Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 213 – Keadaan di Timur


__ADS_3

Perginya Kekaisaran Jeiji menuju ke desa Alang-Alang itu sebenarnya ada kaitannya dengan kepergian Sung Hwa yang menuju timur. Ketika dia dan Sung Han berpisah dalam pengeroyokan itu, Sung Hwa yang pergi ke timur mendapati beberapa masalah. Ini juga yang menyebabkan ia tidak datang tepat waktu ketika Sung Han sudah tiba lebih dulu di desa Alang-Alang.


Ketika dalam perjalanan selama pelarian itu, Sung Hwa sama sekali tidak pernah menutup telinga. Dia selalu mencari segala informasi mengenai Kekaisaran Jeiji di sepanjang jalan. Bertanya-tanya kepada orang-orang yang ditemui.


Dan Betapa terkejutnya ketika Sung Hwa sampai di salah satu desa, bertemu dengan seorang pendekar pengembara yang kebetulan ditanyainya mengenai Kekaisaran Jeiji. Orang itu menggeleng-geleng dan menghela napas.


"Sudah tiga kali hari ini aku ditanyai hal serupa," ucapnya. "Dan engkau yang keempat nona."


"Eh, benarkah? Saudara, harap kau suka beri penjelasan," pinta Sung Hwa.


"Mari duduk dulu di sana nona, biar kita bisa bercakap-cakap dengan enak," katanya sembari menggiring Sung Hwa menuju ke salah satu batu pinggir jalan. Ketika keduanya sudah duduk berhadapan, orang itu melanjutkan. "Kekaisaran itu memang kuat."


Sung Hwa mengerutkan kening. "Hm, ucapanmu seakan kau sedang tidak berani."


"Sungguh mati," ujarnya putus asa. "Belum pernah aku merasa selemah ini sebelumnya nona."


"Memangnya ada apa dengan Kekaisaran Jeiji?" Sung Hwa makin penasaran.


Orang itu mulai menjelaskan. Wajahnya berkerut sehingga nampak lebih tua beberapa tahun dari usia sebenarnya. "Kekaisaran Jeiji berada di seberang timur daratan Chang. Dan kau tahu nona? Mereka baru saja mengirimkan pasukan bantuan. Seminggu lalu kapal-kapal perang mereka sudah terlihat di pantai timur kita."


Sung Hwa terbelalak. Perkataannya sedikit keras saking kaget bercampur heran. "Apa? Bukankah pasukan di selatan sana sudah termasuk amat banyaknya?"


"Itulah siasat perang," orang itu menjawab. "Kita seorang pendekar yang terbiasa berkelahi satu lawan satu, mana paham dengan siasat macam itu?"


Sung Hwa mengerutkan keningnya, nampak sedang berpikir keras. Tiba-tiba dia teringat akan matinya jenderal Hong Ciu. Bukankah akan lebih menguntungkan jika saja Kekaisaran Jeiji menyandera keluarganya dan memanfaatkan kekuatannya?


"Ah, aku tahu!" ujar Sung Hwa tiba-tiba.


Lelaki itu melirik, nampak tak tertarik dan terpaksa. Hanya terdorong refleks saja dia bertanya. "Tahu apa?"


"Ini mungkin ada hubungannya dengan kematian jenderal Hong Ciu."


"Oh, jenderal itu jenderal Chang. Wajar kalau dibunuh."

__ADS_1


"Tidak!" tegas Sung Hwa. "Jika aku jadi pimpinan penyerbuan ini, aku akan menyandera keluarga jenderal Hong Ciu dan memaksanya untuk membantu pihakku. Bagaimanapun juga, jenderal Hong Ciu adalah seorang jenderal yang pandai bersiasat. Setidaknya itu yang kudengar."


Mata lelaki itu melebar, nampak mulai tertarik. "Oh, jelaskan nona. Lalu apa hubungannya dengan semua ini?"


Bangga juga Sung Hwa mengetahui pemikirannya membuat orang lain tertarik. "Kemungkinan pangeran Nakagi sudah memperhitungkan segalanya. Dan menurut dugaannya, jenderal Hong Ciu sudah merencanakan penanggulangan pengiriman pasukan bantuan itu. Maka dari itulah, dia main aman dengan membunuhnya lebih dulu. Dan itu amat merugikan kita karena telah kehilangan ahli siasat."


Lelaki itu mengangguk-angguk setuju. Dia mengelus dagunya yang tak berjenggot itu. "Masuk di akal ..., masuk akal," gumamnya. Tapi tiba-tiba dia berseru. "Eh, nona, jika seperti itu faktanya, berarti selama ini kekuatan tempur mereka belum merupakan kekuatan pasukan utama?"


Sekali ini, Sung Han juga terbelalak dengan wajah pucat.


"Mati kita ...," orang itu bergumam dengan lirih dan amat putus asa. "Mati ...."


...****************...


Sung Hwa melupakan urusannya dengan Sung Han dan memilih untuk terus melakukan perjalanan ke timur. Dia menganggap jika Sung Han berada di posisinya, pasti akan melakukan hal serupa.


Kadang Sung Hwa tersenyum-senyum sendiri betapa nanti dia akan menceritakan pengalamannya menghalau musuh-musuh Chang untuk masuk lebih jauh ke daratan. Betapa nanti Sung Han akan merasa bangga dengannya.


Namun di lain sisi, kadang-kadang perasaan malu sampai membuat wajahnya memerah juga sering dialaminya. Hal ini terjadi ketika dia teringat betapa Pedang Gerhana Bulan ada padanya. Bukankah kutukan itu, jika pedang dipegang oleh orang yang berlaianan jenis, maka ...


"Tidak ..., tidak mungkin!" Sung Hwa mengacuhkan kepalanya yang benjol setelah dibenturkannya ke batang pohon besar. "Ini hanya sementara!"


Dia terus meyakinkan diri sendiri bahwa hal itu tak mungkin terjadi. Bukankah rencananya, jika bertemu di desa Alang-Alang maka Sung Hwa akan mengembalikan pedang itu? Dia tak boleh terlena.


Waktu berlalu demikian cepat sampai tak terasa jika Sung Hwa sudah tiba di wilayah pinggiran daratan. Kawasan ini masih merupakan hutan lebat, namun sudah dekat dengan pesisir.


Dia harus sering-sering menutupkan tudung jubahnya untuk menyembunyikan identitas. Di wilayah ini, sudah sering terlihat rombongan-rombongan pasukan tentara yang melakukan patroli. Makin yakinlah hati Sung Hwa jika ucapan si lelaki pendekar itu benar adanya.


Dia menyembunyikan diri di salah satu kamar rumah penginapan. Sembari menginap satu malam, dia juga mencari informasi dari sini.


Menurut hasil penyelidikannya, sudah seminggu sejak kapal-kapal perang Jeiji berada di laut timur Chang. Hanya menunggu, tidak menyerang. Hal itu jelas membuat orang-orang menjadi gelisah. Karena itulah penjagaan diperketat.


Lalu Sung Hwa juga mendengar bahwa pusat pertahanan kekaisaran Chang adalah di benteng Mustika Naga yang berada di pinggir pantai. Berupa tembok panjang yang melindungi pantai timur Chang. Segera Sung Hwa berangkat ke sana pada keesokan paginya.

__ADS_1


Ketika sore hari itu juga, dia sudah sampai di kota dekat benteng Mustika Naga. Bahkan tembok panjang itu sudah nampak jelas. Terdapat kerumunan orang di salah satu bangunan, hingga dia merasa penasaran dan mendekat.


"Ingin daftar jadi prajurit juga?" tanya seorang bocah yang mungkin umurnya lima tahun lebih muda darinya.


"Apa maksudmu?" Sung Hwa membuka tudung jubahnya. Karena dia juga seorang murid sastrawan, maka sekarang ini dia pandai melukis, pun dengan melukis wajahnya. Saat ini dapat dipastikan tak akan ada yang mengenal Rajawali Merah. "Jangan bilang kau hendak mendaftar?"


Bocah itu tiba-tiba menyatukan alisnya. "Hei, kau jangan remehkan aku!" katanya lalu mengangkat sebilah pedang dengan sedikit keberatan. Pedang itu kebesaran untuk seukurannya yang hanya sepundak Sung Hwa. "Aku bisa melakukan ini!"


Dia menebas ke arah pohon besar di sampingnya. Ketika pedang itu menghantam tepat pada bagian yang keras, sejauh satu jengkal pedang itu melesak ke dalam pohon.


"Lumayan." Sung Hwa memberi komentar.


Anak laki-laki itu kelihatan bangga dan membusungkan dada.


"Tapi musuhmu bisa melakukan ini." Sung Hwa mengambil pedang itu dan menebaskannya ke pohon tadi. Seolah mengiris tahu, seketika pohon itu tumbang!


Anak laki-laki itu meleletkan lidahnya saking kagum juga kaget.


"Pulanglah, ini bukan lapangan permainan anak-anak," jelas Sung Hwa mengelus kepala anak laki-laki itu. Dan dia segera menepisnya.


"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!"


"Berikutnya!" Salah seorang berteriak ketika Sung Hwa hendak membalas perkataan orang. Ketika anak itu ingin maju, Sung Hwa menarik kerahnya dan melemparnya jauh.


"Pulanglah!" serunya.


Sung Hwa menghampiri tentara itu. Terlihat tentara itu memandangnya dari atas sampai bawah, ada sinar kagum dan sedikit kurang ajar darinya. Namun jelas sekali orang itu menyembunyikannya karena dia telah melihat permainan pedang Sung Hwa yang memotong pohon besar tadi.


Dia berdeham beberapa kali sebelum berkata. "Kau ingin mendaftar nona?"


"Ya!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2