
Terlalu lama sudah kita tidak melihat keadaan seorang gadis cantik berambut kepang itu. Salah satu tokoh penting dalam kisah ini. Dia adalah putri Hati Iblis, Sung Hwa namanya.
Bersama Mi dan Yu, dua orang saudara seperguruan yang amat setia mengikuti setiap langkah nonanya itu tak pernah sekali pun memgeluh dan membantah setiap perintah gadis itu. Tentu saja ini menimbulkan rasa suka dan sayang di hati Sung Hwa. Membuat dia menganggap dua orang itu sebagai keluarga sendiri dan perlahan-lahan, seiring bertambahnya hari, gadis itu tidak terlalu keras memperlakukan dua orang tersebut.
Setelah mendatangi Perguruan Awan dan bertemu dengan sosok yang dicari-carinya, yaitu Sung Han, dia mendapat kekecewaan besar karenanya. Sung Han yang diharapkan bantuannya agar dapat menolong Hati Iblis dan membebaskan para anggotanya, justru malah dia sendiri yang menamatkan riwayat partai tersebut. Tentu saja ini menimbulkan kemarahan hebat di hati Sung Hwa.
Gadis ini bertekad untuk membalas dendam kepada pemuda itu dengan caranya sendiri. Saat itu jelas terlihat kepandaian Sung Han jauh melampaui dia, maka hal pertama yang akan dia lakukan adalah mencari kekuatan.
Dalam pengembaraannya itu, sampailah tiga orang ini di kota raja. Kota Zamrud namanya. Kota raja kekaisaran Chang yang amat luas dan megah.
"Berapa biayanya?" tanya Sung Hwa ketika sudah tiba gilirannya untuk masuk ke kota raja. Dia sudah merogoh-rogoh uang di dalam buntalannya.
Beberapa penjaga itu melongo melihat paras Sung Hwa yang jarang bandingannya. Sungguhpun kulitnya sedikit menggelap karena paparan sinar matahari selama petualangannya, namun hal itu justru menambah daya tarik dan kemanisan dara satu ini.
Sampai lama mereka bengong dan Sung Hwa harus menegur lagi, "Berapa?"
Salah satu orang, yang tadi enak-enak duduk di pos dan bermain kartu dengan kawannya, bangkit berdiri dan cepat-cepat mendekat. Ia menjura hormat lalu berkata.
"Langsung saja masuk nona."
Tentu saja Sung Hwa mengerutkan kening, namun tidak dengan Mi dan Yu yang sudah paham.
"Apa maksudmu? Orang-orang tadi membayar semua, kenapa aku tidak? Ini sih namanya tidak adil!" bantah Sung Hwa.
Orang itu terkejut dan cepat berkata lagi, "Ah...nona ini terlalu menganggap serius. Benar saja tidak adil kalau nona tidak bayar. Hanya saja cara nona membayar sedikit berbeda." mendengar ini kawan-kawan penjaga itu terkikik geli.
"Nona, kami terlalu lama menjadi petugas penjaga gerbang dan merasa jenuh sekali. Kalau begitu kiranya nona dan saudara berdua yang baik hati, bolehlah untuk menemani kami minum." ajaknya kepada Sung Hwa, Mi dan Yu.
Sampai sini, Mi dan Yu segera bertindak. Dua orang ini maju sampai ke depan nonanya. Kemudian Mi membentak.
"Kami buru-buru!"
Yu mengambil dua keping perak dan melemparkan uang itu kepada penjaga, "Makan ini!"
__ADS_1
Setelah itu dua orang itu mengajak nona mereka pergi tanpa menghiraukan umpatan-umpatan penjaga tersebut. Ketika salah satu mencoba menghentikan mereka, justru dia sendiri yang menjadi pucat wajahnya.
"Kami buru-buru." desis Mi yang menatap tajam orang itu.
Yang membikin ngeri adalah, kaki Mi yang sebelumnya memijak tanah itu makin lama makin tenggelam sampai sebetis. Tahulah penjaga ini bahwa orang tersebut sedang mengancamnya. Maka dia tak mau bersikap aneh-aneh lagi.
Tiga orang itu segera mencari rumah penginapan. Setelah mendapat dua kamar, mereka berkumpul di kamar Sung Hwa untuk berunding.
"Jadi, apa langkah selanjutnya nona?" tanya Yu.
Sung Hwa berpikir sambil menggosok-gosok dagunya menggunakan tangan kiri. Ia menjawab, "Aku pun sebenarnya tidak tahu. Aku sama sekali tidak punya pengaruh di dunia persilatan ini. Lagipula untuk membalas dendam, tak mungkin dilakukan seorang diri."
"Bagaimana kalau bergabung dengan salah satu partai besar?" usul Mi.
"Sudah berapa kali kau bilang begitu?" tanya Sung Hwa menatap datar, "Itu hanya bunuh diri jika ada orang yang mengenal aku." setelahnya Mi hanya diam dan mendengarkan.
"Ah!" Yu bersorak dan bangkit berdiri, seolah menemukan ide cemerlang.
"Ada apa?" Mi bertanya penasaran.
Sung Hwa geleng-geleng kepala sedangkan Mi menghela napas panjang. Terdengar Mi berkata menjawab ucapan adik seperguruannya itu.
"Tak ada yang tahu benar tidaknya kabar itu. Hanya membuang tenaga dan waktu saja kalau kita datang ke sana tanpa menemukan apa-apa." ucapan ini disetujui oleh Sung Hwa yang mengangguk cepat beberapa kali.
Ketika Yu hendak berkata lagi, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di lantai satu penginapan. Tiga orang ini saling pandang dengan kening berkerut bingung. Lantas dipimpin oleh Sung Hwa sendiri mereka segera turun ke lantai satu untuk melihat.
Kiranya di lantai satu itu ada empat orang perwira yang berseragam dan bersenjata lengkap. Salah satunya sedang membentak-bentak pemilik tempat ini dengan cara menempelkan telapak sepatunya ke wajah pria tua tersebut.
Sedang tiga orang lainnya sedang memeluki tiga orang wanita pelayan muda yang cantik manis. Jelas itu merupakan paksaan karena tiga orang gadis itu berusaha meronta namun tidak berdaya.
"Sudah kubilang kami minta mereka, kenapa kau menolak? Apakah kau hendak melawan pasukan kaisar?" bentak seorang perwira yang menempelkan telapak kakinya ke wajah sang pemilik rumah penginapan.
Melihat ini mendidih darah tiga orang itu. Sung Hwa yang berada paling depan cepat membentak dan menubruk. Kakinya bergerak menendang bagian belakang lutut orang itu sehingga kaki perwira ini terangkat ke atas dan dia jatuh terjengkang.
__ADS_1
"Perwira palsu! Mana ada seorang perwira yang seharusnya melindungi rakyat malah memperlakukan orang lain seperti anjing?"
Perwira itu bangkit perlahan, sedang tiga orang temannya sudah berseru sambil mencabut senjata. Tiga gadis itu berlari ke arah Mi dan Yu yang memberi kode agar datang ke arah mereka.
"Nona cilik, hendak apa kau datang mengacau?"
"Setan, kalian lah yang mengganggu waktu istirahatku!"
Perwira yang tadi kena tendang Sung Hwa sudah bangkit dan memandang. Saat itu sepasang matanya terbelalak dan dia berseru nyaring. Membuat semua orang kaget sekali dengan wajah memucat.
"Kau nona Sung Hwa!! Putri Hati Iblis!!"
Jelas sekali ucapan ini bahkan sampai terdengar di luar rumah penginapan. Sung Hwa mengumpat dan diam-diam bingung sekali kenapa ada orang dapat mengenalinya. Tiga orang gadis beserta pria tua pemilik rumah penginapan sudah lari ke dalam karena ketakutan.
"Siapa kau sampai mengenali aku?" walaupun terkejut, namun Sung Hwa bukan pengecut. Dia berani dengan terang-terangan mengakui identitasnya setelah diketahui.
"Aku dulu orang Hati Iblis, berhasil kabur ketika penyerbuan Naga Hitam bersama Rajawali Putih!" kata orang itu. Lantas dia terkekeh, "Heheheh...kiranya nona muda Hati Iblis telah kehilangan arah. Tangkap!" serunya dan tiga orang kawannya sudah melompat maju dengan golok terhunus.
Sung Hwa marah sekali, begitu pula dengan Mi dan Yu yang sudah menerjang membela nonanya. Karena kepandaian tiga perwira itu tak sebanding dengan tiga orang itu, maka sebentar saja mereka roboh terpelanting ke sana-sini.
"Pengkhianat!! Kiranya kau menjadi penjilat pemerintah! Menjadi perwira yang busuk!" bentak Sung Hwa yang merasa jengkel sekali. Dia yang berusaha mati-matian untuk menyelamatkan seluruh anggota Hati Iblis, kali ini justru malah dia yang dikhianati.
Saat itu dari luar sana sudah datang beberapa pasukan lain dan keadaan makin runyam. Perwira bekas Hati Iblis itu sudah menceritakan semuanya dan mereka ini lekas menyerbu Sung Hwa.
Bukannya takut, namun kali ini saja Sung Hwa sudah terlibat dalam masalah besar karena bentrok dengan pasukan kekaisaran, di kota raja pula. Maka kalau dia melanjutkan keadaan akan makin keruh lagi.
Sung Hwa membentak ketika tubuhnya melambung tinggi, "Mi, Yu, ayo pergi!"
Dia melesat menuju kamar dan mengambil barang-barangnya. Diikuti oleh Mi dan Yu dan tiga orang itu segera pergi melalui jendela diiringi teriakan-teriakan para tentara. Mereka menjadi kerepotan karena dihadang beberapa pasukan, namun akhirnya dapat juga lokos keluar dari kota raja setelah perjuangan mati-matian.
Sung Hwa mengumpat, "Sial!! Baru saja memasuki kota raja sudah harus keluar lagi!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG