Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 239 – Kakek Pembawa Peti


__ADS_3

Baik Gu Ren, Khuang Peng maupun Nie Chi, merasa kebingungan ketika menerima perintah kaisar untuk mencari Sung Han dan Sung Hwa. Bukan bingung dengan perintahnya, namun bingung hendak mencari ke mana.


Sudah sejak beberapa bulan lalu mereka terakhir kali melihat Sung Han dan Sung Hwa yang pergi dengan terburu-buru dari istana. Lalu setelah itu sama sekali tak ada kabar. Setan Tanpa Wajah dan Rajawali Merah benar-benar lenyap seperti ditelan bumi.


Gu Ren mengajak dua temannya untuk mencari ke kaki Pegunungan Tembok Surga. Karena Sung Han dan Sung Hwa waktu itu agaknya hendak menyelidiki soal Kekaisaran Jeiji. Namun setibanya di sana, mereka sama sekali tak menemukan apa-apa. Bahkan bertanya kepada para petugas pun tak ada yang tahu soal dua orang itu.


Akhirnya mereka kembali ke utara, lalu ke timur dan barat. Akan tetapi hasilnya tetap nihil, Sung Han dan Sung Hwa benar-benar hilang. Inilah alasan mengapa tiga orang itu sedikit meragu begitu menerima perintah dari kaisar untuk mencari Sung Han dan Sung Hwa. Mereka pikir mungkin kali ini dua orang itu sudah pergi entah ke mana dan orang-orang macam mereka itu agaknya tak bisa ditemukan kecuali memang sengaja menampakkan diri.


Mereka itu orang-orang sakti yang kadang berwatak aneh. Siapa yang tahu kalau seandainya saat ini baik Sung Han dan Sung Hwa sudah menyeberang ke daratan selatan?


Pada satu waktu, Nie Chi mengeluh. "Memang sepertinya mustahil untuk menemukan mereka. Mereka sudah seperti para pertapa. Tak bisa dilihat kecuali kalau itu yang mereka inginkan."


Khuang Peng mendudukkan diri di sebelah Nie Chi dan mengipas-ngipas wajahnya dengan topi capingnya. "Keadaan seperti sekarang benar-benar tidak mengenakkan. Lebih baik perang sekalian antara dua kubu. Tidak seperti situasi damai yang semu dan rawan."


Gu Ren mengangguk. "Memang benar. Dan mungkin menghilangnya Sung Han dan Sung Hwa secara tiba-tiba adalah karena hal itu. Mereka ingin menyelidiki mengapa Jeiji tak lekas ambil tindakan."


"Kau maksudkan dia sudah sampai ke daratan selatan?" sahut Nie Chi. "Yang benar saja?"


"Bukan tidak mungkin," jawab Gu Ren. "Orang-orang sakti yang hidup bebas seperti mereka, siapa yang bisa menebak jalan pikirannya?"


Mereka lalu bercakap-cakap di bawah pohon itu untuk melepas penat. Sebuah desa sudah nampak dari sini dan itulah tujuan mereka berikutnya. Sekitar satu jam kemudian, Gu Ren memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke desa itu.


Sesampainya di desa, ketiganya mengerutkan kening ketika merasakan situasi janggal di desa. Para warga melakukan aktivitas seperti biasa, namun di wajah-wajah tersirat ketakutan dan kengerian.


Gu Ren berinisiatif untuk menghentikan salah seorang yang lewat. Ia tepuk bahunya dan menegur. "Maaf, ada apakah di desa ini sampai membuat kalian ketakutan?"


Sebelumnya, orang itu sempat tersentak kaget. Akan tetapi mendengar ucapan Gu Ren itu, seperti diingatkan oleh sesuatu, kembali wajahnya yang kebingungan itu berubah menjadi kengerian.


Ia memandangi pakaian ketiga orang yang ada di hadapannya itu, kemudian bertanya. "Kalian dari luar?"


"Benar," jawab Gu Ren seraya mengangguk.


"Kaum pendekar?"

__ADS_1


"Bisa dibilang begitu."


Mendengar ini wajah orang tersebut menjadi cerah. Cepat dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Gu Ren. Hal ini membuat ketiganya terkejut dan menarik perhatian orang-orang.


"Eh-eh, ada apa ini?" bingung Gu Ren mencoba membuat orang itu bangkit berdiri. "Berdirilah."


Namun orang itu tetap bergeming. Dia berkata dengan sedikit gemetar. "Tuan pendekar, tolonglah kami semua. Sudah sejak dua hari lalu ada orang aneh di desa ini. Kakek-kakek yang membawa peti mati. Dia tidak mengganggu namun itu cukup menakutkan kami. Apalagi sikapnya yang cukup aneh, sepertinya dia bukan dari bangsa manusia."


Gu Ren dan dua lainnya saling pandang. Mendengar keterangan itu pasti ini adalah orang sakti. Siapa lagi kalau bukan orang sakti yang bersikap aneh-aneh?


Namun ketiganya merasa heran bahwa belum pernah mereka mendengar ciri-ciri orang sakti yang seperti itu. Membawa peti? Seorang kakek-kakek?


Khuang Peng melangkah maju dan bertanya. "Di mana dia sekarang?"


"Di kedai makan ujung jalan sana," jawabnya sambil menunjuk ke satu arah. "Tolong lakukan sesuatu tuan-tuan."


"Baiklah, kami akan menegur kakek tua itu," jawab Gu Ren dan segera mengajak kedua temannya untuk pergi ke kedai ujung jalan.


Tak sulit untuk menemukan kedai ini karena hanya nampak satu kedai di daerah situ. Cepat mereka memasuki kedai, setelah menyingkap jendela, nampak pemandangan yang amat luar biasa akan tetapi juga sedikit lucu.


Jelas semua orang menjauhi kakek satu ini. Bahkan mereka tiga orang pendekar itu pun merasa merinding. Dan mereka segera tahu bahwa orang inilah yang dimaksud kakek-kakek pembawa peti itu.


Kakek itu tidak memesan apa-apa kecuali satu guci arak. Dan saat ini, dia hanya duduk termenung memandang ke luar jendela.


Tiga pendekar itu menghampiri dan Gu Ren cepat memberi hormat. "Maaf tuan, tapi benarkah tuan ini yang menjadi biang keladi ketakutan warga?"


Kakek itu tak menghiraukan untuk beberapa saat. Ketika Gu Ren ingin menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya, kakek itu menoleh lalu menjawab. "Kurasa kau sudah tahu. Menurutmu?"


Mendengar suara itu, entah kenapa Gu Ren dan dua kawannya merasa dingin di tengkuknya. Pantas sajalah bahwa orang-orang desa merasa ketakutan. Bahkan mereka yang merupakan pendekar sejati pun tetap terguncang.


"Mohon maaf, tapi anda telah menakuti orang-orang," kata Gu Ren lagi.


Sama seperti sebelumnya, kakek ini tak langsung menjawab. Dia menatap Gu Ren dan dua orang lainnya bergantian. Matanya yang amat cekung itu kelihatan acuh dan sedikit malas. Lalu jawabannya dikeluarkan dengan nada menyeret setengah hati.

__ADS_1


"Lalu, apa urusanku? Yang penting aku tak mengganggu."


Gu Ren kehabisan kata-kata. Memang benar apa yang dikatakan kakek itu, dia hanya singgah di sini dan sama sekali tidak mengganggu. Namun peti hitam dan wajah menyeramkannya itulah yang mengganggu, mengerikan!


Sebelum Gu Ren menemukan jawaban untuk ucapan si kakek tersebut, dari luar berturut-turut masuk tiga orang yang kesemuanya mungkin berumur tiga puluh sampai empat puluh tahun.


Mereka segera mengenal si kakek pembawa peti itu, dan dengan wajah sumringah datang menghampiri.


"Syukurlah kami bisa menemukan tuan di sini. Ketiga guru kami–"


"Apakah tiga orang Pertapa Senyap sama sekali tak ingat dengan sahabat. Bahkan hanya mengutus muridnya untuk menjemput?" kata kakek itu memotong ucapan salah seorang dari pria yang baru datang. Dia lalu menenggak araknya. "Katakan alasan yang cukup masuk akal kenapa harus muridnya yang datang menjemput?"


"Maaf, tapi tiga guru tak bisa meninggalkan pegunungan seenaknya."


"Salah satunya kan bisa."


"Ini perintah guru. Mohon maaf," pria itu kelihatan sungkan.


Si kakek menghela napas gusar, menghabiskan araknya dan meletakkan beberapa keping koin di atas meja. Ia bengkit dan mengangkat peti matinya, menoleh menatap Gu Ren.


"Nah, aku pergi. Orang yang kau anggap mengganggu ini akan pergi," ucapnya sebelum keluar dari kedai bersama tiga orang lainnya.


Gu Ren merasa bingung dan heran. Namun yang pasti, dia yakin bahwa kakek itu pastilah seorang pendekar. Dia belum pernah mendengar akan nama Pertapa Sunyi, namun melihat ciri-ciri kakek itu, dia merasa tak asing.


"Apa jangan-jangan dia adalah majikan Goa Emas?" celetuk Nie Chi tiba-tiba.


"Maksudmu?" Khuang Peng tampak tertarik.


"Kalian ingat, kan, waktu pasukan Jeiji digempur di Goa Emas. Yang menghadapi mereka salah satunya adalah pendekar kosen berjuluk Iblis Peti Goa Emas. Melihat ciri-cirinya, bukan tidak mungkin bahwa Iblis Peti Goa Emas adalah orang yang baru pergi itu."


Ketiganya segera teringat dan diam-diam bersyukur tadinya tak bersikap terlalu lancang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2