Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 254 – Kalian Keluargaku


__ADS_3

Niat awal, setelah berdiskusi semalaman hingga siang hari itu, Sung Han dan Sung Hwa berencana untuk memberitahu tuan putri tentang keberadaan manusia gunung yang mungkin saja telah ambil tindakan dalam pertempuran ini.


Waktu itu, ketika Sung Hwa baru saja keluar dari wilayah kerajaan manusia gunung, dia langsung jadi pemberontak dan ketika bertemu dengan tuan putri saat menyamar sebagai seorang tabib, dia belum sempat menceritakan pengalamannya secara mendetail.


Untuk Sung Han sendiri, walaupun belum pernah melihat wujud asli baik kerajaan maupun rakyat dari manusia gunung, namun dia percaya penuh pada ucapan istrinya tanpa keraguan sedikit pun.


Akan tetapi keduanya terpaksa harus menunda keperluan mereka ketika baru beberapa tombak meninggalkan halaman rumah, datang tiga orang dari kejauhan.


Sung Han dan Sung Hwa sudah mengenalnya. Siapa lagi kalau bukan tiga pewaris pusaka keramat. Gu Ren, Khuang Peng dan Nie Chi.


Mereka berjalan sambil bercakap-cakap santai. Jelas tujuannya datang kemari karena satu-satunya jalan setapak itu hanya akan tertuju ke rumah yang dihuni Sung Han dan Sung Hwa dalam benteng itu.


Agaknya ketiganya langsung tersadar beberapa waktu setelah Sung Han dan Sung Hwa keluar pekarangan. Secara bersamaan mereka tersenyum. Bahkan Gu Ren melambaikan tangannya.


"Ada apa mendatangi kami?" tanya Sung Han saat ketiganya sudah tiba dekat.


"Hahaha, maaf jika kami mengganggu kalian, tapi aku baru saja memikirkan hal bagus," Gu Ren menjawab sambil tertawa. "Ini momen yang pas. Mari kita minum-minum."


Sung Han mengerutkan kening sedangkan Sung Hwa mencebikkan bibir.


Sung Han bukannya anti arak atau tak bisa minum arak, namun dia jarang sekali untuk menyentuh minuman beralkohol. Menganggap jika seorang pendekar sampai mabuk, itu akan membahayakan diri sendiri karena tidak mampu bersikap waspada.


Sedangkan Sung Hwa, hampir sama seperti suaminya, namun dia jarang minum arak karena kurang suka dengan rasanya.


"Kalian tahu aku jarang minum. Kalaupun minum hanya sedikit saja. Tak ada penawaran yang lebih baik?" ujar Sung Han yang secara terang-terangan menyatakan keberatannya. "Lagi pula, tidak baik rasanya kita yang menganggap diri sebagai pembela bangsa malah minum-minum di saat seperti ini."


Wajah ketiganya nampak sedikit kecewa. Bagaimanapun juga ucapan Sung Han benar adanya.


Ketiganya saling pandang dan mengangguk. Gu Ren kembali memberi penawaran. "Bagaimana jika hanya duduk berlima dan mengobrol saja? Bukankah itu hal bagus? Demi mempererat persaudaraan kita."

__ADS_1


Sung Han melirik istrinya. Seperti biasa, Sung Hwa tak ambil keputusan. Dia balas menatap suaminya dengan tatapan yang seolah berkata, "aku hanya ikut".


"Baiklah, itu bukan masalah."


...****************...


Mereka duduk-duduk di taman dalam benteng itu yang cukup indah. Ini merupakan taman kecil yang katanya dulu sering digunakan pangeran Chang Song Ci untuk bersantai. Sebuah taman dengan rumput terawat rapi dan bunga-bunga indah di beberapa sudutnya.


Sebuah kolam buatan dengan dilingkari batu-batu alam berada tepat di tengah taman. Jembatan merah yang menghubungkan kedua sisi kolam tampak makin cantik dengan ukiran bunga lotus, mawar dan melati di sepanjang pagarnya.


Tepat di tengah jembatan, ada semacam ruangan terbuka yang terdapat meja lengkap dengan kursi. Di sinilah mereka berlima berkumpul dengan berbagai macam hidangan dan air teh panas. Nyaman sekali berteduh di sini sedangkan cuaca di luar cukup panas. Memandangi kolam dengan ikan-ikan mas yang saling berkejaran, juga bunga teratai yang bergerak lambat, membuat batin siapa pun merasa tenteram.


Entah karena dorongan apa, namun kelimanya itu seolah sudah bersepakat. Bahwasannya pertemuan ini bukan untuk membahas masalah politik atau bahkan perang. Ini pertemuan antar saudara. Pertemuan damai yang di mana masa lalu atau masa depan tidaklah penting. Yang penting hanya masa kini.


Kelimanya membicarakan hal-hal konyol dan tidak penting apa pun yang terpikirkan di kepala mereka. Berusaha keras menciptakan suasana damai yang, bahkan mereka semua tahu, hanyalah semu belaka. Akan tetapi itu cukuplah untuk mengistirahatkan tubuh dan batin yang lelah di tengah situasi perang ini.


"Ketika aku dilatih, guruku amat keras dan tak lebih baik dari setan. Sekali salah kepalaku kena pukul. Dua kali salah tulang rusukku bergetar. Lebih dari lima kali kurang benar, maka satu hari satu malam aku tak boleh makan, dan itu terjadi sudah lebih dari tiga kali." Antara lain Nie Chi bercerita. Pemuda dengan watak lincah gembira ini selalu menyunggingkan senyum dalam perjamuan kali ini.


"Kisah hidupku amat cocok dan pas sekali dengan ungkapan 'kemarin lawan sekarang belum tentu'. Hahaha, benar tidak?" ujar Gu Ren seraya melirik-lirik Sung Han. Dan Pemuda itu mendengus lalu membuang muka.


Sung Hwa yang melihat kehangatan suasana ini, percakapan yang mengalir, kejenakaan Nie Chi dan tawa menggelegar dari Gu Ren, tanpa terasa dia menyunggingkan senyum.


Sebisa mungkin dia tidak melirik ke arah Khuang Peng yang entah sejak kapan terus memandangnya. Pandangannya demikian mesra, penuh getaran hati, penuh kerinduan, namun penuh kedukaan.


Sung Hwa sudah sadar akan hal ini, hanya saja dia yang pura-pura tidak tahu dan mencoba sebisa mungkin untuk melupakannya. Ini adalah rahasianya. Dan apabila ada sesuatu yang disembunyikan Sung Hwa dari suaminya, maka inilah satu-satunya.


Dia sudah tahu, sejak di Benteng Mustika Naga dahulu, bahwa Khuang Peng memandangnya dengan tatapan yang berbeda. Tak salah lagi, lelaki itu mencintanya! Mencintanya bukan sebagai saudara, melainkan sebagai seorang wanita!


Demikian pula dengan Sung Han. Sejatinya dia sudah sadar sejak beberapa hari lalu ketika mereka tiba di benteng ini. Hanya saja dia tidak ingin menghancurkan suasana hangat di antara mereka berlima, sehingga mengambil sikap pura-pura tidak tahu. Dia percaya pada Sung Hwa, dan percaya pula pada Khuang Peng. Dua orang itu tidak akan pernah melakukan tindakan di luar norma!

__ADS_1


Tanpa terasa, percakapan mereka telah memakan waktu berjam-jam dan kini hari sudah sore. Matahari mulai menyembunyikan diri di ufuk barat, dan bulan separuh samar-samar tampak menggantung di langit sana.


"Aku ingin menemui tuan putri, agaknya hanya sampai di sinilah pertemuan kita. Sayang sekali," Sung Han bangkit berdiri diikuti oleh istrinya. "Ini sangat menyenangkan, sungguh. Aku berharap situasinya akan berbeda."


"Aku pun demikian," Gu Ren menimpali dan berdiri pula. "Semoga saja kita bisa bertemu lagi dalam situasi yang jauh berbeda. Tiada perang, tiada permusuhan. Hanya ada cinta kasih."


"Kau hanya mimpi," sahut Sung Hwa.


"Mana ada tiada permusuhan dan tiada perang? Selama masih ada orang-orang tamak, hal itu tidak akan terwujud," Nie Chi menyetujui, dan entah sejak kapan dia sudah berdiri pula.


"Kalau begitu," Khuang Peng menyahut lalu berdiri. Semua mata ditujukan padanya dengan tatapan penasaran. "Kita, lima orang Raja Dunia Silat generasi dua, harus menciptakan perdamaian sungguhpun tidak selamanya."


"Hahaha!" tiba-tiba Sung Hwa tertawa. "Apa sih perdamaian itu jika pada lahirnya saling memuji, namun batinnya penuh rasa dengki?"


"Tak jadi soal apakah kita bisa menciptakan kedamaian atau tidak. Pula, adakah sejarah yang menyebutkan tentang perdamaian sejati. Kalaupun ada, pasti itu tidak akan berlangsung lama. Di dunia ini tak ada yang abadi," Sung Han melanjutkan ucapan istrinya. Dia lalu memandang wajah keempatnya satu per satu. "Hanya saja ... aku ingin kita berlima terus seperti ini."


Nie Chi tertawa, lalu mengangkat tangannya ke depan. "Saudara sampai mati!!"


Gu Ren menyambut uluran tangan itu, diikuti oleh Khuang Peng yang berkata. "Kita keluarga!"


Sung Hwa meletakkan tangannya di atas tangan ketiga orang itu. "Tak akan ada siapa pun di dunia ini yang bisa memutus ikatan keluarga kita!"


Yang terakhir, selang beberapa detik, Sung Han mengangkat tangannya dan menggenggam tangan mereka. Matanya tanpa terasa terasa panas, jika tidak ditahan-tahan tentu turunlah air mata.


Sejak lama, entah sejak kapan dia tidak merasakan perasaan ini. Perasaan hangat yang penuh kenyamanan, bahkan selama beberapa menit sebelumnya dia sempat berharap bahwa perasaan ini tak akan pernah hilang selamanya.


Dengan suara bergetar, akhirnya Sung Han mampu berkata. "Kalian keluargaku ...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2