
Usul tuan putri yang menurutkan pemikiran Sung Han itu benar-benar berhasil membungkam seluruh isi ruangan. Banyak dari mereka yang sudah memikirkan hal ini tetapi tak berani mengemukakannya. Karena bagi mereka, para orang awam, juga para pendekar, sulit sekali untuk bekerja sama. Para pendekar terbiasa bergerak sendiri-sendiri.
Akan tetapi kini putri Song Zhu berani mengemukakan pendapat yang hampir semua orang menganggap mustahil. Maka keributan tak bisa dihindari setelahnya. Timbul berbagai macam argumen untuk memprotes usulan itu.
"Mana mungkin para pendekar bersatu kecuali untuk membuat keonaran?" seorang perwira berteriak keras. "Contohnya Serigala Tengah Malam!"
"Sulit bagi kami untuk bekerja sama!" seorang pendekar, yang walau dikatakan sesopan mungkin, namun karena berteriak sehingga terkesan seperti membentak.
"Raja Dunia Silat pun, tak pernah bekerja sama dalam waktu lama."
Tuan putri dan Sung Han saling pandang sekilas. Sinar mata wanita itu menyiratkan keraguan. Namun betapa kaget putri Song Zhu ketika mendapatkan bahwa Sung Han masih tenang-tenang saja. Bahkan dia mengangguk singkat kepada putri itu untuk meyakinkannya.
"Harap tenang!" teriak jenderal Tang dengan lengan kanan terangkat. "Ini diskusi, mari kita bicarakan baik-baik."
Perlahan ruangan menjadi tenang kembali dan hening seperti semula. Sungguhpun satu dua orang masih saling berbisik dengan kawan sebelah. Juga banyak dari mereka yang menatap ragu.
Melihat perubahan suasana ini, tuan putri sadar banyak yang kurang setuju dengan usulnya. Maka dia melirik Sung Han sekali lagi untuk minta bantuan.
"Bukan mustahil bagi para pendekar bersatu dan membentuk pasukan," Sung Han berkata. Suaranya tenang tetapi mereka semua dapat mendengar dengan jelas. "Sebagai contoh Serigala Tengah Malam itulah."
"Tetapi mereka hanya buat onar!" kata salah satu perwira.
"Aku tidak membicarakan keonarannya. Yang kubicarakan adalah kekompakan mereka dalam medan tempur," jelasnya. Lalu matanya menyapu seluruh penjuru ruang. "Adakah di sini yang sudah berbentrok langsung dengan gerombolan Serigala Tengah Malam?"
Tak segera terdengar jawaban. Mereka saling pandang satu sama lain dengan ragu.
Bagaimana mungkin menghadapi perkumpulan jahat itu kecuali berakhir dengan kematian? Mungkin mereka hanya bisa dilawan dengan pasukan besar. Demikian yang dipikirkan para pendekar. Maka mereka-mereka ini memandang ke arah kerumunan prajurit dan perwira.
"Kami sudah beberapa kali melawan mereka."
Spontan Sung Han memutar kepala memandang ke arah sumber suara.
__ADS_1
Orang itu melanjutkan. Melihat pakaiannya, dia adalah seorang jenderal. "Memang kerja sama mereka luar biasa hebat. Apalagi dengan strategi perang gerilya, bersembunyi di balik hutan lalu menyerang tiba-tiba, benar-benar tak tertandingi."
Sung Han menjentikkan jari. "Nah! Mungkin sedikit sulit untuk melatih kekompakan pasukan pendekar agar lebih baik dari pasukan tentara. Karena bagaimanapun juga, tentara dilatih dengan ilmu bela diri yang sama, sedangkan pendekar lain lagi. Kecuali kalau berasal dari satu perguruan, tentu saja lebih mudah." Sung Han berhenti sejenak untuk menarik napas beberapa kali sambil memikirkan perkataan berikutnya. "Juga tentara dilatih untuk perkelahian skala besar. Sebaliknya, para pendekar berlatih untuk pertempuran satu lawan satu."
"Jadi?" si jenderal arogan yang terlihat amat tak suka dengan Sung Han itu mendesak.
"Jadi, strategi Serigala Tengah Malam itu sejatinya menyembunyikan kekurangan mereka. Yaitu kekurang kompakan dalam pasukan. Dengan perang gerilya, di mana bersembunyi dan sekali muncul ambil satu nyawa, itu hampir seperti pertarungan per orangan yang dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan. Kita berlatih saja strategi itu disertai sedikit pengembangan."
Putri Song Zhu mengangguk-angguk disertai tatapan kagum. Demikian pula dengan jenderal Tang. Dia merupakan seorang ahli siasat yang berpengalaman. Dan menurutkan firasatnya yang sudah terasah baik, usul Sung Han ini patut sekali.
Demikian pula dengan empat orang pewaris pusaka lainnya. Mereka memandang kagum kepada sosok pemuda itu yang bisa memikirkan dan menebak inti dari strategi pertempuran pasukan Serigala Tengah Malam. Kiranya mereka tidak pengecut, melainkan sedang menutupi kekurangan.
Sung Hwa, sebagai seorang istri, tentu saja girang sekali melihat betapa suaminya dapat memberi penjelasan yang mampu membuat semua orang terperangah itu. Tanpa sadar, kedua pipinya bersemu.
"Paduka, bagaimana? Bukankah itu cukup masuk akal dan sudah menjawab segala keberatan semua saudara yang ada di sini?" ujar Sung Han memecah kesunyian.
"Memang luar biasa. Picik sekali bagi jenderal yang dulu meragukan saudara Sung. Hahaha!!" Pendekar yang berdiri di belakang ruangan, berseru keras sambil tertawa.
Wajah putri Song Zhu berseri, melihat ini riuhlah keadaan ruangan. Tahu bahwa tuan putri menyetujui dan itu artinya para pendekar akan segera unjuk gigi.
Kebisingan itu sebagian besar disebabkan oleh seruan-seruan para pendekar yang penuh semangat. Kiranya otak seorang pemuda yang kelihatan masih hijau itu demikian teliti dan cermat. Tak sia-sia menjadi pewaris pedang gerhana.
"Aku setuju! Kalian berlima, latihlah para pendekar mulai esok hari. Aku menunggu hasil baik!"
Lima pewaris itu serentak bangkit berdiri dan menjura. "Baik, paduka."
...****************...
Keesokan harinya, seperti yang sudah diperintahkan oleh tuan putri, Sung Han bersama empat orang lainnya diperintahkan untuk mulai melatih para pendekar.
Sedangkan pada hari itu pula, pasukan-pasukan tentara yang sudah siap pergi meninggalkan benteng untuk melakukan pencarian terhadap pasukan Jeiji yang masih bersembunyi di wilayah utara ini.
__ADS_1
Melalui perantara Khong Tiat, Gu Ren menyuruh para pendekar untuk berkumpul di satu tanah lapang luas yang berada di belakang benteng. Sebentar saja, tak sampai setengah jam setelah perintah itu turun, dari jauh terlihat kelebatan banyak sekali orang yang mendatangi tempat itu. Maka ramailah keadaan di tanah lapang itu.
"Hem, mereka tampak bersemangat," gumam Khuang Peng melihat wajah-wajah mereka yang berseri.
"Tentu saja. Kini para pendekar relawan mendapatkan reputasi baik berkat Sung Han. Jika tidak ada usul itu, agaknya kita semua hanya akan dijadikan penjaga benteng," sahut Nie Chi penuh semangat sambil melirik ke atas pohon. Di mana Sung Han dan Sung Hwa masih sibuk berangkulan sambil bicara bisik-bisik dengan mesranya. "Aku ingin punya istri ...."
Khuang Peng menahan ketawanya. "Cari sajalah. Apa sukarnya bagimu?"
"Sukar sekali, amat sukar. Guruku yang aneh itu baru mau memberi restu bila istriku lebih kuat dariku. Minimalnya orang yang bisa membunuh aku," jawab Nie Chi lesu.
"Mengerikan!"
Setelah semua orang berkumpul, Gu Ren segera memberikan pidato di mana isi pidato ini sudah didiskusikan oleh mereka sejak kemarin.
"Selamat pagi saudara-saudara sekalian. Seperti yang sudah kita semua tahu, bahwa kita akan menjadi satu pasukan yang berdiri sendiri dan memerintah diri sendiri. Tidak berada di bawah naungan regu tentara mana pun. Hanya tuan putri seorang yang mampu memerintah kita di sini."
Suara riuh rendah penuh semangat menyambut ucapan itu. Gu Ren mengangkat tangan dan keadaan menjadi hening kembali.
"Maka dari itulah, seperti yang sudah kami diskusikan kemarin, kalian akan dibagi menjadi lima kelompok di bawah pimpinan kami. Nantinya kalian akan dilatih salah satu dari kami dengan keunggulannya masing-masing. Tentu saja latihan dasar adalah kekompakan perang gerilya seperti yang dilakukan Serigala Tengah Malam."
Gu Ren berhenti sejenak untuk mengambil napas sambil melirik ke belakang, tempat di mana empat orang lain sudah duduk bersisihan di atas sebuah batu.
Tangan Gu Ren terulur kepada mereka satu per satu. "Sung Han akan melatih pasukan penyerang jarak dekat. Kemudian istrinya akan melatih beberapa dari kalian yang mahir dalam ilmu meringankan tubuh dan senjata rahasia. Nie Chi dan Khuang Peng melatih barisan formasi pengepungan. Sedangkan aku sendiri melatih pasukan penyerang kejutan. Nah, kalian pilihlah salah satu dari kami."
Kembali terdengar suara riuh rendah di antata mereka semua. Segera mereka menentukan pilihannya dengan berdiri di depan salah satu dari lima orang itu. Sebentar saja, mereka sudah terbagi menjadi lima kelompok di mana pasukan Sung Hwa yang paling sedikit. Hal ini tak mengherankan karena tak semua pendekar mahir dalam penggunaan senjata rahasia.
"Kalau begitu, hari ini juga kita akan mulai berlatih!" seru Gu Ren seraya mengepalkan tengan menghadap langit.
Semangat mereka terbakar, semangat patriot untuk membela tanah air!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG