"Sung Han ...."
Pemuda itu menatapnya dengan mata mencorong bagai naga marah. Kepalanya sedikit tertunduk dan pedang gerhana yang telah ternoda cairan merah itu tergenggam erat di tangan kanan dengan sedikit gemetar.
"Kau bosan hidup ...," desisnya dan tanpa aba-aba lagi, tubuhnya melesat lalu melakukan serangan-serangan maut.
Khuang Peng mau tidak mau kewalahan dan satu-satunya cara adalah melawan. Dia maklum akan keganasan Pedang Gerhana Matahari di tangan Sung Han. Maka dia tidak sungkan-sungkan lagi.
"Sung Han, tahan emosi!!" Gu Ren berteriak nyaring dan melompat maju. Menyerang pemuda itu dengan gerakan menggunting.
__ADS_1
Nie Chi tanpa pilihan lain ikut membantu. Dia melihat suatu hal buruk di sini. Sung Han seperti orang kerasukan, dia menebaskan pedangnya tanpa keraguan. Menganggap mereka sebagai musuh asli.
"Sung Han, tenang!! Sadarlah!!" Nie Chi berteriak-teriak putus asa sambil melayangkan tongkatnya.
Gu Ren diam-diam merasa bersalah. Dia tadi yang menyulut kemarahan Rajawali itu sampai harus melibatkan dua orang lainnya. Sama sekali tidak pernah terbayang dalam kepalanya bahwa Khuang Peng akan mengatakan hal semengerikan itu.
Sung Han memfokuskan serangan kepada Khuang Peng seorang. Walau serangannya menyebar ke tiga penjuru, memapaki serangan Gu Ren dan Nie Chi, namun pandangannya terkunci kepada Khuang Peng seperti seekor hewan buas kelaparan.
Mereka bergidik. Bukan ini Sung Han yang dikenal. Mata kuning itu, mata seteduh bulan purnama itu, tak akan pernah menampakkan kekejian nyata yang haus darah seperti itu.
Tanpa terasa, Khuang Peng yang menjadi pewaris Rajawali Putih itu bergidik.
"Trang!!"
Pedangnya terpental ketika Sung Han melakukan tebasan dari bawah ke atas. Ketika serangan susulan berupa bacokan datang, Khuang Peng sudah bersiap.
Namun pada saat itu, sepasang kipas dan tongkat menahan laju pedang.
"Trangg!!"
Bunga api berpijar dan hebat sekali, tangan Gu Ren serta Nie Chi anjlok ke bawah. Seolah mereka baru saja menangkis sebuah batu yang besar dan berat sekali. Namun gerakan Sung Han berhasil dihentikan.
Sung Han menggerakkan kaki dua kali dan Gu Ren serta Nie Chi terpental beberapa langkah. Pemuda itu melangkah lagi dan pedangnya menusuk cepat.
"Sung Han cukup!"
Suara melengking ini berhasil membuat mata Sung Han terbelalak dan seluruh tubuhnya bergetar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1